The Lady [Chapter 3]

The Lady

|| Title: The Lady || Author: Phiyun || Genre: Romance | Family life | Sad | Hurt || Cast: Bae Sooji | Kim Myungsoo | Bae Soobin |

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Cerita ini juga terinspirasi dari film maupun buku yang pernah penulis tonton dan baca. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee…😄

No Bash! No Plagiat! No Copy Paste! Please don’t be Silent Readers❤

Preview: Chapter 1 | Chapter 2

*** Happy  Reading ***

“Semua yang ada di dalam maupun di luar ruang ini adalah milik nenek moyang anda sejak jaman Ratu Elizabeth. Dengan kata lain, lebih dari tiga ratus tahun!”

Sooji merasa saat berbicara itu, sang Bae yang baru merasa terkejut. Ia menyadari bila perkataannya terdengar agak kasar.

“Terima kasih, Nona Suzy, karena menggambarkan semuanya dengan cepat dan jelas. Aku merasa sadar betul dengan penjelasanmu itu.” Sooji tidak membalas dan sang Bae baru pun berkata kembali. “Jujur aku sedikit terkejut saat mengetahui apa yang sering di ceritakan oleh kedua orang tuaku tak sama dengan kenyataanya. Dimana banyak pelayan di setiap ruangan,  ruangan yang terlihat rapi dan elegan, tapi yang kutemukan ialah sesuatu yang memperlukan banyak uang untuk membenahinya.”

Myungsoo diam sebentar sambil memperhatikan Sooji, lalu melanjutkan kembali. “Dan kubayangkan perkebunan ini dalam situasi yang sama, memerlukan tangan-tangan yang trampil untuk mengolahnya.”

Sooji semakin sinis saat melihat sang Bae yang baru. “Barangkali akan lebih bijaksana, Yang mulia, memberitahu kedatanganmu setahun yang lalu sebagai Bae yang baru, kau punya kesempatan menanyakan tentang warisan keluarga sebelum sang Bae kelima wafat.”

Myungsoo terdiam, dan setelah itu beberapa saat Sooji meneruskan. “Aku mengerti Putri Sooji menyuratimu untuk kembali ke Inggris.”

“Di mana Putri Sooji?” tanyanya. “Aku ingin bertemu dengannya.”

“Tuan Putri sudah pergi ke Utara Inggris dan tinggal bersama dengan saudaranya.” balas Sooji.

“Kuharap, aku bisa bertemu dengan dirinya.”

“Jika itu yang Anda inginkan, aku akan berusaha mencari alamatnya.” jawab Sooji kembali.

Beberapa saat keduanya terdiam. Tak lama kemudian Myungsoo berkata. “Sekarang aku ada di sini, lebih baik bagiku untuk mengetahui keadaan yang terburuk sekalipun, dan seperti yang kutahu kau mengerti lebih banyak tentang isi rumah ini, barangkali kau bisa berbaik hati menunjukannya padaku?”

Sooji pun mulai menceritakan semuanya kepada sang Bae yang baru. “Yang ada di sini adalah…” sahut Sooji, “Moon, yang sudah berada di sini lebih dari tiga puluh tahun sebagai pelayan, Nyonya Moon sebagai juru masak, dan Tuan Moon yang sudah tua, berusia lebih dari tujuh puluh tahun. dan membantu dirumah ketika ia mampu. Dan terakhir tentu saja aku sendiri.”

Untuk beberapa saat Myungsoo dan Sooji terlihat canggung, sebelum Myungsoo memandang dirinya dengan perasaan yang sulit untuk dimengerti, kemudian berkata. “Sudah semuanya? Benarkah apa yang kau katakan itu?”

“Tidak ada alasan bagiku untuk membohongi, Anda Yang Mulia.”

“Siapa yang mengurus perkebunan?”

Sooji terdiam sejenak sebelum menjawab. “Karena belum ada yang bertanggung jawab di sana untuk mengurus, maka aku lah yang menjaganya sementara waktu. Satu-satunya yang dipekerjakan adalah Robert, tukang kuda, ia bekerja sendiri di tiap hari.”

“Aku tidak bisa mempercayainya!” seru Myungsoo. Ia meletakkan kepalan tangannya ke meja dan berkata. “Mengapa keadaan buruk ini tak diberitahukan padaku?”

“Kau sudah mengetahuinya,” pekik Sooji kesal, “Seperti yang telah kukatakan, Yang Mulia, Putri Sooji telah menulis surat dan memintamu untuk pulang.”

Namun jawaban yang harus di dengar oleh Sooji tak sesuai dengan dugaannya. “Surat itu tak ada bersamaku! Karena surat itu salah alamat dan aku berada di tempat yang lain, dan pada akhirnya aku menerima surat itu setelah hampir lima bulan lebih sejak kematian Sang Bae kelima. Mestinya seseorang menghubungiku jauh-jauh hari sebelum peristiwa itu terjadi,”

“Tapi mestinya kau mengetahui setelah kematian Pangeran Soobin bahwa kau pun termasuk ahli waris. Karena Ibu tiri Anda adalah seorang Putri keturunan Bae.” meskipun Sooji tak suka mengatakan hal itu, tapi ia harus mengatakannya. Myungsoo terhenyak saat mendengar perkataan Sooji.

Sang Bae yang baru bukanlah orang kaya, sehingga dalam kedudukannya sekarang ini justru membuatnya pusing, pikir Sooji. Dengan lembut dan suara yang tenang dari sebelumnya, Sooji berkata. “Aku minta maaf bila keadaan ini mengecewakanmu, Tapi harus Yang Mulia ketahui bila tak ada yang bisa kami lakukan sebelum kau datang, sekarang Anda telah datang kupikir uang bisa dicari atau mncul meski entah darimana. Setidaknya ada perubahan dibandingkan sebelumnya.”

Keduanyanya terdiam kembali sebelum akhirnya Myungsoo berbicara lagi dengan perasaan segan. “Karena saat ini hanya padamu aku bisa berdiskusi, barang kali kau bisa memberitahukan bagaimana caranya memperolehkan uang, karena terus terang aku tidak banyak mengerti dan sering berbuat kesalahan.”

Karena ada kesinisan dalam nada bicaranya, Sooji merasa semakin tidak menyukainya. “Barangkali, Yang Mulia,” sahutnya. “Akan lebih baik ditunda sampai kau makan siang. Banyak orang mengatakan padaku kalau segalanya akan terasa buruk apabila perut kosong.”

Untuk pertama kalinya terlihat sang Bae baru tersenyum . “Aku ingat apa yang sering dikatakan oleh orang banyak padaku. Tapi karena aku orang yang sangat praktis, Nona Suzy, aku ragu kalau apa yang telah kau ceritakan padaku mungkin lebih lezat daripada harus menyantap makanan.”

“Aku harap Tuanku salah dalam hal ini,” jawab Sooji, “Dan kau belum juga meminum anggur yang telah kusiapkan, Yang mulia.”

Sooji menyiapkan perangkatan minum dan mempersilakan Sang Bae baru untuk memimunnya. “Mau bergabung denganku?” tanya Myungsoo mengejutkannya.

“Tidak terima kasih,” balas Sooji dan kemudian gadis muda itu pun berlalu dari tempat kerja Bae menuju dapur.

~OoO~

“Makan siangnya sudah selesai?” tanya gadis muda itu.

“Sebentar lagi Tuan Put… Nona,” sahut Moon yang hampir saja salah menyebut namanya.

Sooji mengetahui kalau Nyonya Moon adalah tukang masak yang handal. Pada saat ini, meskipun Tuan Lee telah memberikan uang untuk persedian beberapa minggu sembari menunggu kedatangan Bae yang baru, namun tak ada sisa untuk bermewah-mewah.

“Bisakah kau mengaturnya, Nyonya Moon?” tanya Sooji sekali lagi.

“Mungkin semuanya tidaklah memadai,” sahut wanita tua itu. “Tapi aku telah membuatkan, Yang Mulia sup daging kelinci, yang akan siap sebelum beliau menghabiskan supnya dan sepotong keju.” Wanita tua itu berhenti sebentar sambil menarik napas, kemudian melanjutkan. “Tak ada waktu untuk membuat makanan pencuci mulut, dan seperti yang pernah kukatakan padamu bahwa kita kekurangan bahan pangan, dan juga tak ada buah-buahan pun yang tumbuh di kebun. Dan anda juga belum makan sesuap pun sedari kemarin malam hingga siang ini, bagaimana bila kau sakit?” lirihnya.

“Kau tidak usah mengkhawatirkan itu semua.” Sooji berkata dengan tersenyum. “Aku yakin hidangan makan siang ini cukup memadai. Dan juga aku  akan baik-baik saja, Nyonya Moon.”

~OoO~

Sooji kembali ke ruang kerja Bae, kedua pipinya sedikit memerah karena tadi berlari – lari kecil dan setibanya di sana Sooji berkata. “Makan siang akan siap dalam beberapa menit, dan kuharap Yang Mulia menikmatinya. Barangkali bukan hidangan mewah meski begitu untuk makan malam nanti kami akan berusaha untuk menghindangkan yang terbaik.”

Myungsoo memandanginya, kemudian buka suara. “Kau bersedia menemaniku makan siang, Nona Suzy?”

“Tidak, tentu saja tidak Yang Mulia. Aku makan di ruanganku sendiri.” kata Sooji, kemudian menambahkan. “Aku siap mendiskusikan beberapa persoalan denganmu, Yang Mulia setelah makan siang.”

Sooji membungkuk memberi hormat, kemudian berlalu dari ruangan ketika Myungsoo menghabiskan isi gelas anggurnya.

~OoO~

Tak lama kemudian Myungsoo telah berada di ruang makan, dan duduk di tempat yang biasa digunakan oleh para Bae sebelumnya, sedangkan Sooji membantu di belakang. Ketika Moon membawa nampan berisi makanan yang masih mengepul, Sooji langsung membantu Nyonya Moon meletakkan sup di mangkuk besar yang terbuat dari perak.

Sooji juga membawakan beberapa buah-buahan ke ruang makan sehingga si tua Moon tak perlu banyak berjalan. Sebenarnya beliau adalah kepala pelayan yang terbaik,  dan Sooji mengetahui kalau orang tua itu tak akan membuat kesalahan dalam melayani Sang Bae baru, seperti menumpahkan gelas.

“Maaf bila kami tidak bisa menyediakan hidangan yang lebih baik untuk yang Mulia. Belakangan ini segalanya serba sulit, dan kami hanya bisa berharap sekarang akan lebih baik dengan kehadiran Yang Mulia.”

“Segalanya tampak buruk, bukan?” kata Myungsoo dengan nada tak bersahabat.

“Kami telah berusaha sekuat tenaga, Yang Mulia,” kata Nyonya Moon. “Dan Tuan Putri Sooji  sering sakit sejak ayah beliau meninggal dan merasa kalau keadaan semakin memburuk.”

Sooji mendengarkan perkataan dari wanita tua itu dengan helaan napas panjang. Ia lupa mengatakan kepada Nyonya Moon untuk tidak membicarakannya. Sooji mengetahui bila Nyonya Moon sangat khawatir padanya. Wanita tua itu hanya menjelaskan yang dianggapnya tidak menjadi masalah.

“Aku mengerti Putri Sooji pergi ke utara,” sahut Myungsoo. Dan di iyakan oleh Nyonya Moon dengan anggukan.

Setelah Sang Bae baru selesai  bersantap, Sooji bergegas ke ruang belajar dan menunggu di dekat jendela dan tak lama kemudian Myungsoo pun tiba.

“Apakah Yang mulia ingin berbicara denganku sekarang? atau, Yang Mulia ingin beristirahat lebih dulu?”

“Aku sudah tidak sabar lagi bila menunggu sampai istirahat,” kata Myungsoo sinis. “Ceritakanlah segalanya yang anda tahu padaku, Nona Suzy. Lagipula kau kan mempunyai banyak waktu karena kau pasti telah menyelesaikan makan siangmu, kan?”

“Ya, Yang mulia.” Jawab Sooji dengan membungkukkan tubuhnya.

Sebenarnya Sooji cuma makan sepotong kerak roti yang dibakar Nyonya Moon tadi pagi. Karena tidak ada lagi makanan lain yang tersisa, saat Sang Bae baru menyantap makanannya.  Sooji sendiri tidak tahu apakah masih ada yang bisa disantap oleh kedua Moon tua tersebut.

“Keadaan begini tidak boleh terus berlangsung.” pikir Sooji. Tanpa berpikir panjang Sooji langsung berterus terang kepada Sang Bae yang baru tentang keadaan yang sebenarnya, dan berharap beliau bisa menemukan pemecahannya. Tanpa menunggu intruksi, Myungsoo. Ia langsung duduk di depan meja dan mulai bercerita bagaimana ayahnya dalam keadaan kacau dan meninggalkan setumpuk hutang sebelum meninggal.

Kemudian Sooji juga menambahkan bila Bae yang kelima pada tahun-tahun pertama ia menjadi ahli waris, ia mendapatkan pemasukan yang lancar dari beberapa investasi dan penyewaan perkebunan. Sooji juga menceritakan betapa para petani mendapatkan harga yang bagus tapi semenjak pemerintahan berganti kedudukan, pajak tanah langsung meroket sehingga para petani tak sanggup membayar penyewaan tanah. Para petani mulai kesulitan uang, dan tanah yang biasa mereka garap terlantar begitu saja.

Sang Bae yang kelima tidak begitu khawatir, beliau kemudian pergi ketempat yang diinginkannya, mencari kehidupan baru bersama sang istri dan kedua anaknya kemudian pergi le London. Mereka menghabiskan beberapa waktu yang lama di sana dengan baik, namun hal itu tak berlangsung lama, karena persediannya uang mereka makin menipis.

Tak lama kemudian Istri Sang Bae kelima terkena sakit keras dan beberapa bulan kemudian Ratu sang Bae kelima meninggal, lalu disusul oleh Soobin, sedangkan Sang Bae kelima mendapatkan kecelakaan yang menyebabkan dirinya lumpuh. Keadaan itu terus berlangsung bulan ke bulan.

Ketika menyelesaiakn cerita Sooji menyedari kalau Sang Bae yang baru mendengarkannya dengan seksama dan tak menyela sedikit pun sejak awal sampai kemudian Sooji merasakan keheningan sesaat.

“Itulah yang terjadi, dan menurutku itu kisah yang cukup dramatis, Yang Mulia pasti mengerti kalau aku telah lamaa berada di sini dan ayahku cukup dekat dengan… sang Bae… sehingga kelihatannya … kejadian itu… seperti terjadi pada diriku sendiri.” kata Sooji ragu saat di akhir kalimatnya.

“Aku berterima kasih atas perhatian dan simpatikmu,” ujar Myungsoo. Tapi Sooji tak menangkap kesan kesungguhan seperti yang dikatakannya itu,

“Dan sekarang, karena kau merasa ini juga masalahmu, Nona Suzy, coba sarankan padaku apa yang mesti kulakukan?”

Sooji menghela napas. “Kalau boleh, aku menduga, Yang Mulia tidak punya cukup uang untuk membenahi tempat ini, sedangkan kau pun tidak boleh menjual rumah ini.” Sooji berhenti sejenak, lalu berbicara dengan cepat. “Meskipun barangkali ini sulit bagi Anda, kupikir Yang Mulia harus menyelamatkan tempat dan perkebunan ini… entah bagaimana caranya.”

“Mengapa kau mesti berpikir sejauh itu?” tanya Myungsoo.

“Aku tidak tahu, menurutku yang dibutuhkan saat ini adalah seorang laki-laki yang berkuasa. Dan bersikap tegas.”

“Apakah itu perlu?” tanya Myungsoo kembali.

“Kupikir kau harus bersikap tegas kalau ingin mempertimbangkan tempat ini.”

Kali ini Sooji tidak berani menatap wajah Myungsoo. “Jika ada yang harus djual… barangkali secara tidak resmi kerana diperlukan.. barangkali… tidak jadi masalah jika dimaksudkan… untuk menyelematkan tempat ini.” suara Sooji terkesan gugup di telinga Myungsoo.

Sang Bae yang baru memandang Sooji untuk beberapa saat, kemudian berkata. “Aku terkejut dengan saranmu, Nona Suzy!”

“Meskipun barangkali kedengaran… salah dan tidak baik… tapi tak ada yang bisa dilakukan,” kata Sooji dengan perasaan tidak enak. “Ada dua buah lukisan di sini yang berharga. Kedua lukisan itu sangat lengendaris dan memang disayangkan untuk dilepaskan, tapi harganya  pasti tinggi.”

Myungsoo terdiam beberapa saat, lalu berkata. “Apakah kau sunguh-sungguh memberi saran bahwa aku harus menjual benda-benda itu, meskipun diperlukan?”

“Aku tahu ini salah, tapi ada beberapa orang yang mengerti tentang hal ini, para pembeli dari Amerika… atau kolektor dari Eropa… yang barangkali berminat untuk membelinya.. secara rahasia tanpa diketahui siapa pun. Setidaknya sampai diwarisi anakmu.”

“Apakah menurutmu, ia akan senang mengetahui kalau ayahnya tidak jujur padanya?” kata Myungsoo dingin.

Sooji diam sebentar mendengar pertanyaan itu, seketika dirinya teringat bila sang ayah sering mengatakan bila suami adiknya Hyungjae maupun putranya tidak jujur.

“Jadi… adakah hal lain yang bisa anda lakukan?” tanya Sooji. “Atap gedung ini perlu diperbaiki dan iar hujan sering mengelir membasahi lantai. Cerobong asap pun sudah lama tidak ada yang membersihkan, dan tak kalah pentingnya banyak tempat lain yang dindingnya perlu diperbaiki serta di cat baru.”

“Jalan keluar yang kau tawarkan padaku jelas tidak benar, dan saranmu itu juga tidak baik!” sahut Myungsoo sinis.

“Aku hanya berpikir keras apa yang mesti dilakukan,” balas Sooji, ”Dan kurasa Tuan Lee dalam hal ini pun pasti sependapat dengan diriku.”

Myungsoo terdiam sesaat, sebelum kemudian berkata dengan suara yang tidak enak didengar. “Ceritamu sungguh menyedihkan, Nona Suzy. Pada saat kembali ke sini, kubayangkan tempat ini masih jaya seperti dulu. Mestinya aku memutuskan lebih dulu apa yang mesti kulakukan sebelum tiba di sini.”

Sooji memandang Myungsoo seperti tatapan tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi. “Apakah kau.. ” tanyanya dengan suara pelan. “Tidak tertarik untuk tinggal di sini?”

“Tentu saja tidak!” sahut Sang Bae baru. “Kanapa harus tertarik? Aku tidak berkeinginan menjadi Bae, dan aku tidak pernah berpikir menjadi ahli warisnya. Aku punya kehidupan sendiri yang menarik. Aku cukup bahagia.”

Sooji masih terpaku dan Myungsoo menyadarinya sehingga pria itu kemudian berkata kembali. “Kujelaskan padamu, Nona Suzy. Kehidupan seperti ini, menjadi bangsawan, sangat ketinggalan jaman. Gedung serta perkebunan seperti ini nantinya hanya tinggal reruntuhan yang akan menjadi kenangan.”

“Apakah kau…. sedang mengatakan bahwa kau tidak peduli pada saudara… atau segala sesuatu yang telah terjadi selama tiga ratus tahun dalam keluarga Bae?”

“Kenapa aku mesti peduli?” sahut Myungsoo datar.

Sooji benar-benar kecewa mendengar hal itu. perlahan ia bangkit dan menlangkah pelan mendekati jendela dan memandang keluar.

“Bagaimana kau bisa berpikir bahwa semua ini tak berarti bagimu?” kata Sooji pilu. “Kau seorang Bae, meskipun kau tak mempunyai setetes darah dari keturunan Bae, tapi kau itu tetap seorang Bae! Mereka sudah berjuang dan mati demi negeri Perancis selama berabad-abad dan tiap orang dari mereka punya kebanggan tinggal di puri ini sebagai ciri khasnya!”

Saat Sooji menyelesaikan kata-katanya, ia merasakan airmatanya mulai jatuh dari kelopak matanya dan karena khawatir sang Bae mengetahuinya, Sooji langsung menghapusnya.

“Kau cukup mengesankan, Nona Suzy.” sahut Myungsoo. “dan aku tersentuh mendengar bahwa kau menaruh perhatian yang begitu besar terhadap sesuatu yang bukan milikmu… tapi milikku.”

Merasa tidak ada reaksi dari gadis itu, Myungsoo kembali melanjutkan. “Bagiku puri ini tak berarti apapun sejak dulu. Dan kuharap kau mengetahui ayah dan ibuku diabaikan dan di asingkan pertama oleh Bae yang terakhir, lalu kemudian oleh semua keluarga Bae.”

“Bukannya Putri Bae Chera pernah menceritakan kepadamu tentang tempat ini?” ujar Sooji.

Myungsoo tersenyum saat Sooji berkata seperti itu kepada dirinya. “Ya, memang. Ibuku pernah bercerita padaku dan sangat bangga akan keturunannya. Betapa ia amat kecewa tentang sikap keluarga terhadapnya juga padaku.”

“Tapi kau bukanlah, Beliau!”

“Tidak! Aku juga sama, tidak diterima dan diijinkan untuk mengunjungi puri ini, sampai sekarang telah tiga puluh tahun sampai kemudian ditempatkan pada posisi ini.”

“Aku sungguh mengerti akan kekecewaanmu,” kata Sooji, “Tapi maukah kau melakukan sesuatu?”

“Tergantung apa yang kau minta padaku.”

Untuk beberapa saat Sooji menarik napas panjang sebelum dirinya berkata. “Bersediakah kau mengangap tempat ini dengan segala permasalahannya tanpa prasangka apa-apa? Bisakah kau menganggap tempat ini sebagai bagian dari dirimu?”

“Kau sungguh-sungguh menggugah perasaanku, Nona Suzy. Dengan apa yang kau katakan dan tidak diragukan lagi bila tempat ini telah memikat hatimu! Bagaimana perasaanmu bila kau meninggalkannya?” tanya Myungsoo datar sedingin tatapannya kepada Sooji.

Sooji tertegun saat mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Myungsoo. “Apakah… Yang Mulia sedang mengatakan…” Sooji sulit mengucapkan kaliamat terakhirnya, ia takut dan ragu namun ia harus tetap menanyakan kejelasan dari perkataan pemuda tersebut. “—Apakah kau tidak mengijinkanku tinggal di sini?” ucapnya dengan bibir yang bergetar.

-TBC-

  ~OoO~

Halloha…. ketemu lagi nih ma Phiyun di sini ^^

Sesuai janjiku pada kalian semua, aku bawakan update ini ff secepat yang aku bisa, semoga kalian menyukainya yah❤ Maap kalau ada kata typo bertebaran maklum miminnya cuman manusia biasa😀

Fanfic ini aku buat terinspirasi dari Novel terjemahan karangan Barbara Cartland yang di gabungkan dengan khayalan absurdku, jadi maap bila jalan ceritanya rada gaje…

Dikarenakan Daku hanya punya waktu luangnya malem jadi kemungkinan kedepannya Aku bakalan Update Fanficnya jam seginian… Maap kalo kemaleman ><. Phiyun juga mau ucapin banyak-bayak terima kasih kepada semua good readers yang sudah ninggalin jejaknya di sini berupa like maupun komentar di part terdahulu dan di sini<3

 Sampai ketemu di part berikutnya, See u… ^^

 

49 responses to “The Lady [Chapter 3]

  1. Myungsoo begitu karena merasa kecewa sih ya sama keluarga Bae, dan dia juga lebih menikmati hidupnya sebelumnya dibanding tinggal di puri yg menyedihkan(?)
    bagaimana nasib Suzy nanti? T.T

    • Betul sekali, myungnya masih menaruh sakit hati sam keluarga Bae, jadi bawaannya sinis …
      Makasih yah dah nyempetin mampir kemari buat baca 💖

  2. Suzy tetap akan mempertahankan rumah n kbu’y. Wlau myung spt itu, akankah myung akan menjyal atau pergi dr rumah bae

  3. sepertinya myungsoo itu lebih ke kehidupan modern, sedangkan suzy masih memepertahankan kehidupan leluhurnya yah? bagaimana nasib suzy nanti, apa myung mau meninggalkan purinya?

  4. msh penasarab dgn sikapnya myung…kyknya dia ga tertarik dgn puri dan perkebunannya tp dia cukup tersentuh dgn suzy… penasaran sm kelsnjutsnnya…ditunggu thor…jgn lama2…!!!

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s