Another Cinderella #1 : Irene?

beach-friends-friendship-girls-glare-glow

 

A Fanfiction by Fanficfunny

.

Main Cast : Suzy, Irene|| Genre : Romance, Sad, Family, Friendship, School Life|| Duration : Chaptered|| Rating : PG-13+
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini milik agency mereka masing-masing tapi alurnya sepenuhnya milik saya.

****

.

.

.

Ibu adalah omong kosong!

.

.

Tak ada yang pernah tahu bahwa segaris huruf mampu membuat ruangan sunyi bergemuruh tangis. Tak ada yang tahu bahwa Jum’at ceria berganti suram dalam background pengap. Hingga setitik manusia pun, takan menyadari tak adanya pergolakn emosi dalam diri Suzy.

Namanya Bae Suzy.

Dia benci segala hal berbau keju, kalau ingin tahu.

Namun bukan itu yang menjadi topik hitsnya. Bukan pula deru tangis yang menggerung di dalam ruang kelas karena hal sepele. Momok yang di perbincangkan adalah fakta bahwa Suzy merasa dirinya berada dalam lingkaran alien yang tak diketahui jenisnya. Ia seperti tersesat dalam hutan angker yang di huni para mosnter. Merasa aneh dan paling berbeda.

Mata Suzy bertubruk sapa dengan layar di depan—yang kini sedang menampilkan wajah seorang wanita asing tengah menangis—menyebabkan ruang kelas makin menderu oleh banyaknya tangisan.

Lantas Suzy berpikir, Apa hebatnya wanita bernama ibu?

Aku menangis saat ibuku membandingkanku dengan orang lain—itu kata Jennie tempo hari yang lalu.

Sial! Ibuku tidak mengijinkaku pergi ke konser—Suzy masih ingat gerutuan Jisoo.

Aku benci ibu! Aku benci ibuku!—bahkan celotehan Chaerin saat SD masih tersimpan dalam otak Suzy.

Suzy melihat ekspresi teman sekelasnya. Dia menemukan Jisoo yang kemarin-kemarin mendumel tentang ibunya yang kejam karena membiarkan dirinya menangis semalaman di kamar akibat pelarangan keras menonton One Direction, tapi lihatlah dia kini. Persis seperti gadis umur lima tahun yang tidak di beri lolipop.

Suzy tercenung. Kenapa mereka selalu menangis hanya karena ibu? Apakah ibu adalah makhluk mulia yang patut di banggakan? Atau makhluk tanpa jasa seperti di dalam sajak-sajak orang-orang sok puitis? Omong kosong! Omong kosong tentang superhero ibu!

Ada banyak ibu di dunia ini yang membunuh anaknya demi urusan sepele. Banyak yang menjual anaknya dengan dalih kesulitan ekonomi. Bahkan seminggu lalu heboh berita ‘Seorang ibu membunuh anaknya karena benci dengan ayahnya’ –Tidak persis seperti itu sih kalimatnya. Tapi isinya tidak jauh dari itu. Kenapa dia tak membunuh suaminya! Kenapa justru membunuh anaknya yang tak tahu apapun!

Dan nyaris seluruh para ibu di alam semesta, pernah menjewer anaknya hanya karena marah. Lucu sekali semua orang mendiskripsikan sosok terkejam ibu, sebagai malaikat tanpa sayap.

Jadi kenapa teman-temannya menangis?

Hanya karena seorang wanita menyeramkan?

Ibuku membelikanku ponsel terbaru. Tara~~ keren kan? Ini model terbaru—kicauan Natty yang sempat terdengar oleh cuping telinga Suzy.

Dah Suzy, ibu sudah menjemputku—seorang teman masa kecil, yang membuat Suzy cemburu mati-matian. Yang bahkan nama dan kehadirannya terlupakan oleh Suzy. Ia hanya ingat anak itu selalu bertengkar dengan Suzy.

Ibuku adalah ibu terbaik—nyaris separuh kelasnya bergumam seperti itu.

Benarkah ibu adalah makhluk terkejam, atau hanyalah pelarian Bae Suzy atas fakta yang di terimanya. Tak bisa di sangkal, ibu adalah sosok yang membuat Suzy menjadi orang paling aneh sedunia. Ibu yang membuatnya sengsara karena keirian.

Dulu dirinya di penuhi oleh emosi iri. Ia iri saat teman kecil bercerita bahwa rambutnya diikat oleh ibunya. Suzy menarik rambut temannya—ia tak tahu alasannya. Ia hanya tak menyukai orang yang memamerkan ibu mereka di depannya.

Ia iri saat teman TK-nya menangis karena telat d jemput ibu mereka. Suzy kecil berwajah muram, begitu mendapati Agatha tersenyum padanya—pembantu ayahnya yang selalu menjemput Suzy dan memberikan perhatian. Satu-satunya sumber kehangatan hanya ada dalam diri Agatha. Sayangnya Agatha terlalu tua untuk di jadikan ibu bohongannya. Jadi Suzy kecil tak mampu memamerkan pada teman-temannya bahwa Agatha adalah ibu terbaik di seluruh alam semesta, merwka pasti bilang, ‘Dia terlalu tua dan jelek untuk jadi ibu’

Ia pernah bertanya tentang eksistensi ibunya pada Agatha. Namun Agatha langsung diam, membuyarkan kosentrasi Suzy kecil dengan pertanyaan menggoda. ‘Suzy nanti mau es krim cokelat atau vanilla?’ membuat dunia muram Suzy kecil berubah berwarna.

Di umurnya yang menginjak delapan tahu. Suzy baru tahu dari ayahnya, bahwa ibu yang diimpikannya. Bahwa ibu yang diinginkannya melebihi adik kecil yang lucu, sudah meninggal. Suzy tak tahu harus menampilkan ekspresi macam apa saat ayah membawanya ke makam ibunya.

Untuk pertama kalinya Suzy menangis. Suzy menangis karena ibu dalam mimpinya akan selalu menjadi mimpinya. Suzy menangis karena—dia tahu fakta sejujurnya. Ibunya meninggal karena melahirkannya. Suzy menanngis karena dia bersyukur setidaknya pernah mempunyai ibu

Kenapa ibu tak bisa bertahan sedikit? Sebentar saja, atau setidaknya beri satu adegan yang mampu dijadikan kenangan. Dan kenapa Tuhan sangat jahat! Kenapa dia tega meninggalkan Suzy sendirian tanpa ibu. Suzy juga ingin di gendong ibu. Suzy juga ingin di marahi dan di pukul ibu karena nakal. Suzy juga ingin dipeluk ibu saat Suzy menangis.

Suzy menginginkannya.

Tapi kini Suzy tak lagi menginginkannya. Hatinya terlampau beku untuk di lelehkan oleh vidio para ibu yang penuh kasih pada anaknya.

Kalau boleh jujur, Suzy muak dengan topik itu. Suzy muak menangis karena ibu. Suzy muak.

“Maafkan aku ibu.” Natty teman sebangkunya—bergumam lirih. Andai saja ia yang di posisi Natty, apakah hatinya mampu berdenyut karena marah, sedih, menyesal?

Hati Suzy kembali trenyuh. Ada rasa sakit tersendiri yang menggarang di dadanya, menciptakan sesak yang tiada kira. Dengan gerakan cepat Suzy menyumpalkan aerphon pada telinganya. Suduh cukup selama ini ia menangis karena ibu. Tidak lagi.

Dentuman musik WYD milik Ikon membuat mozaik itu buyar. Huh, untung saja Guru Im mematikan lampu ruang kelasnya. Jika tidak mungkin sekarang ia sedang meneriaki Suzy, tentang ketidak sopanannya. Atau mungkin mengkliamnya sebgaai anak durhaka.

Kalau Suzy menangis justru terlihat tolol! ‘Kenapa menangis karena ibu jika tidak punya ibu’

Tak hanya satu, tapi ada dua vidio yang di persiapkan Guru Im. Suzy menghela napas, frustasi akan penderitaannya. Kenapa Guru Im tidak memikirkan anak-anak yang tak beruntung seperti dirinya. Oh iya lupa, anak yang tak beruntung itu hanya Suzy. Suzy sendirian yang mendapat tittle; gadis berumur empat belas tahun yang tak punya ibu.

Guru Im—sekumpulan lemak dan daging yang membentuk gumpalan, tersenyum psikopat saat melihat anak didiknya menangis haru. Wajahnya menampilkan ekspresi luar biasa gembira, karena membuat kelas kami menjadi drama kacangan. Suzy tak tahu isi kepala Guru Im saat itu. Maksudnya ayolah, dia guru Fisika, ada banyak rumus yang belum diajarkan Guru Im pada mereka. Ada banyak soal yang menuntut di selesaikan, tapi Guru Im mengorbankan waktu berharga mereka untuk sebuah vidio—oh sial! Suzy lupa Guru Im menyiapkan dua vidio. Ingatkan Suzy untuk menuntut Guru gempal itu lain waktu, dengan tuduhan pelalaian tugas.

Vidio kedua bercerita tentang pengorbanan seorang ayah.

Tadi ibu, sekarang ayah. Apa Guru Im sekarang sedang mengolok-olok Suzy. Bukannya Suzy tak mempunyai ayah. Hanya saja, ayahnya…

Suzy menghela napas—lagi.

Ayahnya seorang CEO perusahaan. Jika Natty yang di posisi Suzy dia mungkin sekarang sedang berjoget sembari memamerkan status ayahnya, ‘Ayahku seorang CEO. Ayahku dapat penghargaan. Ayahku super sibuk. Ayahku super kaya’ Natty hanya tak tahu bagaimana lelahnya menjadi anak CEO yang terlantar. Bagi Suzy, menjadi seorang karyawan swasta seperti ayah Natty satu juta kali lebih baik. Setidaknya mereka mempunyai hari libur yang bisa dihabiskan bersama tiap minggunya.

Kelebihan ayah CEO adalah Ayahnya tak pernah memberikan atensi padanya. Sedari kecil Suzy lebih sering melihat punggung ayahnya ketimbang wajah suntuknya. Satu-satunya memori yang patut di banggakan adalah saat dirinya diantar jemput dan saat perayaan ayah sedunia, menyaksikan para biantang, menonton film animasi di bioskop, dan memakan es krim kesukaanya.

Itu saat umurnya masih enam tahun dan Suzy juga yang memaksanya. Selain itu? Suzy tak ingat apapun perihal ayahnya sang CEO.

Seiring berjalannya waktu, hati Suzy telah membeku secara sendirinya. Tapi Suzy suka saat ayahnya mencoba memulai konversesi dengannya. Ayahnya selalu menjadi orang yang menyenangkan. Seandainya pekerjaan ayahnya hanya berada di lingkup Weekdays mungkin Suzy takan pernah menyesali menjadi seorang Bae Suzy. Tapi yeah—Suzy berbicara tentang ayahnya yang lebih mencintai bisnis ketimbang dirinya. Miris sekali.

Suzy memalingkan wajahnya, melihat ekspresi teman-temannya. Semuanya terpaku pada layar masih dengan tisu di tangan. Pandangan Suzy berkeliling, matanya memicing saat melihat salah satu teman SMP nya Irene terlihat aneh. Suzy pikir matanya salah lihat. Di pojok sana Irene dengan wajah datarnya memakai headseat tanpa menilik satu adegan pun di layar utama.

Waow!

Suzy menaikan alis tertarik. Setahunya namanya Irene. Gadis baru yang anti sosial dan sangat jarang tersenyum. Dia anak orang kaya, bahkan mungkin paling kaya. Kabar burung mengatakan dia termasuk jajaran gadis konglomerat nomor sekian di Seoul—wah apa Irene juga mengalami hal yang sama dengan Suzy? Nah benar kan, kekayaan hanya mampu menyebabkan orang menderita.

Tapi sayang sekali dia sangat menyebalkan dan sombong untuk ukuran gadis berumur empat belas tahun. Dia suka sekali mengintimidasi dengan mata besarnya, kemudian membuang wajah seolah-olah tak terjadi apapun saat tertangkap basah. Membuat semua gadis membenci nona sok keren. Walaupun Suzy akui dia keren dan kaya, yang sialnya juga cantik. Tapi toh apa gunanya jika dia mempunyai kepribadian menjengkelkan.

Banyak yang ingin mendekatinya, tapi Suzy pikir para lelaki sudah menjatuhkan bendera putih duluan melihat wajah mengerikannya.

Irene balik menatap Suzy. Membuatnya gugup setengah mati. Suzy pura-pura berkeliaran ke manapun, bertingkah kalau dia hanya tak sengaja melihat Irene.

Anehnya, Irene tak mengindahkan fokusnya pada Suzy seperti biasanya. Dia justru melihat Suzy tanpa berkedip. Tak mau membuat jantungnya meloncat keluar, Suzy memutuskan melihat ke layar depan.

Duh. Sebaiknya besok-besok lagi Suzy harus berhati-hati dengan mata jahat Irene.

Bel berbunyi dengan nyaring, membuat seluruh rasa syukur patut di lontarkan Suzy. Tak ada drama ayah dan ibu lagi, (dan Suzy bisa kabur sebelum Irene melabraknya)

“Jisoo-ah ayo ke kan—“ wajah Suzy memucat melihat Irene menghampirinya. Suzy bukan orang pecundang tapi menghadapi Irene—kalah menang pun pasti kena masalah.

“Ayo kita berteman.”

Suzy kebingungan, tubuhnya yang sudah begetar ketakutan karena diintimidasi Irene menjadi aneh setelah mendengar penuturan Irene saat istirahat.

“Apa?” Suzy berseru histeris.

“Ayo kita berteman.”

Entah kenapa perut Suzy jadi mulas.

 

END

Ini baru nyeritain persahabatan Suzy & Irene.

Masih bingung sama Cast Cowoknya. Menurut kalian siapa Cas cowoknya?

Mark Tuan

cmrn7lsuwaaq_oo

Myungsoo

unnamed (9)

Kim   Jongin

tumblr_mhyg9yqq2k1rrptnwo1_500

Oh Sehun

asian-asian-boy-baekhyun-black-and-white-favim-com-2851455

15 responses to “Another Cinderella #1 : Irene?

  1. aku baru aja baca ini dan keren, aku kira itebe sama suzy itu saudaraan atau saudara tiri loo, ternyata mereka mgkn memiliki kesamaan aja..
    keren, ditunggu kelanjutannya ^^

  2. aku udah curiga sama Irene di sini hohoho. dan jujur, ceritanya menarik. aku pengin ngikutin lebih lagi🙂 untuk cast cowoknya, gahhhhh aku ga bisa pilih :””””
    hehe, pokoknya kelanjutannya ditunggu ya~ semangat ^^

  3. Pingback: [Drama Quotes] #Princess Hours | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s