[Ficlet] Morning Glory

MG

part of [Ficlet-mix] Morning Glory

#4: Banyak hari yang diawali dengan kesuntukan, dan pada akhirnya menjadi keindahan dan ketentraman.

(Suzy x Sehun)

.

.

.

Hidup yang indah itu adalah ketika mampu mengucap dan mengungkap rasa syukur, serta mampu menjadi berkah bagi sesama.

Aku harus melibatkan diri dalam pekerjaan yang bermanfaat.

Aku tidak boleh jadi bagian orang-orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka perankan dalam kehidupan ini.

Ini adalah hidupku. Ikuti aturanku.

Rahasia di balik kehidupannya sendiri seolah Suzy tahu. Maka, mulai dari pagi masih membiru takkan pernah ia menyia-nyiakan masa. Karena, dalam hidup Suzy, ia yakin jika detik-detik yang berharga akan selalu ada.

.

.

Tapi itu hanya mimpi. Ya, mimpi bukan kenyatannya.

Realitanya karangan di atas hanyalah karangan orang yang mendiami pikiran Suzy. Hanya karangan secara literer.

“Sehun-a, secangkir latte. Please.”

“Oh, pagi-pagi kenapa mukanya suntuk begitu?”

Please, jangan banyak tanya. Satu latte, gulanya setengah.”

Menelusup pandang ke wajah sahabatnya, Sehun dipertemukan dengan persoalan serius yang selalu Suzy alami semenjak memasuki tingkatan keempat dalam kuliahnya. Ia berempati terhadap hari-hari sang sahabat yang begitu berat.

Sehun pun menyiapkan secangkir latte kebahagiaan—menurut sang sahabat, penikmat latte akut—tanpa banyak bicara.

“Hei, “ tegur Sehun kepada gadis yang menelungkupkan kepala dengan loyo di atas meja barista. Antariksa gelap jelas mengusik wajahnya. “Suzy-a, mau dengar cerita tidak?”

“Tidak mau.”

Sehun paham betul jika kekecewaan sedang bersarang di dalam hati Suzy. Kekecewan itu bermuara pada ketiadaan kabar mengenai perusahaan-perusahaan yang Suzy datangi untuk magang. Ya, berhubung ia sudah berada di titik tengah perjalanan menuju gelar sarjana, ia pun diwajibkan untuk memilih satu instansi atau perusahaan sebagai tempat magang selama setengah semester.

Namun sampai sekarang, belum ada satu pun perusahaan yang memverifikasi kesediaan untuk menerimanya. Padahal, jelas sekali jika Suzy memiliki spesifikasi yang cukup, bisa dibilang sangat bagus. Meski terlihat begitu urakan dan kasar di luar, nilai seorang Bae Suzy justru tersembunyi di balik topeng kemaasa-bodohannya. Ia termasuk mahasiswi jajaran atas di angkatannya. Ia juga cukup manis—ini hanya Sehun yang bilang.

“Kau tahu perkataan apa yang memberikan banyak manfaat bagi seseorang yang sedang diuji?”

Suzy masih tidak menggubris usaha Sehun untuk meredakan gelisah dalam hatinya. Toh, ia mengakui jika ia memang tak bisa berbuat banyak selain berusaha dan berdoa agar semuanya menjadi lebih baik.

Namun ini bukan berarti ia melemahkan eksistensi dirinya di hadapan Tuhan. Hanya saja, jika memang ini yang namanya kesakitan, maka mereka sesungguhnya pun menderita kesakitan sebagaimana Suzy menderita. Seperti berharap kepada Tuhan apa yang tidak kita harapkan.

“Kuatkan hatimu, kau dibuat menunggu karena kau memiliki spesifikasi yang luar biasa. Suzy-a, kau bersabarlah. Karena jika kau belum ditelepon oleh mereka kemarin, hari ini kau akan pasti.”Sehun lalu mengusap lembut puncak kepala Suzy.

“Sehun-a, “

.

.

Krinnggg!

.

.

“Halo? Ya saya sendiri. Apa?! Saya diterima?!!”

.

.

Pukul delapan pagi, Sabtu pertama di bulan Juni. Untuk pertama kalinya, senyum apik itu kembali menyerasikan diri di atas wajah Suzy.

Telepon barusan ternyata berasal dari salah satu stasiun radio yang Suzy datangi kurang lebih dua minggu yang lalu. Mulai minggu kedua di bulan keenam ini, Suzy akan magang sebagai penyiar di sana. Berjuta-juta terimakasih penuh ketulusan Suzy tujukan kepada Tuhan. Ia tahu jika ini takkan terjadi tanpa kehendak-Nya.

Dan, kepada seorang sahabat seperti Sehun, tak ragu jika Suzy segera berlari mengelilingi meja barista dan menangkup tangan Sehun. Mengajaknya berputar seperti peri angin yang menari di bawah mentari.

“Ya ampun, kau yang seperti ini benar-benar bukan seperti Suzy yang kukenal.” protes Sehun.

Namun ia pun segera tersenyum kukuh ketika oleh Suzy dihadiahi tatapan sengit serta sikutan keras di perutnya. Oh, gadis kasar yang cuek itu sudah kembali ke teritorium aslinya.[]

11 responses to “[Ficlet] Morning Glory

  1. Ah cuma sahabat ternyata :’)
    Tpi sahabat jdi cinta? Siapa yg tau? Wkwk
    Bae Suzy betapa beruntungnya kau memiliki sahabat seperti suzy😀
    Nice story thorrrr🙂

  2. Ahh so sweet eon… Kayaknya sehun memiliki oerasaan lebih dr sahabat ke suzy…cuma suzu ga menyadarinya.. Ngiri sama suzy… Andai punya sahabat dan pacar kayak sehun #gabakalnolak
    Beruntungnua uri suzy… 😂😂😂😂

  3. sehun jjang.. suzy jdi lebih sbar,, dan jdi semngat karna dia👏😄… bner- bner shabat sejati..

  4. Ahh manis nya persahabatan mereka,,,
    Sehun berperan sebagai sahabat yang sangat baik,
    Lama-lama kurasa status mereka jadi berubah dari sahabat jadi sepasang kekasih ( aku berharap itu terjadi hehe)
    Semangat terus author..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s