1st Mythology – Protopóros (πρωτοπόρος) Chapter 2

MythPro1 copy

 

Krystal meninggalkan kelasnya terburu mendengar suara angin ribut milik keempat Dewa yang saling berbenturan sebab keadaan buruk dan tidak perlu berpikir dua kali untuk menyimpulkan itu.  Yoo Jung terlalu bersahabat dekat dengan para Anemoi; para dewa angin, hingga mereka sudah layaknya pemberi informasi.

Pohon zaitun di sekitar Krystal bergerak gelisah, begitupun ular yang bahkan tidak pernah menampakkan dirinya sendiri muncul tiba-tiba di lapangan tembak tempat Krystal berada, cukup untuknya mengambil kesimpulan bahwa sesuatu yang buruk sudah terjadi pada saudaranya, Sehun.

 

 

Gadis dengan ujung rambut berwarna merah terang itu segera melepas senapan laras panjang, sarung tangan, kaca mata, penutup telinga, dan mantel hitam yang melilit tubuhnya erat bagai di remas.  Pelatih juga beberapa teman Krystal yang langsung menoleh bersamaan pada Krystal sebab heran akan sikapnya yang tiba-tiba berbenah padahal kelas baru saja dimulai, tampak.

“Mau kemana kau?”  Pelatih dengan marga Choi berperawakan tubuh tinggi tegap mendekat, mengerutkan kening heran pada Krystal yang sayangnya tidak gadis itu dengar.

Selesai melepas semua atribut di tubuhnya, Krystal berbalik pergi—berlari sekencang yang pernah ia pikirkan dan selebar yang kaki kurusnya bisa gapai.

Burung hantu dengan bulu seputih kapas menyambut Krystal, bergerombol mereka terbang di atas kepala Krystal dengan koakan yang baru kali ini beberapa orang di sekitar Krystal dengar.

Keberadaan burung hantu kala hari belum sepenuhnya siang bahkan juga ikut membuat mereka terkejut, sebanyak yang orang-orang tahu, burung hantu memang hanya nampak kala malam hari dan bukannya pagi menjelang siang seperti saat ini.  Namun apalah arti wajah heran semua orang di sekitarnya bagi Krystal?  Melihat jelas arah tunjuk juga suara burung hantu yang bisa dimengertinya tentang keberadaan Sehun, kembali Krystal langkahkan kakinya secepat belati yang selalu berhasil membuat tangan musuhnya terpotong—dulu.

Bagai menambah kekhawatiran tentang keadaan buruk yang sudah pasti kini menimpa Sehun, tiap pohon zaitun yang biasanya selalu Krystal lewati dengan keadaan tenang kini justru makin bergerak gelisah lebih dari yang dirinya lihat saat berada di lapangan tembak tadi.

Sekumpulan burung hantu yang bagai lepas dari sangkarnya memenuhi langit Seoul, menutupinya dengan diri mereka yang mulai bercampur dengan warna sayap lain.  Tambahan burung hantu yang muncul Krystal pikir adalah untuk menunjukkan tempat Sehun berada, namun koakan bagai bertengkar ditambah burung-burung hering yang muncul membuat langkahnya terhenti.

Krystal seka keringat di pelipisnya, melihat jelas bagaimana beberapa burung hantu yang tadi bagai menunjukkannya arah tempat Sehun kini justru berhenti sebab mereka yang saling bertengkar dibawah langit.  Begitupun kumpulan burung hering yang mendekatinya namun beberapa burung hantu menghalangi, kembali membuat sebuah pertikaian yang baru kali ini manusia biasa lihat.

Jepretan kamera orang-orang seolah mereka tengah mengabadikan keadaan langka tentang burung-burung yang harusnya tidak muncul di keramaian terang kini justru muncul, mengernyitkan kening Krystal.  Gadis itu tentu tidak bisa lakukan apapun, beberapa waktu lalu Hyun Bin hampir membunuhnya karena masalah semacam ini dan dirinya masih ingin hidup.  Maka, Krystal abaikan pertengkaran burung-burung dibawah kuasanya dan Sehun itu diatas langit, melanjutkan langkahnya menuju keberadaan Sehun yang tampaknya berada di sekitaran universitasnya jika melihat arah tunjuk burung-burung hantu tadi.

 

 

 

 

Palu hitam di tangan Hyun Bin terlepas membentur lantai marmer hingga beberapa retaknya muncul.  Pria dengan tubuh bagian atas tanpa penutup hingga keringatnya langsung terlihat, berbalik panik dari ruang kerjanya—segera, meninggalkan beberapa patung juga besi panas yang harus segera dibentuknya tidak peduli.

Mengambil kunci mobilnya segera, pria yang bahkan sudah hampir jantungan itu keluar dari rumah tanpa peduli pada tampilannya sedikitpun.  Telfon di saku celananya ia ambil, menghubungi Jaejoong atau Luhan sebagai satu-satunya yang bisa dihubungi bergantian.  “Jemput Krystal dan Yoo Jung sekarang!  Aku yang akan menjemput Sehun!  CEPAT!”  Teriaknya kencang sambil melajukan mobil secepat yang dimampunya, mengejar burung hantu milik Sehun yang sudah lepas dari sangkarnya guna menunjukkan keberadaan majikannya sementara koakan burung hering juga desis gusar ular milik Krystal, tidak Hyun Bin pedulikan.

 

 

 

Anjing milik orang-orang di jalanan Seoul menggonggong, mereka yang tadinya tenang bahkan mulai menggigit saat ikatannya tidak terlepas dan bagi yang bisa melepaskan diri, segera berlari kencang dengan lolongan kencang hingga membuat orang-orang disekitar terkejut dan takut.

Krystal membulatkan matanya geram hingga warna kemerahan yang tadi pagi Hyun Bin minta untuk dirinya hilangkan kembali muncul.  Anjing milik beberapa orang di jalanan yang entah bagaimana sudah berkumpul dan berhenti didepannya seolah menghalangi kepergian salah satu putri Ares itu, membuat Krystal meradang.  “Pergi dari hadapanku sebelum aku kutuk kalian menjadi buih di lautan yang dengan mudahnya ditembus dan sama sekali tidak memiliki keindahan, bukan apa-apa!  Pergi sebelum aku merapalkan apa yang ayahku ajarkan untuk membuat alektrion menjadi ayam jantan.  Pergi!”  Geram Krystal tidak main-main.

Gadis dengan langkah ringan itu bahkan sudah menggerakkan tangannya ke belakang tubuh rampingnya dan tidak ada yang bisa menebak apa yang hendak diambil oleh putri Ares itu hingga anjing yang merupakan hewan keramat Ares dan entah bermaksud menyelamatkan Krystal dari apa, segera meminggirkan tubuhnya—memberi Krystal jalan tanpa bisa mereka cegah.

Mendengus marah pada anjing-anjing yang sudah menundukkan diri dan tidak lagi menggonggong, Krystal melanjutkan langkahnya, bukan hanya meninggalkan anjing-anjing yang sudah ketakutan, tapi juga meninggalkan kebingungan dan rasa terkejut dari orang-orang yang berdiri disana.

Mendongakkan kepalanya pada langit, Krystal memegang liontin yang tidak pernah lepas dari lehernya.  Bukan berbicara pada Ares untuk meminta bantuan seperti biasa, namun Krystal berbicara pada Zeus kali ini, Dewa langit sekaligus kakeknya jika menarik garis dari keterununan Ares.  Meminta pemimpin dari para Dewa yang memegang kuasa penuh atas langit itu agar menjatuhkan air sungai lethe sebagai hujan pada orang-orang yang melihat kejadian aneh barusan agar segera melupakannya.

Tapi Krystal tidak perlu meminta hal macam itu bahkan.  Zeus selalu melakukan apapun untuk membuat keberadaan dirinya dan Olympus aman tanpa perlu siapapun minta seperti ketika Zeus membunuh salah satu suami manusia Aphrodite karena menyebarkan keberadaan istrinya yang adalah seorang Dewi Aphrodite pada teman-temannya.

 

 

Namun harusnya, melihat sepanjang apa usianya—harusnya krystal lebih bijak ketika melihat bagaimana burung hering dan beberapa burung hantu saling bertikai agar ia menghentikan langkahnya, puluhan anjing yang menyalak agar ia berhenti menghampiri Sehun, juga yang terbaru ialah hembusan angin musim semi dengan membawa beberapa kelopak bunga kiriman Yoo Jung yang berbisik agar ia tidak melanjutkan langkahnya lagi.  Tapi bagaimanapun Krystal adalah putri Ares, Dewa perang yang sama sekali tidak memiliki kebajikan dengan isi kepala dan hati yang hanya dipenuhi oleh sifat menuntut, pemarah, ambisius, hingga bagaimana keras kepalanya Krystal—berasal dari Dewa itu.

Kini, saat tangannya sudah memegang lengan Sehun yang kaku dengan kungkungan angin yang masih mengacaukan kelas itu—sosok yang tidak seharusnya Krystal temui atau bahkan lihat membuatnya bernasib sama seperti Sehun.  Tidak berdaya dan tercekik.

Barulah ketika itu, Krystal menyesal.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Luhan menghela nafas panjang dengan sebuah apel dan kulit kerang berwarna putih di tangannya yang dijadikan mainan.  Dihadapannya, Hyun Bin dan Jaejoong yang ikut menenangkan diri—tampak memucat.

“Bagaimana ini?”  Tanya Yoo Jung memecah keheningan tidak biasa dengan wajah lebih pucat dari ketiga saudaranya yang lain.  Melihat mereka bergantian yang bahkan mengucapkan satu katapun—tidak.  “Aku sudah mengatakan pada Krystal eonni untuk tidak melanjutkan langkahnya, aku juga bahkan sudah mengirimkan pesan lewat Boreas agar dia menghalangi langkah eonni.  Sehun oppa juga, aku sudah katakan padanya untuk tidak menatap wanita itu lebih lama.  Kenapa tidak satupun dari mereka mendengar ucapanku?  Oppa—.”  Panggil Yoo Jung segera pada Luhan dan langsung duduk di sisi pria putih itu, memegang lengan Luhan bergetar yang langsung menolehkan kepalanya.  “Air milikmu masih ada kan?  Air dari ibumu.  Berikan pada Sehun oppa dan Krystal eonni.”

“Ini tidak bisa dihindari, Yoo Jung-ah.”  Hyun Bin melihat saudara termudanya di rumah itu sambil menggeleng.  “Kita sudah menghindari ini selama ratusan tahun.  Kau lupa?”  Tanyanya berhasil menundukkan kepala Yoo Jung yang langsung mendapat usapan lembut tangan Luhan.  “Bagaimana Krystal?”  Tanya Hyun Bin lagi pada Yoo Jung sebagai yang baru saja keluar dari kamar Krystal.

Menoleh sesaat, Yoo Jung mengerutkan keningnya.  “Eonni menggigil, dan Sehun oppa—dia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya.”

“Bagaimana ini hyung?”  Tanya Jaejoong menghadap Hyun Bin lebih khawatir.  “Menghadapinya sama dengan kematian, menghindar-pun… sama dengan kematian.”

“Mungkin aku bisa tanyakan pada ibuku.”  Usul Luhan menolehkan kepala semua orang padanya.  “Aku akan bertanya pada ibuku apakah ini bisa di rubah.”  Ucapnya yang tentu langsung mendapat gelengan kepala Hyun Bin.

“Kau tidak lihat aku?”

“Aku tahu hyung.”  Ucap Luhan ngotot.  “Tapi mungkin saja ini bisa dirubah jika aku yang meminta.  Aku adalah anak Aphrodite, aku juga saudara Eros—”

“Pergilah.”  Seru Hyun Bin dingin dan berdiri, memandang Luhan yang masih menunjukkan wajah kerasnya seolah ingin bersaing bersamanya—tanpa takut ataupun ragu.  “Pergilah ke Gunung Olympus jika itu kau anggap benar.  Aku disini bersama yang lain akan berdoa semoga ibumu memiliki sesuatu.  Tapi sebelum itu, kau ingat bukan?  Bahwa yang melakukan semua ini adalah Zeus?”

Luhan menghela panjang dan mengangguk.  “Tapi kupikir, ibuku bisa lakukan sesuatu seperti Hera yang lakukan sesuatu untuk membebaskan Jaejoong hyung.”

“Dan kau berpikir bahwa Aphrodite akan memberikan tubuhnya pada Zeus demi membebaskanmu seperti ketika dia memberikan tubuhnya pada Poseidon yang berhasil membuatnya bebas dari jaring ayahku?”

“Bu—bukan begitu.”  Bata Luhan menunduk tanpa berani melihat Hyun Bin sekeras tadi.  “Maksudku, mungkin saja ibuku memiliki sesuatu agar sakitnya tidak separah ini.”

“Ya.  Aku juga berharap.”  Balas Hyun Bin segera, berjalan menuju tangga rumah yang menghubungkannya dengan lantai dua dan sudah jelas, pria itu menuju kamar Sehun.

 

 

Meninggalkan ketiga saudaranya yang lain tanpa peduli, Hyun Bin terus melangkah tanpa berbalik, membuat Yoo Jung melihat jelas punggung penuh lukanya yang tidak tertutup apapun.  “Apakah—rasanya sesakit itu, oppa?”  Tanya Yoo Jung lagi mengingat bagaimana keadaan Sehun dan Krystal tadi, serta bagaimana kehidupan Hyun Bin selama ini.  “Cinta, apakah sesakit itu?  Atau, apakah seindah itu?  Beberapa orang yang aku temui, meskipun sebelumnya mereka telah sakit karena cinta, tapi mereka tidak jera sebab mereka katakan bahwa indahnya lebih banyak.”

Luhan membuang nafas kasar dan bangkit dari duduknya, menoleh sejenak pada Yoo Jung namun tidak menjawab pertanyaan Yoo Jung yang sebenarnya, dirinyalah yang paling paham akan hal macam ini.  Namun pria berkulit putih susu itu memilih bungkam dan justru mengeluarkan sebuah botol kecil dengan cairan bening yang tersisa setengah di dalamnya.

“Minumlah ini, Yoo Jung-ah.”  Perintah Luhan menunjuk botol yang baru dikeluarkannya dan ia letakkan di meja hadapan Yoo Jung.  “Hyung—,”  Panggil Luhan pada Jaejoong yang rambutnya mulai berubah warna menjadi keemasan lagi.  “Aku pergi.”  Pamitnya tanpa menunggu jawaban atau tanggapan.  Pergi sebagaimana tadi yang memang ia rencanakan tujuannya dan Jaejoong memejamkan mata lelah dengan tubuh bersandar pada punggung sofa.

“Minumlah, Yoo Jung-ah.”

“Aku ingin jawaban.”  Ucap Yoo Jung menatap Jaejoong lurus dan menepis tangan pria yang baru saja menyodorkan botol kecil milik Luhan tadi.  “Apakah, rasanya sesakit itu?  Atau, apakah rasanya seindah yang orang katakan?”

“Tanyakanlah pada Hyun Bin hyung bagaimana rasanya.  Atau jika kau terlalu takut lakukan itu, maka ingatlah bagaimana keadaan Sehun dan Krystal tadi.  Atau jika kau ingin lihat bukti nyata selain Hyun Bin hyung, ingatlah saat Paris membuat perang Troya terjadi hingga seluruh anggota keluarganya tewas hanya demi tetap memiliki Helene.  Atau ingatlah saat Ares membunuh Adonis sebab cemburu padanya yang dicintai oleh Aphrodite.  Cinta, sekali kau merasakannya, kau akan bahagia dan merasa bahwa kau sedang berjalan di atas bunga bermekaran dengan wangi yang selalu memenuhi tubuhmu.  Tapi itu tidak sebanding dengan pengorbanan yang harus kau berikan, cinta tidak lebih dari tumbal.  Jika kau inginkan sesuatu, maka kau harus berikan sesuatu pula.  Sejauh yang aku tahu, seperti itulah cinta.  Ingat novel William Shakespeare tentang Romeo and Juliette?  Kau mati maka aku mati, kau bahagia maka aku bahagia, kau tertawa dan akan aku lakukan apapun untuk berikanmu itu, akan aku korbankan apapun sebagai bukti cintaku, semacam itu, kata-kata semacam itu, percayakah dirimu?  Jangan, Yoo Jung-ah.  Kita tidak hidup dalam dunia macam itu, bukan dunia macam itu yang manusia tinggali.  Ingat bahwa Pandora melepas masa tua, rasa sakit, kegilaan, penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, kekejian, dan semua hal buruk dari kotaknya pada manusia.  Mereka tidak sebaik itu meski kita adalah manusia juga, mereka tidak seloyal itu meski berkata cinta.  Kita mencuri ambrosia untuk abadi dan kita memiliki sifat buruk sebagai manusia, tentu.  Apa yang kita dapatkan hari ini, tidak akan bisa dirubah.  Dan kau tanyakan rasa cinta?  Tidak ada yang lebih menjijikkan dari itu.  Ini adalah hukum termutlak kita, cinta adalah hukuman, Yoo Jung-ah.  Bukan berkah.”  Ucap Jaejoong panjang lebar dan kembali menyodorkan botol pemberian Luhan pada Yoo Jung yang sudah mematung.  Meletakkan botol kecil tersebut dalam genggaman gadis manis yang sudah kehilangan senyumnya.  “Minumlah jika kau ingin menghindari kutukan cinta sebab kita memakan ambrosia agar abadi.  Minumlah ini, Yoo Jung-ah.”  Paksa Jaejoong dengan tangan membelai rambut halus Yoo Jung, menolehkan kepala gadis itu dengan mata memerah.

“Hyun Bin oppa memakan apel Odin dan bertahan hingga sekarang untuk menebus salahnya pada cinta yang ia miliki.  Paris merelakan semua orang disisinya tanpa peduli agar tidak kehilangan Helene, cintanya.  Romeo menyusul kepergian Juliette begitupun sebaliknya, karena mereka akan bersama selamanya.  Dan Pandora, oppa lupa bahwa ada sesuatu hal yang tersisa dalam kotaknya?  Harapan, masih ada harapan.”

“Dan kau masih tidak melihat semua kekacauan atas cinta yang baru saja kau sebutkan?  Hyun Bin hyung bagai mayat hidup, Paris kehilangan orang tua, saudara, bahkan kerajaannya.  Romeo dan Juliette mati bersama dan kau pikir apa yang bisa diharapkan dari matinya mereka?  bersama-sama di surga sana?  Apa kau pikir semua kekacauan dan pengorbanan itu sebanding?  Setimpal?”

“Harapan, oppa.”

“Maka berharaplah kalau begitu.”  Putus Jaejoong pendek dan berjalan memasuki kamar Krystal, meninggalkan Yoo Jung yang terdiam sehening suara tumbuhan dengan mata mengarah pada botol kecil di tangannya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Tidak percaya dengan keadaan di sekelilingnya, Soo Ji yang bahkan masih gemetar takut dengan kedua tangan memeluk lutut terlipatnya erat, memperhatikan sekeliling ruang yang sangat berantakan dengan beberapa orang senasib dengannya yang juga tidak kalah kacau.  Mencoba menenangkan diri, Soo Ji mengambil tasnya dengan tangan kaku dan mengeluarkan ponselnya dari sana, memencet tombol hingga salah beberapa kali sebab masih dipenuhi panik, Soo Ji akhirnya bisa menyambungkan panggilannya pada seseorang yang entah bagaimana tidak juga mengangkat telfonnya meski sudah beberapa kali di coba.

Myungsoo, begitu nama yang tampak pada layar ponsel Soo Ji.

 

 

“Hai.  Kau, baik-baik saja?”  Tanya seorang pria dengan atasan kotak-kotak longgar berwarna biru yang mengulurkan tangannya kehadapan Soo Ji.  “Mari aku bantu, bisa berdiri?”

“N—ne—.”  Angguk Soo Ji hampir tidak bisa mengeluarkan suaranya.  Apakah tadi itu?  Gempa?  Atau angin puting beliung?

 

Kalian baik-baik saja?  Kalian baik-baik saja?

 

Suara riuh dengan kalimat macam itu mulai terdengar di telinga Soo Ji yang selama beberapa saat tadi bagai tuli.  Mengerjapkan matanya beberapa kali dan mencoba untuk bangkit dibantu pria disampingnya yang entah datang darimana,  Soo Ji memegang tas berwarna pink-nya erat bagai takut.  “Bi—bisakah kita segera keluar dari sini?”  Tanya Soo Ji melihat was-was arah luar, takut-takut jika angin tadi kembali dan mengacaukan seisi ruang kelas hingga membuatnya serasa hampir mati seperti tadi.

“Mungkin.  Setelah beberapa dosen memeriksa keadaan kalian dan memastikan tidak ada yang serius.”  Jawabnya melihat beberapa dosen ikut masuk membantu mahasiswa di kelas Soo Ji berikut guru galak yang kini bahkan sudah tertidur di lantai tidak sadarkan diri.

Suara-suara lain macam mengabsen satu persatu siswa di kelas Soo Ji mulai terdengar, beradu dengan rintihan sakit ataupun teriakan untuk segera memanggil dokter.  Soo Ji duduk di ujung kelas bersama pria yang membantunya tadi dan tengah berdiri di sisinya seolah penjaga pribadi.  Jika Soo Ji perhatikan, pria ini tentu tidak berasal dari dalam kelasnya sebab pakaian juga segala hal dalam dirinya nampak rapi.

“Namaku Kim Jong In, siswa kelas tari.”

“Oh—.”  Soo Ji mendongak dengan pandangan terkejut, pantas saja, batinnya.  “Aku Bae Soo Ji.”

“Siswi baru ya?”

“Ya.”

“Sayang sekali kau disambut oleh angin mengamuk seperti tadi.”  Gurau Jong In tersenyum tanpa satupun senyum dari bibir Soo Ji seperti biasa.

 

 

“Mana Sehun?  Oh Sehun?  Kemana dia?”  Tanya pria berambut tipis yang sejak tadi mengabsen siswa dengan selembar kertas di tangannya.  Tampak melihat kesana kemari dengan kaca mata bulatnya, pria itu mulai khawatir sebab satu siswanya yang tidak ada.  “Apakah tidak ada yang melihatnya?”

“Tadi seperti ada yang menariknya.  Seorang wanita dan pria.”

“A—apa?  Siapa?”  Tanya pria tersebut makin panik seraya menghampiri salah satu mahasiswanya yang memberikan jawaban dan gelengan kepala mahasiswa tersebut langsung tampak.

“Tidak tahu, baru kali tadi aku melihat mereka berdua.”  Jelasnya makin membuat seluruh ruangan riuh apalagi beberapa gadis yang hanya menonton dari jendela kelas dan mendengar nama Sehun yang menghilang, tampak lebih khawatir dibanding guru tersebut yang langsung keluar dengan kalimat Halo, polisi dalam perbincangannya di telfon.

 

 

“Oh Sehun?”  Soo Ji menggumam, jika tidak salah—bukankah itu pria yang tadi kursi sebelahnya kosong dan harusnya aku duduk disana?

“Kenapa?  Kau kenal Sehun juga?”  Jong In bertanya begitu mendengar gumaman Soo Ji akan nama Sehun.  “Asal kau tahu, Sehun itu playboy dan aneh.”  Lanjutnya sambil berbisik seolah tidak ingin ada yang dengar.

“A—aneh?  Aneh bagaimana maksudmu?”

“Sekali waktu, aku pernah melihatnya berbicara dengan ular.”

“A—apa?  Bicara, dengan ular?”

“Mmm.”  Jong In mengangguk.  “Yang lebih aneh lagi adalah, begitu dia muncul, tiba-tiba saja ada pohon zaitun disamping kelas.”

Soo Ji mengernyit dengan pandangan aneh pada Jong In.  Gadis itu tentu mana bisa percaya dengan hal semacam mistis begitu?  Atau, jika tidak ingin menyebut ini mistis maka katakanlah tidak masuk akal saja, atau aneh saja, atau gila saja, atau apalah terserah karena yang jelas, Soo Ji tidak mempercayai ucapan Jong In—sedikitpun.

“Jangan lihat aku begitu.”  Sindir Jong In.  “Jika kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan sebelumnya, maka percaya saja bahwa pria itu sangat playboy.”  Ucap Jong In lagi dengan arah tunjuk pandang pada beberapa gadis yang menggigit bibir mereka dengan mata berkaca-kaca dan gumaman nama Sehun yang langsung terdengar jelas.  “Lihat, kan?  Makanya, aku bilang jangan dekat-dekat dengan Sehun dan jangan terpesona padanya atau percaya pada perkataannya.”

“Maaf, Kim—Jong—In-ssi.”  Potong Soo Ji cepat dan berdiri dari duduknya, menghadap Jong In lurus dengan sorot tajam.  “Aku rasa kau salah paham.  Aku tidak pernah mengenal Sehun dan tadi adalah pertemuan pertamaku dengannya.  Aku menggumam namanya sebab dia adalah orang yang harusnya duduk bersamaku tadi.  Lagipula, aku sudah memiliki kekasih yaitu Kim Myungsoo, jadi—.”

“Kim Myungsoo?”  Potong Jong In balik melebarkan matanya dan meletakkan kedua tangannya di pundak Soo Ji, memperpendek jarak mereka seolah mencari kebenaran dari mata dan bibir Soo Ji akan ucapan barusan.

“Apa-apaan kau?  Lepaskan aku.”

“Tunggu sebentar.”  Cegah Jong In langsung ketika Soo Ji berusaha melepas pegangan kuat tangan.  “Kim Myungsoo?  Anak hukum itu?”

“Darimana kau tahu tentang oppa?”

“Dia bertunangan dengan noona-ku pagi ini.”

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Masuk kedalam kamar luas sehun dengan sebilah pisau di tangannya, sambutan burung hantu Sehun langsung menyambut Hyun Bin menggantikan Sehun yang sudah terbaring tidak berdaya diatas ranjang dengan erangan sakit yang tidak kunjung usai.

Pria dengan mata setajam mata burung hantu miliknya yang dulu mampu membuat siapapun merinding hanya dengan satu kali tatapan itu, sudah sayu tidak menunjukkan satupun tanda bahwa dulunya ia begitu ditakuti.  Tangan kekar yang selalu memegang benda tajam dengan sempurna hingga mampu mengukir gambar pada tubuh seseorang, lemah tanpa satupun keyakinan.

Sehun terkulai bagai seorang kakek menunggu ajal, tanpa satupun perlawanan ataupun satupun harapan.  Entah, kemana sinar mata terangnya, tangan kokoh yang mampu merobohkan pohon dalam sekali dorong, ataupun otak cerdasnya yang bagai tidak berfungsi hingga tidak satupun anggota tubuh bergerak kecuali bibir yang terus menerus merintih—untuk pertama kalinya.

“Kau mendengarku, Sehun-ah?”  Tanya Hyun Bin sembari melepas sarung pisau ditangannya.

Sehun menoleh pada Hyun Bin, kaku.  Dan erangan makin kencang setelah itu, lolos dari bibirnya mengalahkan gelegar gunung meletus yang pernah Hyun Bin lakukan hingga burung hantu-nya mengepak gelisah dan beberapa barang dalam kamarnya bergetar.

“Tenanglah.”  Tutur Hyun Bin duduk disamping Sehun.  “Semakin keras kau mengerang sakit, tubuhmu akan semakin sakit.”  Jelas pria itu seolah tahu dan meletakkan pisau yang sejak tadi tangannya pegang disamping tubuh Sehun, berikut sarungnya dengan gambar burung hantu yang menghiasi.

65637fb66c30fe78e81b3d854d5a91f2

 

“Kau ingat pisau ini?”  Tanya Hyun Bin meski tahu Sehun tidak akan mampu menjawab.  Melihat pisau yang tadi di pegangnya sekaligus arah pandang Sehun, Hyun Bin melanjutkan bicaranya.  “Annabeth memberikannya padamu sebagai kenang-kenangan saat kita meninggalkan California.  Kau ingat apa katanya?  Gunakan ini saat kau merasa akan berharga menggunakannya.  Kau ingat itu, Sehun-ah?”  Mengedipkan matanya perih, Sehun mengiyakan. Dirinya ingat, semua hal yang terjadi dirinya ingat bahkan pada gadis dengan kulit seputih susu yang membuatnya berakhir dalam keadaan macam ini.  “Lalu, apakah hari ini akan kau gunakan pisau ini untuk membunuh dirimu sendiri agar terlepas dari siksaan macam ini sebagai sesuatu yang berharga, Sehun-ah?”  Tanya Hyun Bin bagai bermain-bermain sementara erangan sakit Sehun makin terdengar pilu tidak peduli pada sakit yang makin terasa jika ia melakukan itu hingga tetes air matanya tampak, keluar melewati kedua sudut matanya.

Melirik Hyun Bin paksa tidak peduli bagaimana begitu sakit ketika ia melakukan itu, Sehun memejamkan matanya pelan seolah mengiyakan dan merestui ucapan Hyun Bin tadi.  Bunuh aku, hyung.  Ucap Sehun dalam hati.

 

“Jika kau menolak wanita yang memang ditakdirkan untukmu, kau akan kesakitan macam ini hingga mati sedikit demi sedikit.  Tapi jika kau menerimanya, kalian akan hidup bersama dengan bahagia tapi lama kelamaan dia akan sadar bahwa tidak ada perubahan sedikitpun pada fisikmu, entah dia akan meninggalkanmu sebab aneh—atau dia akan meninggalkanmu sebab termakan usia, kepergiannya akan membuatmu makin sakit lebih dari yang saat ini kau rasakan dan kematian tidak akan pernah menjemputmu hingga kau akan terus menerus kesakitan, sepertiku.”  Sesal Hyun Bin makin memelankan suaranya menatap Sehun sedih yang wajahnya sudah memerah bagai kulit tomat.

Bukannya diam untuk sekedar berpikir tentang apa yang harus dipilihnya, ucapan Hyun Bin barusan justru makin membuat Sehun mengerang.  Seolah kehilangan jati dirinya sebagai pemikir, Sehun memutuskan sesuatu hal dengan cepat untuk pertama kalinya.  Tapi jikapun harus berpikir antara sakit yang merengkuh tubuhnya hingga tidak bisa digambarkan, bercampur dengan bayangan Hyun Bin disampingnya yang bahkan tidak pernah tidak merasa kesakitan dan entah bagaimana pria itu melaluinnya selama ini, Sehun tetap berkeputusan pada pilihan cepatnya.  “Bbu—nnu-h a—kku—h.”  Bata Sehun tersengal dengan sakit yang makin menjadi tiap ia gerakkan tubuhnya.

“Tidak.”  Geleng Hyun Bin melempar pandangan lembutnya berikut senyum hangat.  “Kau harus menerimanya, Sehun-ah.  Wanita itu, kau harus menerimanya”  Lanjutnya mengusap rambut perak Sehun yang telah kembali tanpa ragu sedikitpun akan jawabannya hingga pria lebih muda darinya itu makin mengerang sakit dan air mata jernihnya kembali mengalir bebas membasahi bantal bulunya.  “Ingat ramalan itu?  Kau adalah pembuka jalan bagi kami.  Setidaknya, kau membuka jalan untuk Luhan, Krystal, dan Yoo Jung.  Jika aku gagal, maka kau harus berhasil.”

“Mm—mmng—“  Geleng Sehun kaku dan pelan menolak ucapan Hyun Bin.  Pria berambut perak itu, tetap kekeuh pada pendiriannya untuk mati dan tinggal di Elysium kemudian dibanding harus menerima wanita yang baru dilihatnya sekali tadi dan sudah membuatnya tidak berdaya macam ini.

“Luhan menemui ibunya untukmu dan Krystal, tunggulah.  Selagi itu, terimalah wanita tadi untuk mengurangi sakit di tubuhmu.  Berpikirlah cerdas, Sehun-ah, seperti dirimu yang sebenarnya.  Berpikirlah cerdas, adikku.”

 

 

Sehun terisak—sakit dan putus asa.  Ujung mata pria itu bahkan tidak lagi mengeluarkan air bening namun darah yang tentu makin membuatnya kesakitan.  Pria yang bahkan tidak pernah benar-benar menunjukkan ekspresinya itu, menangis dihadapan Hyun Bin bersama sakit yang makin menjadi hingga serasa kulitnya dilepas sedikit demi sedikit.  Menatap Hyun Bin dengan mata merah bercampur darahnya, Sehun berharap agar Hyun Bin memotong lehernya dengan pisau dalam genggamannya, atau menusuk jantungnya dengan pisau tersebut, atau melakukan apapun hingga pria yang selalu menjaganya itu melepaskannya dari kutukan menyakitkan macam ini.  Sayangnya, Hyun Bin tetap menggeleng dan Sehun bahkan tidak peduli jika dirinya bergerak maka tubuhnya akan semakin sakit dan terluka hingga kemudian mati, lakukan saja dengan cepat, bergerak dengan cepat hingga mati, pikir Sehun tidak tahu lagi harus bagaimana agar segera mati.

 

 

“Oppa.”  Panggil Yoo Jung pada Hyun Bin bersama Jaejoong yang masuk ke dalam kamar Sehun di susul dua orang tidak asing yang langsung menarik perhatian Hyun Bin sekaligus membuatnya kembali menyarungi pisau milik Sehun, pemberian dari saudaranya.

Turun dari ranjang Sehun, Hyun Bin berjalan mendekat ke arah Jaejoong dan meletakkan pisau tadi di atas nakas samping ranjang.  “Ada apa?”  Bisik Hyun Bin pada Jaejoong sembari memperhatikan dua asing disampingnya.

“Yoo Jung membuatkan ramuan untuk mengurangi sakit Sehun, dan aku panggil Hipnos juga Morfeus agar Sehun bisa tidur dan melupakan sakitnya hingga bisa menerima wanita itu, atau mulai bisa berdamai merasakan sakitnya.  Seperti yang aku lakukan dulu padamu.”  Jelas Jaejoong dan mulailah mereka memperhatikan Yoo Jung yang sudah berdiri di ujung kaki Sehun dengan cawan emas milik Jaejoong.

Menuangkan cairan berwarna kuning cerah hasil buatannya pada kaki Sehun tanpa henti yang mulai menyebar dengan sendirinya ke seluruh tubuh putra Athena itu, tangis dan rintihan Sehun mulai berkurang dan saat itulah—Jaejoong menoleh pada Hipnos, meminta Dewa Tidur itu melakukan apa yang telah ia lakukan sebelumnya pada Krystal agar melakukannya juga pada Sehun.

Setelah itu, berbeda dengan Krystal yang hanya Jaejoong minta pada Hipnos agar membuatnya tertidur, sosok Morfeus yang tidak menyentuh Krystal sedikitpun, kali ini Jaejoong minta agar Dewa Mimpi salah satu putra Hipnos itu agar memenuhi kepala Sehun dengan mimpi-mimpi indah dan berakhir dengan memimpikan wanita belahan jiwanya.

“Jangan pernah buat dia terbangun dan jangan pernah buat dia kehilangan mimpinya akan wanita itu sebelum hatinya menerima.”  Pesan Jaejoong jelas pada mereka berdua yang segera melakukan tugasnya, memenuhi mata merah dengan kornea bening milik Sehun dengan kabut gelap hingga terpejam dan sebelah tangannya mengusap kepala Sehun—Hipnos melakukan tugasnya.  Begitupun Morfeus yang menyentuhkan ujung jemari telunjuknya dengan mata terpejam pada pusat kepala Sehun, membuat pria yang sejak tadi menangis dan mengerang sakit pada akhirnya tidur, dengan tenang seolah tidak ada sesuatu hal buruk apapun.

 

 

“Aku sudah cari informasi tentang wanita dan pria itu.  Pasangan Krystal, dia bernama Kim Jong In.  Orangtuanya memiliki usaha pada bidang properti dan real estate.  Pasangan Sehun, namanya Bae Soo Ji.  Orangtuanya pemilik brand fashion satu majalah terkenal, juga penguasa pasar entertainment saat ini, dan dia memiliki kekasih.”

“Apa?  Siapa?  Wanita Sehun?  Siapa tadi namanya?  Bae—siapa?”

“Bae.  Soo.  Ji.”  Tekan Jaejoong memberikan seluruh informasi yang dengan mudah diterimanya pada Hyun Bin.  “Kekasihnya bernama Myungsoo, mereka sudah bersama hampir—berapa?  Satu atau dua tahun?”  Tanya Jaejoong tidak yakin ikut melihat lembaran kertas yang kini telah berpindah tangan pada Hyun Bin.

“Kita harus lakukan sesuatu.”

“Tidak perlu.” Jaejoong menggeleng.  “Tadinya aku mau kirimkan Eris agar mereka berpisah, tapi tampaknya pria bernama Myungsoo itu memudahkan jalan kita.”

“Kenapa?”

“Dia memiliki wanita lain.”

Hyun Bin tergelak tidak percaya dengan lirikan pada Sehun yang mulai terpejam tenang.  “Aku pikir takdir akan jahat pada mereka, tapi tampaknya sudah sangat baik sekarang.”

“Ya.”  Jaejoong mengangguk mengiyakan.  “Lalu?  Harus bagaimana sekarang?”

“Kita harus pindah.”  Putus Hyun Bin masih dengan pandangannya pada Sehun.

“Aku tahu itu, tapi kita punya dua orang yang tidak boleh berjauhan dengan pasangannya.”

“Maka kita pecah bagi dua.”

“Maksudmu?”

“Sehun bersamaku dan Yoo Jung, kau bersama Krystal dan Luhan.”

“Yang benar saja?”  Jaejoong menggerutu.  Membayangkan serumah dengan putra Ares dan Aphrodite, oh yang benar saja?  “Hyung—.”

“Panggil Hekate dan minta dia untuk untuk menakut-nakuti penghuni rumah samping rumah Kim Jong In dan Bae Soo Ji dengan hantu atau arwah atau semacamnya hingga penghuni rumah menjualnya dan kemudian kita beli.”

“Tck!”  Decak Jaejoong menatap Hyun Bin malas.

“Apa lagi?”

“Kau serius akan membuatku tinggal satu atap dengan putra Aphrodite dan putri Ares?!”  Protes Jaejoong kesal hingga Hyun Bin langsung tergelak, kali ini pria itu bahkan tertawa melihat bagaimana putus asanya Jaejoong yang benar-benar tampak menyedihkan.

 

-oo—ooooooo-

Maaf untuk beberapa bagian yang terkesan buru-buru, saya akan memperbaikinya di chapter selanjutnya.  Sebenarnya dan harusnya part ini lebih panjang, gak putus di tengah jalan pas bagian di atas, tapi apalah daya saya yang memutus bersambung disana.

Untuk pembaca All of Us maaf juga belum bisa posting karena saya bingung mau pake password apa -_-“

50 responses to “1st Mythology – Protopóros (πρωτοπόρος) Chapter 2

  1. Anyeong author, salam kenal 😄baca part 1-2 penasaran sama kisahnyaa fantasinya keren 😆 semoga suzy gag brpikir aneh ttnng sehun gara2 omongan kai 😂 fighting next chapnya❤

  2. Sebenarnya ini ff ceritanya keren banget tapi karena aku kurang tau tentang nama” dewa dan dewi beserta kekutan yg dimilikinya membuatku masih sangat sulit untuk mengerti maksud jalan ceritanya,aku ngertinya pas bagian mau akhirnya saja.next partnya ditunggu author.

    • waduh… padahal setelah sebutin namanya aku langsung jelasin juga tentang kekuatan/kelebihannya. okelah kalau begitu next aku kurangin atau aku jelasin lebih rinci aja tentang mereka haha

  3. kasihan banget sama sehun, baru melihat orang yg ditakdirkan dg nya saja sudah sakit seperti itu… ditunggu next chapter kaakkk… kereeeennnnn

  4. Jadi itu alasannya knpa mereka gak boleh jatuh cinta karna mereka nantinya akan tersakiti. Wahh myung jahat, suzy dutinggal tunangan, semoga sehun memilih untuk menerima suzy.

  5. Suka banget nih ff, keren pol 👍👍 apa lg main cast nya bias aku semua nih makin gregetan nunggu chapter selanjut nya
    Apa yang terjadi dgn sehun dan suzy ya kalau sehun jadi terima semua takdir yang udh di ksh buat dia.. gpp sih myungsoo selingkuh yang penting sehun suzy bersatu hahahaha *ketawa evil*

  6. Seruuuuu. Berasa baca percy jakcson versi korea dengan tema berbeda. ..wkwkwk di tunggu kelanjuttanya yaaa semangattt 😁😁😁

  7. o. Sehun kesakitan gara-gara dia nolak takdir dia? Pantes HYun bin gitu, udah ditinggalin toh. Aku ga bakalan ngomong banyak, aku cuma mau bilang aja. Aku suka, mitos ama kutukannya. Selaras. Ngomong apa coba? hahhahahaa

  8. Suka sama cerita nya deh yg bawa” mengenai dewa zeus lah dewi aphrodite lah..

    Hahaha

    Di tunggu kelanjutan nya thor..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s