[Freelance] Mirror Chapter 4

Title : Mirror  | Author : Man Ri Ra | Genre :  Angst, Romance, School-life | Rating : T | Main Cast : Bae Suzy, Oh Sehun | Other Cast : Jung Soojung, Kim Myungsoo, etc

·

·

·

Notes: Story is mine. Don’t bashing. I hate plagiat. Sorry for typos and enjoy!
·

·

·

M I R R O R    /chapter 4/
————————-

·

HAPPY READING!!

.

 

Oh Sehun berdiri termangu didepan pintu utama keluarga Bae. Mengingat bagaimana dengan jelas tekad nya yang bulat untuk datang ke rumah Suzy malam ini, berharap dengan keputusannya ini, ia bisa lebih dekat dengan Suzy. Tapi mendadak ia menyesal setelah berhasil menginjakkan kakinya didepan pintu, seharusnya ia tak senekad ini untuk melancarkan rencana utamanya. Bagaimanapun ini adalah kali pertama ia pergi kerumah gadis yang bahkan bukan siapa-siapanya. Bagaimana jika ia bertemu keluarga Suzy dan mereka akan mengancamnya karena berniat menyakiti puteri mereka? Astaga pikirannya sudah mulai ngelantur.

 

Apa yang akan dilakukannya? Ia mendadak merasa gugup.

 

Sehun menghela napasnya. Mengumpulkan rasa percaya dirinya sebelum akhirnya memilih untuk menekan bel. Tak butuh waktu satu menit, pintu utama itu terbuka. Wajah pertama yang ditemuinya adalah seorang wanita cantik yang mengenakan apron berwarna biru. Sehun menebak wanita itu adalah nyonya Bae dirumah ini.

 

“Selamat malam, bibi,” sapa Sehun kikik dengan membungkuk hormat. Bibirnya menampakkan senyum lebar. Ia merasa dirinya tampak konyol sekarang.

 

“Iya selamat malam. Ada perlu apa anak muda?” nyonya Bae mengerutkan kening samar. Manik nya memindai anak muda tampan yang berada didepannya ini. Apakah ia salah satu perawat rumah sakit tempat suaminya bekerja?

 

“Saya teman Bae Suzy,” Sehun berujar sopan.

“Eh, teman?” seru Ny. Bae tak percaya. Sejak kapan puterinya itu punya teman pria yang begitu dekat sampai mendapat kunjungan seperti ini. “oh, masuklah nak. Aku akan memanggilkan Suzy dulu.”

 

Nyonya Bae melesat cepat meninggalkan Sehun yang menghembuskan napas lega. Kakinya dengan percaya diri melangkah masuk lebih dalam di kediaman keluarga Bae. Ia memilih mendudukkan dirinya diatas sofa merah berbahan beludru. Sedang maniknya menjelajahi setiap sudut rumah yang tertangkap dalam retinanya.

 

Rumah yang nyaman. Tiga kata itu menggambarkan apa yang Sehun lihat dari rumah ini. Rumah yang cukup besar dengan penataan yang  elegan, terlihat sederhana namun terkesan mahal. Satu set sofa yang berada ditengah ruangan yang menghadap jendela besar. Sehun menebak apa yang berada dibalik jendela itu adalah taman sederhana yang tanami berbagai bunga. Sebelum ia puas mengamati rumah ini, sebuah suara derap langkah menyita perhatiannya.

 

Dari arah yang berlawanan dengan arah menghadapnya sofa, gadis berkepang itu berjalan tergesa kearahnya. Sehun nyaris terpesona pada Bae Suzy yang mengenakan hot pants yang dipadu dengan sweater berwarna tosca jika saja ia tak ingat bahwa gadis itu adalah calon korban taruhannya.

 

“Hallo, Suzy,” sapa nya. Ia tersenyum puas melihat gadis itu begitu terkejut melihatnya disini. Sehun meringis melihat bagaimana Suzy hampir saja terjungkal, benar-benar tontonan yang konyol.

 

“Kau, Sehun sunbae?”

 

“Iya ini aku,” jawab Sehun kelawat santai, membuat gadis itu melebarkan kedua bola matanya dan menderapkan langkah semakin cepat mendekati Sehun.

 

Suzy melipat kedua tangannya di dada seraya menatap Sehun sengit. “Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa masuk?”

 

“Lewat pintu,” Sehun menyeringai senang melihat bagaimana gadis itu menatapnya seakan sedang melihat hantu.

 

“Astaga, aku tak percaya ini!”

 

“Dimana Barrie? Aku benar-benar merindukannya,” ujar Sehun seraya mengedarkan pandangannya keseliling gadis tu.

 

Suzy menatap Sehun seakan pria itu memiliki tiga lubang hidung. Bagaimana pria sinting itu mengatakan merindukan Barrie, si kelinci peliharaannya, padahal pria itu sama sekali belum pernah menjumpai hewan peliharaannya itu. Ia mendengus, ”Kau pulang saja, Barrie sudah tidur.”

 

“Kau yakin?”

 

“Sudahlah, lebih baik kau pulang saja sebelum orang tu. . .”

 

“Suzy-ah, ajak temanmu makam malam bersama.”

 

Belum sempat Suzy menyelesaikan kalimatnya, seruan ibunya membuatnya mencebik. Tadi ia menyuruh sehun pulang agar orangtuanya tidak mengajak pria itu makan malam. Jika itu benar terjadi, maka ia yakin sekali dimeja makan nanti Sehun akan ditanya macam-macam seperti; Kapan kalian kenal? Dimana kalian bertemu. Layaknya pertanyaan yang akan ditujukan kepada calon menantu.

 

Menantu? Suzy meringis pelan, rasanya otaknya mulai error. Tapi bagaimanapun juga, Sehun adalah pria pertama yang pernah mengunjungi rumahnya selama dirinya menginjak bangku Senior High School. Sudah cukup lama jika yang terakhir adalah semenjak Junior High School.

 

Tapi sudah terlambat kan? Saat ini ibunya malah berbincang nyaman dengan pria itu. Entah apa yang dibicarakan, tapi Suzy berharap Sehun menolak ajakan makan malam bersama yang ditawakan ibunya.

 

Lagi-lagi harapan Suzy tidaklah berguna. Nyatanya kini Sehun menyeringai kearahnya seraya berjalan mengikuti ibunya menuju ruang makan.

 

Dengan langkah terseok yang sangat dipaksakan, Suzy mengikuti mereka. Dalam hati gadis itu mengutuk, menyumpah serapahi kehadiran sehun yang sangat-tidak-pernah ia harapkan bahkan bayangkan. Rupanya niat pria itu siang tadi dikedai es krim terlaksana juga sekalipun ia mengancam pria nekad itu.

 

Suzy melirik Sehun yang sedang beramah tamah dengan ayahnya. Entah itu perkenalan atau sekedar pertanyaan tentang jenis kelamin, Suzy benar-benar tak perduli. Pikirannya sedang kacau, bingung dengan apa yang akan ia jelaskan nanti kepada ayahnya yang sangat suka mengintrogasinya, dan kali ini ia akan mendapat kuliah gratis dari ayahnya tentang kemunculan makhluk bermarga Oh itu dirumahnya.

 

“Suzy-ah, kau tak pernah cerita punya teman pria.”

 

Suara ayahnya menyentak Suzy untuk segera sadar dari dunia khayalannya. Gadis manis itu hanya bisa menggaruk telinga bagian belakangnya yang tidak gatal, kebiasaan kecilnya ketika tengah kebingungan menjawab sesuatu. Dengan gerakan lambat yang terkesan dipaksakan, Suzy membawa dirinya untuk duduk dikursi makan, berhadapan dengan Oh Sehun yang sedang menatapnya geli. Tanpa sadar ia mendengus, mengutuk Sehun yang tidak terihat cool lagi, tapi terlihat menyebalkan.

 

“Kalian teman sekelas?” tuan Bae mulai bertanya seraya meneima sebuah mangkuk berisi nasi dari isterinya.

 

“Tidak paman, saya adalah sunbae Suzy disekolah,” jawab Sehun sopan membuat Suzy heran, ternyata pria sejenis Sehun bisa ramah juga.

 

“Makan yang banyak, nak,” Nyonya Bae memberikan mangkuk nasinya kepada Sehun. Lalu mengalihkan atensinya kepada puterinya. “Suzy-ah kenapa kau bengong saja? Cepat makan, ambil sendiri nasinya.”

 

Suzy mengerucutkan bibirnya kesal. Sebenarnya anak ibunya itu dirinya apa Sehun, sih? Kenapa ibunya lebih perhatian pada pria itu ketimbang dirinya.

 

“Sepertinya setelah makan malam, ayah dan ibu akan keluar sebentar,” ujar Tuan Bae setelah meneguk air putih.

 

“Kemana?”

 

“Tentu saja kencan. Kau pikir hanya kau saja yang bisa kencan?” seru ibunya menimpali dengan nada becanda.

 

Sehun yang sedang meneguk air putihnya tersedak. Entah kenapa ia merasa geli mendengar orangtua Suzy yang masih ingin seperti kaum muda. Keluarga yang hangat.

 

“Kau tak apa, Sehun-ah?” seru Ny. Bae khawatir.

 

“Aku baik-baik saja kok,” jawab Sehun kalem seraya mengelap mulutnya, hatinya menghangat mendapat perhatian seperti itu.

 

Suzy mencibir pelan melihat ibunya yang begitu perhatian kepada Sehun. “Kalau begitu, belikan aku es krim jumbo rasa strawberry setelah kalian pulang kencan.”

 

Yeobo, apa kau baru saja mengatakan uri Suzy kita pergi kencan?” tuan Bae menatap isterinya penuh tanya.

 

“Tentu saja, Soojung yang memberitahuku pagi tadi.”

 

“Astaga! Suzy kita sudah besar,” goda ayahnya.

 

“Tidak, itu salah paham. Soojong bohong,” seru Suzy panik, dirinya bergerak gusar.

 

“Apakah bersamamu Sehun?” Tuan Bae bertanya kepada Sehun.

 

“Mana mungkin!” Suzy berseru lantang membuat Sehun menyeringai jahat, sepertinya membuat Suzy panik akan lebih menyenangkan.

 

Dengan memasang wajah memelas, Sehun menatap Suzy dalam, “Kau melupakan kencan kita hari ini ya? Jahat sekali.”

 

Orangtua Suzy melongo kemudin tertawa melihat puterinya yang menatap Sehun galak. Sedangkan Sehun tertawa pelan seraya membalas tatapan Suzy dengan kedipan lucu.

 

“Mati kau Sehun!!”

 

 

 

Bersambung…..

 

 

 

Sorry becanda wkwkkw, jangan bosen ya, masih ada kelanjutannya.

Cuman mau ingetin kalo kelanjutannya gak begitu keren><

 

 

*

*

 

 

Suzy masih menekuk wajahnya meskipun makan malam sudah selesai lima belas menit yang lalu. Kedua oangtuanya baru saja pergi keluar, meninggalkan dirinya berdua saja dengan Sehun. Tentu saja ada satpam didepan sana, tapi  rasanya sama saja karena didalam rumah hanya ada mereka berdua.

 

“Jadi ini kelincimu itu?” Suara Sehun menyentaknya untuk segera menghampiri pria itu yang dengan seenak jidatnya memangku si Barrie.

 

“Kenapa kau mengeluarkannya dari kandang?” Suzy bertanya sengit.

 

Mereka kini berada di dekat halaman samping rumah yang disulap ibunya menjadi taman kecil tempat Barrie bermain. Taman kecil ini begitu nyaman, biasanya Suzy menghabiskan sore harinya dengan duduk dibangku yang menghadap berbagai jenis tanaman bunga milik ibunya seraya bermain-main dengan Barrie.

 

“Kau harus membiarkannya menghirup udara bebas,” kata Sehun seraya mengelus-elus bulu kelianci Suzy.

 

“Tentu saja kulakukan disiang hari sampai sore,” jawab Suzy sambil lalu, dirinya beranjak mendekati kulkas dan mengambil teh botolnya.

 

“Kau tak menawariku? Aku juga tamu.”

 

“Apa?” Suzy bertanya acuh, sama sekali tak mengerti arah pembicaraan pria itu.

 

“Tentu saja minuman yang kau pegang itu,” balas Sehun sinis.

 

“Oh,” Suzy menangguk kemudian meneguk minumannya lagi, “Kau bukan tamuku, aku tak pernah mengundangmu.”

 

Sehun mengedik acuh. Dirinya memang ta berniat pulang. Entah kenapa ia betah sekali berlama-lama disini. Rumah ini memiliki suasana nyaman apalagi keluarga Bae menyambutnya dengan hangat.

 

“Oh ya, kelincimu sendiran. Bagaimana jika kelincimu nanti ingin menikah?”

 

“Eh?” Suzy mengangkat sebelah alisnya bingung. Sebenarnya apasih yang mau dibahas pria itu. Tapi tak urung membuatnya menjawab juga, “Dia belum cukup umur menikah, Barrie masih remaja.

 

Sehun melongo beberapa saat sebelum akhirnya tertawa. “Kau menyamakan kelinci dengan manusia? Kau pikir kelincimu ini bisa bertahan sampai 17 tahun disaat umur manusia beranjak remaja?”

 

“Kau pikir aku bodoh?” ujar Suzy sinis. “Aku sangat tahu kapan waktu kelinci menikah. Kau tau, aku merawat Barrie sejak lahir. Sebelum Barrie aku merawat dua kelinci beda gender sekaligus yang merupakan orangtua Barrie. Tapi sayangnya, Romeo dan Juliet sudah mati.”

 

“Kau memberi nama kelincimu Romeo dan Juliet? Benar-benar konyol,” tukas Sehun seraya menggelengkan kepalanya heran.

 

“Kau saja tak tahu betapa berharganya mereka,” ujar Suzy dengan pandangan menerawang.

 

Sepertinya Sehun tak perduli pada Suzy yang kini malah melamun, melemparkan pandangannya kepada taman kecil yang terlihat terang berkat lampu yang terpasang disetiap sudut. Pria itu memandang kelinci lucu bewarna putih itu dengan seksama. Seketika dahinya berkerut samar, sejak kapan dirinya tertarik pada bintang-bintang lucu begini? Terakhir dirinya merawat binatang adalah sewaktu ia masih di taman kanak-kanak dengan memelihara anjing. Setelah itu ia tak pernah memegang binatang sampai seintens sekarang ini.

 

“Pulanglah, aku mengusirmu. Sejujurnya aku tak nyaman melihatmu disini apalagi dengan tak ada siapapun dirumah,” ujar Suzy jujur, mengatakannya dengan lembut dan sabar berharap pria itu mau mendengarkannya.

 

Sehun mengangguk paham, lalu mengalihkan atensinya kepada Suzy setelah memasukkan kelinci itu kedalam kandang. “Kau pikir apa yang dilakukan dua orang lawan jenis didalam satu ruangan yang sepi?” sehun menyeringai seraya berjalan lambat mendekati Suzy. Menggoda gadis itu sepertinya menyenangkan.

 

“Jangan mendekat!” suzy berseru panik. Entah kenapa ia jadi teringat adegan dalam novel-novel roman yang sering ia baca. Jika ada adegan seperti ini biasanya berakhir dengan ciuman.

 

Tunggu! Ciuman?

 

Suzy memukul kepalanya tanpa sadar merasakan pikirannya mulai tak sejalan. Mana mungkin Sehun akan melakukannya. Jika itu benar terjadi, ia akan memastikan Sehun akan pulang dengan satu kaki.

 

“Kau lucu sekali,” tawa Sehun membahana, menghancur-leburkan mood Suzy yang memang sudah buruk. “Baiklah aku pulang dulu. Kapan-kapan aku akan kembali.”

 

Sehun melesat pergi sebelum Suzy membalas perkataan pria berambut hitam kelam itu.

 

Suzy mengedik acuh seraya melirik jam yang sudah menunjukkan jam setengah sembilan. ia menghela napas, hari yang buruk. Kedatangan Sehun yang sangat tidak diharapkan. Lebih baik ia segera kembali kekamar lalu tidur nyenyak dan mengumpulkan kembali sisa kesabarannya. Barang kali besok ia harus lebih bersabar lagi menghadapi Oh Sehun yang menjengkelkan.

 

Tunggu, apa ia melupakan sesuatu?

 

Apa sehun tadi berkata kapan-kapan aku akan kembali?

 

Dan suzy tau, Sehun cukup berbahaya jika sudah nekad. Ia tahu, bahwa permainan tidak akan semudah apa yang ia pikirkan.

 

 

 

 

 

B e r s a m b u n g

.

.

 

.

.

 

.

 

.

.

 

.

.

 

 

Haloooooooooooooooooooo???? Chp 4 cukup panjang kan? 1800+ words.

Ada yang kangen? Oke deh makasih udah yg nunggu kelanjutan ff abal2 ini.

Komentar kalian mendorong semangatku buat lbih baik lagi.

Maafff bgt udah bnyk mengecewakan.

Aku selalu baca komntar kok meskipun ga aku bales satu2. Bukan sombong atau sok sibuk

Tapi aku lg syuting banyak tugas jd pas nerusin ff ini aku nyelip2 diantara waktu kosong,

Belum lagi kalo pas mood down.

Okedeh apapun itu, jgn lupa RCL ya, loveee you readers and see you again!

16 responses to “[Freelance] Mirror Chapter 4

  1. Lucu bgt ni couple… Kira2 ntar sehun bakal suka beneran ga ya ma suzy,,,iya niii kpn myung nya dmunculin kkkkkkk…next fighting

  2. wah ini yang aku tunggu,keren authornim..
    ah aku senyum-senyum sendiri baca nya,manis nya hunzy.
    ohoho apakah sehun udah mulai suka ni sama suzy, ahhh gereget aku bacanya..
    baiklah aku tunggu chapter selanjut nya authonim…
    semangat terussssss..

  3. yey,,, seneng banget uda di post..
    suka bangey chapter ini thor, keren banget dah. sehun lucu banget, buat senyum2 gak jelas baca ff ini. pokonya keren banget deh thor. always ditunggu next updatenya. gomawo and fighting authornim

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s