Mistakes and Regrets #13

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

 Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

 Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo

 Poster by animeputri @High School Graphics

 

I don’t own anything besides the storyline

 

 Brother

“Hati-hati Sooji. Kututup ya.”

Sunggyu menunggu sebentar sebelum benar-benar mematikan ponselnya. Setelah hening beberapa saat, akhirnya Sunggyu mendengar seruan Sooji memintanya juga untuk berhati-hati yang mana berhasil membuat Sunggyu  tertawa kecil. Gadis itu tetap saja penuh kejutan meskipun juga mudah ditebak. Bae Sooji yang kadang bersikap seenaknya namun juga penuh tanggung jawab, mirip sekali dengan ayahnya.  Sunggyu meletakkan ponselnya kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap gedung Hwajae Property yang menjulang. Sejujurnya Sunggyu sudah tiba di depan Hwajae sedari tadi namun Sunggyu juga sedikit gegnsi mengakui dirinya ingin menjemput Sooji, nyatanya ada yang bertindak lebih cepat darinya. Sunggyu tidak bisa menampik bahwa dirinya penasaran dengan teman yang menjemput Sooji. Dia punya asumsi, tapi dirinya ingin memastikan sendiri. Matanya menyipit begitu melihat sebuah hyundai hitam yang melaju keluar dari pelataran parkir. Matanya terus mengawasi hingga mobil itu membaur dengan padatnya jalanan. Tak lama, kekehan kecil terdengar keluar dari bibir Sunggyu. Dengan cepat disambarnya kaleng minuman yang tadinya tergeletak di kursi penumpang. Setelah puas meneguk minumannya, Sunggyu menstarter mobilnya. Senyum belum juga hilang dari bibirnya, “Aigoo. Myungsoo memang mudah ditebak, geutchi?”

“Sudah makan?” tanya Myungsoo begitu Sooji sudah memasang seatbeltnya.

“Emm, sebenarnya belum, hanya saja aku baru selesai makan Soo, sekitar jam 4 tadi.”

Myunsgoo menaikkan sebelah alisnya, “Jam 4? Tanggung sekali. Makan dengan client?”

“Emm, ani. Makan siang, Soo. Sebelumnya aku ada rapat jadi tidak sempat makan.” Myungsoo menatap Sooji lekat, tatapannya terlihat sekali kesal mendengar Sooji baru makan siang di sore hari.

“Tapi siangnya aku makan coklat yang diberikan Hyeri.” Sambung Sooji lagi, sebelum Myungsoo sempat memarahinya.

“Coklat itu cemilan Sooji, bukan menu makan siang.”

“Iya aku tahu, hanya saja aku ‘kan ada rapat, dan itu rapat petinggi pertamaku.” Jawab Sooji sambil tersenyum bangga.

Myungsoo ikut tersenyum namun sedetik kemudian wajahnya kembali serius, “Jangan sering makan terlambat Sooji, dapat berakibat buruk bagi kesehatanmu.”

Sooji mengangguk kecil kemudian mengalihkan pandangannya pada pemandangan di luar jendela, “Arasseo.”

“Jadi, kau harus makan.”

Ye?” Sooji kembali memusatkan perhatiannya pada Myungsoo. “Makan? Lagi? Aku masih sedikit kenyang, Soo”

“Kau harus makan Sooji. Aku tidak menerima penolakan. Lagipula apa salahnya menemani chingu makan, geutchi.”

Sooji berdecak pelan. Belakangan ini Myungsoo seringkali memaksakan kemauannya dengan alasan pertemanan mereka. Pertama kali sih Sooji merasa senang dapat memperbaiki hubungan mereka tapi kalau terus seperti ini cukup mengesalkan juga.

Arasseo. Kita mau makan dimana?”

Myungsoo jelas tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Wajah Sooji terlihat sekali menahan kesal. Dengan bibir sedikit mengerucut dan tangan yang bersedekap di dada, gesture andalan Sooji saat merasa terganggu. “Kau mau makan apa?”

Sooji semakin memberengut mendengar ucapan Myungsoo, “Yya, jangan membalikkan pertanyaanku.”

Myungsoo terkekeh kecil, tangannya yang bebas kemudian mengacak rambut Sooji pelan. “Jjajangmyun, otte? Atau jeokbal?”

Emm, Sooji mengetukkan jari-jarinya ke dashboard. Terlihat seperti berpikir keras. “Jjajangmyun?”

Call”

Wooyun membaca kertas-kertas di hadapannya dengan konsentrasi yang terbagi. Matanya terus-menerus melirik jam besar di tengah ruangan. Sooji belum pulang. Sekarang hampir jam 10  malam dan Sooji belum pulang. Pak Jang kembali tanpa membawa Sooji, hanya memberitahu Woohyun bahwa nonanya pulang dengan temannya. Woohyun bahkan sampai rela menunggu di ruang tamu agar dapat langsung melihat kedangan Sooji dengan temannya. Oh, tentu saja Woohyun tahu siapa itu ‘teman’ Sooji. Siapa lagi kalau bukan Kim Myungsoo.

Woohyun nyaris melompat dari kursinya begitu mendengar deru mobil yang kemudian berhenti di depan rumah. Dirinya bahkan tidak meletakkan lembaran kertas yang berada di tangannya dan dengan tergesa berlari ke pintu depan. Woohyun kemudian menemukan Bibi Ham yang menatapnya heran. Woohyun berdeham pelan, “Cepat buka pintunya, bi. Ada yang perlu aku bicarakan dengan ‘temannya’ Sooji. Bibi Ham mengangguk mengerti. Tuan mudanya itu sedang uring-uringan karena sejak sore Nyonya marah besar karena Woohyun membiarkan Sooji melembur lagi. Nyonyanya tentu akan semakin marah kalau tahu Sooji pulang di atas jam 9 malam, untungnya Tuan dan Nyonyanya sedang tidak di rumah saat ini.

Woohyun menuruni undakan rumahnya dengan cepat dan menemukan Sooji yang sedang mengetuk-ngetuk kaca mobil Myungsoo –dari luar, mengucapkan salam perpisahan. Woohyun berdeham pelan membuat Sooji melonjak kecil.

“Astaga, oppa. Kau mengagetkanku!”

Woohyun menatap Sooji datar, kemudian menarik gadis itu menjauhi pintu mobil Myungsoo. “Masuk rumah, masuk kamar, bersihkan dirimu lalu tidur.”

Sooji mengernyitkan dahinya, “Oppa, apa yang-“

“Masuk rumah, Bae Sooji!” ucap Woohyun final. Sooji menghela nafas kemudian melangkahkan kakinya menaiki undakan rumah dan saat berjalan pun punggungnya masih merasakan tatapan tajam Woohyun. Begitu dilihatnya Sooji sudah melewati pintu rumah, Woohyun kembali mengalihkan pandangannya ke depan dan menemukan Myungsoo yang sudah keluar dari mobilnya. Pria itu terlihat sedikit canggung kembali berhadapan dengannya.  Woohyun mengangkat sebelah alisnya begitu melihat myungsoo yang membungkukkan tubuhnya.

Jwesonghamnida, hyung. Aku membawa Sooji pulang larut malam.”

“Kemana saja kalian?”

“Hanya makan malam, hyung. Sooji belum makan saat aku menjemputnya.”

“Tidak minum?”

Myungsoo sontak menggeleng, “Aniyo, hyung. Kami tidak minum. Aku langsung mengantarnya pulang begitu selesai makan.”

Woohyun mengangguk kecil, “Kau bisa pulang sekarang.”

Myungsoo tersenyum canggung kemudian kembali membungkukkan tubuhnya.

“Myungsoo-ya.”

Ye, hyung?” Gerakan tangan Myungsoo yang sedang membuka pintu mobilnya seketika berhenti.

Gomapta, sudah mengantarkan Sooji.”

Kedua sudut bibir Myungsoo sontak terangkat mendengar ucapan Woohyun –“namun bukan berarti aku sudah melupakan kesalahanmu. Selamat jalan.” sambung Woohyun lagi. Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya dan menaiki undakan menuju rumahnya. Meninggalkan Myungsoo yang kembali menghela nafas. Susah sekali ternyata menjinakkan seorang Nam Woohyun.

Myungsoo menatap design di layar laptopnya dengan seksama. Design interior untuk suite terbaru G&G Tower, hasil kerjasama kantornya, Jaesan Development dengan Orchid Architectural Design Co,. Myungsoo mengacak rambutnya frustasi. Bayang-bayang Sooji kembali melintas di kepalanya. Sooji yang tersenyum. Sooji yang menggigit bibirnya karena kepedasan. Sooji yang..

Plak

Myungsoo memukul keda belah pipinya kemudian menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. “Fokus Myungsoo. Fokus!” teriaknya. Tangannya kemudian kembali bergerak, menambahkan beberapa detail di designnya namun tak lama, gerakanny berhenti. Pikiranya sudah beralih lagi pada Sooji bukan lagi pada designya. Myungsoo mengerang frustasi dan mematikan laptopnya. Dirinya kemudian berjalan ke arah tempat tidurnya, membaringkan dirinya di atas tempat tidur dengan posisi terlentang. Memandangi langit kamarnya yang polos berwarna putih. Myungsoo mengutuk bayangn Sooji yang selalu memecah konsentrasinya. Myungsoo menghela nafas lagi, sedikit kesal dengan kenyataan bahwa keadaan yang kini berbanding terbalik dengan dahulu, saat Sooji yang mengejarnya. Dulu mana pernah Myungsoo memikirkan gadis itu, yang ada Sooji yang mengerecokinya dengan segala macam perhatian. Karma does exist, Kim Myungsoo.

Hyung, kau tahu Sooji dekat kembali dengan Myungsoo belakangan ini?”

Sunggyu yang sedang sibuk dengan ponselnya mendongak melirik Woohyun sekilas, “Na arra” kemudian kembali memfokuskan dirinya pada benda kecil di tangannya itu.

“Menurutmu, apa aku harus menjauhkan Myungsoo darinya?”

Sunggyu mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Woohyun. Dengan cepat diletakkannya ponselnya di saku jasnya sedangkan matanya mengamati Woohyun yang membolak-balikan dokumen di tangannya dengan malas.

Wae? Untuk apa? Karena alasan apa?” cecar Sunggyu.

Woohyun menghela nafas kemudian meletakkan dokumen lembaran kertas itu di atas meja, tidak berniat kembali melanjutkan membacanya. “Sebenarnya kalimat yang kutunggu darimu adalah, ‘ide bagus Woohyun-ah. Memang sebaiknya mereka dijauhkan’, tapi ternyata dugaanku salah.”

Sunggyu tersenyum kecil melihat muka Woohyun yang muram. “Lagipula kenapa pula aku harus menjauhkan mereka?”

Woohyun menyenderkan tubuhnya di kursinya. Matanya menatap labgit-langit ruangan kantornya sebentar sebelum akhirnya terpejam, “Entahlah, mungkin karena ini Myungsoo. Mungkin karena kukira kau akan mengerti perasaanku soal Myungsoo dan Sooji. Mungkin karena kukira kau menyukai Sooji.”

Sunggyu lantas tertawa mendengar pengakuan Woohyun yang terdengar depresi. “Kurasa tidak ada yang lucu di sini, hyung.” Ucap Woohyun sinis.

“Ah, mian. Kau terdengar menyedihkan Woohyun-ah.”

Woohyun kembali menghela nafas. “Kau tahu apa arti Sooji bagiku, hyung. Sooji kecilku. Dan melihat Myungsoo selalu mengingatkanku pada Sooji yang menangis histeris. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak ikut campur urusan Sooji selama dia bahagia, tapi jika menyangkut Myungsoo.. sepertinya aku harus menarik ucapanku sendiri.”

“Semua orang butuh kesempatan kedua, Woohyun-ah.” Jawab Sunggyu lugas.

Seketika Woohyun membuka matanya dan kembali duduk dengan tegak, menatap balik Sunggyu yang juga sedang menatapnya. “Kurasa aku sudah menceritakan padamu dengan jelas bagaimana-“

“Bagaimana Sooji sudah memberikan kesempatan pada Myungsoo berkali-kali dulu. Yah, aku tahu.” Potong Sunggyu cepat.

“Apa kau yakin ini soal Sooji? Kurasa jika Sooji saja sudah memaafkan Myungsoo, kenapa kau tidak?” sambung Sunggyu lagi.

“Dia menyakiti Soojiku, hyung! Dan sekarang dengan tidak tahu malunya dia kembali!sentak Woohyun, “Dan jangan nasihati aku soal kesempatan kedua. Kau sendiri belum memaafkannya. Dia bahkan adikmu!”

Sunggyu tersenyum mafhum mendengar bentakan Woohyun. Sunggyu selalu tahu Sooji merupakan isu sensitif bagi Woohyun. Segala sesuatu terkait Sooji membuat Woohyun berkali-kali lipat menjadi lebih protektif.

“Itu berbeda, Woohyun-ah. Aku memberinya kesempatan, dia yang tidak mengambilnya” jawab Sunggyu.

Woohyun mengernyitkan dahinya bingung, “Maksudnya?

“Aku memberinya kesempatan untuk datang ke rumah kami. Rumahku dan oemma. Apa dia pernah datang? Tidak. Pada kenyataannya dia yang tidak memberi kesempatan pada oemma maka aku akan melakukan hal yang sama padanya. Dia belum memaafkan oemma maka aku juga tidak berniat memaafkannya”

“Seperti kau yang tidak memberi kesempatan pada ayahmu.” Ucap Woohyun sinis

Sunggyu tersenyum kecil mendengar ucapan Woohyun yang sinis, “Aku juga memberinya kesempatan Woohyun-ah. Aku bahkan bertemu dengan abeoji saat dia ke Seoul bulan lalu. Aku hanya tidak suka jika aku dan oemma dikaitkan dengannya, apalagi dengan keluarga barunya”

“Tetap saja tidak merubah kenyataan kalau kau tidak menyukai Myungsoo, hyung. Kau terus menghindarinya selama ini”

Sunggyu menghela nafas, mulai kesal dengan Woohyun yang keras kepala. “Begitu pun Myungsoo. Kami berdua sudah dewasa sekarang ini tapi dia tidak berubah. Tetap keras kepala dan tidak mau mendengar cerita oemma ssedikitpun. Jika bukan karena oemma yang memintaku membawanya pulang kurasa aku benar-benar tidak ingin menemuinya sama sekali.”

Jawaban Sunggyu membuat senyum kemenangan tercetak di bibir Woohyun. Dengan semangat, pria itu berdiri dari kursinya dan menghampiri Sunggyu. Kedua tangannya disampirkannya di kedua bahu Sunggyu yang masih duduk dan menatapnya heran, “Aku benar ‘kan hyung? Kau tidak menyukai Myungsoo!”

Sunggyu mengernyitkan dahinya, bingung dengan perubahan sikap Woohyun, “Ya? Lantas?”

“Kalau begitu dukung aku menjauhkannya dari Sooji!” ucap Woohyun cepat.

Sunggyu berdecak sebal, “Yya imma, sudah kubilang beri dia kesempatan.”

“Dia.. berbahaya hyung. Myungsoo berbahaya!” Woohyun berkata bodoh namun berapi-api sambil mengguncangkan bahu Sunggyu.

Sunggyu kembali mendesis, heran dengan tingkah Woohyun yang kekanakan, dengan cepat dilepaskannya cengkraman Woohyun pada bahunya, “Jagan mengada-ada Woohyun-ah. Berbahaya bagaiman? Kemarin saja dia mengantarkan Sooji pulang dalam keadaan lengkap ‘kan? Tidak kurang sesuatu pun?”

Woohyun mengacak rambutnya kesal, “Tapi –“

“Dia memang pernah melakukan kesalahan, Woohyun-ah. Dia remaja bodoh yang mengejar Jung Soojung saat itu. Tapi bukan berarti dia tidak berhak mendapat kesempatan. Kau sendiri yang menasihati Sooji untuk memaafkan masa lalunya. Kau sendiroi yang tidak bisa melakukannya.” Potong Sunggyu

“Tapi kau-“

“Kasusku berbeda dengan kasus Sooji. Pada kasusku dia masih bertindak bodoh. Yah, selamanya dihadapanku dia masih anak kecil bodoh, sebenarnya.”

Woohyun berdecak kemudian mengendurkan dasinya. Tak lama, dirinya berjalan memutari meja dan duduk kembali di kursinya. “Baiklah. Jika menurutmu itu baik. Jika ternyata Myungsoo-“

“Jika Myungsoo masih brengsek, maka kau akan memukulnya.” Potong Sunggyu cepat, merasa lelah mendengarkan gerutuan Woohyun.

“Kau tidak?” tanya Woohyun

“Tidak tahu ya, tergantung situasi.”

Woohyun mengamati Sunggyu, sedkit terkejut dengan jawaban Sunggyu, “Kukira kau akan menjawab ‘ya’ dengan yakin, hyung.”

“Yah, ternyata kau tidak mengenalku seperti dugaanmu ‘kan?”

“Apa kau menyukai Sooji, hyung?” sambung Woohyun lagi.

Sunggyu tersenyum miring, “Menurutmu?”

“Aku tidak akan menebak atau menduga lagi, hyung. Jawab saja iya atau tidak.”

Sunggyu bersedekap, “Hemm, tidak tahu juga ya.”

Woohyun mendengus, “Tidak usah sok berfikir begitu, hyung! Membuatku kesal saja. Ya atau tidak?”

Sunggyu tertawa mendengar Woohyun kembali naik darah. Topik mengenai Sooji benar-benar bisa membuat Woohyun lepas kendali.

“Itu urusanku, Woohyun-ah. Kau tidak perlu tau.”

Woohyun kembali mendengus, “Tidak usah sok misterius, hyung.”

Kau bercerita apa saja soal Myungsoo pada Sooji?”

“Aku tidak pernah menceritakan apapun.”

Mata Woohyun melebar mendengar ucapan Sunggyu, “Jinjja?”

“Jinjja. Sooji memang sering bertanya namun sampai sekarang aku belum menjawabnya.”

“Astaga, bagaimana bisa kau menyembunyikan ini dari Sooji? Sudah berbulan-bulan sejak kau menjemput Sooji saat dia sedang bersama Myungsoo dan dia belum tahu kalau kau kakak Myungsoo? Daebak.

Sunggyu tertawa, “Tidak usah mendramatisir, Woohyun-ah. Aku memang tidak memberitahunya tapi kurasa dia memiliki asumsi sendiri.”

“Dan dia tidak bertanya pada Myungsoo? Gadis bodoh” ucap Woohyun sambil menggelengkan kepalanya.

“Dia pasti bertanya pada Myungsoo. Tapi kuyakin Myungsoo tidak menjawabnya. Myungsoo pasti menginginkan Sooji mendengarnya dariku. Aku yakin sekali, Myungsoo pasti tidak pernah menyebutkan kepada teman-temannya bahwa dia memiliki kakak.”

“Kau akan memberitahu Sooji ‘kan hyung?”

“Tentu saja aku akan memberitahunya, nanti jika sudah saatnya.”

“Astaga, menurutku ini bukan hal sepenting itu sampai harus menunggu saat yang tepat.”

Yya, imma. Tentu saja harus menunggu saat yang tepat. Jika moodku sedang buruk mana mau aku membicarakan masa lalu.”

Sooji mengunyah makanannnya dengan perlahan. Tangannya kanannya bergerak gelisah memelintir sumpit yang terjepit di antara ibu jari dan telunjuknya. Kepalanya menunduk berusaha berfokus pada mangkok nasinya namun nyatanya matanya sedari tadi melirik namja yang duduk dihadapannya dengan takut-takut.

Wae?” Tanya Sunggyu tiba-tiba –tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkok nasinya. “Samgyupsalnya tidak enak?” Sunggyu kemudian memperhatikan Sooji yang masih sibuk menatap mamgkok nasinya dan masih memelintir sumpitnya.

Sunggyu berdeham, berusaha membuat Sooji melihat ke arahnya, “Waeyo?”

Sooji membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu namun kembali menutupnya begitu tidak satupun kata yang keluar.

Sunggyu tersenyum simpul, “Waeyo?” Tanyanya lagi.

Saat ini Sooji dan Sunggyu sedang makan malam di restoran sederhana. Sunggyu yang menemukan Sooji masih mendekam di ruangannya pada pukul 8 malam, menyeret gadis itu untuk pulang bersamanya. Sebelum pulang, namja sipit itu mengajak Sooji untuk makan malam karena dirinya yakin Sooji belum makan. Dan seperti suasana makan malam-makan malam mereka sebelumnya, Sooji selalu gatal ingin menanyakan sesuatu kepada Sunggyu namun namja itu belum juga merespon pertanyaannya bahkan terkadang bersikap dingin saat Sooji bertanya. Membuat Sooji kesal dan juga sedikit takut setiap memberanikan diri untuk bertanya.

Sooji menghela nafas setelah mendengar Sunggyu mengucapkan waeyo untuk ketiga kalinya. Diletakannya mangkok nasinya dan sumpitnya ke atas meja. Nafsu makannya sudah hilang.

“Kau tahu apa, oppa.

“Memangnya apa?”

“Apa kita harus selalu melewati bagian ini, setiap kita makan malam bersama, oppa?”

“Bagian apa?”

Sooji mendesis, “Bagian aku bertanya padamu apakah aku sudah boleh bertanya soal kau tahu apa.”

Sunggyu tersenyum lagi. Sooji yang sedang memberengut kesal tampak sangat lucu di matanya.

“Menurutmu?”

Sooji menghela nafas kemudian menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Kurasa jawabanmu masih sama, aku masih belum boleh bertanya. Ayo, kita pulang saja.”

Sunggyu terkekeh, “Menurutmu begitu? Ah sayang sekali padahal tadinya aku sudah berubah pikiran.”

Sooji spontan menegakkan punggungnya, “Jinjja?”

“Tadinya niatku begitu tapi kau sendiri yang bilang kita pulang saja.”

Sooji melengos kemudian kembali menyender pada kursi, “Kau menyebalkan.”

Sunggyu tertawa lagi dan sedetik kemudian namja itu mengikuti jejak Sooji menyender pada kursinya.

Geurae. Kau boleh bertanya sekarang.”

Sooji menyipitkan matanya, “Jinjja? Jigeum?”

Sunggyu tersenyum kecil kemudian mengangguk. Dia rasa sudah saatnya Sooji mendengar ceritanya.

Sooji kini sudah duduk tegak dengan tangan bertopang. “Jadi?” bisiknya perlahan.

Sudut bibir Sunggyu kembali terangkat, “Jadi, apa Sooji? Sebutkan dengan benar apa yang ingin kau tanyakan.”

“Kim Myungsoo”, jawab Sooji cepat.

Kekehan kecil terlepas dari bibir Sunggyu. “Kau sudah tahu soal itu, untuk apa kau tanyakan lagi.”

Sooji menggigit bibir bawahnya kemudian menggeleng.

“Aku punya perkiraan tapi aku ingin.. memastikan”, bisik Sooji pelan

“Dia adikku.”

“Ne?”

Nae dongsaeng. Kim Myungsoo.”

Sooji mengerjapkan matanya. Sekali. Dua kali. Sooji sudah memperkirakan hal ini tapi mendengarnya langsung tetap saja mengejutkan.

“Kandung? Maksudku, kalian saudara kandung?”

Sooji menatap Sunggyu lekat-lekat. Memperhatikan bagaimana seringai kecil tercetak di wajahnya.

“Kalian saudara kandung”, Sooji menjawab sendiri pertanyaannya.

Sooji menghela nafas yang membuat Sunggyu tertawa.

Wae? Bukankah kau sudah menduganya? Kenapa jadi terkejut begitu?”

“Kalian tidak mirip.”

“Kata siapa kakak beradik harus mirip?”

“Tapi Myungsoo sangat mirip dengan Tuan Kim.”

Sunggyu berdecak kecil kemudian bersidekap, menyilangkan tangannya di depan dadanya.

“Sedekat apa kau dengan Myungsoo sekarang?”

“Sekarang bukan saatnya kau yang bertanya, busajangnim. Sekarang saatnya kau menjawab.”

Sunggyu menegakkan punggungnya kemudian meletakkan kedua tangannya di atas meja.

“Kurasa aku berhak bertanya soal Myungsoo, Sooji. Bagaimanapun dia adikku.”

Sooji mendengus kecil, “Myungsoo saja tidak pernah bercerita tentangmu.”

“Memangnya sebelum ini aku pernah membicarakannya?”

Sooji terdiam, tangannya megetik-mengetuk ujung meja dengan jari telunjuknya. Menimbang-nimbang pertnanyaan yang ingin dilontarkannya.

“Apa hubungan kalian tidak baik?”

“Menurutmu?”

“Tidak. Tidak baik.”

Sunggyu tertawa, “Itu kau sudah tahu.”

Sooji menggigit bibirnya, “Emm… Maksudku.. Kenapa? Myungsoo benar-benar tidak pernah menyebutkan soal kakaknya saat SMA dulu. Bahkan sampai saat ini, dia tidak pernah sekalipun mengyinggung soalmu, oppa.

Sunggyu kembali tersenyum kecil, “Kenapa tidak kau tanyakan pada Myungsoo?”

“Tidak bisa. Myungsoo selalu sensitif jika ditanya soal keluarganya.”

“Menurutmu, aku tidak?”

Sooji menundukkan kepalanya dalam-dalam. Merasa bersalah dan lancang menanyakan hal ini kepada Sunggyu. Tapi mau bagaimana lagi, setiap menanyakan soal Sunggyu pada Myungsoo, namja itu selalu bergeming. Myungsoo selalu membelokkna pembicaraan atau langsung berkata tegas bahwa sebaiknya Sooji bertanya pada Sunggyu. Membuat Sooji semakin sebal dan penasaran.

Aa..jwesonghaeyo jika pertanyaanku terlalu, err, mengganggumu, oppa.”

Sunggyu terkekeh kecil. Tangannya terulur mengacak pelan rambut Sooji.

Aigoo. Tidak perlu merasa bersalah begitu.”

Sooji mendongakkan wajahnya kemudian menatap Sunggyu takut-taku, Jadi? Kalian kenapa?”

Sunggyu kembali bersidekap kemudian memejamkan matanya sebentar. Dia kemudian menghela nafasnya dan menatap Sooji yang juga masih menatapnmya.

“Waktu itu, aku masih remaja  dan Myungsoo, yaa, dia masih kecil. Aku masih labil dan dia belum mengerti apapun. Kami berdua berbeda pendapat atau aku yang memaksakan pendapatku namun pada akhirnya kami berbeda kubu. Hingga saat ini, Aku mempercayai apa yang menurutku benar dan Myungsoo memegang teguh apa yang menurutnya benar.”

Hening. Sooji meresapi setiap kata yang Sunggyu ucapkan, berusaha memahami apa yang dimaksud oleh Sunggyu. Gadis itu kemudian memperhatikan bagaimana Sunggyu yang masih menatapnya dengan pandangan mata yang penuh kekecewaan.

“Apa ini soal orang tua kalian?” bisik Sooji pelan.

Sooji menyadari dirinya mungkin sudah kelewat batas, menanyakan hal yang mungkin sulit bagi Sunggyu untuk menjawabnya. Namun Sooji tidak bisa berhenti, dia begitu penasaran soal Sunggyu dan Myungsoo. Dua orang yang begitu berbanding terbalik. Dua orang yang ternyata kakak beradik. Dua orang yang belakangan ini selalu ada di sekelilingnya.

Sunggyu tersenyum tipis, Aku memilih oemma sedangkan dia memilih abeoji. Selebihnya kau tanyakan pada Myungsoo, Sooji”

“Katakan padanya, aku sudah menyelesaikan bagianku dan kini saatnya menjelaskan bagiannya. Dan katakan juga padanya untuk menemui oemma.”

 

-TBC-

Hi! Ada yang masih ingat ff ini?

Maaf update sangat lama. Maaf kalau ceritanya tidak memuaskan.

Awal bikin ff ini niatku mau bikin ff yang melow parah eh ternyata gabisa.

Kalau moodku lagi bagus, meskipun di kepala nyiptain adegan melow entah kenapa ga tersalurkan lewat tulisan aku.

Ketara banget amatirnya ya haha.

Seperti biasa drop comment ya. Kalau ada yang lupa ceritanya moonggo cek library.

Gomawo!

 

 

 

 

 

 

26 responses to “Mistakes and Regrets #13

  1. akhirnya update juga thor…
    suzy udah tau sekrg hubungan myung dan sungkyu…sungkyu kyknya ga suka deh sm suzy… munk dia aneh myung aja yaaa…kkk

  2. Ternyta memang benar, hubungan myungsoo dan sunggyu kurang baik. Aku jga penasaran banget kenapa? Dan kenapa jga orng tua mereka sampai bercerai?

  3. its been a long time… finally an update… i really love this story… please make sunggy aand suzy happened…

    thank you very much for an update/// really appreciate it

  4. Lupa lupa ingat sama cerita ini, tp penasaran juga dengan kelanjutanx.
    Apalagi dngan perasaan sunggyu ke sooji sebenernxa.

  5. Akhirnya ff ini muncul juga… Lucu liat perdebatan sunggu ama woohyun.. Setiap jawaban sungguu sedikit ngeselin ya hahaha…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s