1st Mythology – Protopóros (πρωτοπόρος) Chapter 1

MythPro1 copy

Title : 1st Mythology – Protopóros (πρωτοπόρος)

Author : Mrs. Bi_bi

Main Cast : Oh Sehun, Bae Soo Ji

Other Cast : Kim Myungsoo, Hyun Bin, Kim Jaejoong, Xi Luhan, Krystal Jung, Kim Yoo Jung

Genre : Fantasy

Rating : G

.

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

10 Juli 2016  — Protopóros is…

5657760844fe27450d91683d4dee7a59

Kediaman besar dan luas dipinggiran kota seolah mengasingkan diri yang juga hampir layak disebut kastil itu, tampak mulai menunjukkan pergerakan seluruh penghuni di dalamnya.  Beberapa lampu yang tadinya menyala, sudah padam dan bunyi palu yang berbenturan dengan besi sejak petang tadi menggantikan alarm, mulai berganti suara berisik lain yang bercampur dengan wewangian khas berpadu tawa dan suara berisik lainnya.

Segala macam tumbuhan tampak memenuhi rumah hingga meninggalkan kesan menakutkan dan menimbulkan kesan indah.  Berbagai macam jenis tumbuhan, mulai dari pohon hingga bunga—memenuhi tiap sudutnya.  Kolam-kolam kecil dengan jumlah tidak sedikit bahkan ikut mempercantik penampilan rumah di pinggiran yang agak menjorok hingga tidak tampak dari jalan raya itu.

Sehun memasukkan segera semua hal yang dibutuhkannya hari ini kedalam tas.  Selesai dengan rutinitas wajib paginya, dengan sebelah tangan memegang kain kanvas dan sebelahnya lagi memegang buku tipis yang tengahnya terbuka untuk ia baca—pria dengan fisik sempurna itu segera menuruni anak tangga berbahan kayu yang menghubungkan lantai pertama dan kedua hingga bungi berdecit juga langkahnya langsung terdengar.

Tampak tidak terganggu dengan keramaian seperti biasa yang merasuki telinganya, Sehun tetap melangkah perlahan hingga sampai di tangga terakhir dan segera menuju halaman belakang rumah, tempat dimana semua orang sudah berkumpul disana dan tempat keramaian ceria yang hanya beberapa orang tidak sepertinya ciptakan hingga rumah yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatannya itu, tampak lebih ceria.

0cf625dc0ff4e04f07c140dfa80264e6

Menyusuri jalanan setapak kecil dengan keindahan tidak biasa hasil karya tangan Yoo Jung, Sehun terus saja berjalan masih dengan fokus pada bukunya tanpa sekalipun berniat untuk menikmati karya indah yang mengiringi langkahnya.  Mungkin dalam benaknya, karena sudah terlalu biasa dengan keindahan macam itu—keindahannya sudah tidak tampak lagi di mata Sehun dan entah apakah Demeter sang Dewi bumi, atau bahkan Yoo Jung sendiri tersinggung akan sikap Sehun ini.  Namun jika mengingat siapa dia, putra dari siapa ia—rasanya tidak mungkin bagi mereka melakukan sesuatu buruk pada Sehun hanya karena masalah tidak ingin menikmati keindahan ini.

 

 

Langit tidak terlalu cerah, warna biru terangnya sedikit kelabu namun itu tidak terlalu berpengaruh bagi 6 kepala yang berkumpul di halaman belakang rumah untuk sarapan seperti biasa sebelum melanjutkan aktivitas baru mereka yang dimulai sejak beberapa bulan lalu itu.  Tidak ada ketakutan dalam benak mereka bahwa langit yang makin menggelap itu akan segera menumpahkan airnya hingga tidak seharusnya mereka sarapan di luar seperti ini, atau bahkan tidak ada keinginan diantara satupun dari mereka untuk segera bergegas dan membereskan semuanya untuk berganti tempat makan di dalam rumah seperti yang selalu mereka lakukan saat malam hari.  Mereka ber-6, bersama Sehun yang baru saja datang dan langsung duduk dengan wajah santai tanpa satupun kerutan khawatir pada cuaca gelap—memulai sarapan paginya diantara taman cantik lain juga salah satu kolam indah yang lagi-lagi karya Yoo Jung, tepat di sisi meja kayu panjang tempat mereka sarapan.

page

 

Jaejoong menjentikkan salah satu jarinya dengan kuku berwarna keemasan dan bagai memanggil Apollo sang Dewa Cahaya yang juga merangkap Dewa Matahari kini, cahaya matahari yang tadi bahkan tidak tampak—menembus awan gelap dengan mudahnya hingga menerangi tempat mereka berada dan Yoo Jung mendongakkan kepalanya ke arah dimana langit memberikan celah bagi cahaya Apollo.  Gadis paling muda diantara semua penghuni rumah itu tersenyum seolah berterimakasih atas cahaya yang kembali muncul hingga seluruh bunga cantik dan indahnya memiliki energi untuk hidup sebagaimana fungsi cahaya matahari.

“Letakkan bukumu dan mulailah sarapan, Oh Sehun.”  Hyun Bin bersuara dengan suara beratnya dan melirik Sehun yang bahkan belum menyentuh sedikitpun makanan dihadapannya.

Krystal menoleh pada Sehun sambil mengunyah makanan dalam mulutnya sebagaimana orang lain ketika teman disampingnya mendapat teguran, mata merah terangnya yang belum berganti warna sebagaimana milik Jaejoong dan Sehun—ikut menjadi bahan teguran Hyun Bin.  “Kau juga Krystal.  Kenapa belum kau ganti warna matamu?”

“Aku akan katakan bahwa ini hanya lensa jika ada yang tanya.”

“Ganti.”  Tegas Hyun Bin tanpa bantahan dan baik Sehun juga Krystal, melakukan apa yang pria itu inginkan tanpa satu kata apapun lagi.

Jaejoong tersenyum kecil sambil menggeleng.  “Santailah sedikit hyung.  Kau membuat sarapan pagi kita bagai berada di suasana perang.”  Ujar pria itu menyenggol bahu keras Hyun Bin dan hanya mendapat lirikannya tanpa satu tanggapanpun.  “Ini baru beberapa minggu kita di Korea, biarkan mereka bersen—”

“Jika aku santai maka kecerobohan mereka berdua seperti sebulan lalu akan kembali terulang.”

“Oh hentikan.”  Luhan ikut bersuara, dengan rengekan khas-nya dan itu membuat siapapun ingin mencubit wajahnya.  “Bicarakan hal lain saja—.”

“Kau juga.”  Potong Hyun Bin menatap pria yang selalu tersenyum tampan dengan wajah lembut hingga wanita manapun akan jatuh padanya—risih.

“A—aku?  Aku kenapa?”

“Bekas merah di lehermu itu.  Tidak ingin kau hilangkan?”

“Huh?!”  Kaget Luhan segera meletakkan dua telapak tangannya menutupi lehernya hingga kulit putih bersih dengan beberapa bercaknya itu tertutup dan tidak satupun di meja makan kecuali dirinya tentu—yang tidak tertawa.  “Be—benarkah?  Aku sudah katakan padanya untuk tidak meninggalkan bekas apapun padahal.”

“Kau mengotori mata adik kecil kita oppa.”  Ledek Krystal menutup kedua mata Yoo Jung dengan tangannya dan gadis berambut hitam pekat itu menepis tangan Krystal dengan wajah berkerut..

“Aku bukan adik kecil, eonni—.”  Tolaknya dengan kedua mata membulat ngotot.

“Kau tetap adik kecil sampai kapanpun, Yoo Jung-ah….”  Balas Krystal tidak mau tahu dengan tangan mengacak rambut rapi Yoo Jung sementara Luhan sudah meninggalkan meja makan mereka lebih dulu untuk mendekati kolam jernih Yoo Jung, berkaca disana tentang ruam merah yang Hyun Bin tadi maksud.  Melihatnya dan memang benar ada, Luhan mengumpat kesal hingga wajahnya memerah dan mereka semua yang melihatnya tertawa tanpa henti tidak terkecuali Hyun Bin dan Sehun yang lebih diam dibanding yang lain.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Soo Ji melebarkan senyumnya dengan pemandangan luar yang sebenarnya tidaklah cerah.  Mengeluarkan sebelah tangannya hingga menyentuh udara luar yang tidak Myungsoo ketahui kenapa Soo Ji lakukan itu, pria yang masih sibuk dengan stir bundar ditangannya mengusap lembut kepala kekasihnya sebentar.

“Kau yakin tidak mau sarapan?”

“Eo.”  Soo Ji menoleh dan mengangguk dengan wajah cerianya.  “Aku terlalu semangat untuk masuk kelas hari ini.”

“Andai semangatku sama sepertimu.”  Ucap Myungsoo tersenyum pada Soo Ji yang entah kapan akan berhenti tersenyum dan tertawa macam yang kini dilihatnya.  “Dan berhentilah menunjukkan wajah macam itu.  Bagaimana jika nanti ada pria lain yang tertarik padamu dan kau meninggalkanku?”

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu, oppa.”  Yakin Soo Ji mengalungkan tangannya pada bahu Myungsoo yang tidak bisa membalasnya.  Meletakkan kepalanya pada bahu hangat Myungsoo, Soo Ji mendongak sementara wajahnya hampir tidak memiliki celah dengan pria yang dipanggilnya oppa itu.  “Oppa juga begitu, kan?  Tidak akan meninggalkanku kan?”

Menoleh sebentar dengan hembusan nafas kasar, Myungsoo menggeleng dengan pandangan kembali lurus pada jalanan berbelok yang mengarahkannya pada gerbang besar memasuki daerah Universitas yang ditujunya.  “Aku janji tidak akan melakukannya lagi.  Bukankah sudah aku katakan itu padamu?”

“Arra—.”  Soo Ji mengerutkan keningnya seolah kesal dan mengembalikan posisi duduknya seperti tadi.  Menatap Myungsoo yang tampak kaku, gadis itu berkata lagi, “Aku hanya ingin oppa ingat bahwa aku kembali ke Korea, karena oppa.  Jika oppa masih berselingkuh lagi saat aku disini dan sudah meluangkan banyak waktu untuk oppa, maka bukan aku lagi yang salah tapi oppa.”

“Arasseo—arasseo…”  Myungsoo mengernyit tidak suka dan menoleh pada Soo Ji yang sudah tidak seceria tadisementara mobil yang membawanya berhenti tepat didepan salah satu gedung universitas.  “Aku janji tidak akan begitu lagi.”  Jelas Myungsoo memegang kedua tangan Soo Ji dan menciumnya beberapa kali dengan pandangan lurus pada gadis dihadapannya.  “Aku benar-benar minta maaf dan menyesal, Soo Ji-ah.”

“Baiklah kalau begitu.”  Ucap Soo Ji ringan dengan gerak cepat menarik kedua tangannya dalam genggaman Myungsoo.  “Jam 10 nanti oppa jemput aku.  Jangan telat, ok?”

“Tunggu—.”  Cegah Myungsoo saat Soo Ji langsung berbalik untuk membuka pintu mobil.  “Kau tidak butuh bantuanku membawa semua barangmu?”  Tanya Myungsoo melihat tas juga beberapa alat lukis lain yang Soo Ji bawa.

“Tidak.  Aku bisa bawa sendiri.”  Jawabnya cepat dan kembali membalik badan namun—Myungsoo kembali menahannya.

“Kau tidak mau menciumku?”

Soo Ji mendengus dengan senyum tipis.  “Kau lupa hukumanmu?  Jangan lakukan apapun padaku untuk seminggu kedepan.”

Myungsoo tergelak seketika, menatap Soo Ji tidak percaya dengan pegangan yang kembali dilepasnya dan wanita itu kembali menunjukkan senyumnya sebab raut kalah Myungsoo.  “Baiklah-baiklah, as you wish—princess.”  Turut Myungsoo dengan senyum menggodanya, membuat Soo Ji mau tidak mau melupakan pembicaraan sebelumnya dan lambaian tangannya untuk Myungsoo mengantarnya keluar dari mobil.  Masih melambaikan tangan hingga mobil yang Myungsoo kendarai menghilang dari pandangannya, barulah Soo Ji membalik badannya dan segera memasuki gedung besar yang mulai kini menjadi tujuannya menuntut ilmu.

Menyusuri lorong panjang dengan pilar besar dan beberapa orang jadikan itu sandaran, lukisan dan karya seni lainnya yang seolah dijadikan pajangan untuk menemani seseorang menyusuri lorong menuju kelas, tidak ada satupun yang mengecewakan untuk Soo Ji.  Semua begitu indah dan sempurna, begitupun saat dirinya melewati satu ruang dengan suara piano berpadu violin dan sungguh—suara yang dihasilkan dua alat musik itu begitu indah.  Membuatnya ingin berlama-lama mengintip melalui celah pintu yang terbuka namun lantunan suara merdu lebih menarik pendengarannya.  Segera, bagai seorang yang kehausan—Soo Ji berlari terburu menuju arah sumber suara dan tampak seorang pria muda dengan gitarnya menyanyi dengan begitu merdu, membuatnya serasa melayang.

 

 

 

“Maaf—.”  Tegur seorang wanita berpakaian rapi dengan rambut disanggul kebelakang yang menepuk pundak Soo Ji, menolehkannya dari pria di dalam ruang luas yang baru kali ini dilihatnya pada wanita tersebut.  “Bisa beri tunjuk kartu identitas anda?”  Tanya wanita itu lebih lanjut sembari memperbaiki letak kaca mata yang membingkai wajahnya.

“Ne?—.”  Soo Ji bertanya melongo, melihat wanita dihadapannya yang tampak sangat galak itu dan menunjuk dirinya sendiri.  “A—aku?  Kartu identitasku?”

“Ya.  Bagaimana anda bisa masuk kesini?  Baru kali ini saya melihat anda.”

“A—aku, aku mahasiswa baru.  Pindahan dari Pa-ris—?”

Wanita dengan tampilan rapinya itu mengernyit.  Melihat map ditangannya dan membuka segera, melihat daftar nama dari mahasiswa baru yang memang mulai masuk hari ini dan foto Soo Ji disana menjelaskan pertanyaannya tadi.

“Baiklah.”  Angguknya pelan sambil menutup map-nya dan kembali menatap Soo Ji.  “Kelasmu bukan disini.  Ayo ikut aku.”  Ajaknya tanpa basa-basi dan berjalan melewati Soo Ji tanpa satu kata apapun lagi, membuat Soo Ji meringis kesal sebab hilang kesempatan mendengar suara merdu dalam ruang tadi dan harus mengekori langkah wanita itu dengan omelan dalam hati.

 

 

 

Dahulu—saat Sehun dan ke-3 orang lainnya yaitu Luhan, Krystal, dan Yoo Jung baru saja keluar dari tempat yang sejak kecil mereka huni untuk hidup bersama manusia biasa macam sekarang, ajakan Jaejoong untuk bergabung bersamanya dan Hyun Bin adalah sesuatu yang harus disyukuri.  Keempat orang itu, yang bahkan tidak tahu bagaimana cara mencari makan sendiri dan bagaimana caranya melakukan semua hal hanya ber-4 tanpa orang lebih dewasa dan berpengalaman, terlebih dengan keadaan mereka yang bukan manusia biasa dan harus berbaur dengan manusia biasa tanpa tahu bagaimana caranya agar tidak tampak berbeda, membuat ke-4 orang itu bernafas lega.

Memiliki pelindung, itu yang mereka katakan saat bertemu Hyun Bin—putra Hephaest, Dewa pandai besi, pengrajin, api, bahkan gunung berapi yang sudah pasti… sama seperti keturunan Dewa lainnya, Hyun Bin juga memiliki kemampuan luar biasa Hephaest yang bahkan benda buatannya dipakai para Dewa hingga saat ini seperti helm dan  sandal bersayap milik Hermes, perisai aegis milik Athena, kereta perang milik Helios, bahkan baju perang Achilles.  Belum lagi kenyataan bahwa Jaejoong sendiri adalah putra Hera,  Dewi atas Dewa dan Dewi Olymphus.  Siapa yang akan menolak tawaran mereka?

Maka dengan senang hati, empat orang yang baru saja menapaki tanah manusia itu mengikuti kemanapun Hyun Bin dan Jaejoong pergi hingga kemudian—kenyataan yang tidak pernah 4 orang itu tahu terungkap.  Kenyataan yang membuat Hyun Bin selalu mengurung dirinya, dan kenyataan kenapa Jaejoong selalu sendiri.  Kenyataan, yang cepat atau lambat juga mendekati mereka tanpa terkecuali.

Dan Sehun, ramalan tarot beratus-ratus tahun lalu saat semua orang masih mempercayai Dewa dan keturunannya di bumi, ramalan yang menunjuknya sebagai seorang protopóros diantara ke-5 saudaranya yang lain, kata protopóros yang sebenarnya tidak terlalu asing namun tampak berubah maknanya mulai saat itu—membuatnya was-was.

Protopóros, hanyalah sebuah bahasa Yunani atas pelopor ataupun perintis.  Jika dulu Sehun masih bertanya-tanya, apakah yang hendak ia pijak terlebih dulu dibanding saudara-saudaranya yang lain, maka saat ini…. ramalan yang dpikirnya angin lalu sebab telah terlewat lama itu benar-benar menjadi kenyataan ketika seorang  gadis dengan rambut sebahunya memasuki kelas dengan senyum lebar tanpa beban.

Bukan hal baik, apalagi ia tahu apa yang dipijaknya kini adalah hal yang selalu ia juga ketiga saudara termudanya di rumah hindari.  Hal, yang membuat Hyun Bin mengurung diri hingga saat ini, hal yang membuat Jaejoong selalu bekerja tambang hingga tidak bertemu satu wanitapun, dan hal yang membuat Luhan meminta cairan bening langka pada Aphrodite, ibunya—untuk membuat hatinya mengeras hingga tidak tertembus oleh siapapun, hal itu—memeluknya kini.

 

 

“Perkenalkan dia siswi pindahan dari Paris.  Namanya Bae Soo Ji.”  Kenal wanita tadi sedikit ramah dan Soo Ji makin melebarkan senyumnya sembari membungkuk hingga kemudian mengenalkan dirinya sendiri pada seisi kelas.  “Duduklah di samping Sehun.  Kau lihat bangku kosong paling ujung itukan?”

 

 

Sehun menggeleng, sungguh—dadanya kini sesak dan ia sama sekali tidak bisa bernafas hanya dengan melihat wanita yang baru pertama kali ini dilihatnya.  Hembusan angin barat laut milik Skiron yang begitu dingin seolah menyadarkannya tentang apa yang harus segera dilakukannya, benar-benar dingin dan menusuk kulitnya.  Begitupun pohon zaitun besar di samping kelasnya yang langsung bisa dilihat, bergerak bagai gelisah bersama angin milik Skiron hingga tenang yang langsung berganti berisik sebab ranting pohon besar itu bagai beradu, mengalihkan pandangan semua orang disana.  Bagai badai—angin dari 3 penjuru yang bahkan langsung mengetahui kabar ini dari Skiron, masuk begitu saja kedalam kelas Sehun dan berkeliling dalam ruang itu hingga menjatuhkan dan menerbangkan segalanya.  Kaikias, angin yang dipandang bagai angin gelap itu bahkan ikut serta bersama saudaranya yang lain dan suasana kelas itu makin kacau.

Sehun tidak tahu apa yang harus dilakukannya.  Pandangan pria itu jelas berpusat dan seolah terpaku pada Soo Ji yang sudah berteriak bersama teman sekelas juga dosen dihadapannya sebab angin menggila yang memenuhi kelas dan menghancurkan segalanya.

 

Pergi, oppa pergi…. oppa… Sehun oppa… pergi, jangan lihat dia lagi.  Pergi oppa…

34 responses to “1st Mythology – Protopóros (πρωτοπόρος) Chapter 1

  1. Wae?kenapa bisa semua hal ganjil itu terjadi setelah datangnya suzy?memangnya siapa sehun dkk nya itu,mereka benar” keturuna para dewa-dewi kah?

  2. keren banget kak, aku suka cerpen fantasi… seruuu… karakter dan alur yg kakak berikan keren banget, ngga tau harus ngomong apa lagi

  3. Sehun ga bisa ngendaliin diri, terpesonanya aja begitu apa lagi kalo beneran jatuh cinta? Celakanya lagi kalo path hati kali ya, bumi gonjang ganjing. hahhahhahaa. bahaya banget dong kalo amor lepasin panahnya.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s