Piece Of Memories [Part 1]

req-phiyun-piece-of-memories-by-laykim

|| Title: Piece Of Memories || Author: Phiyun || Genre: Romance | Fantasi || Cast: Bae Sooji | Kim Myungsoo | Kim Soo Hyun

                Cerdit Poster: Credit: Laykim @ Indo Fanfictions Arts [Gomawo ^^]

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Cerita ini juga terinspirasi dari film maupun buku yang pernah penulis tonton dan baca. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee…😄

No Bash! No Plagiat! No Copy Paste! Please don’t be Silent Readers❤

*** Happy  Reading ***

 

I love you so much and nothing can separate us again for the second time”

~oOo~

 

Suzy berhenti. Meskipun kerumunan orang berdesakan di sekelilingnya, menyenggol punggungnya dengan tas milik mereka dan menggumamkan caci maki, Suzy tetap diam, terpaku di tempat. Ia meluangkan waktu untuk memperhatikan terminal bandara. Gadis muda itu juga seringkali membetulkan tali tas kecilnya yang berisi peralatan menggambar yang disandangkan di bahu dan mengira-gira apa yang terjadi dengan sisa anggota kelompoknya—yang mungkin saja tersesat, yang dibingungkan dengan papan tanda dan berjalan ke arah yang salah.

“Tidak mungkin, kan? Hanya aku yang berhasil sampai sejauh ini?” pikir Suzy.

Kerumunan pengunjung terus berkurang hingga hanya tinggal dirinya di pintu gerbang kedatangan. Dari kejauhan, Suzy melihat sesosok pria tua dengan wajah yang menyeramkan. Yang mengenakan pakaian kotak-kotak, sepatu aneh dan celana berbulu wol dengan warna yang terang, di saat Suzy menatap papan yang di pegang oleh pria tua tersebut, Suzy merasa cukup yakin dia adalah penjemput dirinya. Pria itu memengang sebuah papan yang bertuliskan. ‘Akademi Seni Wonderland Arts.’”

Suzy berjalan mendekatinya,, Gadis itu berusaha keras untuk tak memperdulikan sepasang kekasih yang terlalu menggumbar kasih sayang di hadapannya. Cara mereka saling meraba, saling menatap dan berciuman seakan baru pertma kalinya mereka tak berjumpa. Suzy menyadari tatapan sinisnya saat melihat ke arah mereka. Terdapat nyeri di dalam dada Suzy, saat dirinya teringat bagaimana dirinya dulu sama seperti mereka, saling meraba, mencium seperti itu, hingga kekasihnya Minho suatu hari memutuskan ia lebih suka meraba dan mencium sahabat karibku, Jessica.

“Wonderland Arts?” Pria menyeramkan itu berkata dengan logat daerah yang sangat kental sehingga Suzy membutuhkan waktu sesaat untuk menyadari maksud ucapan pria tua tersebut.

“Ya—yaa? Maksudku Iya, itu aku.” Suzy menggeleng, tidak terbiasa dengan logat setempat. “A—aku datang sebagai… murid Wonderland Arts.” lalu mengangguk.

Pria tua itu kemudian menatap barang bawaan yang ada di sisi kanan Suzy. “Apakah ini saja barang bawaanmu?”

Suzy menganggung dan kemudian menoleh kesekelilingnya. Dirinya merasa tidak yakin, bagaimana seorang calon seniman yang sudah berusaha dengan susah payah mengumpulkan gambaran lukisannya, berharap bisa masuk ke akademi seni yang paling eksklusif (seperti yang tertera dalam brosur), bisa ketinggalan pesawat atau memang sengaja tidak ingin pergi.

“Mungkin mereka tidak membutuhkannya seperti diriku. Atau mungkin kehidupan mereka terbebas dari orang-orang seperti Minho dan Jessica.” pikir gadis belia tersebut.

Suzy menghela napas kembali saat mengingat mimik wajah Shelia ketika dirinya memilih tas ini dibandingkan tas alat gambar pemberian dirinya yang  berwarna biru tua dengan taburan foxglove, sudah cukup membuktikan Jessica tidak berusaha keras menerima dirinya sebagai putri tirinya karena sang ayah berencana akan menikah dalam waktu dekat ini.

“Siapa namamu?” pria itu itu bertanya dengan suara yang tinggi, sehingga saat didengar oleh Suzy terdengar membentak.

“—Mmm, Suzy.” gadis muda itu menganguk. “Bae Suzy?” ia mengucapkan namanya seperti pertanyaan, seakan dirinya sedang menunggu pria tua itu membenarkan nama dirinya sendiri. Terjadi keheningan diantara mereka berdua, hingga Suzy tersadar bila dirinya sama cupunya di Korea maupun di Inggris.

Pria tua itu mengangguk, kemudian ia membawa tas jinjing milik Suzy menuju mobil Jep yang terlihat sangat kuno saat Suzy tiba di parkiran.

“—Maaf sebelumnya, Pak. Bagaimana dengan Koperku?” Suzy bertanya, dengan nada yang menyedihkan, seakan ia berkata ‘Tolong jangan membenciku.

“Mereka bilang Koperku tertinggal di bagasi Bandara Seoul.” tambah Suzy ragu.

Pria tua itu mengumamkan sesuatu, tapi sesuatu itu tak dimengerti oleh Suzy. Setelah itu ia berjalan begitu cepat tampa menghiraukan pertanyaan Suzy. Suzy pun mau tak mau ikut mengejar pria tua tersebut.

“Jadi, apa kau tahu apa yang terjadi dengan murid yang lainnya?” Suzy bertanya sambil menatap  ke belakang kepala pria tua itu yang sebagian kepalanya yang tak ditumbuhi oleh rambut. Pria itu tetap terdiam, ia malah mempercepat langkah kakinya sehingga Suzy harus lebih kencang lagi berlari di belakang.

Suzy sempat bingung bagaimana mungkin pria renta yang kurus bisa berjalan dengan cepat, ia bukan berjalan namun berlari tanpa napas yang terengah-engah. Merasa tak digubris perkataannya, Suzy mulai bertanya kembali. “Maksudku, bukankah masih ada beberapa murid lagi?”

Tepat setelah Suzy melontarkan pertanyaan, pria tua itu berhenti seketika dan alhasil Suzy langsung menabrak belakang punggung pria menyeramkan itu. “Kurasa sudah terlambat bagi mereka, Miss,” ia berkata dengan ekspresi wajah yang datar. “Tidak dengan Halimun yang bergulung seperti ini.”

Gadis muda itu memicingkan kedua matanya, Suzy memperhatikan sekelilingnya dan dirinya sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud kan oleh pria tua tersebut. Memang keadaan langit saat ini terlihat sedikit mendung, berawan tapi kan bukannya ini sudah biasa terjadi di Inggris lagipula Suzy tidak melihat ada kabut di sekitar sini.

Tapi pria renta itu hanya memandangi Suzy dengan tatapan yang dingin dan kemudian ia menjentikan jari jemarinya untuk menyuruhnya  segera masuk ke dalam mobil. Setibanya di dalam mobil, pria tua itu pun berkata. “Kabut tidak ada hubungannya dengan halimun,” katanya datar. “Kita harus segera pergi sebelum keadaannya semakin parah.” Suzy meringkuk di jok belakang van, saat mesin kendaraan di nyalahkan Suzy membuka jendela dan memandangi langit. Ia masih tidak mengerti dengan  pemikiran pria tua tersebut. “Kelihatannya langit cukup cerah—” kata Suzy kembali. Namun pria itu hanya mendegus, dengan kedua tangan yang mencengkram kemudi, dan mata yang tertuju ke jalan. Hingga akhirnya ia menjawab perkataan Suzy. “Seperti itulah halimun—tidak pernah tampak seperti keadaan sebenarnya.”

~oOo~

 

-Pov Suzy-

Aku tertidur…

Maksudku, aku tidak ingat dengan perjalananya, seingatku, aku tadi sedang memandangi langit dan setelah itu aku tak ingat apapun. Padahal jalan yang kami lalui begitu banyak goncangan tetapi mengapa aku malah tertidur begitu pulas?

“Sepertinya aku kelelahan.” lirihku sambil menatap ke luar jendela.

Beberapa menit kemudian kami pun tiba di sebuh rumah mewah dengan arsitektur Victoria kuno. Saat aku keluar dari dalam mobil dan berdiri di depan bangunan itu, aku merasa seperti berada di dalam dunia lain. Namun yang anehnya hatiku merasa hangat saat menatap bangunan tua tersebut, sepertinya aku pernah datang ke sini bahkan, aku begitu familiar dengan kastil tersebut padahal ini baru pertama kalinya aku menginjakan kedua kakiku di tempat ini.

“Apakah itu tempatnya? Di atas sana?” aku memicingkan mataku ke arah sana. namun aku masih belum melihat halimun yang digumamkan oleh lelaki tua itu. “Langit begitu cerah, bagaimana mungkin dia mengatakan bila cuacanya akan mendung?” pikirku.

Aku lalu di ajak oleh pria tua itu berjalan menghampiri bangunan tersebut. Bangunan besar itu terbuat dari batu berwarna putih dan bentuk bangunan ini bila diamati sangatlah menyeramkan, bentuknya seperti yang biasanya ada dalam novel roman, ataupun film yang jenis ceritanya yang sangat aku sukai.

Di saat aku menginjakkan kakiku di dalam rumah bernuansa gotik kuno tersebut, aku semakin takjub, di sana banyak barang-barang antik yang mungkin bernilai tinggi di pajang di sekitar area ruangan.

“Dia sudah sampai.” kata pria tua itu pada seorang wanita lanjut usia yang baru saja tiba di hadapan kami.

Yang membuatku aneh, adalah mengapa lelaki tua itu berkata. “Dia sudah sampai?” mengapa bukan “Mereka telah sampai?” bukannya mereka menanti sekelompok murid? Padahal saat aku membaca brosur yang kuterima, jelas-jelas di sana tertera mereka sedang mencari lima orang seniman berbakat dan lima seniman berbakat yang beruntung tersebut telah berhasil terpilih dari ribuan bahkan jutaan seniman hebat lainnya.

Memang syarat yang mereka inginkan adalah agar para pendaftar mengirimkan hasil lukisannya yang mewakili mimpi mereka, dan mimpi yang kumaksud bukanlah tujuan hidup. Maksudku secara harfiah adalah lukisan yang kukirim adalah gambaran yang selalu muncul di dalam mmpiku. Mimpi itu terus muncul dan sejak aku mendapatkan brosur dari akademi ini, mimpi itu semakin jelas, gambaran itu penuh dengan warna bahkan terkesan nyata. Dan aku merasa punya peluang yang sangat besar unutuk memasukinya, dan ternyata aku benar.

Tak peduli seberapa hebat mimpi yang kualami, aku belum pernah memimpikan tempat seperti ini. sebuah tempat dengan jalan masuk yang begitu panjang berliku dan curam, sisi temboknya di pagari oleh lebatnya bunga mawar berwarna merah pekat dan batang berduri tajam itu menjulur ke atas jalan.

~oOo~

 

“Halo..?” kata wanita tua tersebut. Wanita tua itu mengenakan gaun hitam polos dengan kerah renda  putih dan celemek yang senada. Kulitnya begitu pucat dan transparan, seakan wanita itu tidak pernah sekalipun berada di bawah sinar matahari.

“Kau pasti Suzy?” katanya kembali, Suzy pun mengangguk, mengira-ngira bagaimana ia bisa tahu namanya? Padahal gadis itu belum sempat memperkenalkan dirinya?

“Aku Casandra,” wanita itu berkata, sambil menatap ke arah Suzy dengan seksama seakan ia sedang mempelajari setiap inci tubuh lawan bicaranya.

“Kau kelihatan cerdas dan cantik, bukannya begitu?” katanya, “Muda, kuat dan berasal dari keturunan yang bagus dan sehat tentunya. Berapa usiamu?”

“Tujuh belas.” sahutnya, sambil mendekap tas alat lukis erat-erat karena merasa risih dengan tatapannya.

Well, kau akan baik-baik saja di sini, itu pasti.” sambil mempersilakan Suzy masuk dan kemudian wanita tua itu bertukar pandang dengan lelaki tua yang ada di samping Suzy  dengan mimik yang tidak dapat dimengerti oleh gadis tersebut. “Cepatlah, kau bisa mati kedinginan di luar sana,” tambahnya kemudian wanita itu menuntun Suzy ke sebuah ruang yang begitu hangat dan nyaman seperti pulang ke rumah.

Tepatnya bukan seperti rumah miliknya. Bukan semua rumah yang kecil yang sebelumnya dalam keadaan sempurna saat masih dihuni oleh dirinya  dan sang ayah—sebelum Shelia dan seluruh barangnya ikut pindah, dan ini adalah jenis rumah yang selama ini Suzy inginkan. Rumah yang penuh misteri dan sejarah—dilapisi oleh kayu yang mengilap, permadani antik dan jajaran karangan bunga mawar merah menakjubkan dengan batang panjang berduri–yang sangat berbanding tebalik dengan rumah tempat tinggalku.

“Wow…” jerit Suzy, nyaris berupa bisikan saat memperhatikan seluruh ruangan, dan tidak sabar untuk menjelajahi setiap sudut rumah ini.

~oOo~

 

Ruangan ini sudah mulai membaik, Karena kemurahan hati Tuanku Kim Soo Hyun, akhirnya sedikit demi sedikit membaik.kata Casandra sambil menarik mantel dari atas bahu Suzy. Sentuhan jari jemarinya yang dingin membeku membekas cukup lama di tengkuk milik gadis muda tersebut. Setelah itu Casandra menyerahkan mantel berwarna biru langit tersebut kepada sang supir yang tadi menjemput Suzy. “Sudah hampir selesai sekarang.”

Suzy menatapnya penuh tanda tanya, Suzy mengira-ngira apalagi yang belum selesai pada tempat yang begitu sempurna ini. Tak lama kemudian wanita tua itu menatap Suzy sambil memegang liontin berwarna hitam yang tergantung di lehernya dan kemudian menujukan ke arah ruangan dansa dan berkata. “Di sanalah awal mulanya kebakaran itu.” ucapnya seraya maniknya terus menatap ke arah Suzy. “Seperti yang bisa kau lihat, pemugarannya belum benar-benar sempurna.” tambahnya.

Suzy menyipitkan matanya, saat menatap ruangan luas yang berada di hadapannya memang terlihat rusak berat, dan ketika Suzy memperhatikan keadaan seluruh ruangan dengan lebih teliti, dada gadis itu terasa sesak, seperti dirinya dapat merasakan kejadian kebakaran hebat yang pernah terjadi di ruangan ini.

“Ayo,” sapaan Casandra membuat lamunan Suzy menghilang, jarinya yang beku sedingin es memengang punggung Suzy.  “Aku sudah membuat makan malam yang leza untukmu sebelum kau pergi tidur.”

Suzy tersentak kaget, “Tidur?” tanya batinnya, Suzy berhenti sejenak, pandangannya mencari jendela, tapi semua jendela tertutup oleh gorden tebal berwarnah merah pekat. Gadis itu masih ingat bila ia tiba di sini masihlah siang. “Memang langit sedikit berawan tapi ini baru jam tiga siang.” gumamnya seraya kedua matanya menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.

~oOo~

 

Suzy menekan sakelar, menyipitkan matanya saat kamarnya di penuhi oleh bayangan dan cahaya. Menyadari lapisan tipis halimun yang berada di sekelilingnya, gadis muda itu bertanya-tanya bagaimana mungkin halimun itu bisa masuk jika pintu ditutup dan seluruh jendela terhalang oleh gorden tebal berenda.

Perlahan-lahan Suzy berjalan masuk ke dalam kamarnya, menepis seprai ke samping dan kemudian mengambil mantel kamar yang sudah di siapkan di kaki tempat tidur. Ia diam sejenak untuk meraba permukaanya yang lembut dan sehalus sutra, sangat jauh berbeda dengan jubah yang salam ini ia kenakan sehari-hari.

Mantel itu lalu ia kenakan dan kemudian kemudian mengikatnya erat-erat di pinggang saat dirinya memandang ruangan luas yang ada di hadapannya. Di sana terdapat meja rias yang dihiasi oleh rajutan renda halus dan sisir sikat bergagangkan perak, di sisi sebelah kanan tempat dirinya berdiri terdapat perapian batu dengan bara yang masih berpijar , di sana juga ada sofa kecil beledu di sampingnya.

Bukan itu saja, tak jau dari perapian, Suzy juga melihat beberapa kanvas baru yang sudah di pasang, se akan kanvas baru itu memohon dan  memanggil dirinya untuk segera menorehkan kuasnya di sana.

“Lukis mimpimu,” kata Csandra sebelum wanita tua itu meninggalkan Suzy di kamarnya. Sejenak Suzy menimbang-nimbang apakah ia harus mengabari ayahnya terlebih dulu bahwa dirinya sudah tiba di sini sebelum dirinya disibukkan oleh acara melukisnya. Namun saat dirinya teringat tentang Shelia yang telah tinggal bersama dengan mereka berdua, Suzy langsung mengurungkan niatnya. Semenjak ayahnya menikah kembali, ia sangtlah sibuk dengan istri barunya bahkan terkadang ayahnya juga sudah melupakan keberadaan dirinya,karena ayahnya terlalu sibuk.

“Lagipula, aku lebih suka melukis.” ungkapnya getir. “Aku harus melukis sementara gambaran itu masih segar dalam ingatan.”

~oOo~

 

-Pov Suzy-

 

Aku mengambil tas dari bangku di akki tempat tidur, merasa lega karena aku cukup cerdas untuk tidak memasukkan kuas dan cat terbaikku dengan isi koperku yang lain. Aku mulai mengeluarkan cat warna hitam, putih dan merah dari tabung cat, aku merasa bila mimpi ini sangat istimewa, mimpi yang pernah aku alami sebelumnya, tapi hanya dalam potongan-potongan, beberapa bagian saja, tidak pernah sejelas ini  meskipun gambaran yang terlihat hanyalah itu saja. Hanya kabut dan disana terlihat cahaya kemerahan.

“Maaf sudah menganggu, Miss. Aku pikir waktunya anda untuk makan.” Kata wanita yang saat ini telah berdiri belakang sisi kananku. Aku terlalu terlarut dalam pekerjaanku, hingga tidak menyadari ketika Casandra tiba di dalam kamarku.

Wanita itu lalu meletakkan nampan yang penuh dengan makanan yang masih mengepul di atas meja kecil di samping perapian. Saat aku kembali lagi untuk melihat lukisanku, aku mengerutkan wajah ke arah lukisan. Aku berusaha menggambar halimun selama lebih dari tiga jam, dan lukisannya masih belum terasa tepat. Dalam mimpiku halimun itu terasa begitu hidup, tapi di sini, hanya berupa noda statis putih.

“Aku bukanlah seorang ahli, tapi menurutku lukisan anda sudah cukup bagus, Miss. Sangat bangus.” Casandra melangkah ke sampingku dan memicingkan pandangannya. aku mengangkat kedua bahuku, seakan berusaha mengiyakan perkataan Casandra. Meskipun aku mengkritik lukisanku sendiri bahwa lukisan ini amat buruk, bikan. Bukan buruk namun belum tuntas dan aku bingung bagian mana yang masih kurang.

“Mungkin sedikit lagi sentuhan warna… merah. Di sini, Miss.” Casandra menunjuk ke tengah-tengah lukisan, satu-satunya tempat yang memiliki warna sesungguhnya. “Jika anda tidak keberatan dengan saranku, Miss.”

Aku menatap kanvas dan Casandra bergantian, menyadari betapa perempuan itu tampak jauh lebih muda daripada sebelumnya. Bentuk wajahnya lebih bulat, lebih berisi dengan semburat warna kemerahan di kedua pipinya.

“Apakah aku mengalami jetlag?” tanya batinku karena saat melihat Casandra pertama kali, ia kira wanita itu sudahlah renta. Setelah itu aku kembali lagi  memusatkan pikiran ku di atas kanvas dan melakukan saran yang dikatakan oleh Casandra. Lalu kemudian kami berdua mundur untuk melihat hasilnya.

“Seperti yang akau katakan, aku tidak ahli, tapi lukisan anda terlihat lebih baik, bukan? Seakan anda telah memberii sedikit… nyawa di dalam lukisan ini.” Mata Casandra yang hijau berkilau saat pipinya bersemu merah muda, dan untuk sesat wanita itu tampak berubah lebih muda hingga aku tidak sanggup memalingkan wajah.

“Lukisannya memang terlihat lebih baik,” sahutku sambil mengangguk kemudian menatap lukisan dan Casandra secara bergantian, “Kurasa aku akan segera berpakaian dan pergi ke kota, untuk melihat-lihat keadaan sekitar dan membeli beberapa barang yang bisa kugunakan sebelum koperku tiba. Apakah kau bisa meminjamkan aku peta tau petunjuk arah, misalnya? Atau setidaknya apakah kau bisa memberitahu  saja di mana letak toko-toko itu?”

Casandra menggigit bibir bawahnya  dan menyipitkan mata. Dan unutuk sesat kelihatannya wanita itu tidak suka mendengar pertanyaanku, tapi pikiran itu segera terhapus oleh kalimatnya ketika berkata. “Tentu, Miss, dengan senang hati. Tapi sekarang sepertinya bukan waktu yang tepat. Lebih baik tunggu dulu beberapa saat lagi.”

Aku memiringkan kepala, kuas menggantung di sisi tubuh, mengira-ngira apa maksud dari ucapan wanita tersebut. “Sepertinya, Anda tidak menyadarinya, di luar masih gelap , dan pagi masih lama.” Casandra melangkah ke jendela, menyibak gorden dengan satu gerakan cepat, sekilas terlihat pandangan gela gulita sebelum ia menutupnya kembali. “Dan, Oh, hati-hati dengan catmu, Miss.” Casandra menunjuk  ke arah kakiku. “Dibutuhkan kerja keras unutuk melakukan pemugaran, dan kami tidak ingin merusaknya secepat ini.”

Aku menatap ke bawah, tersentak ketika melihat sesuatu yang tampak seperti segumpal cairan merah kental berwarna merah berputar-putar di sekeliling tubuhku. Tapi di saat aku menggerjapkan mata, cairan itu lenyap, dan yang kulihat hanya ada beberapa tetesan kecil yang telah di hapus oleh Casandra.

“Maafkan a—ku t—tadi a—aku…” jawabku tebara-bata sambil mengggeleng karena masih terkejut dengan apa yang baru saja kulihat beberapa detik yang lalu.

“Tidak apa-apa.” kata Casandra seraya melangkah kan kakinya ke depan pintu. “Hanya saja—” wanita itu lalu berhenyi, tatapannya memperhatikanku saat ia menggengam liontin hitam berkilau yang tergantung di lehernya. “Berhati-hatilah, itu saja.” tambahnya sebelum dirinya pergi berlalu.

~oOo~

 

Udara begitu lembab dan dingin saat Suzy berjalan menyusuri lorong panjang berliku. Meski begitu, gadis itu tidak sama sekali merasakannya, jadi ia sama sekali tidak terpengaruh dengan semua itu. Seluruh kesadaran gadis itu terpusatkan pada debaran jantungnya yang kian berdebar keras saat kedua kakinya menyelusuri lantai batu mengilap. Terasa berdenyut hidup, seakan halimun itu adalah mahluk hidup yang nyata.

Tapi Halimun itu tidak membuat Suzy menghentikan langkah kakinya. Iaterus berjalan. Tidak peduli meskipun jarak penglihatan tidak jelas, Suzy tetap melangkah maju, berjalan menuju cahaya yang berpijar. Dari kejauhan ia melihat sosok seorang lelaki menggunakan kemeja putih sedang berdiri di sana. Pemuda itu ada di dalam sana…berdiri memunggungi dirinya tapi anehnya  saat Suzy menatap belakang punggung lelaki itu, ia merasakan kehangatan seakan dirinya telah mengenal dirinya bahkan bisa dikatakan bila sosok itu adalah belahan jiwanya yang terlupakan. Suzy semakin mempercepat langkah kakinya, langkahnya kian cepat dan sekarang ia bukan lagi berjalan namun sekarang ia sedang berlari. Anehnya semakin dirinya ingin menghampiri sosok itu, bayangan lelaki itu kian menjauh, Suzy terus berlari hingga dadanya terasa sesak  karena dirinya berlari begitu keras dan…

Brrukk!!!

Suzy tersentak saat menyadari bila semua itu hanya lah mimpi, Mimpi yang begitu nyata, hingga dirinya nyaris tak mengenalnya, apakah itu mimpi atau kenyataan. Bahkan dirinya tak meyadari bila pakaian yang ia kenakan telah basah oleh keringat. Ya, banyak peluh yang berjatuhan dari atas keningnya maupun dari sela-sela rambutnya yang saat ini terurai indah. Dengan napas yang masih terengah-engah Suzy pun berkata. “Sebenarnya, siapa kau, mengapa kau selalu datang di dalam mimpiku?”

-TBC-

 

Aloohaa… ketemu lagih ma Phiyun di sini…

Daku membawakan Fanfic baru nih, buat kalian, hehe…

Untuk di part ini emang sengaja aku buat masih samar-samar, sebenarnya siapa sih pria yang selama ini ada di dalam mimpi Suzy, Myungsoo atau Soo Hyun atau sosok itu bukan lah mereka berdua??? haha…😀

Authornya pingin curhat nih… Rencananya Fanfic ini akan aku update selang-seling sama Fanfic The lady, tapi berhubung aku berencana akan melakukan hiatus selama dua bulan ke depan, tepatnya di awal bulan September sampe November Phiyun harus Hiatus soalnya daku ada seminar ma pelatihan full selama sebulan bahkan lebih, jadi kemungkinan bakalan lama updatenya…

Tapi Aku gak menutup kemungkinan untuk tetap mengupdate Fanfic loh, soalnya aku ini orangnya bandel, n tangan nih suka gatel kalo gak ngetik, wkwkw ><. Untuk para readers yang nunggu lanjutan The lady jangan takut gak bisa baca lanjutan part 4 nya… soalnya sebelum aku resmi  hiatus di blogku,  aku bakalan update-tin FF itu sama Fanfic ini kok, jadi di tunggu aja yah…

Phiyun juga mau ucapkan terimakasih kepada semua good readers yang mau ninggalin jejaknya di sini… Gomawoyo… chingu… See you next part 2❤

 

 

29 responses to “Piece Of Memories [Part 1]

  1. Mungkin brosur itu cuman buat menarik Suzy datang ke situ, dan dia sekarang kayak yg kembali ke masa lalu gitu ya? atau gmana? hehe… ah aku masih agak bingung ><

    • Mungkin iya, mungkin enggak sih, hehe…😀
      Tenang tar di part 3 akan aku perjelas kok, di tunggu ajah ya…
      Makasih ya dah nyempetin mampir kesini buat baca ❤

  2. Aku masih belum bisa mengerti jalan ceritanya bahkan aku tidak bisa mmbayangkan seindah apa tempat yg ditinggali suzy.dan apa arti dari semua mimpi suzy?apakh itu akan mnjadi salah satu bagian dari kisah hidupnya?

    • Maap yah bikin kamu jadi bingung ma ini cerita, mungkin di part ke 2nya akan aku perjelas lagi, di tunggu aja yah…
      Makasih ya dah nyempetin mampir kesini buat baca ❤

  3. aku bingung. belum bisa ngerti maksud cerita ini apa. misteri? fantasy? tp penasaran tetap melanda diriku. pengen tau lebih lanjut.

    • Sebenernya Suzy gak ada di dalam mimpi kok, cuman sebelum ia datang ke sekolah seni itu, si suzy dah sering mimpiin itu tempat, kurang lebihnya begitu🙂
      Makasih ya dah nyempetin mampir kesini buat baca ^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s