[Freelance] Mirror Chapter 3

Title : Mirror  | Author : Man Ri Ra | Genre :  Angst, Romance, School-life | Rating : T | Main Cast : Bae Suzy, Oh Sehun | Other Cast : Jung Soojung, Kim Myungsoo, etc

·

·

·

Notes: Story is mine. Don’t bashing. I hate plagiat. Sorry for typos and enjoy!
·

·

·

M I R R O R    /chapter 3/
————————-

·

HAPPY READING!!

.

 

Bae Suzy melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan setengah delapan pagi. Oh Sehun lagi-lagi terlambat dari janji. Lewat pesan yang dikirimkan pria itu tadi malam, janji temu adalah di taman dekat rumah pukul setengah delapan. Tapi jam setengah delapan yang bahkan sudah lewat 2 menit ini pria itu belum juga muncul. Ah, ia benci ini. Ia benci menunggu! Ia benci Oh Sehun!

Matanya menyapu sekitarnya yang cukup ramai. Mayoritas dari mereka adalah anak kecil yang sedang berlarian. Atau para orang tua yang duduk mengawasi anak-anak mereka seraya berbincang hangat dengan orangtua yang lainnya.

Melihat itu membuatnya jadi teringat masa kecilnya dulu yang sering menghabiskan waktu bermainnya ditaman ini. Dulu ia bermain kesini bersama Choi Jinri, tetangga sekaligus teman bermainnya. Ah betapa ia merindukan Choi Jinri yang sekarang entah bagaimana kabarnya. Menjelang kelas 5 Sekolah Dasar, Jinri bersama kelurganya memutuskan pindah ke Tiongkok untuk kepentingan bisnis.

Bae Suzy mendesah. Ia memilih menyenderkan kepalanya pada senderan bangku taman yang didudukinya. Kepalanya mendongak dan disambut oleh ribunnya daun pohon oak yang hijau. Pikirannya penuh, antara memikirkan dimana keberadaan Choi Jinri yang dirindukannya dan Oh Sehun si pria licik yang sampai sekarang belum juga datang.

*
*

Dering ponsel yang memekakkan telinga memaksa Oh Sehun membuka kedua matanya yang terpejam. Ia mengerang kesal lalu meraba nakasnya. Benda persegi itu terdiam tepat ketika tangannya berhasil menyentuhnya. Dahinya mengernyit heran mendapati Bae Suzy menelponnya dipagi hari ini. Mata setengah terpejamnya menatap jam digital di ponselnya yang menunjukkan pukul 08.39. Tumben sekali gadis itu menghubunginya lebih dahulu, apalagi di waktu pagi yang menganggu tidurnya.

Pria berambut hitam kelam itu hendak meletakkan ponselnya kembali dan menarik selimutnya ketika otaknya mulai bekerja memberinya alarm pengingat.

“Sial!” Sehun memaki dirinya yang melupakan janji kencannya dengan Suzy.

Segera ia menendang selimutnya kesembarang arah dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak satu ruang dengan kamarnya. Meskipun menyadari dirinya sudah terlambat, ia tak ingin melewati pekan pagi ini dengan terburu-buru.

Ia menjadi teringat kebiasaannya yang kerap terlambat datang saat memiliki janji kencan dengan para gadis. Meskipun ia terlambat dua jam dari waktu yang dijanjikan, gadis yang menjadi pasangan kencannya sama sekali tak marah dan keberatan. Bahkan ia pernah tak datang saat janjian kencan, dan seperti biasanya dengan alasan tak masuk akal sekalipun, gadis pasangan kencannya sama sekali tak menuntut macam-macam. Ah, kehidupan kencan yang membosankan.

Mungkin kali ini Bae Suzy akan bersikap seperti itu, sama seperti gadis-gadis lainnya. Meskipun kemarin mendapati sikap Bae Suzy yang sedikit tak bersahabat karena keterlambatannya, toh gadis itu akan memaafkannya.

Sebenarnya mendekati Bae Suzy bukanlah keinginan Sehun. Semua berawal dari ia yang menolong gadis itu saat pingsan dilapangan. Ia yang saat itu kebetulan lewat lapangan langsung membantu menggendong gadis itu ke ruang kesehatan. Setelah disana, tanpa diduga Mrs. Han, petugas ruang kesehatan sedang ada urusan dan meminta dirinya menunggu Suzy sampai sadar, ia melakukannya dengan terpaksa. Tapi ia tak menduga bahwa setelah itu mereka menjadi sedikit lebih sering mengobrol. Namun yang membuatnya heran adalah teman-temannya yang sangat antusias saat ia cukup dekat dengan Bae Suzy.

Kata teman-temannya, Suzy adalah gadis yang sulit didekati. Sulit didekati apanya? Sehun mendengus memikirkan hal itu. Meskipun Suzy bukanlah gadis agresif layaknya gadis lain, tapi Suzy tidak sulit didekati.

Seharusnya jika Suzy tau ia adalah sang playboy tampan, Suzy harus menghindarinya jika gadis itu adalah tipikal gadis yang sering disebut oleh teman-temannya. Ia langsung saja menyetujui ketika teman-temannya kemarin menantangnya untuk membuat Suzy jatuh dibawah kakinya atas nama cinta. Bagi seorang Sehun, itu tidaklah sulit mengingat sudah banyak pengalaman semacam itu, apalagi Suzy menyutujui ajakan kencannya setelah seminggu dekat. Awal yang menjanjikan bukan? Setelah ini ia akan mematahkan opini-opini yang bertebaran diluar sana tentang Bae Suzy yang sulit didekati.

Sehun sudah siap dengan celana jeans pudar yang dipadukan dengan kaos putih. Tanpa berkaca pun, ia sudah tau jika ia sudah sangat tampan. Bae Suzy akan terpesona padanya hari ini juga, ia akan memastikan hal itu. Dengan percaya diri, ia keluar rumah saat jam hampir menujukkan pukul setengah sembilan.

*
*

Dengan kemampuan bermotornya yang menganggumkan, Sehun sudah sampai ditaman tempatnya berjanji dengan Suzy tepat jam setengah sembilan. Matanya dengan awas memindai setiap sudut taman yang ramai. Langkah kakinya menuju ke bangku taman sebelah utara dekat pohon oak yang besar. Kemarin ia mengajak Suzy bertemu disana. Dahinya mengernyit heran ketika tak menemukan gadis itu disana. Apakah Bae Suzy juga terlambat?

Sehun memutuskan mendudukan dirinya dibangku. Mengabaikan berbagai macam tatapan penasaran atau mungkin terpesona orang-orang yang berlalu lalang didepannya. Ia tak menduga ini, Suzy terlambat diacara kencan pertama mereka. Biasanya para gadis yang akan menunggunya, bukan dirinya. Tapi tak apa, sekali-kali biarlah ia menunggu, sekedar menjadi pengalaman baru.

Matanya melirik sebelahnya. Alisnya terangkat seakan baru menyadari ada selembar kertas terlipat yang di bebani oleh batu berukuran sedang. Seperti sebuah surat, membuat Sehun penasaran dan tangannya menggapai benda itu.
.

~~~ Aku tak perduli kau datang atau tidak Sehun sunbae. Pokoknya aku benci menunggu. Aku sudah menunggumu lebih dari setengah jam, kau tau! Batalkan saja kencan ini, lebih baik berkali lipat jika aku pergi ketoko buku. (Bae Suzy) ~~~~

.
Apa ini? Sehun melotot tak percaya. Ia baru saja ditinggal seorang gadis karena memilih tak ingin berkencan. Hebat sekali!

Sehun menggeleng menolak mempercayai ini. Ini benar-benar diluar ekspetasinya. Gadis itu benar-benar.

Dengan gerakan malas, ia berdiri dan berjalan menuju motornya. Kencan pertama gagal sudah. Sepertinya pemikirannya tentang Bae Suzy harus sedikit direvisi. Gadis itu sedikit ajaib.

Ia menghembuskan napasnya. Kemana ia harus pergi sekarang? Pulang? Menyedihkan sekali. Dirinya sudah berdandan dengan tampan dan malah berakhir kencan yang gagal. Sebenarnya ia bisa saja menelpon salah satu gadis pemujanya lalu mengajaknya kencan, tapi mood nya hilang gara-gara Bae Suzy. Gadis itu seperti sudah menjatuhkan harga dirinya.

Ketika ia sampai pada motornya, sebuah pemikiran konyol melintasi otaknya. Bagaimana jika ia pergi menyusul Bae Suzy ke toko buku? Lalu minta maaf dan mereka akan pergi kencan. Tapi ego menahannya. Jika ini bukanlah taruhan mungkin lebih baik ia melupakan Bae Suzy detik ini juga. Gadis menyebalkan seperti itu apa gunanya?

Tapi sekali lagi, ia harus cepat bertindak. Membuat Bae Suzy jatuh cinta padanya dalam waktu dekat adalah tujuan utamanya. Kalau bukan hari ini, kapan lagi?

Akhirnya Sehun menyerah. Ia memilih menyusul Bae Suzy dan melupakan egonya. Ini adalah pertama kali dari Oh Sehun rela menurunkan egonya pada seorang gadis.

*
*

Bae Suzy menghentakkan kakinya sebal. Ia sudah berkeliling mencari novel yang kemarin diincarnya tapi tidak juga ketemu. Seandainya ia tak lupa dengan judulnya, mungkin ini akan jauh lebih baik.

Yang ia masuki adalah toko buku yang cukup besar yang berada tak jauh dari taman dekat rumahnya. Toko buku yang menjadi tempat berkunjunginya seminggu sekali maskimal. Hari minggu seperti ini cukup ramai, hingga penjaga toko sedikit kewalahan menjawab pertangaan pelanggan tentang dimana letak buku ini dan itu. Suzy memutuskan berkeliling sendiri, mencari novelnya sendiri untuk sedikit membunuh rasa bosan.

Ini karena Oh Sehun! Bae Suzy lebih memilih menyalahkan pria terkutuk itu. Awas saja jika pria itu mengajaknya kencan lagi, ia dengan senang hati akan menolaknya. Sehun pikir ia gadis seperti apa yang hanya makan janji bodoh. Ia bukan gadis kolot yang mengemis cinta dan rela menunggu berjam-jam lamanya dihari kencan.

Bae Suzy mengambil sebuah novel dengan asal. Moodnya sedang buruk hari ini. Setidaknya ia pergi ketoko buku dan mendapatkan buku, bukan hal sia-sia seperti menunggu dan tak ada kabar.

Setelah membayar bukunya, Suzy ingin segera pulang dan berendam selama mungkin. Ia merasa tubuhnya mulai lengket sekalipun tak ada keringat yang menetes. Suzy membayangkan ice cream rasa strawberry yang Bibinya belikan kemarin yang masih tersimpan rapi dalam kulkas. Akan sangat menyenangkan jika memakannya sambil menonton film. . .

“Bae Suzy?”

Suzy tersentak dari lamunan singkatnya ketika seseorang memanggil namanya lantang. Seketika ia menoleh dan mendapati wajah Sehun yang tersenyum cool kearahnya. Suzy hampir saja terpesona jika saja ia tak ingat pada kesalahan fatal yang pria itu lakukan padanya hari ini. Ia mendengus, memilih mengabaikan pria itu dan berjalan keluar toko buku dengan menjinjing tas karton yang berisi novel tadi.

“Hei Suzy! Tunggu aku! Aku minta maaf,” pria itu berseru seraya melangkahkan kakinya dengan lebar, berusaha mensejajarkan langkah Suzy didepannya.

Mendadak Suzy berhenti. Kemudian berbalik dan kedua matanya langsung bertemu dengan onyx Sehun. “Aku mau pulang,” ujarnya datar.

Tiba-tiba Sehun bergerak gelisah ditatap seperti itu oleh Suzy. “Bagaimana ku antar?”

“Tidak perlu. Sunbae lebih baik duduk saja ditaman seorang diri untuk menunggu salju turun dimusim panas, pasti menyenangkan sekali,” sekali lagi Suzy berucap datar namun tajam sarat sindirian keras membuat Sehun meringis ngeri.

“Maafkan aku Suzy-ah. Aku benar-benar lupa tadi. Bagaimana caranya untuk mendapatkan maafmu?” Sehun menatap Suzy penuh harap.

Suzy mendengus hendak berbalik dan meneruskan langkahnya ketika ide bagus melintas dipikirannya saat matanya tak sengaja menemukan kedai es krim di seberang jalan. Sepertinya menghabiskan uang Sehun dihari pertama ‘kencan’ akan lebih mengasyikkan.

Sehun sangat bingung hendak melakukan apa. Sebelumnya ia tak pernah menghadapi gadis yang sedang marah, kecuali Kim Saeron, sepupunya. Jika Saeron sedang ngambek kepadanya, ia hanya perlu menyogoknya dengan tiket konser atau keripik kentang yang diiklankan oleh Oppa-Oppa grup idol, maka Saeron akan memaafkannya. Sepupunya itu memang seorang fangirl yang doyan memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan idolanya.

Tapi jika Bae Suzy? Apa yang harus dilakukannya? Ia sungguh tak ingin dibenci Suzy diacara kencan gagal mereka. Apa kata teman-teman?

“Oke ku maafkan,” seru Suzy tiba-tiba mengejutkan Sehun. “Tapi traktir aku es krim sesukaku.”

Dan Sehun tau apa yang membuat Suzy luluh.

*
*

Sehun menatap Suzy didepannya dengan takjub. Gadis berkuncir satu itu melahap es krimnya seakan tak ada hari esok. Ia tak pernah menyaksikan pemandangan seperti ini secara langsung sebelumnya. Sebagian teman kencannya menolak es krim karena sedang diet. Sekalipun mau, mungkin mereka akan memakan dengan gerakan anggun dan lembut. Bahkan Kim Saeron, sepupunya yang kekanakan itu tak serakus ini jika menikmati es krim didepannya.

Bae Suzy benar-benar memberikan pemandangan baru untuknya. Entah itu menyedihkan atau mengharukan. Bahkan ketika melihat es krim itu belepotan disekitar mulut Suzy, entah kenapa ia tak terganggu. Malah ia ingin mengelapnya seperti yang sering ia lihat dalam drama. Ia bukan pecinta drama picisan seperti itu, ia hanya pernah menontonnya ketika Saeron memaksa dirinya untuk menemani sepupu perempuannya itu menonton drama.

Dan dengan pikiran spontannya yang tiba-tiba melintas, ia ingin menirukan adegan itu, berharap Bae Suzy akan menatapnya dengan binar cinta karena kepedulian dan keromantisannya. Ketika tangannya terangkat dengan selembar tissue hendak mengelap bibir Suzy, seakan sadar, gadis itu segera menyambar tissue yang dipegangnya dan mengelap mulutnya sendiri. Saat itu Sehun merasa dirinya begitu bodoh dan harga dirinya melonjak turun.

“Terimakasih es krim nya,” ujar Suzy setelah mengelap mulutnya hingga bersih.

Kemudian matanya melirik dua cup es krim yang isinya sudah tandas hanya dalam beberapa menit. Rasanya ingin menambah satu cup lagi, namun ia teringat jika ia akan membuat Sehun melongo. Pipinya bersemu kala teringat cara makan es krim nya yang sama sekali tidak elegan. Tapi mau bagaimana lagi? Hasratnya pada es krim harus segera dituntaskan dan ia sama sekali melupakan keberadaan Sehun didepannya. Ia yakin pria itu lebih memilih memperhatikan cara makannya dari pada melirik es krim rasa mint yang dipesan pria itu, buktinya es krim itu masih utuh tak tersentuh meski sudah leleh. Dalam hati ia bersorak, meskipun sekarang sedikit menanggung malu, setidaknya Sehun sudah melihat sisi anehnya dan mungkin besok lelaki itu tak akan berani mendekatinya lagi.

“Kau sangat menikmatinya,” komentar Sehun apa adanya.

“Ya begitulah,” jawab Suzy acuh.

“Jadi aku sudah dimaafkan?” Sehun bertanya seraya menyendot es krimnya yang sudah leleh.

“Akan kupikirkan,” jawab Suzy yang masih kesal jika teringat dirinya yang tadi menunggu sangat lama.

Sehun mengangkat bahunya acuh. Suzy memanglah gadis yang unik. Tapi jika bukan karena teman-temannya dan taruhan itu mungkin saja ia malas membujuk Suzy untuk memaafkannya.

Suzy membuka tas kertasnya lalu mengambil novel yang dibelinya tadi. Tanpa memperhatikan covernya, ia langsung saja membuka halaman pertama novelnya dan mulai membacanya. Lebih baik berkali lipat membaca novel daripada mengobrol tak penting dengan Oh Sehun.

Baru membaca satu paragraf, ia harus dibuat kesal karena Sehun memekik kaget.

“Astaga, kau berisik sunbae,” sewot Suzy.

“Kau serius Suzy-ah, membaca novel seperti itu?”

“Memang ada yang salah?” Suzy bertanya heran. Matanya mendelik ketika Sehun dengan tak sopannya memperhatikan bukunya bahkan nyaris merebut.

“Sungguh diluar dugaan. Kau gadis yang luar biasa, Suzy-ah,” Sehun berbisik rendah membuat Suzy berjengit merinding. “Lihat ini!”

Suzy meloncat kaget. Matanya nyaris keluar dari tempatnya. “Novel apa yang kubaca?” Pekiknya histeris membuat pelanggan lain menatapnya penuh peringatan.

Novel yang dibelinya asal tadi ternyata selain mengandung judul yang cukup vulgar juga didukung oleh covernya yang sangat menodai mata sucinya. Bagaimana ia bisa sebodoh itu mengambil novel dengan tanpa perhitungan? Wajahnya memerah malu, semakin menguatkan keinginannya untuk tenggelam dalam sungai Han detik ini juga. Apalagi Sehun kini tengah mentertawakan dirinya dengan keras. Bahkan pria itu sudah lupa dengan image cool-nya sendiri.

Bae Suzy menghela napas. Merutuki kebodohannya dan tawa Sehun yang membuat telinganya pengang. Apa sih yang ditertawakan lelaki itu? Jika memang ia benar-benar membaca novel dewasa, lalu apa yang salah? Apa yang lucu? Toh ia sudah hampir berumur 17.

“Jangan mentertawakanku. Ini salah paham,” gumaman Suzy membuat Sehun menatapnya, bibir yang sialnya harus diakuinya sexy itu sedang tersenyum lebar.

“Sudah kuduga,” Sehun berujar pelan membuat Suzy mendengus. “Ekspresi kagetmu yang menghiburku, itu sangat lucu,” Sehun tertawa pelan.

Suzy merotasikan bola matanya sebal. Dirinya? Lucu? Bahkan Soojung si sahabat seperjuangannya saja jarang sekali menyebut dia lucu. “Lupakan saja,” kata Suzy penuh peringatan.

“Tak semudah itu nona Bae,” kata Sehun menyeringai. “Aku malah berniat menyebarkan kabar tentang ‘novel dewasa bacaan Bae Suzy’ ke sekolah.”

“Dasar penggosip!”

“Pasti akan jadi kabar yang menghebohkan. Mengingat Bae Suzy itu terkenal dengan julukan siswa teladan.”

“Berhenti mengancamku Tuan Oh,” sungut Suzy kesal. Jika memang berita itu tersebar, tahun depan ia tak mungkin mendapat predikat siswa teladan lagi, dan hal itu pasti akan dipertanyakan oleh orangtuanya.

Sebenarnya apa sih maunya pria yang sialnya tampan ini? Sial!

“Oh tentu saja nona Bae,” balas Sehun dengan seringaiannya.

“Terserah kau saja!”

“Asalkan kau jalan denganku hari ini. Bagaimana?” Tawar Sehun dengan senyum timangnya.

“Dalam mimpimu,” sahut Suzy malas. Teringat bagaimana perjuangannya menunggu Sehun tadi sendirian, membuatnya berkali lipat harus berpikir lagi jika memang diajak pergi oleh Oh Sehun. Bagaimana jika mereka benar-benar pergi bersama dan Sehun akan meninggalkannya sendirian di tempat dan memilih bersama gadis-gadis yang menggilai pria itu?

Sehun menghela napas. Ternyata Bae Suzy memang tak semudah itu didekati, benar kata teman-temannya. Tadinya ia pikir ia  begitu mempesona, tapi nyatanya Bae Suzy sama sekali tak terjerat oleh pesonanya.

Bahkan diajak kencan secara terang-terangan oleh pria sekelas dirinya saja kemarin gadis itu sempat menolak. Hari ini pun seperti itu. Jika saja yang diajaknya kencan adalah Son Naeun, mungkin saja gadis itu akan langsung meloncat dan memeluknya karena bahagia. Lalu berdandan secantik dan memakai pakaian terbaik yang dimilikinya.

Matanya menelisik Bae Suzy yang sibuk memainkan ponselnya saat ini. Penampilan Suzy saat ini sangat berbeda dengan gadis yang biasanya diajak kencan olehnya. Jeans pudar yang dipadukan kemeja tanpa lengan berwarna putih itu melingkupi tubuh ramping Bae Suzy. Tak ada high heels, yang menjadi alas kaki gadis itu adalah sneakers berwarna putih. Bahkan wajahnya tak terpoles make up sama sekali, dan rambutnya berkuncir kuda itu melambai-lambai ketika berjalan. Penampilan yang menurutnya sederhana namun cantik.

Cantik?

Sehun mengakui semuanya. Bae Suzy cantik apa adanya. Meskipun tak sepantasnya ia berkata seperti itu karena bagaimanapun Suzy adalah salah satu mangsanya. Mengingat itu, ia tak boleh menyerah. Bae Suzy harus menyukainya, apapun caranya. Sesulit apapun menakhlukkan gadis itu, ia harus bisa melakukannya. Ia sadar, kecantikan Suzy tak ada apa-apanya dibanding pesonanya.

“Aku mau pulang,” Suzy berdiri memandang Sehun datar.

“Jangan dulu,” Sehun gusar ditempatnya. Ini salah. Ia belum melakukan apapun tapi Suzy akan pulang begitu saja. Hari ini adalah kesempatannya.

“Apalagi sunbae?” Tanya Suzy malas. Tangannya bermain dengan menarik-turunkan tali tas selempangnya.

“Kencan?”

Suzy tertawa sarkasme, matanya memandang Sehun dengan ejekan yang ketara. Apa Sehun gila? Sudah membuatnya menunggu dan sekarang dengan tak tahu malunya membahas kencan? Mengajaknya kencan?

“Kau lucu sekali, sunbae,” ujar Suzy datar. “Kencan sudah gagal dan tak ada lagi kencan entah hari ini ataupun kencan berikutnya.”

Sehun menelan ludahnya susah payah. Otak cerdasnya mendadak tumpul hanya untuk sedekar mencari kosakata yang bagus untuk membalas ucapan Suzy. Sebelum ini ia tak pernah menghadapi gadis semenyeramkan Suzy. Dan kenyataan itu membuatnya kelabakan sekarang.

Suzy mengamati Sehun dalam diam. Dengusan kasar lepas begitu saja dari bibirnya. Di depannya kali ini bukanlah Sehun yang dipuja-puja gadis sekelasnya, tapi Sehun bodoh yang tak bisa berbuat apapun. Tapi entah kenapa pria itu tetap mempesona sekalipun sedang terjebak dalam kebingungan.

Sial! Suzy mengutuk lagi-lagi.

Dalam hati Suzy tertawa, mengakui kemenangannya. Langkah awal yang menjanjikan. Jika tak ada kencan lagi itu berarti permainan akan selesai hari ini. Memang diakuinya, ia sedikit menikmati perannya sebagai gadis polos yang sedang dipermainkan Oh Sehun. Memang nyatanya seperti itu, tapi setidaknya ia mengetahui apa yang dirancang Oh Sehun sehingga ia tak perlu membawa perasaan.

“Nanti malam kau ada waktu?”

Sehun bertanya ragu setelah terdiam beberapa saat. Kedua bola matanya yang penuh konflik menatap Suzy penuh harap.

Ketika pandangan Suzy teralih kepada Sehun, ia terpaku. Onyx Sehun menghipnotisnya, menimbulkan gelenyar aneh yang menjalari darahnya.

“Bae Suzy?”

Suzy mengerjap. Bodoh! Bagaimana ia bisa terpaku dengan tatapan Sehun? Ini tidak benar. Setelah berdehem , ia menjawab, “Iya. Apa?”

“Aku akan menjemputmu nanti malam.”

“Kenapa?” Suzy menyadari dirinya mulai ngelantur. “Oke. Ada apa Sunbae kerumahku? Jika kencan, maafkan aku, lebih baik aku bermain saja dengan Barrie.”

“Siapa Barrie?”

Sehun bertanya lambat. Siapa Barrie? Bodohnya Sehun tak menyelidiki terlebih dahulu apakah Suzy punya kekasih atau belum. Siapa tau Barrie adalah saingannya. Jika benar, maka rencananya dipastikan gagal total mengingat sifat keras Suzy yang pasti lebih memilih Barrie ketimbang ia yang baru saja memberi kesan buruk dihari pertama kencan.

“Kelinciku.”

Sehun menghembuskan napas lega mendengarnya. Sedikit tertawa karena pemikiran-pemikirannya yang ngelantur. Hatinya lega seakan menemukan titik terang bahwa ia masih punya kesempatan. Benar, gadis macam Suzy bagaimana bisa memiliki kekasih?

Baiklah, permainan belum sepenuhnya dimulai. Sehun tak akan menyerah apapun itu. Bae Suzy harus takhluk padanya bagaimanapun caranya. Saat itu, semangatnya sedikit demi sedikit muncul menutupi keraguan hatinya.

“Iya aku akan kerumahmu,” Sehun berujar santai.

“Tidak ada kencan, sudah kubilang.” Sungut Suzy kesal.

“Siapa yang mengajakmu kencan?” Tanya Sehun geli. “Aku akan mengajak Barrie kencan.”

Suzy melongo ditempatnya. Kencan? Barrie? Yang benar saja!

“Aku tak mengizinkan! Barrie ha. . .”

Dering ponsel yang meraung mengentirupsi ucapan Suzy. Gadis itu mencebik kesal lalu segera mengangkat ponselnya yang suaranya semakin menjadi. Ekor matanya melirik Sehun yang tersenyum kearahnya. Sial! Bukan waktu yang tepat untuk memuji Sehun! Suzy mengutuk pikiran liarnya.

“Hallo, Eomma.”

“. . . “

“Benarkah?”

“. . .”

“Baiklah aku pulang sekarang.”

“. . . “

“Tidak. Acaraku sudah selesai hari ini.”

“. . . “

“Darimana Eomma bisa berkata begitu? Pasti Soojung yang bilang! Tidak dengan pria Eomma, aku sedang kencan tapi sama buku.”

“. . .”

“Hmm.”

Suzy memutus sambungan teleponnya. Ibunya berkata bahwa ayahnya sudah tiba dirumah. Ayahnya adalah seorang dokter yang sejak seminggu lalu melakukan dinas ke Jepang. Ah betapa ia begitu merindukan ayahnya. Sedang ibunya adalah seorang perancang busana yang sering menghabiskan waktunya di butik milik keluarga hingga tak sempat melakukan pekerjaan rumah.

Ayah dan ibunya sepakat untuk memilih mempekerjakan Bibi Han dari pagi hingga sore hari untuk membersihkan rumah dan membantunya dirumah. Tapi yang membuatnya kesal adalah bagaimana bisa Soojung berkata pada ibunya bahwa hari ini ia sedang kencan? Alisnya berkerut tak suka, beruntung saja ibu sangat mengetahui bagaimana dirinya pada pria. Dalam hati ia mengumpat Soojung.

“Kau mau pulang? Aku akan mengantarmu,” kata Sehun pelan.

Suzy bergumam tak jelas kemudian menggeleng. “Tidak sunbae. Aku pergi dulu.”

Sehun masih terdiam seraya memperhatikan punggung Suzy yang berjalan menjauh. Penolakan Suzy benar-benar melukai harga dirinya sebagai seorang pria. Ia menghela napas, ia sadar bahwa Bae Suzy tak semudah itu.

*
*

Suasana hangat melingkupi ruang santai keluarga Bae. Disofa itu, Bae Suzy duduk dan dengan manja memeluk lengan ayahnya yang baru pulang siang tadi setelah seminggu melakukan Dinas di Jepang. Sedang ayahnya membiarkan puterinya bersikap manja dengan memeluk lengan kanannya yang sudah pegal sejak setengah jam yang lalu.

Suasana alam petang telah beranjak berganti malam yang cerah. Acara televisi yang menampilkan siaran berita lokal telah berganti menjadi acara Reality Show. Mata Suzy melebar saat mengetahui sang bintang tamu diacara tersebut adalah Kyuhyun Super Junior. Tapi sedetik setelah tiba-tiba muncul wajah seorang bapak tua yang sedang diwawancara di layar televisinya, Suzy mencebik.

“Jangan mengganti channel nya Appa,” Suzy merajuk dengan menggoyangkan lengan ayahnya.

“Suzy-ah, lihatlah itu berita kecelakaan didaerah Gangnam, informasi penting yang harus diketahui,” ujar ayahnya dengan sabar, seakan menjelaskan kepada anak kecil bahwa bintang tidak bisa dihitung jumlahnya.

“Tapi Kyuhyun Oppa juga penting,” seru Suzy tak mau kalah.

“Lebih baik kau bantu saja Eomma mu memasak didapur, Appa sudah lapar.”

“Aku ‘kan merindukanmu Appa, jadi ak. . . “

“Suzy-ah! Ada yang mencarimu!”

Seruan ibunya membuat pembicaraan Suzy terpotong. Dengan kesal ia menatap ayahnya yang menatapnya penuh tanya.

“Apa Soojung?” Tanya ayahnya.

“Entahlah. Biasanya Soojung akan langsung masuk setelah pintu dibuka,” jawab Suzy dengan kening berkerut samar.

Rasa penasaran yang menggerogoti perasaannya membawa kaki Suzy berjalan ke ruang tamu. Sebelum sampai disana, wajah ibu mengejutkannya didekat pintu. Suzy terpekik lalu memandang ibunya yang tertawa dengan sebal.

“Pacarmu tampan, Suzy-ah,” ujar ibunya dengan binar bahagia sebelum beranjak menuju dapur.

Suzy melotot tak percaya. Dengan gerakan tergesa-gesa ia berjalan menuju ruang tamu. Hampir saja suzy terjengkal sebelum sebuah suara maskulin menyapa gendang telinganya.

“Hallo, Suzy-ah!”

“Kau? Sehun sunbae?”
.

.
-B e r s a m b u n g-
*
.

.

.

Hallooooo… sudah ya segini dulu, ide macet dan gatau mau lanjut kek gimana. Wkwkws
Daan haii readers.. masih inget ff ini?
Maapp ga sesuai harapan, membosankan, monoton, typo, dan gak panjang. Tapi insyaalloh chp 4 bakal update cepat.
>>Ada yg nayain Myungsoo? Dia pasti muncul kok tp gatau kapan mwhehehe…><
Makasih koment nya kemarin, terharu bacanya. Hari ini RCL lagi ya jgn lupa. ♥♥♥♥♥♥

Makasih. See you:*

14 responses to “[Freelance] Mirror Chapter 3

  1. Omoo sehun benar-benar datang ke rumah suzy?aigoo pasti akan sangat menyenangkan melihat eomma-appanya suzy salah paham kekekeke senangnya rasany liat sehunlihat begitu trlihat bodoh saat membujuk suzy tadi,,,,,,semoga sehun akan menyukai suzy tnpa sandiwara

  2. Sehun pantang menyerah juga, tp awas nanti jatuh cinta beneran… semakin gemas aja lihat mereka berdua ini, sama2 punya rencana untuk menakhlukan hati satu sama lain, dan kira2 siapa yg akan kalah duluan?
    Dan Myungsoo jg akan muncul lagi?semakin menarik…
    Udah ada part 4, jadi bisa langsung baca, gomawo🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s