Monster

27445909722_a24bc75fc0_o

Sehun memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam aroma yang entah sejak kapan begitu disukainya ini.  Haruskah dirinya menyebut bahwa sangat suka aroma ini sejak beberapa waktu terakhir?  Tidak-tidak.  Itu kurang pasti untuk memastikan bahwa dirinya memang sudah berada dalam dunia ini.  Setidaknya, dirinya perlu menjelaskan sudah berapa lama berada dalam dunia yang begitu dicintainya ini.  Dunia dengan warna gelap dan merah yang begitu mendominasi hidupnya hingga terkadang membuat perutnya kesakitan saking lama dan kencangnya ia tertawa.

Sehun tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan atau bahkan mengatakannya.  Hanya saja, yang jelas—dirinya merasa begitu penuh, puas, bahagia, bahkan menang untuk sesuatu yang bahkan tidak masuk dalam kategori perlombaan.  Tapi biarlah, biarlah dirinya anggap ini sebagai perlombaan dan biarlah kepala berbalut rambut pirang itu mengatakan bahwa ini adalah sebuah kemenangan atas pergumulan yang sudah lama tidak terjadi.

Menarik pelan-pelan benda mengkilap yang tidak dilepasnya sejak beberapa menit lalu, Sehun melakukannya bukan untuk hati-hati sebab— alih-alih berhati-hati, wajahnya lebih menunjukkan kepuasan berlebih.  Pria dengan topi lebar yang menutup hampir keseluruhan wajahnya itu mengelap cairan kental pada benda mengkilapnya dengan tangan berbalutkan sarung tangan kulit.  Mendongak ke atas dengan langit hitam dan bulan penuh yang menjadi saksi, Sehun menyunggingkan senyum puas seolah pamer aku berhasil lagi.

Berjalan santai meninggalkan tempat yang menjadi kepuasannya selama hampir setengah jam, Sehun pergi dengan senyum lebar hingga terkikik sesekali.

 

 

***

Soo Ji melempar ponselnya hingga beberapa bagian dari benda elektronik berbentuk persegi panjang itu tercecer begitu saja di lantai kayu kamarnya.  Untuk kesekian kalinya pada pagi itu, Soo Ji mendengus dan mengeram tertahan di saat bersamaan dengan umpatan, atau makian bernada kesal yang keluar dari bibir merahnya.  “SIAL!”  Wanita itu mengakhiri umpatannya di pagi hari dengan kata macam itu dan kedua tangan kurusnya sudah berada di pinggang seolah menantang siapapun yang berada dihadapannya.

Pagi Soo Ji kacau, sangat amat kacau bahkan.  Ikatan ekor kudanya nampak berantakan, wanita dengan pakaian berwarna pink yang baru kali ini dipakainya dan tadi menampakkan sisi lembutnya, hilang begitu saja.

“Hei—.”  Panggilan lembut diikuti sosok berpakaian putih-putih bak malaikat, muncul dari pintu kamar yang  terbuka dan berjalan mendekat, mengulurkan tangannya pada tubuh Soo Ji dan kemudian mendekapnya erat.

Pria dengan wajah rupawan itu tersenyum, puas.  Berbanding terbalik dengan sosok dalam pelukannya yang bahkan tidak sekalipun menunjukkan sisi bahagia atau senangnya.  “Lepaskan.”  Soo Ji menginterupsi dingin tanpa berniat untuk menoleh dan hanya memperhatikan pantulan dirinya, juga pria yang memeluknya.  Pria yang mulai memasukkan wajahnya pada lekukan leher Soo Ji bersama bunyi decapan pelan.

“Hentikan.  Aku bilang hentikan, Sehun-ah.”  Tegas Soo Ji lagi, lebih keras dibanding sebelumnya dengan tubuh berusaha menjauh namun pria bernama Sehun yang menampakkan sedikit senyumnya tidak peduli dan makin mengeratkan pelukannya, menyesap leher polos Soo Ji, bahkan menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu.  “Oh Sehun!”

“Arra…”  Cengir Sehun membalas pandangan risih Soo Ji melalui pantulan kaca jendela berwarna bening.  “Kau terlalu serius akhir-akhir ini.”  Lanjut Sehun mencubit pipi Soo Ji pelan dan wanita dengan rambut legam itu menghindar.

“Aku harus pergi.”  Soo Ji berkata, kembali tanpa satupun kesabaran sebab marah yang terlanjur memeluknya.

“Hei—.”  Sehun memegang tangan Soo Ji, menggenggamnya erat dan wanita itu menoleh.  “Jangan begitu.”  Tutur Sehun yang tidak Soo Ji mengerti maksudnya hingga, pria itu menyentuhkan telunjuknya pada kening Soo Ji, meluruskan garis berkerut disana.

“Aku lelah.”  Keluh Soo Ji begitu saja sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan dan duduk pada ranjang berantakannya yang belum sempat dirapikan.  “Pembunuh itu.  Entah siapa dia dan apa maksudnya.  Entah dia gila atau bagaimana.  Entah dia sangat pandai atau bagaimana hingga tidak satupun hal yang bisa menjadi bukti atau sekedar menunjukkan siapa dia.  Ini sudah setahun dan sudah 8 wanita yang menjadi korban pembunuhannya.  Dengan cara yang sama, tempat sejenis, dan waktu kematian serta ditemukannya korban pada waktu yang hampir sama.  Wanita yang dibunuhnya bahwa bukan wanita sembarangan.  Politisi, artis, dokter, atlet, bahkan polisi.  Bisa kau bayangkan bagaimana hampir gilanya aku?”

“Tenanglah.”  Sehun menangkup wajah Soo Ji dan duduk dilantai hingga ia mendongak, sementara Soo Ji tertunduk.  “Kau pasti akan bertemu dengannya, dan kemudian bisa dapatkan jawabannya.  Kenapa dia lakukan itu semua.”

“Ini terlalu sempurna.”  Sungut Soo Ji lagi, melepas kedua tangan Sehun yang berada di wajahnya, dan menggenggamnya erat seolah meminta kekuatan.  “Dia begitu sempurna tanpa meninggalkan satupun bukti, tanpa satupun celah untuk kami.”

“Kau detektif hebat, Soo Ji-ya.”

“Tidak setelah dia muncul.  Dia bukan hanya mempermalukanku, tapi juga pekerjaan kami.  Bisa kau bayangkan andai korban selanjutnya adalah seorang detektif sepertiku?”

Sehun tergelak dan mengusap rambut halus Soo Ji.  “Kau berpikir seperti itu?”

“Ya.”  Angguknya tanpa satupun keraguan.  “Aku sangat ingin dia membunuh seorang detektif.  Setidaknya, akan ada salah satu diantara kami yang mengetahui sosoknya, atau bahkan menangkapnya.”

“Kau semangat sekali?”  Sehun menopang dagunya dengan tangan, melihat wajah berapi-api Soo Ji.  “Dia bahkan sudah melakukannya pada seorang polisi.  Kau yakin dia tidak bisa melakukannya pada seorang detektif?”

“Ya.”  Kembali Soo Ji mengangguk.  “Kami tidak akan tertipu oleh orang gila macam itu.  Tapi omong-omong…”  Jeda Soo Ji memandang Sehun sinis.  “Kau meremehkan profesiku?  Kau pikir aku, atau detektif lain akan kalah oleh orang gila sepertinya?”

“Aku tidak berkata begitu.”  Sehun menggeleng dan tersenyum polos, kemudian bangkit dan berdiri hingga Soo Ji mendongak.  “Jangan pulang larut.  Aku punya kejutan untukmu.”  Ucapnya pelan dengan tangan mengacak rambut Soo Ji yang sudah berantakan hingga makin berantakan.

Menyisakan tanya dalam benak Soo Ji tentang apa yang hendak Sehun berikan, toh—wanita itu tidak bertanya apapun atau mengejar Sehun akan jawaban sebab pria tinggi itu sudah lebih dulu keluar dari kamar dan bergelut di dapur seperti sebelum-sebelumnya.

Dalam pikiran Soo Ji, mungkin kejutannya adalah masakan terbaru Sehun lagi.

 

 

 

***

Gambaran wanita dengan pakaian penuh darah, juga dadanya yang berlubang dan lengan sebelah kiri sobek, kembali menjadi pemandangan Soo Ji.  Menutup hidupnya sebab bau menyengat yang membuat siapapun muntah—Soo Ji mengernyit.  Menoleh pada rekannya, Im Jae Bum—Soo Ji menggerakkan kepalanya dengan isyarat pertanyaan bagaimana?

Jae Bum mengangguk dan Soo Ji mendesah pasrah.  Berbalik, meninggalkan TKP dimana jasad wanita malang dengan organ tubuh berkurang itu baru saja diangkut untuk kemudian dibawa menuju rumah sakit, Soo Ji mendekati Jae Bum yang sudah menyodorkan kertas bahkan sebelum wanita itu benar-benar mendekat.

“Seperti biasa.  Meninggal akibat kekurangan banyak darah, dan jantungnya diambil saat wanita itu sudah dipastikan tewas.”

“Bagaimana bisa sesempurna ini?”  Tanya Soo Ji melihat goresan pada tubuh korban yang bagai seorang profesional.

“Aku sudah memeriksa semua dokter yang sebelumnya kita curigai, dan tidak satupun dari mereka yang cocok.  Beberapa dari mereka melakukan jam malam, semalam.  Beberapa sedang berada di luar negeri, dan salah satunya ada yang sakit.  Saat aku bertanya, dan setelah aku perhatikan… menurut beberapa ahli, pembunuh ini memiliki pola goresan yang tidak semua dokter itu miliki.”

“Pola goresan?  Maksudmu?”

“Aku juga tidak terlalu paham sebenarnya.”  Aku Jae Bum menggaruk kepalanya.  “Pembunuh ini seperti menyatukan ilmu pengetahuan kuno dengan modern.  Jika kau lihat benar-benar, goresan pada lengan korban benar-benar tepat dan berada pada titik dimana itu akan mengeluarkan banyak darah hingga 5 menit setelah terluka, korban akan mati lemas.  Begitupun saat dia melubangi dada korban, benar-benar tepat dengan ukuran jantung korban.”

“Manusia macam apa yang kita hadapi, Jae Bum-ah?”  Ringis Soo Ji tiba-tiba hingga merinding.

“Sebaiknya kau keluar dari kasus ini.”  Saran Jae Bum yang justru mendapat lirikan tajam dari Soo Ji.  “Bukan apa-apa.”  Jae Bum mengusap hidungnya.  “Ini terlalu berbahaya, dan lagi kau sedang hamil.  Sehun pasti belum kau beri tahu.”

“Ya.”  Soo Ji mengembalikan berkas yang tadi Jae Bum berikan padanya.  “Pria itu akan mengurungku sepanjang waktu andai tau aku hamil dan masih berkeliaran disini.”

“Maka dari itu,”

“Aku tidak bisa.”  Potong Soo Ji cepat.  “Kasus ini benar-benar membuatku muak.  Aku benar-benar ingin tahu siapa orang itu dan apa maksudnya?  Aku benar-benar ingin melihat wajahnya.  Tunggu saja, kali ini kita pasti bisa dapatkan dia.”

“Benarkah?”  Jae Bum mengernyit.  “Dia lebih pintar dari kita.  Bagaimana cara mendapatkannya?”

Soo Ji menggeleng.  Sumpah dirinya tidak tahu bagaimana mendapatkan dan menangkap orang itu sebab, jika dirinya tahu bagaimana caranya maka sudah sejak lama dirinya lakukan dan tidak akan mungkin muncul korban ke-8 seperti semalam.

 

 

 

***

Seperti perkiraan Soo Ji sebelumnya, kejutan dari Sehun tidak jauh-jauh dari masakan.  Pria yang bahkan lebih baik darinya dalam urusan rumah dan dapur itu, menghidangkan masakan luar biasanya lagi.  “Aku sudah siapkan ini sejak tadi.”

“Ya.”  Jawab Soo Ji sekenanya, meletakkan tasnya di atas meja dan melepas jas berwarna birunya dengan bantuan Sehun.

“Bagaimana?  Ada petunjuk?”  Sehun bertanya sambil membawa tas dan kemeja Soo Ji kedalam kamar, menggantungnya sesuai dengan tempat dimana harusnya benda-benda itu berada.

“Tidak ada.”  Geleng Soo Ji lemas, menusuk daging matang dan menggiurkan didepannya, kemudian mengunyahnya lahap seolah dengan begitu ia akan mendapatkan kembali energinya.  “Dagingnya lembut sekali, dan sangat enak.”  Puji Soo Ji pada Sehun yang keluar dengan wajah lebih berbinar.

“Kau suka?”

“Mmm—.”  Soo Ji mengangguk dan memenuhi mulutnya dengan daging itu.  “Daging apa?”

“Manusia.”

“Uhuk—.  YA!  Kau pikir ini lucu?!”  Teriak Soo Ji melempar salah satu tissue di meja pada Sehun.  “Sejak pagi tadi aku melihat tubuh wanita malang itu.  Jangan buat selera makanku hilang.”  Sungutnya kembali memenuhi mulutnya dengan daging yang dibilangnya lembut.

Sehun kembali tersenyum.  Membungkuk untuk memungut tissue yang tadi Soo Ji lemparkan padanya, pria itu mendekat dengan tangan melipat tissue berwarna putih itu dan kemudian meletakkannya pada posisi semula.

Memperhatikan Soo Ji yang begitu lahap menyantap masakannya, Sehun kembali tersenyum.  “Aku tidak bercanda.  Itu benar-benar daging manusia.  Jantung dari korban yang seharian tadi kau lihat lebih tepatnya.”

 

Sreeeett………….

 

Dan darah itu mengucur lagi, bagai air terjun yang jatuh hingga memenuhi lantai kayu.  Pisau kecil dalam tangan Sehun kembali menunjukkan kuasanya, menyalakan pekatnya mata pria bak malaikat yang pagi tadi masih nampak namun kini sudah menghilang entah kemana.

“Aku melakukannya karena senang.  Karena dengan begitu aku bahagia.  Dan aku sangat bahagia mengetahui kau hamil, merasakan sensasi baru membunuh wanita yang tengah hamil anakku.”

 

Soo Ji meringis bersama pandangan kaburnya, wanita itu menangis dalam diam dengan kepala tergeletak begitu saja pada lantai penuh darahnya sendiri.  Memejamkan mata tanpa mau melihat apapun lagi, atau sebenarnya melakukan itu sebab menyesal atas kebodohan dan ucapan sesumbarnya pagi tadi bahwa dirinya tidak mungkin tidak tahu siapa pembunuh gila yang nyatanya adalah pria-nya sendiri.

Sehun tersenyum, kembali tersenyum seperti sebelum-sebelumnya melihat tubuh dibawah kakinya yang perlahan melemah dan kelamaan kaku.

 

 

 

 

Sumpah aku merinding nulis bagian makan daging itu, di jam segini pula T.T
Kalo ada yang bilang kurang horror, atau kurang nakutin, atau kurang bagaimana…. saya terima.  Saya bukan penikmat hal-hal horror atau menakutkan jadi kekurangan pada FF yang entah gimana muncul gitu aja ini, akan saya terima. Jangan minta sequel atau lanjutan.  BIG NO! ini terlalu menakutkan untukku T.T dan akan lebih menakutkan kalo gak aku munculin karena akan terus bersarang dikepalaku huhuhu (makanya aku langsung ketik cepet biar gak awet di pikiranku)

38 responses to “Monster

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s