#6 All of Us

aouend

Seoul, Korea Selatan

Musim semi baru saja datang ketika Min Ho meninggalkan Korea Selatan, berbulan-bulan lalu demi Soo Ji sekaligus menghindar dari kejaran appa-nya.  Negara yang menjadi salah satu pilihan wisata sebab keindahan dan segala daya tariknya itu, bagai sesuatu hal buruk untuk Min Ho hingga mendengar namanya saja membuat rambut halus ditubuh berdiri, bagai melihat hantu.

Tanpa perlu menghitung sudah berapa lama waktu yang terlewat tanpa nama Korea Selatan di benak Min Ho, musim yang sudah berganti sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan waktu panjang yang mereka lalui.  Saat ini, waktu sudah memasuki akhir dari musim panas.  Saat dimana cuaca panas begitu terasa menyengat kulit dan pemakaian alat pendingin meningkat.

Banyak yang mengatakan bahwa musim semi adalah musim yang indah dan menyenangkan.  Pada musim itulah, bunga jenis Sakura, Forsythia, Azaleas, Magnolias, dan Lilacs bermekaran, memenuhi jalanan kota dengan keindahannya.  Sayang, Min Ho membawa Soo Ji pada saat bunga-bunga indah musim semi belum bermekaran dan entah apakah benar dirinya akan kembali di saat musim panas mencapai ujungnya ini, musim dimana Soo Ji tidak terlalu suka sebab udaranya yang membuat tubuh berkeringat dan gerah.

Musim panas, beberapa orang tidak menyukainya sama seperti hal-nya Soo Ji.  Namun pada saat musim panas, beberapa orang juga lebih memilih untuk memanfaatkannya dibanding mengeluh dan berdiam diri di rumah dengan alat pendingin yang membuat panas matahari tidak terasa.  Beberapa dari mereka yang lebih memilih untuk menikmati musim panas dibanding mengeluh, pergi ke pantai ataupun mendaki gunung.  Beberapa keluarga, mendatangi taman ataupun tempat menyenangkan lain bersama keluarga, seperti hal-nya Min Ho yang selalu melakukannya semenjak menikah dengan Soo Ji, apalagi saat putri kecil mereka sudah lahir, musim panas sama sekali tidak terasa menyusahkan.

Namun untuk kali ini, setelah berbagai macam musim panas yang dilewati begitu saja—mungkin untuk musim panas kali ini, Min Ho akan mengikuti pemikiran istrinya—bahwa sama sekali tidak ada hal menyenangkan ketika musim panas.

 

 

 

Keluarga Lee adalah salah satu keluarga terpandang di Korea, bahkan Asia.  Keluarga itu cukup berkuasa dan ternama dengan segala hal yang bahkan sejak dulu dimilikinya.  Entah, Tuan Lee yang saat ini adalah keturunan ke berapa saking panjangnya sejarah keluarga itu.  Berhasil mempertahankan juga meningkatkan segala hal yang leluhur sebelumnya lakukan hingga semakin mengokohkan kerajaan keluarga itu, tidak heran kiranya jika siapapun sudah pasti mengenal mereka—bahkan, satu pemberitaan dari keluarga itu mampu untuk mengalahkan kabar selebriti dalam negeri.

Pagi ini, saat matahari belum nampak sempurna, saat mata terpejam baru saja terbuka dan langkah kaki masih sedikit terhuyung, saat koran baru saja tercetak dan saat siaran TV baru saja dimulai, kabar mengenai keluarga itu yang bahkan belum ada satu jam tersiar—sudah membuat seluruh negeri heboh.

 

Pewaris tunggal keluarga Lee, sekaligus penerus Lee Corp.  Lee Sung Hoo, dinyatakan telah meninggal semalam sebab serangan jantung.  Untuk mengantisipasi keadaan tidak diinginkan dan menekan beberapa pemegang saham yang khawatir akan kelanjutan perusahaan raksasa Korea itu, Lee Jae Hoon Presdir, dalam keadaan dukanya menegaskan bahwa yang akan menggantikan putranya yaitu Lee Min Ho, putra angkatnya yang selama ini tinggal di luar negeri.

 

Siapa yang tidak heboh dan terkejut dengan hal duka sekaligus pernyataan macam itu?  Disaat duka masih melingkupi, bagaimana bisa masa depan perusahaan langsung dipikirkan dan tentu saja, pernyataan duka juga prihatin langsung terdengar dimanapun tanpa satupun curiga, sudah berapa lama tepatnya pewaris keluarga itu benar-benar meninggal.  Tapi, biarlah—toh pria itu bukanlah tokoh utama dan tidak perlu dijelaskan mendalam tentangnya.

Nyonya Lee—yang sebenarnya, eomma dari pewaris yang baru saja diumumkan telah meninggal sejak semalam itu, mengenakan baju khas ketika dalam keluarga ada yang meninggal—wanita dengann rambut tersanggul rapi itu, wanita yang air matanya sudah habis semenjak beberapa bulan lalu hingga kini tidak tersisa satu tetespun dan hanya menyisakan luka, wanita yang duduk dengan kedua tangan saling terkepal dengan TV layar besar dihadapannya itu, nampak begitu geram dan marah hingga menutupi sedihnya.  Mungkin, wanita itu marah akan pemakaman layak putranya yang baru diterima setelah berbulan-bulan, atau mungkin juga sebab pemakaman layak putranya baru bisa terjadi saat semua orang yang mencari Lee Min Ho telah berputus asa dan satu-satunya jalan untuk menemukan pria itu adalah dengan cara ini, menyebarkan informasi tentangnya yang berarti juga harus mengumumkan berita kematian putranya.

Mungkin, wanita itu merasakan ketidak adilan atas apa yang hari ini terjadi.

 

 

 

***

“Bagaimana ini?”  Naa He tertunduk dalam hingga helai rambut halusnya jatuh bagai air terjun yang menutup wajahnya begitu saja.  Wanita dengan penampilan anggun tersebut, yang selalu menunjukkan posisinya—tidak lagi tenang seperti biasa seolah melupakan kelas tata krama yang eomma-nya paksa untuk ia ikuti selama beberapa tahun.

Kuku-kuku cantik Naa He yang selalu wanita idijaga dan rawat hingga terkadang bagai membuang uang demi keindahan, tidak lagi dijaga maupun dirawatnya sebab kuku-kuku cantik itu sudah berada di antara giginya.  Menggigit kukunya seolah menunjukkan kekhawatirannya, kedua kaki Naa He bahkan ikut bergerak tidak teratur.  “Eomma akan segera tahu.  Bagaimana ini Soo Hyuk-ssi?  Aku harus bagaimana?  Selama ini aku katakan pada eomma bahwa aku tinggal bersama Min Ho oppa.  Bagaimana jika eomma makin memaksa untuk berkunjung atau sekedar menanyakan keberadaan Min Ho oppa, atau memintaku untuk membawanya ke rumah setelah berita hari ini?  Kumohon, tidak bisakah kau katakan padaku dimana Min Ho oppa?  Atau nomor telfonnya saja tidak apa.  Kumohon—”  Melas Naa He menangkupkan kedua tangannya dan menatap Soo Hyuk dengan raut tersedih yang bisa ditampakkannya demi satu kalimat berisikan alamat Min Ho.

Soo Hyuk menghela panjang, kepalanya menggeleng pelan dan itu cukup untuk memberi jawaban bahwa dirinya sudah pasti enggan untuk memberikan alamat Min Ho pada Naa He.  Melirik Naa He yang hampir menangis dengan mata berkaca-kaca, Soo Hyuk menggigir bibir bawahnya diikuti kerutan pada kening berwarna pucatnya.  Nampak kembali berpikir, pria itu tengah menimbang apakah perlu kiranya ia katakan pada Naa He alamat Min Ho?

“Tidak bisa.”  Sahut Soo Hyuk kembali menegaskan dengan suara pelan tanpa mengurangi nada tegasnya.

Menatap tajam wanita berbaju longgar dihadapannya sebab perut membuncit yang makin tampak, Soo Hyuk menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa.  Kasihan?  Jelas.  Siapa yang tidak kasihan pada wanita hamil tanpa suami ataupun pendamping disampingnya?  Andai bisa membantu selain menyembunyikan dan menampungnya seperti yang terjadi selama ini, sudah pasti Soo Hyuk akan melakukannya.  Namun dengan memberi alamat Min Ho?  Jelas itu tidak mungkin.  Namun selain itu, ada sesuatu lain yang perlu dikatakan dan menjadi alasan utamanya.  “Menikahlah denganku.”

“Apa?”  Pekik Naa He seketika—terhenyak, menatap Soo Hyuk dengan sisa khawatir yang telah berganti terkejut—wanita itu menghentikan gigitan pada kuku juga gerak tidak teratur kedua kakinya.

Soo Hyuk menarik nafas pelan hingga hanya ia sendiri yang tahu sedang melakukan hal tersebut.  Membalas pandangan tidak berkutik Naa He, Soo Hyuk mengangguk tanpa satupun hal berubah dari wajah datarnya.  Dirinya tidak mungkin menarik ucapan tadi, dan juga tidak mungkin membatalkannya.  Semua yang terlontar adalah nyata dan tidak bisa ditarik lagi.  “Menikahlah denganku.”  Ulang Soo Hyuk membuat Naa He makin menganga tida percaya.

“Ba—Kau?  Kau?  Bagaimana bisa?  Bagaimana bisa kau katakan hal macam itu padaku?”

“Karena anak itu anakku, maka menikahlah denganku.  Lupakan Min Ho, aku akan menemui orang tuamu dan mengatakan bahwa anak itu adalah anakku dan kau akan bercerai dengan Min Ho untuk menikah denganku.”

“Tu—tunggu.”  Kaget Naa He sekali lagi hampir berteriak.  Wanita itu merengut, kedua tangannya maju ke arah Soo Hyuk bersamaan dengan permintaannya tadi agar Soo Hyuk berhenti mengucapkan satu katapun yang sama sekali bukan jawaban atas pertanyaannya, menurutnya.  “Kau?  tunggu sebentar.  Bagaimana katamu tadi?  Kita?  Kau—dan aku.  Kita berdua?  Menikah?”

“Harus berapa kali aku katakan agar kau paham?”  Tanya Soo Hyuk santai menyingkirkan tangan Naa He dari hadapannya dan menaikkan kedua kakinya kemudian pada meja kayu yang membatasi tempat mereka.

 

Naa He mendengus, sinis.  Untuk pertama kali setelah waktu setengah tahun yang terlewati bersama, wanita itu kembali menunjukkan senyum sinis dan pandangan tajamnya.  “Kau pikir siapa dirimu hingga bisa berkata begitu?”  Usut Naa He mulai meninggi seolah tersadar dari waktu terkejutnya tadi.  “Apa perlu aku jelaskan perbedaan diantara kita?”

“Aku suka padamu.”

“Apa?”

“Aku bilang aku suka padamu.  Seperti yang kau rasakan pada mantan kekasih pecundangmu itu, itulah yang saat ini aku rasakan padamu.  Aku menyukaimu dan ingin memilikimu.”

“Hah!”  Naa He melotot tidak percaya pada Soo Hyuk.  Pria dihadapannya itu bahkan tidak merubah sedikitpun mimik wajah datarnya begitupun sorot tidak bisa dibaca, dan bagaimana bisa dirinya percaya akan ucapan cinta yang baru saja pria itu katakan?  Mustahil.  Pikir Naa He.  Mustahil Soo Hyuk menyukainya.

“Min Ho berhasil.  Soo Ji mengalami kemajuan pesat dan beberapa waktu kedepan mungkin mereka akan segera kembali.”  Ucap Soo Hyuk lagi, mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali dengan perbincangan sebelumnya namun tampaknya—entah, hanya Soo Hyuk sendiri yang tahu kenapa tiba-tiba membicarakan Min Ho dan Soo Ji.  “Tapi hari ini, sesuatu yang harusnya tidak atau belum waktunya terjadi, sudah terjadi lebih dulu.  Aku tidak tahu kenapa mereka tiba-tiba menyebarkan kematian Sung Hoo hyung.  Entah demi menemukan Min Ho, atau karena Nyonya Lee sudah tidak tahan untuk menyembunyikan perihal kematian anaknya.”

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”

“Untuk sampai pada keadaan saat ini, untuk sampai pada keadaan dimana Soo Ji sudah berani untuk menatap lawan bicaranya dan bahkan membalas perkataan mereka, untuk sampai pada keadaan dimana Soo Ji tidak takut keadaan sekitar, apa kau pikir Min Ho melaluinya dengan mudah, Kim Naa He-ssi?”

Merengut antara tidak tahu, bingung, dan terkejut sebab mulai mengerti maksud dari perkataan Soo Hyuk yang tidak pernah sampai dalam kepalanya, Naa He diam saja dan hanya menunggu ucapan Soo Hyuk selanjutnya.  “Mereka menyebar nama Min Ho, kemudian fotonya, dan tidak lama lagi statusnya sebagai suamimu juga akan tersebar dengan mudah.  Lalu kemudian kau akan menghampiri Min Ho?  Mengatakan padanya bahwa kau tengah hamil?  Lalu bagaimana dengan Soo Ji?  Tidakkah kau pikirkan?  Tidakkah kau kasihan?”

“Aku—.”

“Banyak yang ingin memisahkan mereka.  Min Ho eomma yang ingin memberikan Min Ho kehidupan layak yang sebelumnya tidak didapat, Tuan Lee yang ingin memberikan cintanya tapi dengan cara macam ini sebab rasa bersalah pada istri pertamanya, dan kemudian Nyonya Lee.  Jujur saja aku tidak bisa mengerti ataupun menebak isi kepala dari wanita yang kau panggil imo itu.  Ah In, pria gila yang membuat Soo Ji macam itu.  Lalu kau?  Kau juga ingin memisahkan mereka?  Kau juga ingin mengacaukan mereka?”

“Ti—bukan begitu.”

“Akan aku ulangi.  Aku menyukaimu setelah kita bersama sepanjang waktu ini.  maka menikahlah denganku.  Aku akan memberikan anakmu namaku, kehormatanku, dan cintaku.  Tinggalkan Min Ho dan Soo Ji.  Biarkan mereka bersama dan jangan masuk ataupun berniat untuk itu.”

“Tidak, Soo Hyuk-ssi.”  Naa He menolak.  Kepalanya menggeleng pelan sebagaimana Soo Hyuk tadi dan pandangannya melemah.  “Aku hanya ingin berbicara sesuatu hal dengan Min Ho oppa.  Aku tidak bermaksud untuk masuk dalam pernikahannya dan Soo Ji.  Lagipula, kau tidak perlu seberkorban itu untuk kami.  Aku tidak tahu, entah kau terlalu kasihan padaku hingga mau untuk hidup bersamaku, atau kau memang sahabat baik Min Ho oppa hingga bisa-bisanya melamarku.”

“Aku katakan bahwa aku mulai menyukaimu, itu adalah benar.  Tapi jika kau berpikir bahwa aku lakukan ini demi Min Ho, kau juga benar.  Jika kau juga berpikir bahwa aku berkorban terlalu banyak untuk Min Ho, maka kau juga benar karena adikku yang menyebabkan Soo Ji mengalami hal itu hingga berada dalam kondisi saat ini.  Jika kau anggap ini adalah penebus dosa, kau bisa berpikir begitu tapi selain itu, kalimat bahwa aku mulai menyukaimu adalah benar dan keluar dari lingkaran bahwa aku melakukannya demi Min Ho ataupun Soo Ji.  Jadi, jangan anggap ini pengorbanan atau apapun itu karena aku tulus padamu.”

Naa He tersenyum.  “Tapi meskipun kau benar-benar tulus, aku tetap tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Eomma tidak akan melepasku kali ini.”  Tutur Naa He kecut dengan tetes air mata yang langsung turun begitu saja dan dihapusnya segera.  “Eomma bilang aku seperti appa.  Menyukai orang rendahan.  Aku tidak bisa bersamamu.  Status kita jelas berbeda dan aku tidak mau kecewakan eomma lagi.”

 

Masalah kuno, selalu macam ini dan Soo Hyuk hanya menggeleng dengan senyum tanpa arti yang bisa Naa He tangkap hingga akhirnya, entah karena marah, kecewa atau malu—pria itu bangkit dari kursinya dan mengusap kepala Naa He pelan.  “Bersiaplah.  Kita akan mengunjungi Min Ho malam nanti dan kau bisa mengatakan sesuatu yang kau bilang ingin kau katakan padanya.”

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Westpunt, Curacao

Bersama doa dan harapan yang selalu bersanding, Min Ho ada di sisi Soo Ji seolah bayangannya.  Mengikuti apa yang wanita itu inginkan, menuruti apa yang wanita itu mau, melakukan apa yang wanita itu minta, memberikan apa yang wanita itu butuhkan, dan menyerahkan hal diluar batas yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Tapi bukankah setiap hal, semua hal, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh maka akan mendatangkan hasil entah berapa lama waktu yang dilalui?  Sesedikit apapun hasil itu, walau hampir tidak tampak mata—pasti akan ada bukan?  Setidaknya kalimat macam itulah yang menjadi keyakinan Min Ho hingga sejauh ini, hingga sepanjang ini, dan hingga selama ini yang kemudian benar-benar membuahkan hasil untuknya.

Melihat Soo Ji, meski tangan kurusnya masih memegang lengan baju Min Ho erat, ataupun mengapit lengan pria itu kuat-kuat, setidaknya Min Ho lebih banyak tertawa dengan Soo Ji yang mulai menunjukkan perubahan demi perubahan kecilnya yang makin besar.

Diantaranya ialah saat Soo Ji mulai melihat sekitar, menyentuh dedaunan jatuh di pasir pantai yang terkadang dibawa ombak dan memetik bunga cantik yang saat di Korea dulu ia sangat suka.  Soo Ji juga mulai menyentuh makanannya sendiri, memakannya lahap—meski, kadang di awali dengan mencium aroma dari masakan yang tersaji lebih dulu bagai aneh.  Entah saat pagi atau sore, Soo Ji selalu menyempatkan diri berenang di pantai bersama Min Ho dan keluarga Kim hingga seluruh tubuhnya basah dan mengaku kalah pada ombak, tidak lagi menghindar seperti sebelumnya.  Saat indahnya pantai yang menggoda tidak lagi menarik dalam mata Soo Ji, ditemani Hee Joon dan anjing lucunya—Soo Ji berlarian di sekitar bibir pantai untuk kemudian memunguti beberapa kulit kerang yang setelah terkumpul banyak akan di susunnya menjadi sebuah nama atau bentuk apapun yang diinginkannya.

Berinteraksi dengan semua orang di sekelilingnya meski nampak malu-malu, Soo Ji menundukkan kepalanya dan merapatkan diri pada Min Ho seolah bersembunyi dibalik tubuh suaminya—ketika bertemu orang baru.

Kemudian saat Soo Ji tidak mengerti akan apa yang lawan bicaranya katakan, atau tidak mengerti dengan sikap dan perilaku mereka padanya, rengutan di kening berpadu pandangan tajamnya langsung tampak dan itu bukan tertuju pada mereka yang ia tidak mengerti maksudnya, tapi pada Min Ho.  Sambil menarik baju Min Ho hingga pria itu menoleh bersama bungkukan tubuhnya dan wajah menyamping menunjukkan telinganya yang siap mendengar semua ucapan Soo Ji, pertanyaan ada apa? atau apa tadi katanya? atau apa yang mereka katakan?  langsung Soo Ji bisikkan di telinga suaminya.

Begitupun saat ingin meminta sesuatu.  Merajuk, entah Soo Ji mempelajarinya darimana namun kini Soo Ji sangat sering melakukannya pada Min Ho sembari mengerucutkan bibir mirip anak sekolahan polos agar apa yang diinginkannya segera dipenuhi.  2 hal yang paling membuat Min Ho senang ialah, ketika Soo Ji mulai menunjukkan senyumnya, juga tambahan kata dalam kalimatnya yang semakin banyak.  Awalnya, ucapan Soo Ji hanya berbatas oppa aku lapar, oppa aku kedinginan, oppa aku ingin minum, oppa aku ingin bermain di pantai, atau seperti yang baru saja dilontarkannya oppa aku ingin memakai baju hangat.

Tidak masalah bagi Min Ho jika semua perkataan Soo Ji adalah permintaan, untuknya itu jauh lebih baik dibanding dirinya kebingungan dan tidak tahu apa yang Soo Ji inginkan.  Tapi hal paling mencolok dan perubahan paling tampak dari istrinya yang lain hingga tidak ada seorangpun yang menyangka wanita itu berbeda adalah penampilannya, dan Min Ho sangat berterimakasih pada Eun Hye untuk itu.  Wajah Soo Ji tidak sekusam dulu, begitupun rambut kusutnya yang kini sudah sangat rapi sebab berhasil Eun Hye buat Soo Ji untuk mau memotongnya meski dengan syarat bahwa potongan rambutnya haruslah mirip seperti potongan rambut Eun Hye.  Dan kini, tampaklah tampilan Soo Ji yang sangat berbeda jauh dengan tampilannya selama beberapa tahun belakangan.  Tidak akan ada yang memandang Soo Ji berbeda kini, wanita itu sudah begitu tampak normal seperti dulu dengan sentuhan tangan Eun Hye disana sini.

 

 

 

“Oppa.”  Panggil Soo Ji dengan kedua tangan memegang handuk putih yang melilit tubuhnya erat seolah takut jatuh, sementara pandangannya mengarah lurus ke luar kamar yang langsung menampakkan suasana pagi Curacao.

Rambut panjang Soo Ji yang kini hanya menyentuh bahu putihnya tampak basah dengan tetes air yang melewati ujungnya, dan jatuh begitu saja pada sprei putih ranjang hingga beberapa bagian nampak basah dibanding bagian lainnya.

Duduk tenang diatas ranjang dengan pemandangan pagi cerah dan ramai sebab Eun Hye juga Hee Joon yang tengah bermain bersama anjing lucu mereka dan Jaejoong berada di tengah laut untuk melanjutnya penelitiannya akan jenis karang khusus seperti biasa, Soo Ji menurunkan pandangannya dari mereka semua disana bagai memiliki beban berat seperti otak normal lainnya entah mengapa.

“Min Ho oppa—.”  Panggil Soo Ji lagi pada pria yang hanya melilitkan handuk putih serupa dengan yang melilit tubuhnya pada pinggang kecoklatan yang warnanya mulai nampak juga pada kulitnya, sebab terlalu sering bermain di pantai dengan matahari menyengat.  Menoleh dengan sosok Min Ho yang masih mencari baju hangat dalam ruang ganti seperti keinginannya tadi, Soo Ji merengut.

“Hm?”  Sahut Min Ho sekenanya dengan tangan bergerak kesana kemari mengambil beberapa pakaian yang kemudian segera dipakainya dan baru kemudian mengambilkan baju untuk Soo Ji.

Berbalik dan berjalan dengan langkah khas-nya, Min Ho mendekati istrinya yang sudah menyatukan kedua alisnya seolah tengah berpikir dan mengembalikan pandangannya pada Eun Hye juga Hee Joon di pantai.

Tanpa bertanya, Min Ho seolah tertular rengutan hingga keningnya ikut berkerut dan begitupun dengan tolehan serta arah pandang Soo Ji, Min Ho juga mengikutinya.  “Ada apa?”  Tanya Min Ho kemudian mendudukkan dirinya di ranjang, tepat di belakang tubuh istrinya dengan kedua tangan mengusap kepala Soo Ji menggunakan handuk yang tadi dipakainya untuk mengeringkan rambut basah istrinya.  “Kau ingin bermain bersama mereka lagi?  Ganti baju dulu, dan kau bisa lakukan itu kemudian.”

“Tidak.”  Soo Ji menggeleng.  “Aku tidak mau bermain bersama mereka.”  Lanjut wanita itu lirih bagai gumaman tidak jelas.

“Apa?  Aku tidak dengar.”

“Kemarin aku bertemu Sulli-ssi saat potong rambut.”  Terang Soo Ji membicarakan hal berbeda sementara kedua tangannya ikut mengusap rambutnya mengikuti arah tangan Min Ho.

“Lalu?”

“Sulli-ssi tanya padaku, sudah berapa lama aku dan oppa menikah?  Aku jawab 5 tahun.  Aku benar kan oppa?”  Tanya Soo Ji mencari pembenaran sambil menoleh pada Min Ho yang langsung tersenyum dan mengangguk.

Rasanya tidak sia-sia bagi Min Ho selalu mengingatkan Soo Ji tentang nama, status, dan berapa lama mereka menikah meski ketika dirinya lakukan itu tiap bangun tidur, Soo Ji tidak menjawab atau memberikan satu respon apapun.

“Eo… kita sudah 5 tahun menikah.  Lalu?  Apa lagi yang Sulli-ssi tanyakan?”  Semangat Min Ho tentang pertanyaan lain Sulli yang dipikirnya bagus tanpa tahu bagaimana pucatnya wajah Soo Ji setelah itu.

 

Mendesah bagai menanggung beban berat, Soo Ji menarik nafas panjang beberapa kali bagai benar-benar ada masalah.  Soo Ji bahkan menundukkan kepalanya lagi, menyembunyikan cemas di wajahnya dengan helai rambut basah yang menutup wajahnya tanpa mengucapkan satu kalimat jawaban apapun atas pertanyaan Min Ho yang kini sudah membalik tubuhnya dan membantunya berganti pakaian.

Menarik dan menggerakkan anggota tubuh Soo Ji sekehendaknya meskipun pelan, Min Ho nampak tidak terlalu memikirkan pembicaraan mereka sebelumnya sebab lebih fokus untuk membantu istrinya berganti pakaian.  Barulah setelah itu, setelah Soo Ji rasa semua yang ingin agar Min Ho pakai ditubuhnya telah selesai, sisiran jemari pria itu pada rambutnya seperti yang biasa dilakukan saat sudah selesai membantunya berganti baju, baru Soo Ji angkat lagi kepalanya meski kerutan entah karena apa masih tampak dan tanpa ragu wanita itu memeluk Min Ho seolah ingin dimanja, tangan hangat Min Ho yang bebas—Soo Ji ambil dan arahkan untuk mengusap kepalanya dan Min Ho tersenyum dengan sebelah tangan memeluk tubuh Soo Ji, sementara sebelah tangannya lagi mengusap kepala istrinya itu seperti yang diinginkan.

“Wae?  Kenapa wajahmu jadi kusam begitu hm?”

Lagi-lagi Soo Ji menghela nafas panjang, keningnya makin berkerut banyak dan tangan yang tadi Min Ho arahkan untuk mengusap kepalanya—pria itu gunakan kali ini untuk meluruskan kerutan di kening istrinya.  “Kenapa?  Ada apa?  Kau tidak mau cerita pada oppa?”  Desak Min Ho menyentuh dagu Soo Ji dan menariknya hingga wajah tertunduk itu mendongak.

Wajah penasaran dan bibir yang tertarik membentuk senyum, nampak menyenangkan bagi Soo Ji.  Wanita itu, entah bagaimana atau entah sejak kapan—sesadar yang dirinya tahu saat ini, mulai memperhatikan Min Ho lekat-lekat seperti.  Misalknya seperti ketika mata teduh dan bersinar Min Ho selalu membuatnya terpana dan lupa pada beberapa hal, atau ketika senyum bahkan tawanya yang kemudian terdengar membuat dadanya seperti dipukul-pukul dari dalam dan Soo Ji tidak tahu bagaimana untuk membuat dadanya kembali normal sebab—jika dirinya berpikir bahwa pukulan-pukulan dari dalam itu sebab Min Ho, maka ketika dirinya pergi agak jauh dari Min Ho, pukulan-pukulan tadi yang hanya dirinya seorang dengar—berhenti dan justru berganti rasa sakit.  Maka entah sejak kapan pula Soo Ji tidak ingat, pukulan-pukulan dalam dadanya sedikit menghilang tanpa menimbulkan rasa sakit jika dirinya memeluk Min Ho, sangat erat lebih dari saat ini.

“Soo Ji-ya?”  Min Ho memanggil, mengusap pipi berisi istrinya dan mendekatkan wajahnya.  “Kenapa?  Ada apa?”  Bisik Min Ho yang hanya Soo Ji seorang mendengarnya, sekaligus mengingatkannya tentang masalah yang sejak semalam menghantuinya.

Maka, dengan segala caranya dan segala usahanya memeluk Min Ho makin erat namun tidak juga membuat sakit di dalam dadanya menghilang padahal dirinya tidak menjauh dari pria itu, Soo Ji mulai berpikir—mungkin dirinya harus katakan seluruh isi kepala dan rahasianya pada Min Ho.  “Sulli-ssi bilang, suami istri itu pasti punya anak.  Seperti Eun Hye eonni, dan Jaejoong-ssi yang punya Hee Joon.  Sulli-ssi bilang, jika suami istri tidak memiliki anak maka mereka tidak akan pernah bahagia.  Tapi aku bilang pada Sulli-ssi bahwa kita bahagia.  Tapi Sulli-ssi bilang lagi bahwa kebahagiaannya pasti tidak akan bertahan lama dan jika suami istri tidak memiliki anak maka mertuaku akan membenciku.  Lalu aku tanya, mertua itu apa?  Sulli-ssi bilang, mertua adalah orang yang membuat oppa ada dan sangat oppa turuti dan oppa lebih mencintainya dibanding mencintaiku dan oppa akan lebih memilih untuk bersamanya dibanding bersamaku.  Lalu Sulli-ssi juga bilang, jika mertua adalah orang yang bisa membuat oppa pergi, meninggalkanku, bersama wanita seperti Eun Hye eonni yang bisa memberi anak.  Sulli-ssi bilang jika suami istri tidak memiliki anak maka itu salah istrinya dan suaminya akan meninggalkannya.  Apa oppa akan meninggalkanku dan bersama mertua juga wanita seperti Eun Hye eonni?  Oppa bilang oppa mencintaiku kan?  Oppa bilang oppa tidak akan pergi kan?  Oppa, Sulli-ssi bohon kan?  Oppa tidak seperti yang Sulli-ssi katakan bukan?  Oppa…”

 

Apa-apaan?  Min Ho membatin terkejut hingga jantungnya serasa berhenti berdegup saat itu juga. Sulli?  Mengatakan itu?  Bagaimana bisa?  “Sulli-ssi bilang begitu?  Dia bilang begitu padamu?”  Tanya Min Ho tidak percaya padahal, jika dia melihat keadaan wanita itu saat ini—sangat mustahil untuk Soo Ji berbohong.  Dan lagi, dirinya yang paling tahu dan mengenal bagaimana Soo Ji.  Maka bukankah pertanyaan tidak percaya macam itu tidak seharusnya terlontar?  “JAWAB AKU DENGAN BENAR APA SULLI-SSI MENGATAKAN ITU PADAMU!”  Bentak Min Ho tidak terkendali.  Mendorong tubuh Soo Ji cepat dari pelukannya dan mengeratkan kedua tangan besarnya pada pundak kurus istrinya hingga bagai meremas dan membuat Soo Ji meringis sakit.  Tapi seperti isi kepalanya yang tidak menyambung dengan baik, telinga Min Ho juga bagai tuli hingga ringisan Soo Ji sama sekali tidak berpengaruh apapun pada sikapnya.

Pria tinggi itu menatap istrinya yang meringis sakit tidak peduli sebab yang diinginkan adalah, jawaban atas pertanyaan sebelumnya.  Apa benar Sulli mengatakan hal macam itu padanya?

“Oop—oppa— Oppa sakit—.”  Bata Soo Ji hampir menangis, memegang dua tangan Min Ho yang meremas pundaknya untuk kemudian berusaha ia lepas namun percuma—Min Ho malah makin meremas pundak Soo Ji hingga bisa patah nantinya.

“Jawab aku.”  Tegas Min Ho makin serius mengabaikan sakit dan tangis Soo Ji dihadapannya.  “Sulli-ssi, mengatakan itu padamu?  JAWAB AKU!”

“IYA!  SULLI-SSI BILANG BEGITU PADAKU!”  Balas Soo Ji dengan teriakan dan tangis yang sudah lama tidak nampak padanya.  “Sulli-ssi bilang oppa kasihan padaku, Sulli-ssi bilang oppa tidak mencintaiku!  Sulli-ssi bilang oppa adalah pembohong!  Sulli-ssi bilang oppa punya istri selain aku.  Istri yang cantik, yang bisa berikan anak, yang mertua sukai!  Sulli-ssi bil—.”

“Hentikan!  Cukup!”

“Kenapa hentikan?  Kenapa cukup?  Bukannya oppa ingin aku bicara?!”  Tanya Soo Ji ldengan isakan kecil dan tangan yang tidak lagi menyentuh tangan Min Ho, namun menyentuh wajahnya sendiri untuk menghapus air mata yang biasanya—Min Ho-lah yang lakukan itu.  “Saat aku tanya Eun Hye eonni sudah berapa lama Eun Hye eonni menikah dengan Jaejoong-ssi, Eun Hye eonni bilang sudah 5 tahun, sama dengan kita.  Lalu kenapa kita tidak punya Hee Joon?  Kenapa kita tidak punya anak oppa?  Bagaimana membuat anak?  Bagaimana agar kita punya Hee Joon kita sendiri?  Bagaimana agar aku memberikan oppa anak dan mertua yang membenciku tidak membuat oppa pergi?  Bagaimana caranya oppa?   Bagaimana caranya?  Beritahu padaku caranya.  Aku tidak mau oppa pergi.  Oppa beritahu padaku!”  Tuntut Soo Ji tidak sabar dengan tangan menarik-narik lengan baju yang Min Ho pakai untuk jawaban yang ingin segera didapat sementara pria dengan kulit yang mulai agak kecoklatan itu masih belum sadar dari pikirannya tentang bagaimana bisa Sulli berkata macam itu pada Soo Ji padahal sebelumnya, ketika dirinya menceritakan segalanya pada Eun Hye sekaligus meminta pengertian dan bantuan andai bisa, ada Sulli juga disana.  Lalu bagaimana bisa gadis itu bicara macam tersebut pada Soo Ji?

“Kau tunggu disini.”  Ucap Min Ho dingin melepas tangan Soo Ji pada lengan bajunya, turun segera dari ranjang dan meninggalkan kamar dengan Soo Ji seorang diri disana tanpa memikirkan bagaimana lubang-lubang kecil muncul dalam kepala istrinya yang kemudian tersambung membentuk jawaban akan ucapan Sulli sebelumnya hingga wanita itu kembali menangis tanpa seorangpun yang bisa menenangkannya.

“Oppa bilang oppa akan pergi jika aku tidak bicara makanya aku bicara!  Oppa bilang hanya boleh memeluk oppa makanya aku hanya memeluk oppa!  Oppa memintaku ini dan itu dan oppa bilang kita akan selalu bahagia juga bersama makanya aku lakukan apapun ini dan itu seperti kata oppa!  Oppa bilang untuk percaya tapi kenapa oppa pergi?  Kenapa oppa meninggalkanku?  OPPA!  OPPA JANGAN PERGI…..  MIN HO OPPA—.”  Teriak Soo Ji menangis dengan seluruh suara yang bisa dikeluarkan oleh kerongkongannya hingga siapapun bisa mendengar tidak terkecuali Min Ho yang kembali menulikan telinganya atau memang tidak mendengarnya sebab terlalu fokus pada Sulli.

Menyusuri pantai berpasir dengan langkah lebar, Min Ho bahkan berlari terburu menuju villa tempat Sulli berada dan menginap selama beberapa waktu ini.  Wanita tinggi dengan rambut panjang berwarna hitam itu, tidak Min Ho mengerti bagaimana bisa Sulli berucap macam itu dan bagaimana bisa Sulli tahu tentang pernikahannya?  Kemudian tentang anak, tidak seharusnya Sulli membahas itu.

“SULLI-SSI…..  SULLI-SSI BUKAN PINTUNYA!  SULLI-SSI!”

 

Bak—bak—bak

 

“SULLI-SSI!”  Teriak Min Ho memecah ketengan pantai dengan teriakan dan ketukan bagai dobrakan pada pintu kayu kokoh villa Sulli.  “YA CHOI SULLI!  BUKA PINTUNYA!”

“Ada apa?”

Wanita itu, entah bagaimana mengatakannya.  Disaat Min Ho begitu ingin mencekiknya hingga mati, Sulli justru muncul dari arah belakang Min Ho dengan segala keringat yang menempel ditubuhnya juga sepatu olahraga.  Disaat Min Ho dan Soo Ji hampir mengulang semuanya dari awal, wanita penyebab semua itu justru menikmati dan mengawali harinya dengan jogging.

“Kau gila?”

“Apa?”  Sulli melongo, entah bersikap tidak tahu atau memang tidak tahu akan maksud Min Ho.

“Apa maksudmu berkata seperti itu pada Soo Ji?  Kau tahu kenapa dan bagaimana dia seperti itu!  dan bagaimana pula kau tahu tentang istriku yang lain?”

“A~itu?”  Sulli tersenyum dan mengeratkan ikatan rambutnya.  “Kau belum tahu ya?”

“Apa”

“Aku hanya membantu Soo Ji-ssi agar dia tidak terkejut.  Lagipula akan sampai kapan kau membohonginya?”

“Bicara yang jelas!”  Bentak Min Ho ganti mencengkram wajah Sulli dengan tangannya kuat hingga kening wanita itu berkerut antara kaget dan terkejut.  “Apa maksudmu huh!”

“Lepaskan aku dulu!”

“TIDAK!”  Putus Min Ho makin menggila atas semua hal yang belum dimengertinya.  “Siapa kau?  bagaimana kau bisa mengetahui banyak hal tentangku yang bahkan tidak aku ceritakan pada siapapun disini?”

“Bagaimana bisa?  Tentu bisa sebab aku tahu dirimu.  Kau adalah Lee Min Ho, suami dari Kim Naa He dan pengganti pewaris keluarga Lee yang meninggal.”

“Ap—.”

“Nama dan fotomu memenuhi seluruh sudut Korea saat ini.”

 

 

 

“Min Ho-ssi……”  Panggilan dengan teriakan panjang dan langkah selebar juga secepat Min Ho tadi ketika menemui Sulli, nampak.  Jaejoong kali ini.  dengan keseluruhan tubuh basahnya sebab baru keluar dari tengah laut, berlari terburu hingga butir pasir memenuhi kaki hingga mencapai lututnya.

“Ada apa?”

“Soo Ji-ssi, dia pingsan.”

“Apa?!”  Pekik Min Ho sekali lagi hampir kehilangan dirinya.  Soo Ji?  Pingsan?

 

 

***

Melewati lorong-lorong rumah sakit yang sebenarnya tidak ia suka karena semua lorong rumah sakit selalu membuatnya sakit perut hingga akan mati, sayangnya Mn Ho tidak memiliki pilihan jika ingin bertemu dan melihat bagaimana keadaan istrinya.  Jun Ki yang menunggu di pintu masuk dan kemudian menggiring Min Ho serta Jaejoong masuk untuk sampai ditempat Soo Ji, ikut bergerak gelisah mengingat bagaimana tangisan Soo Ji berakhir dengan pingsannya ia.

 

 

“Kemana saja kau tadi hingga Soo Ji seperti itu?  Apa yang kau lakukan?!”  Sambut Eun Hye meninggi saat sosok Min Ho sudah sampai dalam pandangan matanya hingga suara wanita itu menggema dalam lorong rumah sakit yang selalu sepi meski ramai orang.

“Bagaimana Soo Ji?  Dia kenapa?  Kenapa sampai pingsan?  Ada apa dengannya?” Tanya Min Ho tidak peduli pada marah atau kecewa, atau pertanyaan Eun Hye.

“Wah…..”  Eun Hye melipat kedua tangannya kedepan dan melirik Jun Ki juga Taesang yang menghela panjang dengan bibir terlipat.  Berapa kalipun dirinya berpikir, mereka berdua tidak akan berani mengatakannya pada Min Ho dan entah bagaimana Eun Hye menanggapi ini, Min Ho bahkan tidak memiliki otak Eun Hye rasa, untuk semua hal pada pagi ini.  “Istrimu hamil.  Soo Ji hamil.  Kau tidak tahu?”

“Apa?”

“Bae Soo Ji hamil, 3 minggu.  Dan kau meninggalkannya dalam keadaan begitu tadi?  Setelah berhasil menyembuhkannya, kau menghamilinya, dan meninggalkannya dalam keadaan begitu?  Kau ingin kembali membuat istrimu gila karena kehilangan anaknya lagi?”

 

 

Hamil?  Ucap Min Ho dalam hati bagai tidak percaya atau, dirinya sebenarnya terkejut, senang, dan sedih untuk hal itu hingga entah bagaimana harus mengungkapkannya.  Untuk keadaan Soo Ji yang seperti itu, untuk ucapan Sulli yang belum selesai, bisakah dirinya bahagia hingga meloncat kegirangan seperti ketika pertama kali dulu mendengar kabar hamilnya Soo Ji?

Tidak bisa.  Min Ho menggeleng.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Seoul, Korea Selatan

“Kau menang.  Aku kalah.”  Tutur Nyonya Lee—yang sebenarnya dihadapan wanita lain yang menggunakan nama keluarga suaminya untuk anaknya.  Tersenyum nyinyir entah untuk apa dan untuk siapa, Nyonya Lee menampakkannya bersama genggaman tangan erat pada gelas berisikan teh hijau yang masih panas hingga asapnya mengepul tinggi tanpa sekalipun niatan untuk melepasnya agar supaya melepas siksa tangannya dari panas yang menjalari telapak putihnya.

Wanita dengan segala keanggunan juga keangkuhan yang dimilikinya itu, entah bagaimana—mulai menampakkan senyum bahagia seolah tidak ada hal buruk dalam hidupnya.  Seolah ia bukanlah seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya, ataupun seorang istri yang kehilangan suaminya, atau bahkan seorang wanita yang kehilangan kehormatannya.  Ucapan kalahnya tadi, nampak hanyalah sebuah kata biasa dan bukan sesuatu hal besar yang sangat bermasalah hingga tawanya terdengar kemudian.

 

Menunduk bagai pesakitan, Min Ho eomma yang Nyonya Lee sebut sebagai pemenang bahkan tidak bisa tersenyum selebar Nyonya Lee, atau bahkan tertawa sekencang Nyonya Lee.  Nampak salah tempat, keduanya seolah bertukar posisi.

“Doamu terkabul.  Kau selalu berada di kuil pasti untuk ini.”

“Aku—.”

“Suamiku, anakku, keluargaku, harga diriku, bahkan namaku.”  Potong Nyonya Lee.  Menarik tawa lebarnya hingga bibir mungilnya kembali terkatup dan sinar di mata tuanya berubah redup dengan riak-riak air yang nampak, membungkam ucapan belum selesai Min Ho eomma.  “Kau menang, Min Hye-ssi.  Kau menang dan selalu menang.  Aku kalah, dan selalu kalah.  Seperti apapun aku, setinggi apapun aku, seberusaha apapun aku, sebanyak apapun yang aku miliki, tetap saja aku selalu kalah dan kau selalu menang.  Seperti apapun dirimu berlari, seperti apapun dirimu menolak, seperti apapun dirimu menghindar, dirimu bahkan selalu menang tanpa melakukan apapun.  Dulu nenekku pernah berkata bahwa orang cerdas, orang kaya, orang cantik ataupun tampan, bahkan orang paling berkuasa dan sempurna sekalipun, akan kalah jika berhadapan dengan orang beruntung.  Dan kau, kau sangat beruntung.  Suamiku tetap mencintaimu meski sudah ada aku dan anakku, dia bahkan lari dan menikahimu kemudian saat dirasa semua tanggung jawabnya padaku juga keluarganya usai setelah aku hamil.  Begitupun setelah itu, meski aku berhasil membawanya kembali ke rumah dan meninggalkanmu, dia masih mencintaimu dan anakmu lebih dari mencintaiku dan anakku.”

“Maaf—.”

“Aku pikir.”  Potonng Nyonya Lee lagi melirik wanita hadapannya yang masih menunduk dengan kedua tangan saling meremas hingga memerah itu, sinis.  “Aku pikir, karena ada anakku maka suamiku akan sedikit lebih memperhatikan kami.  Tapi nyatanya tidak, dan kau muncul dengan anakmu.  Aku pikir, jika aku tidak bisa memiliki suamiku maka kau juga tidak bisa memilikinya.  Aku pikir, jika anakku tidak bisa memiliki appa maka anakmu juga tidak boleh memiliki appa.  Bukankah itu sangat impas?”

“Aku tidak mengerti bagaimana bisa kau memiliki pikiran macam itu.  Kita berteman dulu.  Dibanding memiliki pertanyaan kenapa kau tega lakukan itu, aku lebih ingin tahu apakah setelah melakukan semua itu kau lebih bahagia?”

“Kau ingin menjadi wanita baik dengan menanyakanku hal macam itu?  Kau lupa jika kau ingin posisi putraku untuk putramu?”

“Ya.”  Min Ho eomma mengangguk sambil menghapus air matanya.  “Aku memang ingin anakku berada dan memiliki posisi seperti anakmu.  Karena anakku sudah tidak memiliki appa seperti anakmu, bukankah sama sekali tidak masalah jika dia memiliki tempat yang sama seperti anakmu?”

“Kematian?”  Tanya Nyonya Lee.  “Tempat anakku saat ini adalah kematian.  Itukah yang kau mau? Anakmu mati menyusul anakku?”

Menggeleng tidak mengerti, Min Ho eomma membuang muka dan kembali menghapus air matanya.  “Kau adalah eomma, begitupun aku.  Bagaimana bisa kau merusah anak eomma lain hanya karena anakmu rusak oleh sikapmu sendiri?”

“Kau yang merusak anakku.  Kehadiranmu yang merusak anakku!”

“Maka tidak ada bedanya denganmu yang merusak anakku.  Lalu, bukankah kita sama-sama buruk?  Bukankah kita tidak pantas dipanggil eomma jika begitu?”

“Kau licik!”  Maki Nyonya Lee.  “Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku selama ini.  Selama pernikahan kami!  Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku!”

“Lalu apa kau tahu penderitaanku?”

“Dia tidak pernah pulang jika tidak ada acara keluarga.  Suamiku, suamiku bukan suamiku.  Hanya beberapa kali dia menyebut namaku dan sisanya adalah namamu.  Apa kau tahu bagaimana rasanya?”

“Aku tidak tahu.”  Min Ho eomma menggeleng.  “Aku belum pernah merasakannya maka aku tidak tahu.”

Tergelak, Nyonya Lee mengusap hidung berairnya dengan tissue halus yang berada diatas meja antara dirinya dan Min Ho eomma.  “Kau sangat tangguh sekarang.  Kau bahkan tidak memiliki satu ketakutan apapun.  Apa kau tahu?  Untuk menahannya agar tidak menemuimu dan memberikan cintanya pada putramu, aku selalu menggunakan nama mendiang abeonim.  Tapi satu hari, dia bertanya padaku, apa yang kau inginkan Soo Bin-ssi?  Untuk pernikahan panjang kita yang membuatmu terluka, apa yang kau inginkan?  Lalu aku jawab, aku ingin dirimu.  Dan dia berkata, kau sudah memiliki diriku sejak dulu.  Kemudian aku berkata lagi, hatimu.  Dia tersenyum, sinis dan kasihan padaku dengan jawaban hatiku hanya miliki Min Hye dan Min Ho.  Lalu, apa kau tahu bagian terburuknya?”  Tanya Nyonya Lee berkaca-kaca mengenang kejadian beberapa bulan lalu itu.  “Bagian terburuknya adalah, dia katakan itu tepat dihadapan anakku.  Dia mengatakan hal macam itu dihadapan anakku, apa kau bisa membayangkannya?”

“Bisa kau selesaikan ucapanmu?”

“Lalu anakku, untuk pertama kalinya menatap appa-nya dan meminta sesuatu.  Anakku berkata, aku ingin semua kekayaan appa, aku ingin semua kekuasaan appa tanpa dibagi dengan siapapun begitu katanya.  bisa kau bayangkan bagaimana aku mendengar hal macam itu?  Putraku bahkan merendahkan harga dirinya dihadapan appa-nya, putraku yang  selalu berkata padaku ingin dipeluk oleh appa-nya justru berkata hal macam itu dan kau tahu apa jawaban Jae Hoon-ssi?  Dia bilang, ambil saja.  Kau bisa dapatkan dan ambil apa yang kau inginkan dariku.  Harta ini memang hak-mu bahkan sejak kau belum lahir.  Dan karena kau sudah memintanya dengan jelas, maka kau siap menggantikan posisiku memajukan perusahaan turun temurun kita ini.  artinya, aku sudah tidak memiliki tanggungan apapun pada keluarga ini juga kalian.  Dia akan pergi dan bersamamu selepas putraku mengambil seluruh jabatannya?. Tapi sayangnya, putraku meninggal dan entah aku harus katakan apakah itu hal baik atau buruk.  Suamiku tetap bersamaku, tapi justru anakku yang pergi.  Katakan padaku Min Hye-ssi, apakah hidup ini adalah adil untukku?”

 

“Hentikan Soo Bin-ah!”  Suara bergetar sebab termakan usia yang sudah lama tidak sampai di telinga salah satu diantara dua wanita yang kini berhadapan itu terdengar.  Begitu keras dan sinis, sosok tua dengan seluruh rambut berwarna putih dan hanbok berwarna gelap yang akhir-akhir ini selalu dipakainya, muncul dan mengintimidasi salah satunya seperti biasa.  “Apa yang kau katakan?”

“Eomoni—.”  Nyonya Lee memucat dan menghapus tetes air matanya sebelum mengalir.

“Jangan ucapkan hal tidak-tidak!”  Bentaknya sekeras biasa dengan tangan menunjuk menantu pertamanya.  “Kau yang memulainya.  Kau yang memisahkan anakku dan Min Hye, jika akhirnya seperti ini jangan pernah menggugat apapun!  Kesialanmu dan kesialan anakmu adalah karenamu sendiri!”

“Bagaimana bisa eomoni berkata seperti itu?  Apa pernah eomoni menganggapku menantu?  Apa eomoni pernah menganggap anakku sebagai cucu eomoni?”

“Lancang!  Beraninya kau bertanya begitu padaku?”

“Kasihani aku!”  Teriak Nyonya Lee, mengemis untuk pertama kalinya, mengaku salah dan menunjukkan wajah tidak berdayanya.  “Kasihani aku sekali ini saja.  Aku tidak memiliki suami, anak, bahkan keluarga lagi.  Aku tidak memiliki satupun untuk dibanggakan.  Biar aku dapatkan bagianku.”

“Apa yang kau mau?”  Tanya Min Ho eomma prihatin.  “Kau ingin suami dan keluarga?  Kau sudah mendapatkannya.  Aku sudah terlalu tua untuk memikirkan cinta, yang aku mau hanya anakku.  Kau ingin Jae Hoon?  Kau ingin anak?  Kau bisa memilikinya.  Aku tidak akan bersama Jae Hoon lagi, aku dengar juga Naa He sedang hamil dan kau bisa memiliki anaknya, melihatnya sebagai cucu yang kau inginkan.  Ambil saja, aku sudah tidak ingin dan tidak berharap apapun selain putraku.  Aku hanya ingin Min Ho pulang dan kembali bersamaku.”

“Aku ingin semua yang kau dan suamiku miliki.”

“Apa?  Uang?  Harta?  Kedudukan?”  Tanya Nenek Lee, menggenggam erat tongkat kayunya geram pada wanita dihadapannya yang mulai tersenyum lebar seolah mengejek kalimat panjang Min Ho eomma sebelumnya.

“Aku bilang, semuanya.”  Ucapnya pelan dengan sebelah tangan mengeluarkan korek api dari dalam tas dan memantiknya, menjatuhkannya begitu saja pada lantai kayu yang disiramnya dengan minyak yang entah sejak kapan, berada di sebelah tangannya yang lain.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Westpunt, Curacao

Menunggu Soo Ji hingga bangun dari pingsannya, genggaman erat Min Ho pada salah satu tangan istrinya itu nampak.  Pria tinggi itu duduk tepat di sisi istrinya, melihat wanita yang wajahnya sedikit memucat—dan kemudian turun ke perut ratanya.

Bagai masih tidak percaya atas apa yang Eun Hye tadi katakan padanya, Min Ho mengulurkan sebelah tangannya yang lain, menyentuh perut Soo Ji begitu pelan dan hati-hati seolah akan melukainya andai teledor sedikit saja.

 

Anakku, Min Ho membatin.  Hampir menangis, pria itu tersenyum tipis dan entah bagaimana ungkapkan perasaannya.  Mengusap perut rata Soo Ji berselimutkan selimut warna hijau muda, Min Ho melakukannya begitu hati-hati hingga tangannya hampir tidak menyentuh.

Melihat Soo Ji sekali lagi, menoleh pada istrinya yang masih memejamkan mata tidak sadar, Min Ho mengeratkan pegangan tangannya dan mengecup beberapa kali punggung tangan Soo Ji.  Usapan pelan Min Ho berganti pada kening Soo Ji, “Kau ingin Hee Joon kita sendiri?  Kau ingin anak?  Kita sudah memilikinya.  Maka cepatlah bangun dan biarka aku meminta maaf karena sudah pergi begitu saja tadi, kemudian mengatakan padamu bahwa kita akan segera memiliki Hee Joon kita sendiri seperti yang kau mau.”  Ucap Min Ho pelan.

Membayangkan Soo Ji untuk beberapa waktu kedepan, meski dalam hati kecil Min Ho menolak keadaan macam ini sebab belum stabilnya Soo Ji, dan belum sembuh benarnya Soo Ji, tetap saja—dirinya tidak bisa tidak bahagia.  Toh, selama ini dan sejauh ini—semuanya sudah terkendali dengan baik.  Soo Ji bukan lagi wanita kacau yang akan berteriak, berlari kesana kemari, ataupun menangis kencang.  Setidaknya, meskipun belum lega, Min Ho tahu bahwa tidak akan ada hal membahayakan untuk calon bayinya yang masih ada dalam perut istrinya ini.

Namun, satu bayangan lain yang merusak bayangannya tentang bahagia Soo Ji ketika mendengar kabar tentang akan memilikinya ia anak seperti Hee Joon, Sulli.  Ucapan Sulli tadi, bagaimana?

Gusar hingga meremas rambutnya erat, Min Ho segera mengambil ponselnya dari saku dan menghubungi satu-satunya nomor dalam kontak ponselnya, sekaligus satu-satunya nomor yang ia hubungi selama beberapa bulan ini.

 

 

“Soo Hyuk-ah?”  Sebut Min Ho saat paggilannya tersambung dan suara pria disana menyambut.  Memegang tangan Soo Ji seerat tadi, Min Ho merunduk untuk melihat wajah jelas istrinya dan tersenyum.  Merasa geli, percakapannya beberapa waktu lalu dengan Soo Hyuk yang melarangnya untuk meniduri istrinya hingga hamil, muncul.  “Aku melanggar apa yang kau katakan padaku.”

“Apa?”

“Soo Ji—.”

“Ya!  Lee Min Ho! Wah…. kau tidak menyapaku?”

“Hm?”  Min Ho mengernyit heran.  Menjauhkan ponselnya dari jangkauan telinganya, suara berisik sebab entah karena apa disana—membuatnya terlonjak hingga langsung berdiri.  “Astaga Joon?  Kim Joon?  Ya!  Itu kau?!”  Tanya Min Ho bersemangat hingga hampir berteriak dan pria itu mengedipkan mata senang berkali-kali dengan tarikan bibir lebar.  “Kau sudah bebas? Ada dimana kau sekarang?”  Runtun Min Ho seraya melepas tangan Soo Ji dan beranjak pergi keluar, berbicara dengan dua sahabatnya akan membuat suaranya mengeras dan tidak akan berhenti hanya dalam hitungan menit hingga mungkin—Soo Ji akan terganggu.  Sebab itu, Min Ho pada akhirnya keluar dari kamar.

Mendapati Taesang dan Jun Ki yang masih berhaga didepan kamar rawat Soo Ji sementara keluarga Kim telah pulang, Min Ho hanya menunjuk kamar Soo Ji pada mereka berdua seolah mengatakan jaga dia.

Taesang dan Jun Ki, segera mengangguk dan membungkukkan dirinya pada Min Ho, mengantarkan langkah panjang pria itu entah menuju kebagian rumah sakit sebelah mana yang agak sepi dan bisa dibuatnya berbincang banyak dengan dua sahabatnya itu.

 

“Bagaimana kabarmu?  Soo Ji?”

Min Ho terkekeh geli dengan wajah Kim Joon yang kini sudah memenuhi layar ponselnya.  Mata bulat pria itu, juga kulit berwarna pucatnya,  “Kau hitam sekali?”  Soo Hyuk bersuara, memperhatikan lekat-lekat Min Ho dan mendapat lirikan tajam dari Kim Joon.

“Kau tidak lihat aku sedang bicara?”

“Ya bicara saja.  Aku kan bicara setelah kau.  Aku tidak memotong ucapanmu.”

“Auh… dasar.”  Kim Joon mendecak kesal, memukul pundak tegap Soo Hyuk dan kembali menghadap Min Ho yang lebih suka memperhatikan mereka berdua.

“Kalian ada didalam mobil ya?  Mau kemana?  Aku ingin berkumpul bersama andai bisa.”

“Permintaanmu akan segera menjadi kenyataan Tuan.”  Sambut Kim Joon mengangguk bagai pelayan setia dan Min Ho kembali tertawa.

“Aku tidak berada di Korea.”

“Iya aku tahu.  Kau pikir bocah disampingku ini tidak mengatakannya?”

“Aku bukan bocah.”

“Kau itu bocah.”

“Astaga kita hanya berbeda 7 bulan.”

“Terima saja kau paling muda diantara kami.”

“Kalian akan tetap seperti itu dihadapanku?”  Serbu Min Ho menggeleng, duduk dibawah pohon tua dan besar pada sudut taman dan menopang wajahnya dengan sebelah tangan.  “Sejak kapan kau bebas?”

“Baru beberapa hari lalu.”  Jawab Kim Joon.  “Sebenarnya aku bisa bebas sejak awal, hanya saja aku malas untuk pulang ke rumah.  Kau tahu itu kan?”  Lanjut Kim Joon yang hanya bisa Min Ho angguki pelan.

“Mana Soo Ji?”  Tanya Soo Hyuk mengulang pertanyaan Kim Joon tadi.  “Dia baik-baik saja, kan?”

“Ya.”  Angguk Min Ho.  “Hanya ada sedikit masalah kecil hari ini, tapi semuanya baik-baik saja.”

“Kau mendengarkan kata-kataku sebelumnya kan?”

“Apa?”  Longo Min Ho tidak mengerti akan pertanyaan Soo Hyuk.  “Kata-kata yang mana?”

“Jangan meniduri Soo Ji dan membuatnya hamil.”

“Kau itu apa-apaan sih?”  Tanya Kim Joon melirik Soo Hyuk dan kembali memukul pundaknya.  “Bagaimana bisa kau larang-larang suami meniduri istrinya?  Dan bagaimana bisa kau larang suami istri untuk punya anak?”

“Kau tidak tahu bagaimana keadaan Soo Ji makanya bisa berkata macam itu.”

“Ya tapi tetap saja.  Mana boleh kau bicara begitu?  Jika Min Ho tidak  boleh meniduri Soo Ji maka dia bukan pria.  Kau bodoh ya?”

“Apa sih?”  Soo Hyuk memundurkan wajahnya dari Kim Joon risih.  “Mulutmu!  Mulutmu itu…. astaga!”  Tunjuk Soo Hyuk tanpa berani menyentuh pada bibir mungil Kim Joon.

“Kenapa bibirku?  Sexy kok.”

“Hei—.”  Potong Min Ho tidak tahan pada dua orang yang memenuhi layar ponselnya bersama perselisihan tidak penting mereka.  “Aku ada kabar bahagia dan mengejutkan.  Kalian mau dengar yang mana?”

“Bahagia—mengejutkan.  Apa sih?!”  Pekik Kim Joon dan Soo Hyuk hampir bersamaan.

“Bahagia dulu, baru hal mengejutkan.  Kalau mengejutkan dulu, nanti bahagianya tidak terasa.”

“Yang benar itu, mengejutkan dulu, baru bahagia.  Jadi saat hal mengejutkan itu buruk, ada hal yang membahagiakan tersisa.”

“Oh!”  Min Ho memekik berusaha menghentikan ucapan dua orang yang entah kapan akan benar-benar akur.  “Bisakah kalian berhenti berdebat?”

“Dia dulu yang mulai.”  Tunjuk Kim Joon dengan wajah polos memaksanya.

“Kau juga jika berkumpul dengan kami selalu berdebat.  Jangan sok dewasa.”  Sindir Soo Hyuk yang baru kali itu mendapat usapan pelan di puncuk kepalanya dari Kim Joon.

“Pandainya~”

“Lepaskan.  Tanganmu menjijikkan!”  Tolak Soo Hyuk tidak peduli.  “Jadi, ada apa?”  Tanya Soo Hyuk lagi pada Min Ho.  “Soo Ji baik-baik saja kan?”

“Sebenarnya aku ada di rumah sakit.”  Aku Min Ho melongokan dua wajah di layar ponselnya.  “Soo Ji hamil.”

“Mwo?  Ya!  SUDAH AKU KATAKAN DIA BELUM SIAP!”

“YA!  TERSERAH DIA MAU LAKUKAN APA!”

“DIAM KAU!”

“KAU YANG DIAM!”

“APA!”

“APA KAU!  YAK!”  Teriak Kim Joon dan Soo Hyuk saling memaki hingga Min Ho tertawa memegangi perutnya sebab kelakuan kekanakan dua sahabatnya yang tidak juga berubah.

“Oh ayolah…. kenapa kalian begitu lucu?”

“Kau menertawakan kami?  Awas saja jika kita sudah bertemu.”

“Aku sudah katakan tidak berada di Seoul.  Pertemuan kita masih lama.”

“Kami berada di Wespunt kok.”

“Huh?  Apa?  Bagaimana?  Kalian dimana?”

“Westpunt.”

“Bohong.”

“Benar.”

“Sumpah ini.  kami ada di Westpunt.  Kau ada di rumah sakit mana?  Kami akan kesana”

“Tunggu dulu.  Bagaimana bisa?”

“Tentu bisa.  Kenapa tidak bisa?  Kenapa?  Kau tidak ingin bertemu kami?”

“Bukan begitu.”

“Lalu?”

“Kalian bercanda?”

“Dia gila.”  Ucap Kim Joon menghadap Soo Hyuk bagai mengadu.  “Jah—.”  Kim Joon arahkan ponselnya keluar, menunjukkan keadaan khas Westpunt yang sudah begitu Min Ho kenali.  “Percaya?!”  Tanya Kim Joon meninggi.  “Sekarang katakan, kau ada di rumah sakit mana?”

“Saint Elisabeth.”

“Oh…. dekat itu dari kita.”  Angguk Soo Hyuk paham dan mengatakan pada sopir yang membawa mereka agar memutar arah menuju Saint Elisabeth yang sebelumnya sudah mereka lewati.

“Sudah berapa lama Soo Ji hamil?”  Tanya Kim Joon.  “Dia akan baik-baik saja, kan?”

“Ya.  Dia sudah baik-baik saja sekarang.  Hampir tidak ada bedanya dengan orang lain.  Baru beberapa minggu, masih lemah.”

“Dia sudah ingat semuanya?  Min Ji?”

“Tidak.”  Geleng Min Ho.  “Dia tidak ingat apapun.  Semuanya adalah ingatan baru.”

“Sebenarnya kami kemari untuk membicarakan sesuatu denganmu.”

“Aku tahu.”  Angguk Min Ho.  “Appa sudah umumkan kematian Hyung dan memperkenalkanku, kan?”

“Oh?”  Kim Joon dan Soo Hyuk saling menoleh.  “Bagaimana bisa kau tahu?”

“Sulli, tetangga kami yang mengatakannya padaku.”

“Tunggu sebentar!”  Pekik Kim Joon membulatkan matanya dan memfokuskan diri pada Min Ho tanpa Soo Hyuk yang tidak lagi dibaginya layar ponsel.  “Siapa katamu tadi?  Sulli?  Tetangga?”

“Ya?  Ke—napa?”  Tanya Min Ho aneh dengan raut pucat dan serius Kim Joon.  “Ada masalah?”

“YA LEE SOO HYUK!  TIDAK KAU KATAKAN PADANYA?  MANA SOO JI?  TEMANI DIA!  SULLI ITU ADIK AH IN!”  Teriak Kim Joon terburu antara Soo Hyuk dan Min Ho yang mengerutkan wajahnya tidak mengerti.

“Apa?”

“CEPAT HAMPIRI ISTRIMU BODOH!  SULLI!  JIN RI!  MEREKA ORANG YANG SAMA!”  Teriak Kim Joon kencang menghentak diri Min Ho seketika itu juga yang langsung berlari, bagai kepalanya baru saja disadarkan oleh sebuah palu besar.

Benang kusut yang tadinya tidak ia mengerti, ketidakpahamannya akan bagaimana bisa Sulli bicara macam itu?  sudah terjawab.  Sulli, adik Ah In.  Pria yang membuat anaknya meninggal dan istrinya dalam keadaan macam ini.

 

“Soo Ji-ya!”  Panggil Min Ho bersama langkah panjangnya menuju kamar Soo Ji.

Pria itu sakit kini, hatinya sakit entah bagaimana.  Pikirannya dipenuhi ketakutan,  takut akan Sulli tiba-tiba datang dan mulai mengatakan sesuatu yang tidak-tidak lagi.  “Soo Ji-ya!  So—Soo Ji-ya  Soo Ji—.”

“Min Ji—.”

“Tidak.  Jangan lagi.”  Lemas Min Ho melihat keadaan dihadapannya yang mampu merontokkan seluruh tulangnya saat itu juga.

“Min Ji-ya……….. oppa!  Oppa Min Ji!  OPPA!  OPPA MIN JI!  ANAK KITA!  OPPA!  MIN JI-YA…….. OPPA MIN JI!  OPPA ANAK KITA…… OPPA!”

“Tenanglah, Soo Ji-ya..”

“Oppa anak kita berdarah anak kita oppa oppa anak kita min ji-ya eomma mianhe… eomma mianhe….oppa Min Ji OPPA!  AKU MEMBUNUH ANAKKU!  AKU PEMBUNUH!  OPPAAA……….  apa yang sudah aku lakukan?  Min Ji-ya, Min Ji-ya eomma mianhe…. eomma mianhe Min Ji-ya…. Min Ji-ya… uri ttal….oppa uri ttal oppa Min Ji-ya…  Min Ji-ya mianhe… eomma mianhe”

“TENANG AKU BILANG!”  Bentak Min Ho memegangi kedua tangan Soo Ji yang menarik-narik rambutnya sendiri sambil menangis histeris.  “BAE SOO JI!”

“ANAKKU!  AKU MEMBUNUH ANAKKU!  ANAKKU!  ANAKKU!”

“BRENGSEK APA YANG KAU KATAKAN!” Todong Min Ho mendekati Sulli yang berdiri dengan senyum lebar di ujung ranjang Soo Ji.  “Kau cari mati huh!”  Cekik Min Ho mudah pada leher kurus Sulli.

“Maka kau sama dengan istrimu.  Sama-sama pembunuh.”

 

“Mi—Min Ho-ssi ada apa ini?”  Tanya Taesang dan Jun Ki berbarengan, terkejut mereka melihat bagaimana keadaan dalam kamar rawat Soo Ji hingga keduanya tidak mengedipkan matanya.

“PANGGIL DOKTER DAN TAHAN IBLIS INI!”  Bentak Min Ho geram mendorong tubuh Sulli hingga jatuh ke lantai dan kembali menghampiri istrinya yang sudah berteriak tanpa jeda sama seperti halnya dulu, ketika baru saja tersadar akan siapa dan apa yang ditabraknya.

Berkali-kali dan berulang-ulang, sebutan nama putrinya berikut permintaan maafnya keluar dari bibir Soo Ji hingga wanita itu bagai melemah dan hampir tidak sadarkan diri dalam pelukan Min Ho yang erat sembaru memegang tangannya yang beberapa kali memukul dada sakitnya.  “Oppa anak kita.  Uri ttal—.”  Sebut Soo Ji sudah lemas bagai tidak memiliki tenaga lagi dalam pelukan kencang Min Ho.

Kedua tangan Soo Ji yang Min Ho pegang erat, dilihatnya sedih.  Helai rambut istrinya ada di sela jemarinya.  Entah ini dejavu, atau dirinya memang akan melewati masa seperti dulu lagi.  “Ng—ngh—.”  Lenguh Soo Ji mengerutkan keningnya takut.

Tangisnya terhenti, teriakan melemahnya terhenti, begitupun kedua tangannya yang meminta untuk lepas dari kungkungan Min Ho, makin melemah.  “A—akh…”

“Soo Ji-ya?  Kau kenapa?”  Panik Min Ho mendapati wajah kesakitan istrinya dibarengi desisan menahan sesuatu.  “Soo Ji-ya kau kenapa jawab aku!”

“Perutku.  Sak—kit.”  Rintih Soo Ji makin mengeram dan dua tangannya sudah terlepas dari kungkungan Min Ho, berganti tempat pada perutnya.  Wanita itu, yang hanya merasa sakit pada perutnya tanpa tahu apapun—meremas perutnya seolah dengan begitu semuanya akan selesai.

“HENTIKAN!”  Teriak Min Ho memukul dua tangan Soo Ji agar menjauh dari perutnya hingga wanita yang tadinya terduduk itu langsung tertidur lagi sebab pukulan tangan Min Ho.  Menarik selimut yang membungkus tubuh bagian bawah istrinya cepat, Min Ho terhenyak.

 

Darah

 

 

 

 

Sulli tergelak mengikuti arah pandang Min Ho dan Soo Ji yang kembali tidak sadarkan diri.  Pegangan erat tangan Taesang pada Sulli terlepas sebab keterkejutan yang segera menyadarkannya akan hal apa yang lebih penting dan harus segera dilakukannya.  Menyusul kepergian Jun Ki untuk memanggil dokter tadi, Taesang segera keluar terburu untuk mempercepat apa yang rekannya lakukan.

Dan saat itu, tanpa Min Ho sadari sebab terlalu fokus pada cairan merah yang keluar dari tubuh bagian bawah istrinya—Sulli menggerakkan tangannya kebelakang tubuhnya, menarik benda berwarna hitam metalic yang tersembunyi dibalik tubuhnya dan menodongkannya ke arah mereka berdua.

“Jika kalian sangat merindukan anak kalian, maka kalian harus menyusulnya.”  Ucap Sulli tenang memecah keheningan dalam kamar sementara Min Ho sudah benar-benar bagai tuli sebab tidak menoleh, juga tidak sadar akan apa yang Sulli lakukan.  “Kau sangat ingin bertemu anakmu bukan, Soo Ji-ssi?”

“Ya Choi Jin—.”

 

DOR

 

 

 

 

 

 

 

PW part 7END

Clue:

  1. Akhiran sebuah kalimat hingga kisah (pasti)
  2. Bertebaran dimana2

 

Note:

  1. Untuk yang aku tahu sering komen walaupun gak full komen tiap chapter, aku kirimkan PW-nya langsung pada saat part 7END di posting andai aku punya kontaknya (line, email, twitter) kalau yang ngerasa sering chat aku entah lewat line, dm di twitter, dan kirim email—tunggu aja pwnya aku kirim karena aku udah pegang kontaknya. Kalau ngerasa aku gak ngirim, artinya aku gak tau kontak kalian (email, twitter, line), atau entah mungkin aku lupa, atau entah mungkin kita memang gak pernah kontak2an langsung sebelumnya. Jadi, bagi yang merasa sering komentar tapi tidak mendapatkan kiriman PW, silahkan hubungi aku atau berikan komentar dibawah dengan menyertakan kontak yang bisa aku hubungi nantinya.
  2. Selain yang sering komen/gak pernah komen sama sekali, asal mood-ku bagus aku pasti bales cepet pertanyaan yang kalian kirim lewat line, email, twitter tentang PW tapi bukan jawaban PW langsung, kalian hanya akan aku beri 1 clue tambahan.
  3. Untuk yang minta PW Part. 3 Uncut dan aku kasih cuma-cuma dan gak ada jejaknya setelah itu (kecuali yang aku tau sering komen) aku gak akan kasih PW part 7END sampai kapanpun dan aku bahkan gak akan kasih PW untuk semua FFku andai tanya lagi dan gak perlu langsung komentar sekarang karena telat. Gak perlu komen sekarang ini untuk kasih macem2 alasan karena aku gak peduli.  (Ini alasan kenapa ada adegan maksa dan gak penting itu -_- karena aku pengen tahu siapa yang bener2 datang pas butuh aja)
  4. Aku gakmau ada komentar dadakan hanya karena ini, aku gakmau setelah baca ini kemudian langsung komen di semua chapter, aku gakmau dipandang penting pas ada maunya aja seperti point 3, dan aku juga gakmau alasan apapun entah gaktau cara komen, gaada signal, dll. Karena itu, misal ada yang komentar dadakan aku juga gak bakal kasih PW ataupun clue tambahan sampai kapanpun.  Lalu gimana?  Back to point 2, hubungi aku langsung untuk minta PW-nya.  Balesnya?  Doain pas part 7 keluar moodku bagus dan langsung bales permintaan kalian.

Silahkan hubungi aku melalui:

Email: bi_bi2007@yahoo.co.id

Twitter: @bi2007bi

Line: l.v27_wu

 

Sorry for late update.  beberapa waktu kemarin saya sibuk ngejar2 dosen tercinta lol. 2-3 bulan kedepan aku sibuk dengan penelitian skripsi dan urusan sejenis itu dan part 7 jujur aja belum aku tulis satu hurufpun.  Jadi, entah aku bener2 baru muncul 2-3 bulan lagi, tapi semoga aku ada waktu kek malam ini jadinya bisa posting cepet.  Selagi nunggu, pecahin aja clue-nya dan untuk yang kemarin2 hubungin aku untuk tanya ff, maaf balesnya ngaret ^^

Kalo ada typo, atau gimana2 lagi maklumin aja ya.  kalo bagian akhir kerasa kurang feel atau terlalu cepet, maklumin juga, aku edit lagi besok, aku buru2 pengen nonton UF. ini udah hampir jam 1 dan aku belum nonton huhuhu

27 responses to “#6 All of Us

  1. Yeay akhirny d update. Apakah Zieon bakal mati? Sulli.it siapa? Apa dia sruhanny eomany LMH pnsran bgt. Kak, ak bleh kan.mntak pwnya. Ak udh coment d crta kak kmren2. Ak.nntk.kontak.lwat line ya? Btw jangan lma2 bwt part 7 ny.

  2. sulli jahat ternyata,, kasian suzy jdi keinget lagi msa lalunya😱😭…
    aduhh itu siapa yang kna tembak?? bikin penasaan..
    ditunggu next chap ya author..
    #semangattt💪

  3. Senengnya author post lagi chapter terbarunya ,ah sedih storynya bakal selesai.Plese thor jangan sad ending sedih klo harus ngelihat perjuangan Minho untuk menyembuhkan Suzy berakhir sia sia karna ulah si pengacau Sulli(bener bener cewek iblis),pensaran dengan bagaimana kisah ini akan berakhir.apakah uri Suzy akan kembali kehilangan buah cintanya dengan minho dan kembali depresi?

  4. Dasar sulli sialan.akankah usaha minho selama ini akan kembali sia” padahal suzy sudah hampir mau ketahap sembuh.tapi apa hubungannya ah in dgn kematiannya minji?bukankah minji mati karena tidak sengaja trtabtak oleh suzy? Part end-nya ditunggu author fighting.

  5. Kak aku sering ngecek kok nggak ketemu sama part 5 nya ya? Eh ini malah udah part 6 -,-
    Mau end lagi. Kak kira kira aku kebagian PW nya nggak? Aku sadar diri sih nggak komen tiap part

    Terlepas dari ocehan aku tadi, aku kasihan banget sama zyeon. Kenapa saat semuanya hampir kembali normal sulli malah ngehancurin semuanya? Terus kapan zyeon bahagianya? Itu yang di Dor bukan minzy kan? Tapi sulli kan? Kan tadi ada kim joon sama kim soo hyuk yang mau ke rumah sakit

    Au ah cuma berharap happy ending

  6. buseett panjang amat beb, aku ga tau ini kq tiba” lngsung part 6 ya?? apa aku nya yg kudet?? yaaahh brsyukur sooji skrg bnyak mngalami kemajuan, tapi pada akhirnya sulli brtindak lbih cepat. prtnyaanku ttg siapa sulli sbenernya trjawab sudah.. smga mreka bisa mndapatkan akhir yg indah.
    aku gatau sih tiap part komen trus apa enggak, smga aja author yg cantik mau mmberikan aku pw part slnjutnya😀 hehehe..

  7. Aduh…kasiannya sooji n minho….
    Ga ada habis habisnya disakitin orang orang sekitarnya…
    Tapi bersyukur….sooji dah banyak kemajuan….

    Huaaa…penasaran sama end nya…
    Semoga end nya happy…..

  8. apa yg ingin d bicarakn naa he?woah,hamil jg,mkny pakai pengaman,wkwkwk,bnr2 org yg sama,jahatny!!!semoga kandungan suzy kuat…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s