[Ficlet] After Serving, Before Dating

after serving, before datig.jpg

Miss Of Beat R

Present

Kim Jongin | Bae Suzy

Romance | Action | Comedy | Police!AU

PG 15

In related with:  Caught in The Act

A few hours before

Criminal Identification/CSI – Gangnam Police Station

“Selamat siang, Ketua Bae.”

Suzy kelewat hafal dengan suara bariton yang memanggilnya saat ini. Padahal jika diingat kembali, pekerjaannya masih menumpuk dan ia berharap di dalam kubikelnya tidak ada yang mengganggu untuk urusan sepele.

Dengan berat hati gadis itu mengangkat kepala dan menemukan presensi orang yang sudah dapat ditebak. “Ada apa, Kai?” tanyanya ketus.

“Ada aku di sini,” jawab Kai dengan polos sambil bertopang dagu menikmati wajah gadis di hadapannya.

Suzy pun hanya memutar bola mata jengah dan kembali mencoba fokus dengan laporannya. “Jika urusanmu dengan Chief Lee  sudah selesai sebaiknya kau kembali ke unit-mu,” perintah Suzy selayaknya seseorang berpangkat satu tingkat lebih tinggi.

Kai segera mengambil kursi sembarang dan mulai berkata,“Urusanku dengan Chief Lee memang sudah selesai, tapi kan urusan denganmu belum.”

“Memangnya apa?”

Just friendly reminder, kau kan berjanji akan berkencan denganku akhir pekan ini dan tebak hari apa ini?”

Suzy membelalak melihat wajah girang Kai yang mengingatkannya bahwa hari ini adalah hari sabtu. Jika saja ia tidak memilih dare dalam ‘truth or dare’ saat makan malam bersama tim Sehun, maka perjanjian ini tidak akan terjadi.

“Hey Kim Jongin, aku sangat jelas mengatakan akan mentraktirmu makan malam bukan berkencan, mengerti?”

Arasseo, tapi kau akan menepati janjimu kan?”

“Baiklah kutunggu pukul 6 malam. Sebaiknya tidak terlambat atau kau akan merasakan akibatnya,” ucap Suzy yang kini memainkan sepuluh jarinya diatas keyboard dan kembali mengacuhkan Kai yang mulai bangkit dari posisinya.

“Setuju. Jam 6 tepat aku akan berada di depan apartemenmu, Suzy. Pastikan kau berdandan cantik karena ini akan jadi kencan pertama kita.”

“Astaga, itu bukan kencan,  you bastard!” pekik Suzy seraya melempar pulpen kepada Kai yang sudah seribu langkah menjauh dari meja kerja gadis itu. Syukurlah hanya ada beberapa orang mendengar, mengingat sekarang jam makan siang.

***

Kai melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Pukul empat dan ia sudah selesai dengan tumpukan laporan yang berhasil dikebut dalam dua jam. Dengan begini ia masih sempat untuk mempersiapkan diri sebelum kencan pertamanya  dengan Suzy nanti malam.

“Kai, tunggu,” cegah Sehun yang baru saja menghentikan langkah Kai untuk pulang.

“Ada apa?”

“Aku mendapat informasi dari Baekhyun bahwa target kita akan melakukan transaksi malam ini. Ini adalah kesempatan kita,” jelas Sehun sambil mengecek smartphone-nya.

Untuk beberapa detik Kai berpikir dengan manatap jalan yang menuju rumahnya, hingga ia kembali menoleh kepada Sehun. “Baiklah, ayo ke sana.”

oOo

Play the audio

Dulu, saat Kim Jongin pertama kali memasuki akademi kepolisian, seniornya bertanya apa alasannya pria itu memilih profesi polisi. Jawabannya adalah karena dirinya ingin menjadi pahlawan di mata orang-orang dan mendapatkan donat secara cuma-cuma sebagai kompensasi atas usahanya melindungi distrik hingga perutnya membuncit layaknya wanita hamil. Begitu kekanakan dan juga meremahkan.

Nyatanya bukan itu alasannya. Jongin menyadari itu ketika ia berada di posisi yang paling tidak menyenangkan sebagai polisi yang sedang melaksanakan tugasnya.

Ketika mafia yang sedang melakukan transaksi obat terlarang dimana  telah menjadi incaran timnya selama dua minggu terakhir justru menangkap basah kehadirannya dan juga rekannya.

Ketika Chanyeol—teman satu timnya tak berdaya di tangan bos mafia yang mengacungkan senjata apinya tepat di kepala sahabatnya. Padahal pria itu selalu mengatakan untuk selalu waspada saat dalam penyergapan tapi dirinya yang lalai kali ini. Begitu juga dengan Baekhyun yang bernasib sama.

Put your hands up,now!” perintah mafia tersebut. “Or your buddies will die.”

Ketika Jongin yang mengacungkan senjata kepada mafia itu dibuat tak berdaya dan memutuskan mengangkat tangan untuk menyerah atau kepala Chanyeol dan Baekhyun taruhannya. Dan saat ia memberikan beberapa milisekon untuk melirik jam tangan keluaran Rolex yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya; menunjukkan sedikit kilatan merah serta memperlihatkan pukul 11 malam.

Aku telah telat 5 jam,’ gumam Jongin seraya mengingat janjinya. “Dia pasti akan membunuhku dengan 75 macam cara yang tidak terduga.”

“What if i won’t?”  tantang Jongin dengan mata yang berkilat  tajam kepada mafia.  “You may kill them, because they are so noisy in office!”

Kini tanpa ragu, Jongin kembali menyatukan kedua tangannya, mengacungkan senjata apinya  tanpa rasa takut dan siap membidik bos mafia yang ada di hadapannya.

Doorrr……

oOo

“Dia benar-benar mempermainkanku rupanya,” gumam Suzy sambil melihat hidangan di atas meja makan sudah mendingin sejak 4 jam yang lalu.

IPhone-nya bergetar dan dengan sigap Suzy meraihnya berharap yang menghubunginya adalah, “Sehun?”

“Ada apa Sehun?”

Apa Kai di sana?”

“Seharusnya aku yang bertanya, apa Jongin ada bersamamu?”

Tadinya begitu, ada operasi penyergapan tadi, aku baru saja turun dari atap gedung dan kata Chanyeol, dia langsung pergi setelah semua selesai. Aku hanya mengingatkan saja jika dia—

Ting Tong….

Suzy lantas bergegas mendengar bunyi bel berdenting di depan apartemennya. Dan ketika ia membuka sebuket bunga menyambutnya dan menutupi si pengirim.

“Aku harap dengan bunga lili ini dapat mengampuni keterlambatanku,” ucap Jongin dengan nada layaknya anak kecil yang takut dimarahi ibunya.

Tidak langsung menerima, Suzy justru mengamati  wajah Jongin yang memucat, lalu menggeser buket itu dan benar ia menemukan luka tembakan di bahu kiri pria itu. “Kau bodoh, cepat masuk,” ucapnya khawatir.

Jongin mengangguk setuju dan ia langsung berbaring di single sofa marun yang ia lihat. Napasnya terasa berat saat ia berhasil bersandar.

Tak sampai tiga menit, Suzy menyiapkan perlengkapan operasi darurat dan mengisi spasi kosong dalam sofa tersebut.

Agaknya, Jongin terkejut ketika Suzy kini berada di atas pangkuannya dan dengan satu gerakan, membuka kemeja hitam yang Jongin pakai dengan kasar, membuat pria itu sesaat memiliki pikiran gila dalam kepalanya terlebih dapat melihat gadis itu dalam jarak sedekat ini.

“Hirup ini, cepat!” perintah Suzy. Ia kehabisan alat suntik sehingga tidak ada cara lain selain memberikannya langsung kepada Jongin.

“Morfin bubuk?” tanya Jongin. “Aku rasa aku tidak butuh. Aku sudah memiliki heroin.”

“Kau menyelundupkan heroin?”

“Bukan, tapi kau Suez. Kau adalah heroin yang ku maksudi,” ucap Jongin dibarengi senyumnya.

“Bisakah kau berhenti bercanda?” teriak Suzy dengan mata memerah. Ia sudah menahannya untuk tidak menangis sejak tadi. “Cepat hirup itu jika kau tidak ingin merasa kesakitan, bodoh,”

Suzy sangat tahu bahwa Jongin pasti sedang menahan rasa sakitnya ketika dirinya mencoba membuat luka dibahunya itu lebih lebar agar peluru yang bersarang disana dapat di ambil. Terlihat dari bagaimana pria itu menghirup dalam – dalam morfin yang diberikannya serta peluh keringat ketika darah semakin mengalir deras setelah peluru itu berhasil di keluarkan.

Untuk waktu yang tidak singkat, akhirnya Suzy merampungkan tugasnya dengan menjhit luka tersebut. Kini bahu kiri Jongin telah terbalut kain kasa. Matanya terpejam masih dengan menggenggam sekantong morfin di tangan kanannya. Suzy pun lantas menyingkirkan benda itu. “Kau bisa kecanduan jika terlalu lama menghirupnya,” gumamnya.

Tanpa disadari, jemarinya tergerak untuk menyisir helaian rambut kecoklatan milik Jongin. Beberapa kali ia melihat Jongin yang tertidur saat bertugas malam di kantor tapi tidak pernah ia berada di jarak sedekat ini. Ia baru tahu bahwa pria yang selalu menggodanya bisa menunjukkan kedamaian dari matanya yang terpejam.

“Selamat malam, Kim Jongin,” ucapnya lembut dan diakhiri dengan kecupan kepada dua kelopak mata yang tertutup secara bergantian. Ia tidak sadar bahwa Jongin merasakan kecupan itu dalam tidurnya dan itu sudah lebih dari cukup.

Jika senior itu kembali bertanya apa alasan Jongin menjadi seorang polisi, pria itu tahu harus menjawab apa. Kim Jongin menjadi seorang polisi adalah hanya agar dia bisa menemukan kesempatan untuk bersama gadis yang menarik hatinya 8 tahun terakhir. Bae Suzy adalah alasan absolutnya.


A/N:

  1. Dirgahayu Indonesia #RI71
  2. Sudah dipublish di blog pribadi dan sudah ada kelanjutannya lohh
  3. Sebenernya diaksi tembak2an itu, udah ada Sehun yang jadi sniper dari atap gedung, nah dia ngasih kode ke Jongin sewaktu Jongin angkat tangan dan ngeliat kilatan merah di jamnya dia, tapi Jongin juga malah ketembak untung cuma dibahu meskipun berhasil nembak juga. Itu terinspirasi dari Detective Conan Movie 18
  4. kumasih harus belajar untuk bagian actionnya, karena suka bingung nempatinnya kalimatnya huhuhuhu
  5. BTW heyy di pemotretan ini Jongin is so fvcking hawwwttttt~~~~ (sambil pasang emot nosebleed)

See ya

and

Keep Bust A Move

9 responses to “[Ficlet] After Serving, Before Dating

  1. Si item jongin pasti terlihat keren,, wkwkwk…
    Jadi alasan jongin pengen jdi polisi karna suzy seorang..
    Like

  2. Kai seorang polisi lalu suzy dia bekerja sebagai apa?polisi juga atau dokter?
    Melihat dari sikapnya suzy yg rela menunggu selama 5 jam dan sangat khawatir ketika melihat jong in terluka menguatkan jika ia juga menyukai kai,berati cintanya jongin tidak bertepuk sebelahh tangankan?

  3. Pingback: [Vignette] Promotion Party | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s