[Song-Fict/Ficlet] Rough

39

September 2016©

xianara presents

A song-based story with Bae Suzy and INFINITE Kim Myungsoo

.

.

Kalau saja aku bisa berjalan menembus waktu dan menjadi dewasa, aku pasti akan menggenggam tanganmu di dunia yang gila ini… Rough by GFRIEND

.

.

part of Playlist-Fict

.

.

Pepatah mengatakan bahwa, waktu yang berjalan itu tidak bisa dihentikan. Sekali pun dengan mesin waktu, tetap saja tidak mungkin.

Jalannya waktu terkadang bisa begitu kencang seperti anak panah tentara Romawi yang dilesatkan. Atau selambat nenek moyang siput saat ikut lomba maraton. Maka tak heran, banyak orang yang suka memperlakukan waktu seenak jidat. Belum tahu saja mereka bagaimana akibat fatal yang akan diterima jika berani mempermainkan waktu.

Hal itu tetapi tidak berlaku bagi Bae Suzy. Baginya, waktu hanyalah sekumpulan masa yang memang ada untuk dilewati dengan begitu saja. Pun dengan memang tidak adanya waktu—yang kata orang kebanyakan pasti manusia miliki setidaknya lima momen berharga dalam hidup atau—berarti yang meruang bersama dengan memori di dalam kehidupannya selama ini.

Baik itu saat ia masih remaja SMU, kuliah di jurusan teknik listrik dua tahun lalu, hingga sampai menjabat sebagai staf senior di perusahaan pasokan listrik nasional di Korea. Dalam kurun waktu yang tidak bisa dibilang sedikit itu nyatanya Suzy berpikir memang tidak ada yang pantas menyandang label momen berharga.

‘Waktu itu Tuhan yang urus. Lantas, sebagai manusia apa kita masih ingin ikut campur? Wah, memang hidup kalian sudah setentram itukah sampai-sampai ingin ikut campur urusan Tuhan?’

‘Kok, ngomong-nya begitu?’’

Myungsoo, bukan hanya rekan satu divisi di kantor melainkan teman sepermainan sejak kelas tiga SMU itu lantas mempertanyakan apatis Suzy terhadap perihal yang satu ini dan hampir seluruh perihal dalam hidupnya. Pria berlesung pipi dalam itu selalu salah mengira waktu yang ada di dalam kehidupan Bae Suzy seperti dipaksa berhenti oleh gadis itu sendiri.

‘Kau seharusnya bersyukur masih bisa diberikan waktu oleh Tuhan, Sue.’

‘Yang seharusnya bersyukur itu adalah mereka yang selalu mengeluh dalam menjalani hidup ketika sudah diberi kelebihan dari orang-orang yang kekurangan. Nah, aku kurang bersyukur bagaimana?’

‘Seperti mengabikan kehadiran sang waktu? Eh?’

Entah apa yang di dalam tempurung kepala Bae Suzy. Myungsoo masih sulit untuk mengerti.

Bagi seorang mahasiswi lulusan Teknik Listrik yang satu setengah tahun mendapatkan mata kuliah umum Humaniora seperti Filosofi dan Sosiologi, gadis itu terlampau mendalami bidang turunan Thomas Locke dibanding Kalkulus Diferensial dan Integral, ataupun topik engineering yang menjadi mata kuliah khusus. Ah, bagi jurusan itu sendiri mendapati adanya satu anak cucu Hawa mengambil jurusan yang lebih genap digandrungi kaum lelaki tentu juga lebih sulit dimengerti.

‘Itu lain lagi masalahnya. Membiarkannya berjalan sebagaimana bekal kodrati yang Tuhan berikan tidak dapat dikatakan mengabaikan kehadiran sang waktu. Sudah kubilang ‘kan, aku tidak ingin menginterupsi pekerjaan rumah yang hanya bisa diurus oleh Tuhan.’

‘Ya, ya, atau tanpa sadar kau malah membuat dirimu sendiri berjalan tidak ke mana-mana.’

Akhir pekan menandai teritorinya dalam almanak kerja si gadis Bae. Menghabiskan waktu libur, Suzy lebih senang untuk berdiam diri di dalam flat ketimbang jalan-jalan ke pusat kota atau pusat perbelanjaan di Seoul.

Maraton film, memasak makanan kegemarannya, atau sekedar mendelegasikan tenaga untuk bebersih ruangan-ruangan di dalam flat adalah cara bagaimana Suzy tetap mampu berjalan di atas waktu yang sudah berhenti.

Ruang santai yang didominasi oleh warna putih mendapat sentuhan terakhir dari mode geser-menggeser perabotan sejak pagi tadi. Standing lamp dengan potongan kayu mahogany yang baru Suzy beli di IKEA dua hari yang lalu pun ia letakkan di samping sofa malas berwarna putih gading. Peluh menelusuri wajah hingga lekukan leher. Landasan busa sofa dibuat berderak lantaran Suzy membenamkan diri dari kelelahan setelah beres-beres.

Belum lama Suzy rehat, bel pintu flat-nya berdengung. Rasa-rasanya seperti ditekan oleh tamu tidak diundang. Dan seketika firasat itu benar. Myungsoo dan bungkusan yang mentereng tak pelak membuat mata Suzy berputar melihat ke monitor.

Oi, cepat buka. Aku tahu kau ada di dalam, Bae Suzy.”

‘Piip!’

Pintu flat terbuka dan tubuh jangkung Myungsoo segera menebas secuil jarak untuk masuk ke dalam. Mengganti sneakers dengan sandal rumah. Myungsoo melenggang masuk ke dalam setelah permisi singkat ke si empunya rumah.

“Ada apa kau sampai ke sini?”

“Memangnya kalau ke sini harus ada acara khusus, ya?”

Suzy menggeleng tak peduli. Matanya menyorot bungkusan yang kini tergeletak di atas meja kaca.

“Ah, aku main ke sini soalnya aku sedang bosan.” ungkap Myungsoo.

Suzy engan untuk ikut duduk di samping Myungsoo. Bungkusan yang dibawa pria itu kemudian menampilkan isinya. Yaitu seperangkat connector pen Faber-Castell dan satu buku doodle.

“Suzy-a, bisa tolong bantu aku untuk kali ini saja?” pinta Myungsoo tiba-tiba sesaat setelah sisi hampa sofa malas Myungsoo diisi Suzy.

“Katakan saja, “ jawab si gadis santai.

Suzy merasakan ada pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Namun dirinya terlalu enggan untuk sekedar mendengar dan malah mengabaikannya. Firasat lain dalam hatinya mengatakan agar tak usah menuruti ‘firasat lainnya’ selagi membantu sesama teman itu wajar terjadi.

Selanjutnya tatapan Myungsoo tidak seteduh seperti biasa. Meskipun sempat bergetar sedikit, pria itu masih bisa mengatur dirinya sendiri agar tetap tenang.  Melirik gadis di sebelah, Myungsoo hembuskan udara dengan lega. Beruntung Suzy tidak menyadari kegentingan yang sempat merajai Myungsoo barusan.

Waktu yang katanya selalu berjalan itu nyatanya bisa berhenti saat disetel dalam mode pause oleh Keanu Reeves.  Ruang dibuat tak berjarak bersama dengan waktu. Kotak tanpa garis yang membatasi. Dan, pada saat itulah biasanya orang memilih untuk berpaling dari waktu yang mampu mendekatkannya dengan orang yang mereka suka.

Anu, bantu aku menyelesaikan doodle ini bisa ‘kan?

“Bisa saja.” Suzy menyanggupi. Sebilah connector pen bercorak kulit pisang lalu Suzy ambil dari sarung yang terbuat dari kertas itu. “Ini seperti bukan kau yang biasanya, Myungsoo-ya. Tapi, ah, ya sudahlah. Ayo cepat kerjakan. Aku ingin segera tidur sehabis ini.”

Myungsoo lantas tersenyum tipis. Gusar yang bersarang di dalam tiap celotehan Suzy mengenai badan yang pegal-pegal karena mengatur ulang perkakas ruang tengah sejak pagi seorang diri malah makin lebarkan senyum Myungsoo.

Baik di dunia paralel atau ‘dunia’ yang mereka tempati waktu tetap akan berjalan dan tak akan pernah berhenti. Sekalipun berhenti, rangkaian momen yang terjalin tetap akan hidup di dalam sanubari.

Selama ini Myungsoo memang selalu saja salah mengira waktu yang ada di dalam kehidupan Bae Suzy seperti dipaksa berhenti. Tanpa mau mengakui jika dirinyalah yang telah berjalan menembus waktu di kehidupan gadis itu sendiri.

.

.

‘Bagiku, semuanya seperti mimpi yang jadi kenyataan. Seperti sebuah keajaiban.

.

.

.

Aku memang tidak bisa memberitahumu, aku mencintaimu.’[]


.

.

.

a/n:

sudah lama sekali saya tidak menulis pairing yang satu ini T_T  

feeling-nya yang kurang ya mohon dimaafkan ya.wks. anyway, thanks for reading! and stay health, Dreamers!

6 responses to “[Song-Fict/Ficlet] Rough

  1. Duh… enak banget bahasanya bikin melayang.
    Gumawo author,
    Btw, enak banget loh baca ff ini sambil dengerin lagunya infinite – 고마워 ,🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s