Oh My Ghost! Chapter 10

Title : Oh My Ghost!  | Author : dindareginaa | Genre : Comedy, Fantasy, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy | Other Cast : Find by yourself!

Inspired by K-Drama Oh My Ghost and 49 Days

Sooji kini sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas begitu Dosen Lee mengakhiri kelasnya. Melihat itu, Choi Jinri sontak menghampiri gadis itu.

“Sooji-ah, hari ini kau ikut bukan? Kau dan Mark sudah berjanji akan makan di rumah pamanku di Busan.”

Sooji melirik sekilas ke arah Mark yang kini juga sedang menatapnya. Gadis itu lalu menggeleng. “Maaf. Hari ini aku ada urusan. Lain kali saja ya. Aku janji! Sampai jumpa!” Sooji melambaikan tangannya lalu berlari kecil meninggalkan Jinri dan juga Mark.

“Apa?” tanya Mark begitu merasakan Jinri menyikut lengannya.

“Kau sedang bertengkar dengan Sooji?”

“Tidak,” bohong Mark seraya memperhatikan sosok Sooji yang mulai menghilang di ujung pintu.

Sooji menatap tak percaya begitu menemukan mobil Myungsoo kini terparkir rapi tepat di depan gerbang kampusnya. Sontak hal itu membuat penghuni kampusnya heboh, terlebih lagi kaum hawa. Mereka tampak antusias menikmati ketampanan Myungsoo yang tak biasa. Sedangkan Myungsoo hanya bisa tersenyum sambil bersandar pada mobil Bugatti Veyron hitam miliknya. Lelaki itu tampaknya menikmati hal ini.

“Kenapa lama sekali? Kau tidak tahu aku sudah menunggumu cukup lama?” tanya Myungsoo sambil melepaskan kaca mata hitamnya.

Melihat itu, para gadis yang sedari tadi mengerumuni mereka sontak berteriak, membuat Sooji menggeleng-gelengkan kepalanya. Hei! Bisa tidak biasa saja? Sebenarnya kalau Sooji tak ingat dengan kejahilan yang Myungsoo lakukan tempo hari padanya, mungkin Sooji juga akan melakukan hal yang sama. Lagi pula, gadis mana yang tidak mengakui ketampanan Myungsoo?

“Memangnya siapa yang menyuruhmu menjemputku?” tanya Sooji ketus. Ia baru tahu ternyata Myungsoo juga menjadi supir dari sekretarisnya.

Myungsoo mendesis mendengar ucapan Sooji. Padahal ia mengharapkan ucapan terima kasih Sooji, tapi kenapa gadis itu malah ketus padanya? “Sudahlah. Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu. Sekarang masuk. Kita harus pergi ke suatu tempat.” Myungsoo membukakan pintu mobilnya untuk Sooji.

“Kita mau kemana?”

“Nanti juga kau akan tahu.”

Sooji menatap Myungsoo sebentar lalu menghembuskan nafasnya perlahan. “Baiklah,” ujarnya mengalah lalu mulai masuk ke dalam mobil Myungsoo.

Tak jauh dari situ, Mark dan Jinri yang baru saja keluar hanya bisa menatap mobil Myungsoo yang melaju dengan kencang.

“Hei, laki-laki itu siapa? Dan apa hubungannya dengan Sooji?”

“Tidak tahu,” jawab Mark.

Sooji hanya diam sambil sesekali menatap wajah Myungsoo yang kini sibuk mengendarai mobilnya.

“Jangan melihatku seperti itu.”

Perkataan Myungsoo sontak membuat Sooji tersentak kaget. “Siapa yang melihatmu?” bohongnya, lalu mulai mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Myungsoo hanya mendesis lalu kembali fokus mengendari mobil.

“Omong-omong, maaf,” ujar Sooji setelah terdiam cukup lama.

Myungsoo mengernyitkan keningnya lalu bertanya,”Maaf? Untuk apa?”

“Semalam… Aku memelukmu.”

“Ah, itu…” Myungsoo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Tidak apa-apa.”

Sooji mengangguk sekali. “Lalu, kita mau kemana sekarang?”

“Sudah kubilang kau akan tahu nanti. Kenapa kau banyak tanya sekali?”

“Gadis mana yang tidak bertanya jika dibawa pergi oleh lelaki asing sepertimu?”

Myungsoo membulatkan matanya tak percaya mendengar ucapan Sooji. “Lelaki asing? Hei! Aku ini bosmu! Dan satu hal lagi! Aku tidak berniat untuk melakukan hal yang buruk padamu! Kau itu sama sekali bukan tipeku! Gadis cerewet… Tubuh pendek… Dada yang rata…”

 Sooji mendesis mendengar ocehan Myungsoo. “Anjing mana yang tidak mau jika dikasih tulang?”

Apa? Lelaki tampan sepert dirinya disamakan dengan anjing? Tak bisa dipercaya!

“Jadi, kita mau kemana?” tanya Sooji lagi karena Myungsoo tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Ke acara ulang tahun perusahaan.”

Sooji membulatkan matanya mendengar ucapan Myungsoo. Apa? Kemana katanya tadi? Apa ia tak salah dengar? “Ke… Kemana?”

Myungsoo mendesis. “Ternyata selain berdada rata, pendengaranmu juga tidak bagus. Aku bilang ke ulang tahun perusahaan.”

Oh, ternyata ia tak salah dengar. Tapi, kenapa lelaki ini mengajaknya?! “Hei, kenapa aku harus ikut?!”

“Kau lupa kalau sekarang kau adalah sekretarisku?”

Sooji mempoutkan bibirnya. Memangnya acara itu begitu penting sampai Sooji harus datang?

“Lagi pula, aku tidak mau terlihat seperti orang bodoh jika datang sendirian,” lanjut Myungsoo.

Sooji mengernyitkan keningnya. “Kenapa kau tidak datang dengan Soojung?” tanya gadis itu pelan, menjaga nada suaranya agar terlihat tetap tenang.

“Sudah kubilang, hubungan kami sudah berakhir,” ujar Myungsoo seraya mulai memarkirkan mobilnya.

Sooji mengangguk mengerti. Ia lalu melirik ke luar jendela. Alisnya terangkat seblah. Hei, kenapa mereka malah ke butik? Bukankah mereka akan menghadiri acara ulang tahun perusahaan Kim Group? “Apa yang kita lakukan disini?”

“Memperbaiki penampilanmu.”

Apa? Memangnya apa yang salah dengan penampilannya? Bukannya bermaksud sombong, hanya saja Sooji bahkan pernah dibilang mirip dengan Nation First Love! Sooji tak sempat memprotes perkataan Myungsoo karena lelaki itu sudah terlebih dahulu membuka pintu mobil dan menarik lengannya.

“Bagaimana?”

Myungsoo yang kini sedang sibuk membaca majalah sontak mengangkat kepalanya. Lelaki itu sontak berdiri. Ia tertegun. Cantik sekali. Siapa gerangan gadis yang kini berada dihadapannya. Bidadarikah?

“Hei, kenapa malah diam saja? Apa aneh?” Sooji memegang rambutnya yang sebelumnya lurus kini menjadi ikal.

“Jangan. Nanti rambutmu rusak.”

Sooji tersentak kaget begitu Myungsoo memegang tangannya, apalagi saat pandangan mereka bertemu. Namun, sedetik kemudian Myungsoo terbatuk, berusaha menghilangkan kecanggungan diantara mereka. “Maaf.”

Sooji hanya mengangguk.

“Ayo,” ujar Myungsoo. Diulurkannya tangannya pada Sooji.

Melihat itu, Sooji tersenyum simpul lalu menyambut uluran tangan Myungsoo. “Ayo.”

 Kilatan blitz langsung menyerbu Sooji dan Myungsoo yang kini berjalan di karpet merah. Sooji mmebulatkan mulutnya. Ternyata seperti ini pesta para orang kaya. Jujur saja, selama Sooji hidup, tak pernah sekalipun ia pergi ke pesta berkelas seperti ini. Jangankan pesta mewah, Sooji bahkan tak pernah pergi ke pesta ulang tahun temannya termasuk Mark Tuan dan Choi Jinri. Sooji terlalu sibuk bekerja, sehingga ia tak sempat menghadiri pesta yang menurutnya tak begitu penting itu. Dari dulu juga begitu. Disaat anak-anak sebanyanya sibuk bermain, ia sibuk membantu Paman Oh – tetangganya – di warung, guna memberi makan ia dan juga adiknya.

Karena asik dengan pikirannya sendiri, Sooji yang saat itu memakai high heels ukuran 15 cm hampir saja tersandung karena menginjak gaunnya. Untungnya Myungsoo dengan sigap memegang pinggangnya, mebuat gadis itu mendapatkan kembali keseimbangannya.

“Perhatikan jalanmu,” bisik Myungsoo tepat ditelinga Sooji.

Sooji dapat merasakan wajahnya memerah karena merasakan hembusan nafas Myungsoo yang beraroma mint. Dan hal ini sontak membuat jantung Sooji berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya – entah untuk yang ke berapa kalinya.

Karena Sooji tak juga bereaksi, Myungsoo kemudian meletakkan tangan Sooji di lengannya. “Pegang aku,” ujarnya lalu tersenyum simpul.

Sooji tak menjawab. Ia lebih memilih untuk mengangguk seklai. Bisa gawat kalau Myungsoo merasakan kegugupannya!

Sooji berusaha menahan rasa kantuknya yang kini membendung hebat. Kalau tidak ingat bahwa ini acara enting, Sooji pasti sudah memilih untuk tidur dari tadi. Gadis itu kini sibuk menemani Myungsoo yang sibuk menyambut tamunya dengan berbincang-bincang sebentar.

“Hei, siapa gadis cantik yang ada disebelahmu?”

Sooji tersentak begitu merasakan sepertinya teman Myungsoo yang ia tahu bernama Kim Jongin kini sedang bertanya tentangnya. Gadis itu sontak melirik ke arah Myungsoo, penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan olehnya. Namun, ternyata Myungsoo tak menjawab. Ia lebih memilih untuk tersenyum. Sooji sedikit kecewa dengan tindakan Myungsoo. Tapi, mau bagaimana lagi? Memangnya Sooji mau mengharapkan jawaban yang bagaimana dari Myungsoo? Mengatakan bahwa Sooji adalah kekasihnya? Jangan bermimpi, Bae Sooji!

Sooji kemudian menyikut lengan Myungsoo, membuat lelaki itu sontak menoleh ke arahnya.

“Apa?” tanyanya tanpa suara.

“Aku pergi mengambil minum dulu.”

Myungsoo mengangguk. Sooji lalu memutuskan untuk pergi. Berusaha menahan gumpalan air mata yang berdesak-desakan ingin keluar. Begitu Sooji pergi dari antara mereka, Jongin kembali membuka suaranya.

“Dia cantik. Hei, jodohkan aku dengannya.”

Mendengar ucapan Jongin, Myungsoo mengepalkan kedua tangannya. “Kau boleh mendekati gadis manapun, tapi… jangan dia.”

Melihat reaksi Myungsoo yang sangat tak disangkanya, Jongin tersenyum. “Baiklah. Baiklah. Aku tidak akan merebut mangsamu.”

Mangsa? Bukan itu. Ia… lebih dari itu.

Myungsoo tersentak kaget begitu merasakan lengannya di gandeng seseorang. Begitu melihat siapa yang melakukannya, Myungsoo sontak melengos lalu menepis tangan gadis itu.

Soojung mendengus kesal. Namun, ia tak begitu mempedulikan sikap Myungsoo padanya. “Hei, ku kira kau tak datang. Kalau kau datang, seharusnya kau menghubungiku! Bukankah kita bisa pergi bersama-sama?”

Sepertinya urat malu gadis ini sudah putus. Atau mungkin ia amnesia? Bukankah sudah jelas Myungsoo katakan bahwa ia dan Soojung sudah tak memiliki hubungan apa-apa?

“Hei, Kim Myungsoo! Kau itu plim plan sekali. Tadi kau melarangku untuk mendekati gadis itu, tapi ternyata kau masih berhubungan dengan Soojung.”

“Gadis? Siapa?” tanya Soojung, masih bergelayutan manja pada Myungsoo.

Belum sempat Myungsoo membuka suara, suara microphone sontak membatalkan niatnya. Ia mengernyit heran begitu mendapati ayah dan ibunya kini berdiri di atas panggung. Apa yang orangtuanya lakukan di atas sana? Seingatnya, terakhir kali ia melihat orangtuanya melakukan hal itu adalah saat mengumumkan pertunangannya dengan Soojung. Myungsoo membulatkan matanya seketika. Jangan-jangan… ini ada hubungannya dengan Soojung?!

“Myungsoo-ya… Soojung-ah… Naiklah ke atas panggung,” suruh Nyonya Kim.

Myungsoo belum kembali ke dirinya yang sebenarnya. Maka dari itu, saat Soojung menarik Myungsoo naik ke atas panggung, lelaki itu tak juga bereaksi.

“Seperti yang kalian tahu, anak kami, pewaris tunggal Kim Group sudah lama menjalin kasih dengan Jung Soojung yang sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Maka dari itu, kami rasa inilah saatnya untuk melanjutkan hubungan anak kami ke jenjang yang lebih serius lagi.” Nyonya Kim tersenyum sejenak, lalu kembali melanjutkan,”Kim Myungsoo dan Jung Soojung akan menikah bulan ini.”

Begitu mendengar kata pernikahan, barulah Myungsoo kembali ke akal sehatnya. Apa? Menikah? Siapa yang tidak waras disini? Bukankah sudah beberapa kali ia bilang bahwa ia tidak akan mungkin menikah dengan Soojung? Ya Tuhan! Cobaan apa lagi ini?

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, reaksi Sooji juga tak jauh berbeda dengan Myungsoo. Apa? Menikah? Ya. Harusnya ia sudah bisa menduga bahwa gadis sepertinya tidak akan pernah bisa memiliki Myungsoo. Mungkin ia sudah berhasil memiliki hati L, tapi tidak dengan Myungsoo.

Sooji berusaha mengipas-ngipaskan matanya agar air matanya tak keluar. Sooji juga tak tahu kenapa tiba-tiba dirinya tak sanggup berdiri dengan tegap.

PRANG

Suara pecahan gelas yang sempat Sooji pegang sontak membuat seluruh mata tertuju padanya. Tak terkecuali Myungsoo. Lelaki itu juga menatap Sooji kaget. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Setelah mengucapkan kata maaf tanpa suara, Sooji kemudian berniat untuk pergi. Memang dari awal tempat ini tidak cocok untuknya.

Oppa, apa yang Sooji lakukan disini?”

Soojung membulatkan matanya begitu melihat Myungsoo kini berlari keluar untuk mengejar Sooji. Hal itu sontak membuat para tamu undangan tampak kaget dengan tindakan Myungsoo, tak terlebih orangtuanya.

“Apa yang terjadi, Soojung-ah? Siapa gadis itu?”

Soojung memaksakan seulas senyumnya lalu menjawab,”Bukan siapa-siapa, Bi. Tidak perlu khawatir.”

Myungsoo mengedarkan pandangannya ke suluruh penjuru, berusaha menemukan sosok Sooji. Ia tersenyum begitu menemukan seorang gadis bergaun merah kini berjalan tak cukup jauh dari hadapannya sambil memegang high heels-nya. Sepertinya gadis itu sudah tidak tahan lagi memakai sepatu menyakitkan itu. Myungsoo kemudian tersenyum lalu segera berlari mengejar langkah Sooji.

“Hei, tunggu!”

Sooji menoleh ke belakang lalu melengos begitu menyadari siapa yang kini berlari kearahnya. Tak begitu mempedulikan Myungsoo, Sooji kemudian melanjutkan langkahnya.

“Aku bilang tunggu!”

Sooji tersentak kaget begitu Myungsoo menarik lengannya. Namun, sedetik kemudian ditepisnya tangan Myungsoo.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau pergi begitu saja?”

Sooji menatap Myungsoo tak percaya. Lelaki ini bodoh atau apa? Tentu saja Sooji tak suka melihat kejadian tak terduga tadi. Tapi, sebenarnya Sooji juga tak boleh menyalahkan Myungsoo. Memangnya dia siapa? Bukankah ia dan Myungsoo tak punya hubungan sama sekali? Kecuali hubungan antara bos dan sekretaris.

“Tidak ada,” jawab Sooji setelah terdiam cukup lama. “Aku harus pulang. Adikku sudah meneleponku dari tadi.”

Baru saja Sooji berniat melanjutkan perjalanannya, Myungsoo kembali menarik lengannya.

“Kau… menangis?” tanya Myungsoo begitu menyadari mata Sooji yang kini memerah.

“Ti… tidak!” bohongnya. “Lagi pula, untuk apa aku menangis?”

“Hei, aku dan Soojung sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Percayalah.”

“Meskipun kau ada hubungan dengan Soojung, itu tidak ada hubungannya denganku.” Sooji kemudian melihat ke arah seberang. Oh, ada taksi. “Taksi!” seru Sooji.

Ia kemudian melepaskan tangan Myungsoo yang sedari tadi memegang lengannya. Lalu pergi menyebrang. Namun, karena tak memperhatikan jalan, Sooji tak menyadari ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi kini melaju kearahnya. Melihat itu, Myungsoo membulatkan matanya. Ia sontak menarik lengan Sooji, membuat gadis itu jatuh ke pelukannya.

Myungsoo kemudian tertegun. Sepertinya ia pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Tapi… dimana? Myungsoo kemudian membulatkan matanya.

“Awas!” seru seorang lelaki begitu sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi, membuat seorang gadis yang berjalan tak jauh dari si lelaki hampir saja terserempet oleh mobil tersebut.

“Hei, kalau mengendarai mobil, hati-hati! Kau baik-baik saja?” tanya si lelaki pada si gadis.

Tunggu! Apa itu tadi? Kenapa sepertinya hal ini tak asing bagi Myungsoo? Apa yang sebenarnya terjadi?!

TO BE CONTINUED

36 responses to “Oh My Ghost! Chapter 10

  1. huwaaa aq udah lama gak nongol Di ff ini,jd aq lupa part berapa yg aq baca waktu kemarin2,woahh apa myung udah mulai mengingat suzy?, next next

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s