The Lady [Chapter 2]

The Lady

|| Title: The Lady || Author: Phiyun || Genre: Romance | Family life | Sad | Hurt || Cast: Bae Sooji | Kim Myungsoo | Bae Soobin |

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Cerita ini juga terinspirasi dari film maupun buku yang pernah penulis tonton dan baca. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee…😄

Preview: Chapter 1 |

*** Happy  Reading ***

Sooji menisik gorden dalam ruangan kerja Bae. Lantai di tempat itu terlihat retak, sehingga ia harus mencari tempat yang aman untuk berpijak. Gadis itu takut bila dirinya akan lebih merusak lantai tersebut. Tempat itu juga sangat berdebu, Sooji mengenakan semacam celemek pada gaunnya dan dia juga tak lupa menutup kepalanya dengan kelambu. Karena ia berniat akan membersihkan tempat agar kelihatan bersih.

Sooji juga menaruh vas bunga dengan seikat bunga mawar merah di atas meja kerja Bae. Cahaya mentari menyinari keempat potret yang bertengger di dinding ruangan. Di tempat ruangan itu berjejer potret Bae dari yang pertama hingga terakhir. Setiap potret Bae dilukis gambarnya oleh seniman yang pastinya sangat handal. Dan yang paling menarik hati gadis itu adalah potret Bae yang kedua yang telah menyembunyikan permata-permata Nizam.

Tidak ada yang berubah dari ruangan ini, semuanya masih tertata rapi di tempatnya sejak dua ratus tahun yang lalu. Sooji sempat khawatir apabila Bae yang baru yang akan membuat perubahan saat ia tiba dari berkelananya.

Tuan Lee sudah memberi kabar pada dirinya bila surat yang dikirimkan sudah diterima oleh kerabat Myungsoo di Paris. Dan kerabat Myungsoo mengatakan kalau pemuda itu akan segera datang secepatnya. Tapi hampir lima bulan ia tak kunjung datang.

“Mungkinkah Tuan Bae yang baru bukan di Paris atau di benua Eropa?” kata Tuan Lee ragu.

“Lalu di mana?” tanya Sooji.

Tuan Lee mengangkat kedua bahunya seolah menyatakan bahwa dia juga tak tahu di mana keberadaan Myungsoo. Tak lama kemudian pria tua itu berkata pelan. “Seandainya Bae baru tak datang, atau dia lebih menyukai tinggal di Eropa.” tanyanya ragu-ragu. Dan kemudian ia bersua kembali. “Jika itu dilakukannya, maka beliau harus membuat suatu kebijakan tentang perkebunan dan gedung ini.”

Sooji terdiam saat mendengar perkataan Tuan Lee. Gadis itu mendengarkan dengan seksama. “Aku tak mampu berbuat apa-apa. Tentang masa depan tempat ini. Sekali lagi…” kata Tuan Lee. “Aku mohon kepadamu agar Nona bisa akrab dengan Tuan Bae yang baru dan mengatakan hal yang sebenarnya tentang diri anda.”

Sooji tetap terdiam, namun tatapan matanya sangat serius. “Beliau pasti mengerti kalau anda adalah taggung jawabnya sekarang.”

“Itu adalah hal yang tidak kuinginkan.” seru Sooji. “Aku sudah membujuk Tuan dan Nyonya Moon untuk dapat memperkerjakan diriku di sini. Aku juga sudah menyuruh mereka berdua mengangap diriku sebagai seorang ‘Nona’ bukan seorang ‘Tuan putri’. Dan aku yakin semuanya akan berjalan dengan lancar.”

“Tapi, Nona…”

Sooji  langsung memotong. “Mungkin aku akan bekerja beberapa bulan saja saat pengganti ayahku datang ke sini. Setelah itu baru aku pikirkan apa yang selanjutnya aku lakukan.” Tuan Lee tak bisa berbuat apa-apa lagi saat melihat kebulatan tekat Nonanya. Pria tua itu hanya bisa menjaga dan melindunginya sebaik mungkin.

~OoO~

Dua minggu telah berlalu, namun belum terlihat tanda-tanda kehadiran Tuan Bae yang baru. Mungkin ia tak tertarik tinggal di sini dan lebih menyukai kehidupannya saat ini. Sementara itu Sooji terus membenahi kediamannya dengan sebaik mungkin agar terlihat bersih dan menarik dan yang terpenting agar lebih mengesankan kalau kehadirannya di sini dibutuhkan.

Hampir enam bulan dia menunggu kedatangan Tuan Bae yang baru, Sooji mulai berpikir kalau beliau sama misteriusnya dengan permata-permata Nizam yang sulit ditebak di mana tempatnya. Ia melihat ke arah jam dinding dan menyadari kalau ia telah cukup lama berada di sini untuk menunggu kedatangan Tuan Bae yang baru. Dan di saat pintu terbuka, Sooji mengira yang datang adalah Nyonya Moon yang sudah bekerja menjadi kepala pelayan rumah tangga rumahnya selama lima puluh tahun belakangan ini. Tapi ternyata itu bukan wanita tua tersebut , Sooji merasa terkejut saat melihat seorang pria memasuki ruangan dan memandangi setiap sisi ruangan dan sampai kemudian memandang ke arahnya.

Jantung Sooji semakin bergemuruh saat pria itu berkata kepadanya. “Ke mana para pelayan? Kelihatannya seperti tak ada orang. Bahkan di dapur.”

“Mestinya ada orang di sana,” sahut Sooji. “Apa yang anda butuhkan?” tanya Sooji.

Tapi sayangnya pertanyaan gadis muda itu tak di gubris oleh pemuda tersebut. “Mestinya ada para pelayan laki-laki di ruang utama.” dengan nada bicara yang terdengar tinggi.

“Pelayan laki-laki?”

“Ayahku mengatakan selalu ada orang yang bertugas di tempat itu.” sambil tetap sibuk memandangi seluruh ruangan.

Seketika, Sooji menyadari kalau orang ini adalah Bae yang baru dan untuk beberapa saat sulit baginya untuk mempercayai hal itu. Untuk satu hal, ia tak seperti yang dibayangkan Sooji. Sooji pernah membayangkan kalau postur tubuh dan wajah Bae yang baru itu akan sama dengan kakak lelakinya Soobin atau seperti Ayahnya, tapi ternyata semua berbeda. Ia lebih tinggi dan memiliki bahu yang lebar dan wajahnya pun sangat rupawan. Tapi secara keseluruhan wajahnya tidak mirip dengan anggota keluarga yang lain. Sooji menyadari kalau dia itu memang bukanlah dari keluarga Bae dia adalah keturunan Kim. Jadi sudah sewajarnya bila mereka tak sama.

Dan hal lain adalah, pakaiannya sama sekali tak  mengesankan jika dirinya adalah seorang bangsawan, bahkan sekilas Sooji berpikir kalau pemuda yang ada di hadapannya itu bukanlah orang yang ber-uang.

“Tak ada pelayan laki-laki di ruang utama paling tidak selama dua tahun belakangan ini.”

“Kenapa?” tanya Tuan Bae baru dengan dahi yang berkerut.

“Karena tak ada dana untuk menggaji mereka.” Sooji menggeser posisi tubuhnya sambil berpikir apa yang mesti di ucapkan berikutnya dan bagaimana ia harus bersikap yang semestinya.

“Siapa Kau?”

Begitu pertanyaan itu tiba, gadis muda itu merasa sudah siap memainkan perannya yang baru. Sambil membereskan roknya, ia melangkah mendekat dan berkata. “Menurutku kau pastinya Bae yang baru. Selamat datang di kediaman Bae, yang mulia.” sambil membungkukan badan dan melanjutkannya. “Namaku Lee Suzy dan saat ini aku adalah kepala pelayan rumah tangga.”

“Kau mengerjakan semuanya? Sendiri?” ucap Myungsoo tak percaya. “Kau juga yang mengganti gorden?”

Sooji  tersenyum tipis dan kemudian membalas. “Kalau bukan aku siapa lagi yang akan melakukannya, Yang Mulia.”

Myungsoo memandang padanya, Sooji telah menebak kalau lelaki ini tak percaya dengan apa yang dia katakan. Mereka berdua terdiam, merasa keadaan menjadi canggung, pria itu lalu mengeluarkan suara batuk untuk menghilangkan keheningan di antara mereka.  “Khhukk..” setelah itu ia berkata. “Sekarang aku telah berada di sini, jadi bisakah kau memanggil kepala kebun yang ada di sini.”

Sooji tersenyum sebelum menyahut. “Tentu saja, Yang Mulia.Tapi mungkin sebelumnya anda perlu beristirahat, dan kusarankan bila anda makan siang dulu.”

“Tentu!” balas Bae baru berpikir seolah wanita ini bersikap sok ramah padanya.

“Bila begitu, aku akan pergi mengingatkan juru masak, aku khawatir bila makan siang belum tanak.” kata Sooji berlalu dari hadapan Myungsoo dan terburu-buru ke dapur.

Setibanya di sana, Sooji tak menemukan keberadaan pelayan rumah tangganya. “Mungkin, Nyonya Moon ada di kamarnya?” buru-buru Sooji berlari ke ruangan kamar pelayan rumah tangganya, Nyonya Moon. “Yang mulia sudah tiba Nyonya Moon, apa yang bisa kita berikan untuknya?” ucap Sooji panik saat membuka pintu kamar wanita tua tersebut.

“Tuan Bae yang baru sudah datang, Tuan putri…  maksudku Nona Sooji. Maaf saya kelepasan.” kata wanita tua itu. “Aku akan ke ruang utama!” Moon tua berkata sambil bangkit berdiri.

“Bagaimana mungkin ia bisa muncul tiba-tiba secara begini? Dan percayakah kalian, beliau menanyakan mengapa tak ada pelayan laki-laki di sini!” seru Sooji seraya tertawa geli dengan wajah yang serius. Kedua Tuan dan Nyonya Moon memandang cemas padanya.

“Punya berapa butir telur, Nyonya Moon?” tanya Sooji.

“Ada tiga, Nona.” Sahut Nyonya Moon. “Aku sudah menyimpannya satu untuk makan malam, Nona.”

“Kalau begitu buatkan teur dadar untuknya. Kuharap kau bisa memberi beberapa potong roti dan keju, atau apa saja yang masih tersisa dari persediaan makan kita.” Sooji tak memberi kesempatan pada Nyonya Moon untuk protes, karena gadis muda itu langsung beralih ke pada Tuan Moon.

“Pergilah ke ruang bawah tanah secepat mungkin dan setelah itu bawakan sebotol anggur atau minuman apa saja yang ada di sana.” ucap Sooji padat dan jelas.

“Tapi Nona….” sahut si tua Moon. Tapi belum sempat ia mengatakan, Nona Sooji sudah pergi secepat kilat.

Khawatir berpapasan dengan Tuan Bae yang baru, ia berlalu dari ruang kerja dekatnya di mana dulu sering tidur menunggui ayahnya yang sakit, menuju ruang belajar di bagian lain dari rumah ini. setibanya di kamar Sooji yang baru, gadis muda itu kemudian melepaskan celemek dan penutup kepalanya. Sooji merasa, untuk segera menjalankan rencana sesuai dengan yang diinginkannya maka rambutnya harus ditata agar kelihatan lebih tua dari usianya yang sebenarnya.

“Sebagai kepala pelayan, dia harus melihatku paling tidak berumur tiga piluh tahun,” gumamnya pelan. Sooji lalu menyemir sebagian rambutnya dengan warna abu-abu, kemudian setelah itu mencari-cari gaun yang pantas untuk dikenakannya.

Sooji mengenakan baju gaun peninggalan ibunya yang berwarna putih ke merah muda-an. Gaun itu terlihat usang namun itu sangat membantu Sooji dalam penyamaran. Setelah selesai rapi-rapinya, Sooji langsung kembali menemui pelayan rumah tangganya yang tersisa, mereka adalah Nyonya dan Tuan Moon.

Sooji menyiapkan gelas, dan nampan.  “Aku akan mengantarkannya untuk Tuan Bae yang baru. Selebihnya tolong kalian rapikan.” Saat Sooji akan pergi tiba-tina Nyonya Moon berkata. “Anda tidak makan bersama dengan beliau?”

“Tentu saja tidak!” sahut Sooji tegas. “Jangan lupa, Nyonya Moon. Aku ini Cuma pelayan rumah tangga dan tak pernah ada sejarahnya makan bersama dengan Tuannya.”

“Ini tidak benar, Sungguh ini tidak benar, Tuan putri!” serunya.

“Nona!” koreksi Sooji. Berjanjilah, jangan sampai lupa kalau saat ini aku adalah Nona Lee Suzy. setelah mengatakan itu, Sooji lalu pergi berlalu.

Sooji ingin berlari agar bisa tiba lebih cepat tapi dengan nampan yang berisi makanan dan segelas anggur, ia tidak bisa dia lakukan. Pada saat yang bersamaan, Napas Sooji terasa memburu dan jantungnya berdebar kencang di saat dirinya berada di ruang kerja Bae.

Saat melangkah masuk ke dalam, Sooji terkejut melihat Tuan Bae yang baru duduk di atas bangku mendiang ayahnya sambil melihat beberapa dokumen yang ada di dalam laci meja tempat kerja mendiang ayahnya. Namun beberapa saat kemudian Sooji tersadar bila pria itu wajar melakukannya karena dia adalah Tuan Bae yang baru. Jadi dia boleh melakukan apapun di tempat ini.

“Maaf membuat, Anda lama menunggu, Tuan.” kata Sooji meminta maaf.

Sooji meletakkan nampan yang berisi penuh makanan dan minuman di depan Myungsoo dan kemudian melanjutkan perkataannya. “Karena kedatangan anda tanpa pemberitahuan sebelumnya, maka kami tidak bisa menyambut sebagaimana mestinya, meski begitu kami berharap anda menyukai jamuan yang sudah kami buatkan untuk anda, Tuan Myungsoo.” Sooji berbicara tanpa berpikir, sehingga Myungsoo berkata.

“Bisakah kau jelaskan, Nona Suzy, bahwa kau pimpinan di sini?” Myungsoo memandang dirinya. “Bisakah kau jelaskan.” Lanjutnya dengan nada sinis. “Mengapa tidak ada uang tersisa untuk mengendalikan tempat serta perkebunan di sini?”

“Aku yakin Yang Mulia akan bertemu dengam Tuan Lee secepatnya. Untuk menjawab semua pertanyaan…”

Tiba-tiba Myungsoo memotong. “Tapi sementara dia belum datang, aku berpikir kau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku.”

“Jawaban yang bisa aku katakan hanyalah.” Sooji berusaha menjelaskannya dengan tenang. “Yang bisa kuberi tahu kan adalah saat Tuan Bae ke empat meninggal, beliau dalam keadaan bangkrut.”

Myungsoo memandang padanya seolah tak percaya dengan perkataan pelayan itu. Setelah beberapa saat, ia berkata. “Tidak dapat dipercaya! Aku selalu membayangkan seperti yang diceritakan oleh ayahku kalau tempat ini menyimpan gaya yang agung. Di mana tempat ini menyimpan banyaknya harta karun dan bahwa keluarga Bae yang keempat hidup dalam kemewahan.”

“Semua itu benar sampai kira-kira tujuh tahuan belakangan ini sebelum kematian Tuan Bae yang keempat.”

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanya Myungsoo heran.

“Ayahku sudah melayani keluarga Bae selama tiga puluh tahun dan aku sudah tinggal di sini sejak kecil.” ujar Sooji dengan secepat kilat tanpa berpikir panjang.

Myungsoo menyunggingkan sebelah sudut bibirnya sebelum berkata kembali kepada Sooji. “Oleh karena itu, aku beranggapan kau dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanku.” kata pemuda itu. “Apakah kau mengetahui ke mana hilangnya uang yang disimpan, baik di rumah ini maupun di perkebunan, misalnya?”

“Ayahku selalu berkata kalau hal semacam itu sangatlah rahasia, jadi kami tidak mengetahuinya.”

“Lalu apa yang tersisa untukku dari pria tua sialan itu!” tanya Myungsoo sinis.

Sooji ikut terbawa emosi saat mendengar cara bica Myungsoo yang kasar tentang orang tuanya, ia merasa tidak menyukai pria saat ini berdiri di hadapannya. Barangkali yang ada di benaknya hanya uang serta seluruh kekayaan yang bisa di keruk dari tempat ini tanpa memperdulikan orang di sekitarnya.

“Jawabannya, Yang mulia.” kata Sooji dengan berusaha setenang mungkin.  “Adalah satu di antara bangunan-bangunan cantik yang bersejarah dan perkebunan yang di miliki dari nenek moyang anda.”

“Untuk apa semua itu bila tak menghasilkan uang? Nenek moyang? Huuhh!” kata Myungsoo penuh dengan sindiran saat menatap keempat potret Bae yang terpampang di tembok.  “Apa lebih baik aku jual semuanya?” gumamnya enteng.

Tak sengaja ucapan Myungsoo di dengar oleh Sooji. Gadis itu semakin tak menyukai sikap Tuan Bae yang baru. “Dia benar-benar menyebalkan,” ucapannya sangat kasar, “Aku sangat tak menyukainya. Menyesal aku sudah mengatakan dirinya tampan saat melihat dirinya. Mengapa dia tak sekalian saja lenyap dari bumi ini, jadi dia tak akan pernah datang ke sini!” teriak batin Sooji, sambil menatap belakang punggung Myungsoo.

-TBC-

  ~OoO~

Halloha…. ketemu lagi nih ma Phiyun di sini ^^

Karena banyak readers yang minta kelanjutannya, jadi Phiyun update deh ff ini se cepatnya🙂 Semoga kalian suka yah…

Kali ini Phiyun buat FF Myungzy dengan latar belakang kerajaan moderen yang berbau peradaban victoria, jadi di sini Suzy adalah seorang putri yang mendapat harta warisan berupa permata Nizam tapi sayangnya itu harta karunnya hanyalah legenda, dan tak tahu dimana permata-permata itu ada. Sedangkan Myungsoo adalah sepupu suzy yang sama sekali tak ada hubungan darah.

Dan disini Sooji alias Suzy berpura-pura menjadi pelayan. Karena dia tak mau menyusahkan orang lain jadi dia rela melakukan itu semua agar dapat tetap tinggal di rumahnya. dan Myungsoo di sini tidak tahu kalau Suzy adalah sepupunya, secara mereka berdua belum pernah bertemu. Kurang lebih ceritanya begitu. Semoga kalian mengerti ya ma alurnya. Maap kalau ada kata typo bertebaran maklum miminnya cuman manusia biasa😀

Jangan lupa RCL-nya ya, setelah membacanya, biar akunya lebih semangat lagi buat kelanjutannya🙂 Sampai ketemu di part berikutnya, bye-bye ^^

60 responses to “The Lady [Chapter 2]

  1. Aigoo sikapnya myung sepertinya sangat menyebalkan.taoi mau sampai kapan suzy akan terus menyamar dan membohongi tn bae yg baru?

    • Gimana ya yang bakalan terjadi sama Myungzy…
      Jawabannya ada di part akan datang ^^
      Makasih yah dah nyempetin mampir kemari buat baca 💖

  2. Awww…. mudah2an Myung ga ngejual benda2 berharga itu. Daku akan sabar menunggu smp Myung jatuh cinta ke Suzy…

  3. suzy type cewe keras kepla yg ga mau di anggap menyedihkan sampe rela nyamar jadi kepala pelayan gtu…mkn seru….myung udah dtang…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s