[Song-fict] A Little Braver

35

A song-based story with Bae Suzy and Red Velvet Bae Joohyun/Irene | AU! Siblings, Drama, Family, Hurt/Comfort, Sad, semi-Fantasy, semi-Supernatural, slice of Life | Vignette, Song-fict | PG 13 |

.

.

The playgrounds, they get rusty and your

Heart beats another ten thousand times before

I got the chance to say

I miss you — A Little Braver by New Empire

.

.

part of Playlist-Fict Series

.

All For You \\ Together \\ An Aide-mémoire \\

.

Malam musim semi kali ini menjadi latar temporal bagi kerinduan dalam hati seorang Bae Sooji menguatkan kehadirannya.

Ya, Sooji pun tahu benar perihal rindu yang ia tahan selalu sepihak. Atau mungkin kerinduan itu juga berbalas, mungkin juga tidak. Mungkin. Satu kata yang didaulat mengandung dua sisi yang saling bertolak belakang.

Ah, tapi mau bagaimanapun, ketetapan hati yang berdiam dalam diri Sooji takkan pernah sirna oleh hal-hal yang masih bersifat ala duga itu. Aku ini Bae Sooji. Bukan bungsu keluarga Bae namanya kalau mudah terbawa angin atau arus yang tak pasti.

Karena, toh, soal gugatan hati yang selalu merindukan eksistensi satu persona pasti dalam hatinya selama tiga bulan belakangan ini bukan dugaan melainkan betulan.

Juga, rindu yang tak bertepi itu memang sungguhan. Dari Bae Sooji untuk Bae Joohyun. Kerinduan yang terbentang itu bukan sembarang rindu yang terbuat dari plastisin. Lebih-lebih, himpunan kerinduan itu teralienasi oleh jarak yang tak terhitung dari rumahnya dengan Rumah Tuhan.

Satu bilik di rumah keluarga Bae itu tak pernah diizinkan menyendiri kendati telah didahului penghuninya.  Berbekal penerangan seadanya dari lampu samping tempat tidur, gulita sedikit terobati. Pendar agak redupnya pun menandai kehadiran Sooji setelah Junmyeon pamit undur diri.

Pria yang sepantaran dengan Bae Joohyun itu memang selalu bertandang ke rumah keluarga Bae. Alasannya pun sangat eksplisit. Tiap hari datang hanya untuk Bae Joohyun. Keluarga Bae pun juga mahfum. Malah, sampai-sampai Junmyeon rasanya ingin dimasukkan ke dalam kartu keluarga Bae saja.

Entah ini bisa dibilang ironis atau tidak. Pasalnya, kehadiran Junmyeon makin ke sini makin tak kenal absen serta menjelma bagai rutinitas ibadah yang bersifat wajib. Bahkan selepas masa yang seharusnya ia boleh memilih untuk meninggalkan mereka, Junmyeon tetap mengunjungi rumah keluarga Bae di segala kesempatan. Laksana ia sudah terbiasa dikondisikan dengan ketiadaan.

Sooji mengerucutkan senyum bertanda tanya. Awal mulanya bergugus pada pigura berisi Joohyun dan dirinya yang diambil ketika mengunjungi Everland pada musim panas delapan tahun yang lalu.

Masih ia ingat dengan jelas saat itu, bagaimana sang ayah dan ibu membujuk Sooji agar mau diajak ambil gambar bersama. Masih ingat pula bagaimana ia dengan kuatnya menolak tiap rayuan sang ayah dengan iming-iming ditraktir es krim cokelat seminggu penuh. Juga masih ingat bagaimana Joohyun menghampirinya yang berjongkok di depan ikon Everland, tersenyum Joohyun seraya mengusak rambut setengah panjang Sooji lalu berkata, “Tidak apa-apa kalau tidak ingin melakukannya.

Sooji mendongak dan menelaah dalam-dalam arti sesungguhnya dari ucapan Joohyun barusan. Merasa dapat perhatian dari sang bungsu, Joohyun lantas melanjutkan perkataannya dengan,

“Ah sayang sekali. Padahal hari ini adalah hari terakhir taman bermain ini akan tetap indah dan menyenangkan. Sebelum besok nenek sihir akan datang dan menyihirnya menjadi dunia penuh karat, seperti besi pada jungkat-jungkit yang rusak di taman kanak-kanakmu.”

Bohong. Seharusnya Sooji cepat sadar kalau saat itu Joohyun berbohong. Taman bermain itu takkan pernah berubah jadi lapuk atau karat meski dihempas hujan badai sekalipun. Karena, kenangan bersama dengan siapa Sooji menghabiskan masa kanak-kanak akan selalu melindunginya dari terjangan masa. Kalian takkan pernah tahu seberapa hebat kekuatan dari sebuah kenangan sampai kalian bisa melaluinya.

Dan, satu dua tetes airmata luluh dari bendungan hati Sooji.

Bodoh. Seharusnya tak perlu Sooji sampai menjatuhkan air mata terhadap kenangan yang berada di belakangnya. Terlebih di atas sebuah kenangan bahagia hingga euforia seribu detak jantung per detik setiap ia berbagi momen indah bersama dengan Joohyun maupun Junmyeon. Toh, bukan hal ini juga yang Joohyun harap bisa lihat dari Sooji di tempatnya sekarang.

.

.

Yaa, kau mengapa menangis?

.

.

“Kak Joohyun?”

.

.

Joohyun muncul dari kedua mata Sooji seperti kunang-kunang. Perempuan itu tersenyum lalu menunduk di hadapan Sooji. Jemarinya menghapus sisa-sisa airmata yang membasahi pipi sang bungsu.

Yaa, ke mana perginya Bae Sooji-ku yang tangguh itu, huh? Siapa pula gadis cengeng yang ada di kamarku ini, tck.” ujar Joohyun bernada mengolok.

“Kakak…” kata Sooji bersuara agak serak. Airmata yang turun dari pelupuk mata Sooji faktanya makin deras.

Joohyun tersenyum lembut, “Adikku yang malang berhenti menangisnya, dong. Kalau kau terus begitu, “ jedanya.  Joohyun memandang wajah Sooji yang mampu membuat hatinya merasakan perasaan sewajarnya yang hanya bisa dirasakan oleh yang bernyawa. “bagaimana aku bisa beristirahat dalam damai, huh?

“Kakak, maafkan aku, huhuhu, “ Sooji pun ambruk dalam pelukan Joohyun yang terasa hangat. “A-aku tidak bisa menjadi seperti yang kauinginkan. Menjadi tegar itu sulit sekali, Kak. A-aku tidak bisa!”

Joohyun mengangguk mahfum setelah mendengar racauan sang adik bungsu. Dia mengerti dan akan selalu mengerti. Walaupun dalam ketiadaan sekalipun, tak pernah Joohyun mengosongkan ruang spesial yang masih ada dalam hatinya. Ruang rindu itu terbentuk hanya untuk kedua orangtuanya, Sooji, dan Junmyeon.

Jikalau memang Joohyun sudah tidak butuh lagi oksigen untuk bernafas, mengapa dadanya malah sesak melihat keadaan Sooji sekarang?

“Maafkan aku, Sooji-ya.” ucap Joohyun seraya mengeratkan dekapan terhadap Sooji. Airmata pun tak kuasa Joohyun kecam kehadirannya di atas pipi. “Maafkan aku. Sungguh, aku juga tidak ingin meninggalkan kalian semua secepat ini,”

“Kalau merasa kesepian, Kakak bisa membawaku ke sana ‘kan?” pinta Sooji diselingi suara yang serak.

“Tidak bisa!” jawab Joohyun tegas. “Dengar, kau harus tetap di sini agar bisa menjaga ayah, ibu, dan Junmyeon untukku.”

“Kenapa?” Sooji meloloskan dekapannya dengan Joohyun. Dengan wajah yang memerah dan cairan hidung yang berceceran ia melihat Joohyun dengan sendu. “Kenapa aku?”

“Karena kau memang bisa melakukannya.”

“Kak Joohyun,”

“Aku tahu kau bisa melakukannya. Kau adalah Sooji-ku yang manis, pintar, dan kuat. Aku percaya kepadamu, kau juga tahu.” Joohyun berkata sambil tersenyum. Jemarinya pun diangkat untuk mengusap habis sisa-sisa pertempuran hati yang bertengeer di atas pipi pualam Sooji. Dan, bibir sang adik yang terlalu sering menekuk itu Joohyun tarik kedua sisinya agar menyimpulkan sebuah senyum.

“Sekarang tesenyumlah, dunia selalu menantimu untuk berbahagia.”

Seperti mantera sihir, perkataan Joohyun membuat perasaan Sooji membaik. Ya, benar. Ia harus percaya dengan dirinya sendiri. Semua hal memang tidak akan selalu berjalan sesuai dengan kehendak kita. Sama halnya dengan setiap persimpangan yang ada di dalam hidup kita, semuanya memiliki risiko masing-masing. Jalan keluar satu-satunya yang bisa dilakukan jika risiko itu datang, ya mau tidak mau harus melaluinya. Dan, bekal terpenting untuk semua itu, percaya pada diri sendiri agar semuanya baik-baik saja.

.

.

.

Masih di malam musim semi yang mendeklarasikan diri sebagai latar temporal mengarungi ruang rindu. Dalam kedua nun yang menggelap dan hati yang berteriak rindu kalap. Bae Sooji yang tersenyum tanpa ragu.[]

a/n:

semua yang berkaitan dengan UF itu menyayat hati banget😦 yah efeknya jadi ke tulisan. btw, ada beberapa scene dari UF yang memang saya adaptasikan di fict ini :” karena scene itu emg jd highlight di episode tersebut :” (yg nonton pasti ngeh :))

anyway, makasih bagi yg sudah baca^^ sehat selalu!^^~ (brb, donlot UF ep12….)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s