[Love Story] Iri

Suzy1

IRI

Suzy akan selalu iri melihat mereka berdua

Banyak yang saling berbisik bagaimana kedua sejoli berbeda jurusan dan sifat itu bisa menjadi sepasang kekasih yang saling mengasihi, saling mengerti, juga saling melindungi. Ada yang kagum dan berharap bisa seperti mereka, ada juga yang biasa.

Kalau Suzy?

Ah, tidak usah ditanya, dia termasuk golongan tukang gosip, iri.

Apakah Suzy selalu berbisik, menggunjing, membicarakan sang wanita yang katanya banyak kekurangan itu? Oh, tentu saja tidak.

Kenapa tidak?

Karena ia adalah saksi bagaimana sang pria mengejar sang wanita untuk bisa bersanding di sampingnya, bukan sekedar beberapa tahun, tetapi seumur hidupnya. Semuanya bermula dari pihak sang pria yang menghampirinya kala ia sedang sendiri di perpustakaan kampus.

“Suzy,” ia kaget setengah mati kala yang memanggilnya adalah pria kulkas menjulang tinggi tersebut, sumpah.

“Ah, Leo sunbae mengagetkanku saja,”ujarnya sembari mempersilakan Leo, mahasiswa Fakultas Seni, kakak tingkatnya, untuk duduk satu meja dengannya.

“Kau sedang sibuk?” tanya Leo, tentu saja dengan suara sedikit pelan dan terdengar sedikit malu, membuatnya harus memahami apa yang diucapkan kakak tingkatnya itu selama beberapa sekon. “Tidak, kok, sunbae. Memangnya ada apa, ya?”

Pria itu tersenyum kecil, manis.

Jujur, Suzy baru pertama kali melihat Leo tersenyum, dihadapannya langsung, eksklusif, pribadi, dan mahal harganya alias momennya.

“Aku boleh cerita sesuatu?”

Oh, tentu saja boleh! Ini adalah kesempatan langka, seorang pria tampan nan misterius ini mau bercerita sesuatu yang amat penting kepadanya dirinya seorang, pikirnya.

“Memangnya Leo sunbae mau cerita apa?”

Tampak Leo berdeham sebentar, seolah mempersiapkan suaranya demi bisa curhat kepada dirinya, seonggok gadis yang kebetulan cantik nan manis dan banyak temannya.

“Kau dekat dengan Kim Daena?”

“Daena sunbae yang Fakultas Teknik jurusan Teknik Komputer dan memiliki keahlian menggambar yang apik, kan?” tanyanya dengan penuh selidik, siapa tahu bukan Daena yang ia maksud, seorang gadis yang sering mengucir rambutnya dengan model ekor kuda dan selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang ia kenal dan memiliki banyak koneksi alias teman antar jurusan, fakultas, bahkan kampus. Oh, dan satu lagi, ia pintar mendesain baju untuk teater yang sering ia mainkan di UKM.

Leo mengangguk kecil, tersenyum lagi, “memangnya kenapa sunbae? Ada masalah, ya dengan dia? Bukannya Leo sunbae dan Daena sunbae sangat dekat, ya?”

Terdengar helaan napas panjang dari Leo, yang bisa ia tangkap adalah helaan napas yang berat dan gelisah, “sebenarnya aku yang punya masalah dengan dia.”

Haruskah Suzy menyuruh kakak tingkat untuk berucap lagi? Sumpah, ia tidak dengar apa yang diucapkan Leo kepadanya karena pria itu berucap dengan suara pelan sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam, seperti berdoa. “Maksudnya?”

Leo menegakkan kepalanya, matanya menatap lekat ke wajahnya yang menurutnya lumayan -memang- cantik, “aku yang sebenarnya membuat masalah dalam hubunganku dengan dia.”

Oh, ia mengerti sekarang, hahaha. Pikirnya. “Memangnya Leo sunbae membuat kesalahan apa, sepertinya gelisah begitu.”

“Janji kau tidak akan tertawa atau membocorkan ini?” Tiba-tiba pria itu mengacungkan jari kelingking kanannya, mengajukan sebuah perjanjian sebelum semuanya bocor di depannya.

Bingung?

Pasti.

Penasaran?

Memang, iya.

Jadi, ia harus bagaimana?

“Bisakah kau berjanji padaku, adik kelasku yang manis?” tawar Leo sembari memberi julukan yang apik padanya. Oh, dia tahu apa yang harus ia lakukan! Ini kan, kesempatan langka! Dan jarang terjadi pula!

“Kalau tidak, aku tidak akan menceritakan apa masalahku padamu, Bae Sooji.”

Oh, mengancam? Siapa takut.

“Oke, aku janji!” Ia mengaitkan kelingkingnya dan tersenyum lebar. Bagus! Inilah kesempatannya!

So, what you want to tell me, sunbae?” 

Dan mengalir lah cerita lama tentang bagaimana Leo dan Daena bisa berteman atau bersahabat sampai se-awet ini. Dahulunya, Leo dan Daena adalah tetangga di suatu komplek di Busan, mereka sering bermain bersama layaknya anak kecil lainnya. Ah, dan jangan lupa dengan tingkah Daena yang mirip seperti laki-laki, yang membuat Leo sering mengelus dada dan menggelengkan kepala. Luka di sekujur kakinya sudah biasa dan Leo lah yang sering mengobatinya.

Lalu, dimana titik masalahnya?

Oh, tunggu sebentar. Suzy selalu sabar dengan cerita episode seperti ini.

Semuanya berawal dengan ibu dari Daena yang sudah dipanggil ke surga. Leo dan Ravi, sepupu terdekat Daena, sengaja membolos untuk menemani Daena memandang foto sebesar 10R bergambarkan wajah sang ibu. Daena memunggungi keduanya, punggungnya tidak bergetar, tubuhnya tegap diam dihiasi dress hitam juga rambut yang sengaja ia geraikan. Leo mengira kalau Daena sudah menerima kenyataan. Tetapi nyatanya, Daena menangis dalam diam sembari berkata, “jadi, seperti ini ya rasanya sepi dan kosong?” dengan suara yang bergetar sembari menatap keduanya. Matanya sembap juga wajahnya tampak mendung.

Leo khawatir, Leo gelisah, dan Leo merasa ingin menenangkan jiwa sahabatnya itu.

3 hari penuh Daena duduk di rumah, mendapat izin selama seminggu untuk tidak berangkat sekolah. Leo dan Ravi sering ke rumahnya setelah pulang sekolah. Menemaninya sekaligus menghiburnya. Tetapi saat malam ketiga, semuanya tenang, dan sibuk untuk mempersiapkan untuk esok hari. Dini harinya, ponsel Leo berbunyi, tertera nama ayah dari Daena. Masih jam empat pagi dan Leo merasa itu tidak penting.

“Taekwon, apa kau sudah bangun?”

Iya, saya sudah bangun. Memangnya ada apa, paman?”

“Daena menghilang, Taekwon.”

Tidak usah ditanya bagaimana reaksi sang Leo ini. Langsung berlari sembari menghubungi Ravi, membantu untuk mencari Daena. Semuanya tempat di Busan sudah dijelajah, dan nihil. Sampai akhirnya ia menghubungi pamannya yang merupakan polisi di Seoul, sengaja menginap di sana sekaligus mencari gadis itu di Seoul. Siapa tahu ada, bukan?

Selama seminggu ia berusaha mencari bersama pamannya, tetapi nihil juga. Boleh tidak kalau Leo berhenti sejenak? Setidaknya meyakinkan kalau gadis itu masih hidup tidak melakukan hal-hal aneh. Akhirnya suatu malam ia sengaja berjalan-jalan di tengah hiruk pikuknya taman dekat sungai Han, sekedar melepas penat saja. Sampai akhirnya ia membeli sebuah keripik kentang di sebuah toko, saat hendak keluar dari toko tersebut, ia mendengar kalau ada seseorang yang hendak membeli es krim cokelat di toko sebelah.

Apa yang ia pikirkan?

Bagaimana mungkin seseorang membeli es krim sedangkan angin sedang berhembus kencang?

Ia dan seseorang tersebut sama-sama keluar dari toko yang mereka sambangi, ia melihat kalau seseorang itu mengenakan sebuah topi baseball dan jaket hoodie gelap juga mengendarai sepeda gunung berwarna putih. Apa yang Leo pikirkan? Ia merasa seperti mengenal sosok tersebut. Maka ia mengikuti langkah pemilik sepeda tersebut.

Awalnya biasa, masih di tempat ramai, sampai akhirnya sepeda itu berhenti di pinggiran sungai Han. Awalnya memang biasa, mungkin hanya sekedar menikmati tempat sepi. tetapi semuanya berubah kala seseorang itu membuka topinya, wajahnya datar, dan dingin.

Satu langkah, gadis itu sudah menyelupkan sebagian kakinya.

Dua langkah, celana gadis itu sudah sedikit basah.

Tiga langkah…

Leo menyambar lengan gadis itu, wajahnya merah, marah, emosi. Sedangkan gadis itu? Terkejut bukan main.

“Apa yang kau lakukan, Kim Daena?”

“Ke-kenapa kau bisa disini, Leo?”

“Aku bertanya, Daena!”

Dan terjadilah perdebatan kalau gadis itu sudah bosan hidup, tidak punya semangat untuk hidup. Saling membentak, saling egois bahwa dirinya yang paling benar.

“Tidak seharusnya kau seperti ini!”

“Lalu apa? Apa yang harus kulakukan!? Kau tidak tahu apa-apa! Kau tidak tahu! Kau tidak tahu ka-kalau ibuku mati karenaku, Leo… kau tidak tahu.”

Dan pecahlah tangis gadis itu, terisak. Leo hanya bisa memeluk gadis itu, diam. Yang terlintas dipikirannya adalah, bagaimana hidupnya nanti kalau tidak ada Daena, salah satu alasan yang membuatnya tetap hidup.

Apa jadinya nanti kalau dirinya tidak bias melihat senyum jail Daena?

Apa jadinya kalau ia tidak bisa melihat Daena lagi?

Yang pasti jawabannya adalah ia tidak bisa, tidak bisa hidup tanpa gadis-nya itu.

Semuanya terjadi begitu saja sampai akhirnya semua kembali seperti semula. Daena yang seperti biasa jail dan tidak menyadari kalau dirinya pintar dan Leo yang selalu menjadi tempat sandaran gadis itu. Leo menyukai aktivitas itu, seperti candu. Mengalir dalam jiwanya dan sampai hatinya.

Apa yang kau lakukan selama ini?

“Bodoh!”

Dan Leo baru menyadari, kalau dirinya memang benar-benar tidak bisa hidup tanpa gadis itu. Hingga sekarang, ia tidak bisa atau memang belum bisa mengutarakan isi hatinya selama ini, selama 20 tahun mereka bersahabat. Takut kalau semuanya berubah, takut kalau gadis itu pergi dari dirinya. Takut kalau semuanya akan berubah, tidak sesuai harapannya.

“Jadi, aku harus bagaimana?” tanya Leo mengakhiri ceritanya.

Suzy tersenyum, mengerti, menatap lembut sang kakak tingkatnya tersebut, “ternyata tebakanku benar, ya? Leo sunbae mencintai Daena sunbae?”

Leo sedikit terkejut, wajahnya sedikit memerah, malu, “ba-bagaimana kau bisa tahu?”

Suzy tampak sedikit mengulur waktu, mengangkat bahu, “yah, dari tatapannya sudah kelihatan, kok,” jawabnya dengan enteng, sedangkan Leo tersenyum malu menghindari tatapannya dari Suzy.

“Daena sunbae itu orangnya fokus pada satu yang ada di depannya, kalau kau tidak mengatakannya dan menunggu mengetahuinya juga akan lama dan belum tentu hasilnya sesuai harapan. Ia orangnya sibuk juga fokusnya tingkat tinggi, tidak mau diganggu. Tahu sendiri, kan, kalau Daena sunbae ikut banyak organisasi?”

Leo mengangguk-angguk, mengerti apa yang dimaksud dari ucapannya.

“Menurutku, dia orangnya sangat simpel, tidak suka ribet. Jadi kalau kau mau mengatakannya juga tidak perlu menyewa restoran mahal, yang penting berkesan dan mengena. Ambil waktu yang tidak sibuk atau kalau kepepet, tunggu ia selesai dengan urusannya,” jelasnya lagi.

Leo mengangkat alisnya tinggi, penasaran, “bagaimana kau tahu kalau soal itu?”

Suzy tersenyum kecil, “terlihat kok dari pakaian buatannya.”

Beberapa menit yang lalu Suzy mengangguk hormat pada kedua sunbae-nya tadi,  dan tak lupa juga tersenyum pada kedua sejoli yang masih menjadi berita hangat di kampus. Ia berjalan perlahan sembari mengingat-ingat sebuah kejadian yang masih nongkrong di pikirannya.

Dua minggu sebelumnya, Suzy hendak pulang dari kelas siangnya. Ia masih di koridor lantai 2 karena sedang menunggu seseorang tentang konfirmasi kegiatan teater. Tak sengaja tatapannya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di sebuah lapangan dalam kampus. Seorang pria, yang ia ketahui itu Leo,  tengah bersandar pada badan mobilnya, tengah menunggu seseorang. Semenit kemudian datang seorang gadis berkucir ekor kuda, Daena, menghampirinya, tentu juga dengan senyum manis yang bertengger di wajahnya.

Suzy tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi terdapat chemistry dimana kedua pemuda pemudi itu sama-sama canggung, diam menunggu siapa yang hendak memulai berbicara. Sang gadis itu menunduk sedangkan sang pria menatap pemandangan yang lain.

Suzy menangkap sesuatu, gadis itu menegakkan kepalanya, tersenyum manis sembari mengangguk. Sang pria menatapnya dengan lembut dan entah mengucapkan apa, karena radiusnya yang terlampau jauh.

Beberapa sekon kemudian sang pria mengelus rambut gadis itu dengan gemas sembari memegang tangannya lalu berpisah, berjalan ke arah yang berlawanan. Yang tertangkap dalam matanya, kedua sejoli itu tersenyum bahagia dan sekaligus lega.

Suzy bahagia, dan juga senang.

Setidaknya, dibalik rasa iri ada rasa bahagia tersendiri.

Itu pelajaran yang ia dapat dari kedua sejoli berbeda sifat tersebut.

TING!

1 notification Line from Leo

Leo

Jadi, bagaimana caranya aku berterimakasih padamu?

Soozy

Traktir aku makan jjangmyun dengan Daena sunbae

*

Note :

aku bikin project love story tapi bukan tentang kisah cintanya mbak Suzy tapi si mbak cantik ini kujadiin tempat sampah, alias tempat curhat buat para cogan maupun para cecan :v

So, ditunggu aja cerita selanjutnya hahahaaha :v

 

regards

rc~

10 responses to “[Love Story] Iri

  1. Hahaha…awalnya dah negative thinking aja waktu suzy dinilangnya iri…ternyata setelah dibaca sampai akhir…suzy itu baik banget…#ngiri sm mbak suzy kekeke… suka banget sm kata2ny ” Setidaknya, dibalik rasa iri ada rasa bahagia tersendiri. ”
    Kalo uri suzy cuma jadi mak comblang kapan dicombalinginnya gantian…???kekeke

    • kan biar nambah pahala mbak suzynya :v wokowoko…..
      duh jangan ngiri ya huhuhuuuuu..
      sebenernya aku pengen nyomblangin mbak suzy tapi aku gatau pasnya sama siapa si mbak suzynya hehehe :v
      mungkin dikau ada ide? kekeke

      • Hahaha…pengennya ga ngiri sih tapi kl keinget mb suzy..ke inget semua yang ada di mb suzy emg patut bikin iri…kekeke…
        Karena aq lg baca banyak ff exozy jd nya pengen mbk suzy di comblanginnya sm sehun aja…whakakak #nasibfansdelusional

      • mbak suzy mah apah atuh neng dia mahhhh alahhhhhhhhh bikin iri hati ini :’v
        aku pengennya dapet kapel yang cuma satu aja, jadi gausah ganti-ganti karena apa? karena jodoh cuma satu, eakkkkkk :v

  2. Woahhh author baru atau udh lama ya, kayanya baru liat hehehe
    Yaelahh kiraan suzy orgnya cewe sombong kaya didrama2 yg suka iri gitu, eh gak taunya irinya bagian positif hehehe
    Love storynya tntang org lain kirain tntang mbak suez wkwk
    Gak papa deh nambah pahalan buat suzy jdi mak comblang wkwk
    Ditunggu ff lainnya authorrr
    Fighting!😀

    • Masih author baru neng T^T
      engga lah, mbak suzy kan beda kalo di drama, wakakak :v iya irinya bagian positif biar dapet pahala :v
      iya, kan anti-menstrem wokowoko :v
      siap ^^
      btw, jangan panggil aku thor ya, rave aja😉

  3. Pingback: [LOVE STORY] Butuh | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  4. aku pikir ini kisah suzy, karena kan fotonya suzy (sendirian). i mean agak kecewa sih karena suzy cuma jadi pendukung disini (padahal aku pikir dia tokoh utama yg punya kisah sendiri) hehe sayang padahal bahasanya sudah bagus, rave.😉 hehe

    • nah ini yang kutunggu tunggu :v
      nah begini loh sayang, soalnya udah mainstream banget + aku juga belum ngedapetin ‘jodoh’ mbak suzy di sini jadi aku cuma nyeritain suzy sebagai mak comblang hahahah :v

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s