[1/2] In The Brick of Decent

in-the-brick-of-descent

July 2016©

Bae Suzy, EXO Oh Sehun, and others | AU!Kingdom and Historical, Action, Drama, Family, Friendship, Sad, Thriller, Tragedy | PG 15 | disclaimer: beside the poster and story-line, I own nothing.

.

.

.

… “Semakin lama kau menghindar, kau akan semakin takut dan lemah menghadapinya. Ketakutanmu, hanya kau yang bisa mengatasinya.” …

.

.

Suatu ketika di tengah waktu rehat perang saudara yang terjadi di Wirma pada saat cuaca yang sangat panas, menjelang pukul satu siang, aku melihat seorang lelaki yang pakaiannya compang-camping berdiri dan membagikan air dingin kepada para prajurit yang hadir di tempat itu. Ranah wajahnya ditinggali oleh jejak-jejak berlumpur, rambut hitamnya berantakan, serta sebuah kontradiksi senyuman yang melengkung di atas bibirnya.

Masih melekatkan pandang kepadanya, busur panah yang tersampir di bahu aku istirahatkan di pangkuan. Selayer hijau zamrud yang terikat di atas kepala aku lepas untuk menghadiahkan angin yang menari di depan wajahku. Lelaki itu masih memberi para prajurit yang kelelahan atau sekedar bekerja dengan air lam. Air lam merupakan air suci yang kami dapat dari Timur tengah, berkhasiat untuk membersihkan hati dari dengki, iri, serta penyakit mungkar lainnya

Kembali kepada lelaki yang masih setia berperan sebagai pemberi air lam, setelah seseorang selesai minum, dia kembali mengambil air dan kembali memberi minum kepada yang lain. Sudah sekian banyak prajurit dan tenaga pembantu perang yang dia beri minum. Aku lihat keringatnya mengucur deras, sedangkan para prajurit hanya mengaso menunggu giliran mendapatkan air lam dari lelaki tadi.

Aku kagum pada semangat, kesabaran, dan kecintaannya pada kebaikan, serta wajahnya yang selalu berbinar senyum saat memberi minum. Tiba-tiba aku bangkit dari istirahatku dan mengikutinya mengambil segelas air lam dan membagikan kepada prajurit yang lain.

“Hei, biar aku bantu.” Aku berlisan sambil lalu. Sang lelaki yang tak kuketahui namanya itu sejenak menatap terus melenggut tanda membiarkan. Kembali ia memberikan air kepada para prajurit yang mukanya menera kehausan dan aku mengikutinya.

“Prajurit, tolong beri air di sebelah sana.” Sang lelaki mengantarkan satu drigen air lam pada tanganku. Tak lupa seutas senyum maklum dia sertakan.

“Tentu saja.” balasku singkat. “Suzy. Kau bisa memanggilku Suzy. Panggilan ‘prajurit’ terdengar berat buatku.”

Lelaki itu menjungkitkan alis mata dengan jenaka lalu mengangguk mahfum. Senyumnya berirama lagi. Aku menunggunya untuk menyebutkan identitasnya namun dia tak kunjung berbicara. Dia malah memunggungiku. Aku mengangkat bahu ragu lalu suara lelaki itu terngiang meski samar.

“Sehun, kau juga bisa memanggilku Sehun.”

***

Malam melengkapi kegelapan dengan hamparan Orion yang tak berujung. Nyala obor menerangi tiap jengkal gulita yang menyelubung. Posko tentara yang berjarak sepuluh kilometer dari Wirma tergugu dalam sunyi dan dengkuran lelah para prajurit sehabis bergerilya sehari penuh. Posko kesehatan yang terdiri dari tiga tenda akbar dibubuhi beberapa prajurit yang terluka dan tenaga kesehatan yang kami miliki. Sementara para prajurit yang gugur hari ini telah diserahkan ke haribaan sang Pencipta.

Perang seperti mimpi buruk dan aku ingin segera bangun dari tidur yang melelahkan ini. Aku hanya ingin kembali pada kajian masa di mana kebaikan serta ketauladanan bersaudara masih mendiami nurani manusia. Namun semua itu tersia-siakan oleh yang namanya perbedaan. Kepentingan kelompok. Tirani mengancam asasi yang tiap manusia miliki, sehingga mengantarkan beberapa dari kami menjadi mesin pembunuh antar kaum. Beberapa cabang mitos yang berat sebelah meracuni tiap alam bawah sadar mereka yang berlabel tentara. Kedamaian menjadi barang langka atau bahkan sudah punah.

Apakah ini peran yang Pencipta berikan kepadaku dan kami semua? Peran antagonis berlabel protagonis. Peran yang sangat aku ingin hindari jika bisa; melenyapkan sesama kaum lantaran setitik perbedaan di atas hamparan gurun keberagaman.

Pernah aku marah pada Tuhan yang aku yakini sekali. Aku marah padanya karena membiarkanku mencetak sejarah hidup yang buruk dan bejad. Menjadi seorang prajurit dan pembunuh. Aku mengingkari hatiku sendiri.

Aku mengambil sebilah belati yang mendekam di saku dekat pinggang. Ukiran berbentuk naga dengan kembang tulip mendiami sarung yang membungkus tajamnya. Sejenak aku menimang-nimang senjata pemberian mendiang ibu, menatapnya sendu penuh rindu. Kilasan memori ketika ibu menuntunku bagaimana cara berkelahi dalam jarak dekat berputar di dalam ruang teater hatiku. Masih terngiang dengan jelas bagaimana poin-poin yang beliau tegaskan agar aku pahami ketika aku berada di dalam posisi terebut. Berkelahi satu lawan satu dalam jarak dekat.

Perhatikan pergerakan lawan bukan pedang. Kau memang melawan tajamnya pedang, tapi pedang itu tidak bergerak sendiri ‘kan.

Siap, Bu!

Fokus! Jangan sampai lawan mengelabuimu!

Iya, Bu!

“Awasi langkahmu, Suz!”

Baik, Bu!”

Dan, yang terpenting jangan pernah kau perlihatkan ketakutanmu. Meski kau takut, kuatir, cemas, sembunyikan itu semua.

“Ibu..”

Kuat bukan karena hanya berhasil mengalahkan lawan atau menjadi yang terbaik di antara yang lemah. Kalahkan rasa takut dalam dirimu, kau adalah pemenang bagi dirimu sendiri.

Termenung aku dalam lahan kegundahan menggelapkan kehadiran Sehun yang sedari tadi terduduk beberapa jengkal di hadapanku. Dia, peran yang aku tak tahu apa di tengah peperangan ini.

“Prajurit tidak boleh melamun, kalau tiba-tiba musuh menyerang bagaimana? Jangan sampai lawan memanfaatkan kelemahanmu.”

Sepotong roti dan segelas susu hangat di atas nampan dia beri kepadaku. Senyum yang tak terukur itu kembali terpeta pada wajah Sehun. Selain senyuman yang sering dia sedekahi, sungguh aku tidak tahu peran apa yang dia lakoni.

“Oh, ada kau rupanya.” Harum roti yang baru turun dari panggangan menciduk rasa lapar yang aku rasai selama dua hari. Baru ingat jika lapar yang tertahan ini muncul bukan karena sedap makanan atau nikmat minuman, melainkan sebuah kedamaian. “Roti dan susunya untuk aku?” tanyaku seketika.

Sehun melenggut lembut lalu membagi dua roti serta memberikannya kepadaku. “Makanlah, seorang prajurit juga tidak boleh lemah.”

Aku menggamit ucapan terimakasih melalui hening. Namun, aku segera meralat pernyataan awal Sehun terhadapku. “Soal tadi, aku tidak melamun dan aku tidak akan pernah membiarkan musuh untuk menghancurkan aku.”

“Baiklah-baiklah, kau ini mudah terprovokasi sekali, sih.” lisan Sehun sembari tak lupa menjamu segelas susu hangat untuk aku. “Hati yang sedang berbantah-bantah itu, apa kabar? Hm?”

Seketika aku tersedak roti yang aku makan. Sehun dengan sigap menuntunku untuk meminum susu hangat yang dia suapi melalui tangannya. Kehangatan dari jemari Sehun yang tak sengaja menyentuh ujung bibirku menyerbak tak ubahnya sapuan lembut sang kapas.

Entah mengapa retorika seorang Sehun menarik akalku untuk berpikir soal hati. Mengapa ia bisa menafsirkan kalau hatiku sedang membantah tak keruan? Apa maksudnya?

“Kau bicara apa? Hati yang berbantah itu hatinya siapa?” desakku. Sehun awalnya sekadar angkat bahu lalu merekatkan sejengkal jarak di antara kami.

“Hati siapa saja, mungkin.” Sehun mengusap bagian belakang kepalanya ambigu. Kembali tersenyum. “Lupakan saja soal hati yang tadi. Hm, omong-omong apa yang sedang kaulakukan? Tidak berlatih?”

“Tidak ada. Hm, “ aku mulai risih. Entah mengapa kehadiran Sehun di dekatku beberapa waktu ibarat pusaran badai yang aku ingin hindari. Berlama-lama di dekatnya ternyata tidak sebaik yang aku kira. Sehun itu imajiner. Berdekatan dengan Sehun seirama dengan godaan kotak Pandora yang minta dibuka. Seperti menyimpan duri di balik tawa. Entah mengapa ia bisa dengan luwes menebar kebaikan di tengah-tengah lahan peperangan. “Terimakasih untuk roti dan susunya. Omong-omong, aku harus pergi. Permisi.”

Aku pun segera menimang busur dan kantung anak panah, bergegas menarik diri dari hadapan Sehun yang memandang dengan senyum lesu. Satu dua langkah terketuk, suara Sehun di belakang yang tiba-tiba sukses membungkus langkah ketiga meninggalkannya. Suara lelaki itu tentu mengandung perkataan yang menancapkan paku tepat di tengah-tengah kegusaran yang tersembunyi dalam hatiku (mungkin siapa saja yang terlibat dalam perang juga).

“Kalau kau membenci perang, kau tidak sendirian di kamp ini. Percayalah, mereka semua yang terlibat dalam perang ini juga berpikir demikian.”

Aku menganalisis dalam hati, apa bisa aku berbalik dan memaki Sehun atas perkataan tak beralasan yang diungkapkannya? Namun makian itu tetap tertahan seiring dengan tubuhku yang memutar arah menghadap Sehun.

“Kita, semua manusia yang terlahir ke dunia awalnya bersifat fitrah. Namun proses mewarnai selagi mereka tumbuh dan berkembang itulah yang membagi kita semua ke dalam dua cabang. Baik dan buruk. Hidup bukan sekedar pilihan.” Sehun berujar dengan ekspresi yang tak terbaca. Selanjutnya, ia menganggalkan duduknya. Perlahan mengikis jarak bermandikan tumpukan jerami yang jadi alas kami duduk.

“Aku tidak ingin dengar ceramahmu. Tunggu, apa kau baru saja minum anggur putih? Kau mabuk.” Aku menuding Sehun atas perkataannya barusan. Entah mengapa justru pengingkaran yang berhasil tersuarakan oleh bibir ini. Padahal, riak yang bergema dalam hati tidak begitu. Gagasan-gagasan tentang perdamaian, ke mana perginya kalian?

Sehun berhenti sejenak sebelum mengikis habis jarak di antara kami. Tingginya yang berjarak satu kepala di atasku membuatnya menunduk agar bisa menatap lurus mataku yang justru lebih tertarik memaku jejak-jejak jerami di bawah. Sikapku ini jelas melawan Sehun yang tidak aku tahu apa motif di balik peran tanpa nama yang ia lakoni.

Hembusan napas kami dalam renungan udara malam mengisi ruang-ruang kosong yang tercipta. Aku sendiri terheran lantaran tak lekas angkat kaki dari hadapan lelaki ini. Dua kali lebih heran terhadap Sehun yang ikut mematri waktu agar tak segera beranjak.

Angkasa gelap meliputi langit malam kamp tentara. Riuh-rendah para prajurit membahana melalui zona aksutis, menyudahi hari dengan sekedar pesta pora yang diharap mampu membersil duka dan luka. Laksana debu yang tertiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang, hapuskan kesedihan yang tak berbicara.

Aku menyerah pada gelut keheningan ini, mundur selangkah sambil berjengit, melawan sepasang dua bola mata cokelat menyala Sehun. “Terimakasih sudah menyingungg tentang latihan. Malam ini aku tidak boleh melewati latihan yang dipimpin oleh Panglima Perang. Sekali lagi, permisi.”

Aku anggap Sehun menerima pengunduran diriku yang menjelma dalam sebuah sajak sunyi. Tapi, satu dua langkah aku kembali tergugu. Lantunan kata-kata oleh Sehun kembali merungu.

“Semakin lama kau menghindar, kau akan semakin takut dan lemah menghadapinya. Ketakutanmu, hanya kau yang bisa mengatasinya.”

“Cukup!” tegasku.

Kontur gurun yang diimbuhi oleh angin malam yang mengigil datang menerpa dan membawa kesedihan. Aku sadar, aku telah membentak Sehun. Lagi-lagi berbalik ke arahnya, memeluk kedua lengan sendiri.

“Dengar, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kaubicarakan barusan. Tentang peperangan, kedamaian, dan manusia-manusia.” kataku sambil menjeda. Sehun menyimak tanpa memunculkan potensi untuk mencela. “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya daripada binatang ternak itu.”

Demikian dengan nada dalam suaraku yang tercampur dengan amarah. Aku hanya tidak suka berbicara tentang kekejaman yang secara sadar dilakukan kedua tanganku sendiri.

“Siapa kau sebenarnya?” Aku menaruh prasangka terhadap Sehun. Siapa tahu ia mata-mata yang oleh musuh dikirim untuk melumpuhkan kami.

Terlebih mengingat peran yang ia lakoni selama aku melihat keberadaannya di kamp perang benar-benar tak terartikan. Kadang-kadang, kau bisa menemukan Sehun membantu para tenaga kesehatan dalam merwat korban perang. Di dapur umum Sehun mengikutsertakan diri sebagai juru masak atau sekadar jelmaan mesin pengupas kulit sayur dan buah. Atau saat pertama kali aku melihat presensi Sehun yang sedang memberikan air lam kepada para tentara. Akan tetapi tidak sekali pun aku menemukan eksistensi Sehun di tengah medan perang. Tidak sama sekali.

“Ya, aku Sehun,” tukasnya tanpa berpikir. “Kaupikir aku mata-mata dari musuh, begitu ‘kan.” tembak Sehun tanpa ada pancaran sakit hati melalui matanya. Selanjutnya, ia melangkah menuju sisiku. Sejenak berhenti ketika jaraknya hanya sejengkal dari pundakku. Melalui kepala yang menunduk, Sehun berbisik di depan cuping telingaku. “Kau akan terlambat berlatih dengan Kai jika kau tidak lari sekarang.”

“Apa?”

Ekspresi wajah lelaki itu tiba-tiba melunak seperti kembang tahu. Benar-benar berbeda dengan Sehun yang berpetuah beberapa waktu yang lalu. Rahangku hampir jatuh dari tempatnya. Selain imajiner, Sehun yang satu ini ternyata juga seorang yang arbriter. Tak terdefinisi, penuh perdebatan sunyi.

“Siapa aku berkaitan dengan peran yang aku lakoni. Dan, sekarang belum saatnya untuk diketahui.”

To be continued…

.

In the next chapter..

Dan, yang aku lihat selanjutnya benar-benar sebuah kemampuan berpedang tingkat dewa.

“Bukan begitu maksudku. Tapi, hanya saja, maaf. Aku terlalu emosi. Sehun, kumohon dengar, “

Kehilangan orangtua sejak kanak-kanak tentu bukan peninggalan kehidupan yang berharga apalagi patut dipamerkan kepada khalayak luas. Menjual kesedihan demi setitik kebahagiaan. Peminta-minta perhatian dan empati orang lain, aku tidak terlahir tuk menjadi orang seperti itu.

Ah, tetapi untuk apa aku berbangga diri atas kematian orangtuaku?

“Jangan pergi dariku!!!”


a/n:

halooooo!

hyahhhh kangen banget sama temen-temen semua :3 anyway, yang sudah pada masuk sekolah, kuliah, or tempat kerja yg baru tetep semangat yaaa~

dan ya, semoga dengan kembalinya saya menulis duka ataupun lara teman2 sekalian bisa sedikit terobati (or nambah, hahaha). dan fyi saja,entah mengapa akhir2 ini lagi terpaku dengan Sehun x Suzy so harap tak bosan-bosan jika keseringan saya cekokin cerita mereka berdua hihi😀

kritik dan saran bolehlah disumbangin ke saya~

last, UNCONTROLLABLY FOND SUZY HWAITTING^^~~

11 responses to “[1/2] In The Brick of Decent

  1. Woahhh malah seneng banget kalo casnta sehun wkwk soalnya dia makin kece sekarang ups hehehe😀
    By the way ini ff suasana peperangan gitu yaa? Woahhh ada yg baru nih wkwk
    Aku juga pengen tanya kya suzy, siapa sehun sbenarnya?
    Last chapter ditunggu lo thor
    Semangattttttt😀
    UF jga hwaiting!

  2. Wahh kangen sama Xian nihh..
    sehun yang misterius… sama2 penasaran siapa dia sebnernya..
    ditunggu kelanjutannya.. hwaiting xian🙂

  3. Suzy seorang prajurit wanita,,,,sedangkan sehun seorang pelayan yg membantu prajurit,benarkah begitu? Apa maksud dari semua pertanyaan sehun kepada suzy?
    next partnya ditunggu author fighting

  4. Ini keren, bahasanya juga tinggi. Kadang beretorika memang bagus, tapi bagaimana dengan orang awam yang kurang mengerti dengan bahasa tinggi seperti ini? Btw, ini keren, maknanya juga tersampaikan. Nextnya ditunggu ya

    • Aw terimakasih atas review-nya tapi bahasa yang dipakai tidak tinggi-tinggi amat kok. untuk memaknainya butuh waktu saja. hehe. semua orang bisa dan berhak untuk mengerti🙂
      anyway makasih ya sudah baca^^

  5. Pingback: [2/2] In The Brick of Decent | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s