Mistakes and Regrets #14

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

 Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo, Kim Sunggyu

 

Poster by animeputri @High School Graphics

I don’t own anything besides the storyline

 

 

Broken

 

Klek

Sooji membuka kamarnya pelan kemudian menyalakan lampunya. Setelah mendengar omelan yimonya soal dirinya yang terus-terusan kerja lembur, akhirnya dirinya bisa melarikan diri ke kamarnya. Entah mengapa hari ini benar-benar melelahkan. Selesai membersihkan dirinya dan menerima secangkir teh dari Bibi Ham, Sooji merilekskan tubuhnya di atas kasur. Setelah meminum tehnya hingga habis, tangannya meraih kotak musik yang berada di atas nakas. Kotak musik sederhana berwarna auburn. Kotak musik pemberian Sunggyu. Sambil menyalakan kotak musiknya, pikiran Sooji kembali mengingat obrolannya malam ini dengan Sunggyu, “Kim Sunggu dan Kim Myungsoo,” Gadis itu kemudian menghela nafas, “Dunia itu memang sempit sekali.”

Drttt drrttttt drrtttt drrrttttttttt

Sooji mengerang perlahan begitu mendengar ponselnya yang bergetar di atas nakas. Namun dia tidak peduli, gadis itu memilih menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya.

Drttt drrttttt drrtttt drrrttttttttt

Drttt drrttttt drrtttt drrrttttttttt

Drttt drrttttt drrtttt drrrttttttttt

“Araarghh!” Sooji berteriak kesal sambil menyingkap selimutnya. Matanya melirik jam digital kecilnya. Pukul 02.43. Sooji mengacak rambutnya kesal. Siapa pula yang membuat panggilan pukul 2 pagi?

Drttt drrttttt drrtttt drrrttttttttt

Sooji menghembuskan nafasnya keras-keras begitu mendengar ponselnya kembali bergetar.

Yeoboseyo?” Jawab Sooji malas.

“Sooji?”

Ne?”

“Astaga. Kenapa susah sekali menghubungimu, sih?”

Sooji mengerutkan dahinya. Dijauhkannya ponselnya dari telinganya kemudian diliriknya nomor pemanggil yang tertera di layarnya. Nomor tak dikenal.

Nuguseyo?” tanya Sooji.

“…” Diam tak ada jawaban

Yeoboseyo? Yoboseyo?”

“YYYAA!!!!!! Kau tidak mengenali suaraku?” Seketika Sooji meringis begitu suara kencang si penelfon menghantam gendang telinganya.

YYA, IMMA!! Kau kira menelfonmu itu murah apa? Dasar nappeun! Dwesso. Aku tidak akan pernah menelfonmu lagi!”

Klik

Dan panggilanpun diputus. Sooji mengerjapkan matanya bingung. Diliriknya lagi nomor yang baru saja menelfonnya. Nomor asing. Tapi.. tunggu +81? Sooji memekik begitu menyadari siapa yang baru saja menelfonnya. Jieun. Kini kesadarannya sudah kembali. Dengan cepat ditelfonnya kembali nomer yang masih terpajang di layar ponselnya. Berkali-kali, Sooji melakukan panggilan namun hasilnya nihil. Jieun tidak mengangkatnya. Sooji mendesah, Jieunnya marah. Sooji mengumpat kesal, lagipula apa yang dipikirkan Jieun sih menelfon saat dini hari? Padahal Seoul dan Tokyo juga nyaris tidak memiliki perbedaan waktu. Sooji kembali menekan layar ponselnya dengan gusar, “Lee Jieun, angkat telfonmu.”

Woohyun memperhatikan bagaimana sepupunya –yang duduk di seberangnya, mengambil rotinya dengan malas kemudian memakannya begitu saja, bahkan tanpa selai. Woohyun memperhatikan bagaimana mata Sooji yang terlihat lelah dengan lingkaran hitam di bawahnya. Woohyun sedikit panik, sejak kapan zombie Sooji kembali lagi? Bukankah belakangan ini Sooji sudah bisa tidur dengan nyenyak –berkat kotak musik dari Sunggyu?

“Hey, Sooj. Kau tidak apa-apa? Kau tidak terlihat baik.”

Pertanyaan Woohyun hanya dibalas gelengan kepala oleh Sooji.

“Ada apa, Sooji? Kau sulit tidur lagi? Atau kau bermimpi buruk lagi?”

Lagi-lagi Sooji menggeleng, namun kin seulas senyum tipis terlihat di bibirnya. Kenyataannya bahwa sepupunya begitu memgkhawatirkannya membuatnya senang.

“Lalu mengapa lingkar hitam di bawah matamu semakin terlihat? Kau jelas kurang tidur, Sooji. Jebal, bukan karena pekerjaan ‘kan? Jika iya, oemma bisa memenggalku.”

Sooji terkekeh kecil melihat Woohyun yang sedikit panik. Memang benar kata Woohyun, jika benar Sooji kurang tidur karena pekerjaan, kemungkinan besar yimonya itu akan menghabisi Woohyun. Untung saja pagi ini, yimo dan samchonnya sudah pergi duluan.

Ani, oppa. Bukan kaarena pekerjaan, geokjongma. Jieun menelfon semalaman dan yah.. begitulah”

“Begitulah apa?” tanya Woohyun heran. Tidak biasanya Sooji merengut karena telfon dari temannya yang di Jepang itu, biasanya Sooji akan menceritakan kabar Jieun dengan semangat.

“Dia menelfonku pukul 3 pagi, oppa! Tentu saja aku tidak langsung mengangkatnya. Dan saat akhirnya aku mengangkat telfonnya tentu saja aku masih mengantuk dan setengah sadar sehingga tidak mengenalinya. Dan dia marah. Lalu aku menghabiskan sisa waktu tidurku mencoba menghubunginya dan berakhir Jieun yang mengoceh panjang lebar. Sungut Sooji sebal.

Woohyun sedikit menahan tawanya melihat ekspresi kesal Sooji. Gadis itu sepertinya benar-benar dongkol karena sifat kekanakan Jieun. Dari cerita Sooj sellama ini padanya, Woohyun dapat menyimpulkan bahwa Jieun adala gadis yang dewasa, tenang, dan dapat diandalkan namun terkadang saat sifatnya childishnya keluar, maka Jieun aka berubah jadi sosok yang sangat menyebalkan.

“Jangan tertawa! Jinjja, Jieun menyebalkan sekali.”

“Mian, mian. Tapi tidak biasanya kau mengeluh soal Jieun, Sooji-ah.”

“Dia sedang kumat, oppa. Astaga aku bahkan masih dapat mendengar suaranya hingga saat ini. Ocehannya soal aku yang tidak mau menghubunginya. Aish, padahal aku selalu mengiriminya pesan. Lee Jieun, jinjja.”

Kekehan kecil kembali terdengar dari Woohyun begitu Sooji mulai mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal.

“Mungkin ada masalah urgent, Sooji-ah. Makanya Jieun begitu kesal saat panggilannya kau acuhkan.”

Sooji kembali mengerucutkan bibirnya mendengar argumen Woohyun, “Ani, oppa. Awalnya kukira juga begitu makanya aku begitu ngotot menelfonnya kembali. Tapi tidak, tidak ada yang penting. Selain ocehannya, Jieun hanya menanyakan kabar dan memberitahuku bahwa Jongin akan ke Seoul. Dan itu pun masih lama, oppa! Masih dua minggu lagi! Astaga, entah apa yang dipikirkan Lee Jieun itu.”

Sooji mengucek matanya perlahan. Matanya sudah lama memerah karena terlalu fokus menatap layar laptopnya. Sudah hampir pukul 9 tapi Sooji masih betah berdiam di ruang kerjanya.

Klek

Sooji seketika menengokkan kepalanya ke arah pintu begitu mendengar suara pintu yang terbuka.

Wajahnya yang sebelumnya terpasang ekspresi waspada kini berubah menjadi senyum simpul.

Oppa, kau belum pulang?”

Sooji mengernyitkan dahinya sendiri begitu mendengar suaranya yang berubah serak. Gadis itu kemudian berdeham pelan bermaksud mengembalikan suaranya seperti biasa.

Sunggyu yang kini telah berdiri di hadapan Sooji menarik nafasnya perlahan, berdecak sebal, kemudian menyodorkan gelas Sooji yang untungnya masih berisi air. Sooji menyambutnya dengan senyum kecil. Busajangnimnya memang peka.

“Kukira oppa sedang survey ke Ulsan dan tidak di sini.” Sooji kembali bersuara setelah meneguk airnya.

“Jadi kalau aku tidak di kantor, kau bisa lembur dan sesuka hati berada di ruanganmu hingga larut malam?”

“Eh?”

Sooji mengerjapkan matanya bingung. Sedikit terkejut melihat wajah Sunggyu yang terlihat sedang menahan marah dan intonasi suaranya yang sedikit lebih tinggi dari biasanya.

Sunggyu kembali menghrla nafas. Dengan satu gerakan cepat, pria itu menutup laptop Sooji dengan kekuatan yang sedikit berlebihan dan menarik setumpuk dokunen yang berada di sebelahnya.

“Kita pulang.”

“Eh? Tapi aku-”

“Sekarang Bae Sooji.”

Dengan itu Sunggyu melangkahkan kakinya  menjauhi meja Sooji.

Sooji masih saja diam di tempatnya, masih berusaha mencerna perintah Sunggyu.

“Bae Sooji!”

Ne ne ne” pekikan Sunggyu seolah menyadarkan Sooji, dan membuatnya kelimpungan mencari tas dan blazernya.

Sudut mata Sooji melirik-lirik Sunggyu yang terlihat sangat fokus dengan jalanan di depannya.

Sooji menghela nafas jengah untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi terperangkap dengan Sunggyu yang sedang bad mood. Sunggyu yang sedang bad mood membuatnya sedikit ketakutan dan bingung harus berbuat apa.

“Kenapa kau menghela nafas terus, sih?”

“Eh?”

Sooji tidak menyangka Sunggyu bersuara.

“Aku bertanya Sooji, kenapa kau menghela nafas terus?”

“Eh?”

Dan Sooji lebih tidak menyangka Sunggyu menanyakan soal dirinya yang menghela nafas. Perhatian sekali.

“Berhenti ah eh ah eh dan jawab pertanyaanku Sooji-ah.”

“Eh, tidak.. aku hany.. maksudku kau itu.. eh maksudnya-”

Jawaban Sooji yang patah-patah itu akhirnya berhenti begitu melihat tatapan Sunggyu yang intens kini sedang menatapnya. Dan seperti biasa, sensasi panas menjalari pipinya.

“O..oppa, lihat ke depan saja.”

Sunggyu tersenyum kecil begitu melihat reaksi gadis di sampingnya itu. Tingkah Sooji yang menurutnya manis itu setidaknya bisa menurunkan sedikit rasa kesalnya. Dirinya kesal sekali begitu Woohyun menelfon dan mengatakan Sooji belum pulang. Sunggyu dengan segera mempercepat laju mobilnya dari Ulsan. Sunggyu tahu Sooji menyukai pekerjaannya tapi sikapnya yang mulai menjurus workaholic dan mengabaikan kesehatan dan juga keamanan dirinya sendiri membuat Sunggyu kesal.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, sajangnim.”

Sooji mengigit bibir bawahnya. Masa dia harus mengaku kalau Sunggyu lah yang membuatnya tidak nyaman?

“Tidak ada apa-apa kok. Hanya soal.. pekerjaan.”

Sunggyu mengernyitkan keningnya, “Tidak biasanya kau-”

Krrruuukkk

Dan perut Sooji yang tiba-tiba bersuara memotong ucapan Sunggyu dan seketika membuat Sunggyu menghentikan mobilnya.

Sooji meringis kecil, malu, ketika lagi-lagi Sunggyu menatapnya terang-terangan. Dan kali ini tatapanya menjadi lebih tajam lagi.

“Jangan bilang padaku, kau belum makan.”

“Eh anu-”

“Jawab saja pertanyaannya tidak perlu ah eh ah eh, Sooji-ah”

“Belum, oppa” jawab Sooji pelan.

Sunggyu menghela nafas kemudian menyalakan mobilnya.

“Astaga, Sooji. Apa aku harus terus mengingatkanmu untuk makan? Aku tidak bisa berda di dekatmu 24 jam full.”

“Tidak perlu 24 jam kok” bisik Sooji pelan yang mana masih bisa didengar Sunggyu.

“Aku tidak bisa berada di dekatmu selamanya hanya untuk mengingatkanmu makan, Sooji.” Tekan Sunggyu lagi.

“Kenapa tidak bisa?” Sooji menutup mulutnya begitu tanpa sadar menyuarakan pikirannya.

Sunggyu berdecak sebal, “Tentu saja tidak bisa. Kau punya kehidupan sendiri Sooji. Akupun begitu. Mungkin sekarang kau belum memikirkannya tapi kau akan memiliki pacar bahkan suami. Kau harus mulai menjaga kesehatan dirimu sendiri sebelum mengurus orang lain.”

“Kenapa tidak oppa saja yang jadi pacarku?”

Ckiittt. Sunggyu kembali menghentikan mobilnya secara mendadak dan Sooji mengutuk mulutnya yang entah mengapa untuk hari ini sangat tidak bisa dikontrol.

“Terimakasih sudah mengantarkanku.”

Sunggyu tersenyum kecil,”Masuklah. Sudah sangat larut sekarang. Aku sudah memberitahu Tuan Bae kalau kau pulang bersamaku jadi kau tidak perlu khawatir dimarahi.”

Sooji mengangguk kemudian bergumam kecil sebelum membuka pintu mobil, “Selamat malam oppa.”

Sunggyu mengangguk, “Selamat malam Sooji.”

Klek

Sooji membuka pintu kamarnya dengan perlahan dan menutupnya kembali dengan perlahan juga.

Begitu pintu kamarnya sudah kembali terkunci sempurna, gadis itu masih belum melangkah dari balik pintu, menutup matanya kemudian menarik napas dan membuangnya secara perlahan. Setelah beberapa lam dan hal yang dilakukannya itu tidak membuatnya tenang, gadis itu berjongkok dan memukuli kepalanya sendiri.

“Astaga, Bae Sooji. Apa yang kau lakukan? Apa yang kau katakan? Apa yang bar- Aaargghhhh”

Sooji berteriak tertahan, “Oemmaaa.”

“Matamu kenapa kembali berkantung hitam, Sooji-ah?”

Pertanyaan pertama Woohyun di pagi hari ini entah mengapa membuat Sooji kesal. Sooji tahu kondisi matanya sedang sangat tidak baik tapi bisakah Woohyun tidak bertanya?

“Sooji-ah, matamu kenapa?” Tanya Woohyun lagi ketika gadis itu hanya diam dan mengolesi rotinya dengan selai.

“Sooji-”

“Aku tidak apa-apa, oppa. Dan berhenti bertanya?” Potong Sooji sebal ketika mendengar suara Woohyun lagi.

Woohyun menganga. Nada suara Sooji yang tajam tentu saja membuatnya terkejut. Woohyun hanya bisa memperhatikan ketika Sooji mengunyah rotinya dengan kecepatan tidak biasa, meminum jus apelnya, kemudian mengelap mulutnya dengan serbet. Semua itu dilakukan Sooji tidak sampai 5 menit lamanya.

“Eh kau.. sudah mau pergi?” Dilemparkan kembali pandangannya ke jalanan di depannya. Woohyun tahu itu pertanyaan bodoh tapi bagaimana lagi dirinya masih shock dengan kecepatan kilat Sooji. Lagipula sekarang bahkan belum jam setengah 7.

Sooji menepuk bajunya perlahan kemudian mengangguk, “Aku duluan, oppa.”

“Kau berangkat dengan siapa?”

“Jang ahjushi” jawab Sooji singkat.

“Tidak dengan Myungsoo?”

“Myungsoo masih di Busan”

“Tidak dengan Sunggyu hyung?”

Sooji menghela nafas kemudian bangkit dari kusrsinya. “Tidak. Aku berangkat, oppa.”

“Tidak mau ku antar?”

Oke, mungkin Woohyun salah bicara, karena kini Sooji benar-benar meberikannya pelototan tajam.

“Kenapa oppa cerewet sekali sih? Kalau memang mau mengatarku cepat selesaikan makanmu!”

Woohyun mengerjapkan matanya. Sooji membentaknya. Membentaknya. Ditambah dengan pelototan tajam. Di pagi hari. Astaga. Dia mimpi apa semalam?

“Dan berhenti mengerjapkan matamu, oppa! Tidak cocok untukmu! Seperti ahjumma genit saja!” bentak Sooji lagi.

Woohyun menciut. Astaga, Sooji menyeramkan sekali.

Tak tak tak

Suara heels yang beradu dengan lantai memecah keheningan Hwajae Property. Sooji hanya tersenyum singkat ketika disapa oleh para pegawai yang masih bisa dihitung jari. Sekarang baru jam 7 lewat sedangkan jam operasional kantor jam 8 maka tak heran kantor masih sangat sepi. Gadis itu melangkahkan akinya secepat yang dia bisa menuju lift kantor.

“Jangan sampai bertemu. Ya tuhan jangan sampai bertemu.” Bisik Sooji pelan kepada dirinya sendiri. Sepanjang perjalanan dari pintu depan kantor hingga saat ini, Sooji memang membisikkan kalimat ini berulang-ulang.

Ting

Pintu lift terbuka dan Sooji melangkahkan kakinya untuk masuk dan menekan angka 18.

“Jangan sampai bertemu. Jangan sampai bertemu.”

Sooji menatap horror pintu lift yang dirasanya begitu lama untuk menutup. Dengan kesal ditekannya berkali-kali tombol tutup pintu lift.

Arghh, palli. Aku tidak mau bertemu dengannya.”, Pekik Sooji frustasi.

Ting

Pintu lift kembali terbuka seakan tidak menghiraukan Sooji yang sudah bertindak anarkis pada tombolnya.

“Pintu sialan.” Desis Sooji sebal sambil memijat pelipisnya perlahan. Sungguh bukan pagi yang indah.

“Kenapa pintunya sialan, sajangnim?”

Sooji menghentikan gerakan tangannya kemudian mendongak menatap Sunggyu yang kini berada di sampingnya.

Ting. Pintu lift pun tertutup kembali.

“Eh tidak, anu.. a.. maksudku-”

“Apa kata eh dan anu kini menjadi kata faforitmu?”

Sooji menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba merasa sangat kepanasan. Lift itu kecil dan sempit, ditambah kini Sooji hanya berdua dengan Sunggyu. Sooji butuh pendingin.

“Dan siapa yang tidak mau kau temui?” Tanya Sunggyu lagi.

Sooji diam. Melirik angka di lift yang masih berada di angka 6 dan merutuk kenapa hari ini liftnya berjalan pelan sekali.

Sunggyu tersenyum kecil kemudian menggeser tubuhnya sehingga lebih mendekati Sooji. “Jangan bilang kau tidak ingin menemuiku sajangnim.” Bisik Sunggyu.

Sooji memekik kecil, dengan cepat tangannya terulur menkan angka 9 pada lift. Dan Sedetik kemudian pintu lift terbuka. Sooji melangkahkan kakinya keluar dari lift -nyaris berlari kemudian menatap Sunggyu yang masih berdiri bersandar di dalam lift.

“A..aku ingin bertemu dengan..dengan.. Woori.. iya Woori.. dari.. emm dari tim produksi. Adios busajangnim!” setelah berseru begitu Sooji melangkahkan kakinya secepat kilat menuju ruangan terdekat, meninggalkan Sunggyu yang kini tertawa terbahak-bahak. Sooji kembali merutuki kebodohannya. Adios! Sooji berkata adios! Astaga. Jelas ada yang salah dengan otaknya sejak semalam.

“Ada apa sih denganmu?” Tanya Hyeri untuk kesekian kalinya.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Sooji.

“Kubilang jangan berbohong.” Tukas Hyeri lagi.

“Aku tidak berbohong, Hyeri-ah.”

“Seorang Bae Sooji berada di lantai 8, di ruang rapat marketing dan bukan di ruangannya sendiri, dengan wajah tegang dan sedari tadi kau menoleh ke sana kemari seakan menghindari sesuatu. Pasti ada apa-apanya, sajangnim. Jangan berbohong padaku.”

“Bukankah kita memang ada rapat internal dengan tim marketing hari ini?”

“Rapat kita jam 2 siang sajangnim. Masih ada berjam-jam sebelum itu.”

Sooji melirik jam tangannya kemudian berdecak sebal. Jamnya baru menunjukkan angka 9. Sooji mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dengan gelisah. Setelah berpisah dengan Sunggyu di lift tadi Sooji mencari ruangan yang dirasanya bisa dia gunakan untuk hari ini dan Sooji tahu dia akan ada rapat dengan tim marketing meskipun dia lupa jam berapa, maka dari itu dirinya melesat turun ke lantai 8 dan menghubungi Hyeri dan memberitahu sekretarisnya itu bahwa dirinya akan berada di sana dan bukan di ruangannya.

Sooji menghela nafas gusar. Sial. Jika bukan karena pengakuan bodohnya kemarin malam, dia tidak akan semalu ini untuk bertemu dengan Sunggyu.

“Apa aku ada agenda lain hari ini?”

“Tidak ada, sajangnim. Tugasmu yang harus diselesaikan hanya mereview design untuk penthouse terbaru yang direncanakan launching tahun depan.”

“Kalau…busajangnim?”

Hyeri mengangkat sebelah alisnya, heran mengapa Sooji menayakan agenda Sunggyu dan menanyakannya sambil berbisik.

“Setahuku busajangnim masih disibukkan dengan proyek department store Ulsan karena teamjangnim di sana baru saja mengalami kecelakaan. Tapi detilnya aku tidak tahu, aku bukan sekretarisnya.”

“Berarti dia di Ulsan?” Tanya Sooji lagi.

“Sepertinya tidak, kudengar dari tim financial hari ini akan ada rapat mengenai penggantian teamjagnim proyek Ulsan itu di sini. Tepatnya jam berapa, aku tidak tahu.” Hyeri mengerutkan dahinya tanda penasaran, “Ada apa sih, Sooji?”

“Berarti dia di sini?”

Hyeri menghela nafas, menyerah karena Soji tidak juga menjawab pertanyaannya, “Kemungkinan besar begitu.”

“Siapkan mobil segara, aku akan ke kantor pusat.”

Ye? Sekarang sajangnim?”

Iya, sekarang Hyeri-ah. Saat aku sampai di lobi nanti kuharap sudah ada mobil yang siap. Kalau tidak ada, aku akan naik taksi saja.” Jawab Sooji sambil bangkit dari duduknya.

Kalau Sunggyu sibuk di sini, maka akan lebih baik Sooji pergi ke tempat Woohyun. Kesempatan bertemu dengan Sunggyu akan semakin kecil bukan?

Sooji mengutak-atik ponselnya dengan wajah bosan. Sekarang baru jam 6 sore dan Sooji sudah duduk manis di cafe menunggu Myungsoo. Siang tadi Myungsoo menghubunginya dan mengajaknya untuk makan malam bersama karena sudah seminggu lebih Myungsoo di Busan. Maka dari itu selepas rapat dengan tim marketing Sooji langsung megangkat kakinya menuju lokasi pertemuannya dengan Myungsoo. Tidak terasa Sooji sudah menunggu hampir 3 jam.

Dan baru pukul 7 lebih 10 menit, batang hidung Myungsoo muncul di hadapannya.

“Kenapa wajahmu suntuk begitu? Kau lelah? Kau mau makan apa?”

“Kau pesan saja Kim Myungsoo, aku sudah memesan banyak sejak sore tadi.”

Myungsoo tergelak. Saat sampai tadi piring kotor dan beberapa kaleng beer yang telah kosong memang bertumpuk di mejanya.

“Ada apa sih? Mukamu tidak enak dilihat tahu.”

“Tapi tetap cantik ‘kan?”

Myungsoo kembali tertawa, “Iya, kau tetap cantik Sooj.”

Tiba-tiba saja Sooji memajukkan wajahnya, kedua tangannya bersedekap di atas meja, dan ekspresinya serius.

“Aku benar-benar bertanya Soo, aku cantik tidak?”

Myungsoo menyeringai, “Kau mabuk ya?”

“Tidak, aku tidak mabuk. Jawab pertanyaanku Soo.”

“Kau cantik, Sooji.” Tentu saja, di mata Myungsoo saat ini Sooji adalah wanita paling cantik.

Sooji menghela nafas, “Ah.. aku salah bertanya padamu. Menurutmu yang paling cantik pasti Soojung ‘kan?” lirih Sooji dengan nada sedih yang dibuat-buat.

Myungsoo meringis, “Sooji kau mabuk. Astaga. Sekarang bahkan belum jam 8.”

“Soojung lebih cantik dari ku ya, Soo? Apa perbedaannya jauh?”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Tidak. Bagiku kau yang paling cantik Sooji, bukan Soojung.”

Sooji mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian tersenyum lebar. “Benarkah? Gomawo.”, lalu sedetik kemudian gadis itu kembali bertanya, “Kalau baik? Apa aku lebih baik dari Soojung?”

“Astaga Sooji, ada apa sih denganmu?”

Sooji mengerucutkan bibirnya, “Soojung lebih baik dari ku ya?”

“Berhenti membandingkan dirimu dengan Soojung, Sooj. Aku tidak suka mendengarnya.”

“Benarkan, Soojung lebih baik dariku. Aku tahu itu jawabanmu.”

Myungsoo menghela nafas, “Tidak, kau lebih baik Sooji.” Tentu saja. Soojinya lebih baik dari Soojung. Apalagi setelah pertengakaran Soojung dengannya mereka belum kembali saling bicara. Myungsoo mencondongkan tubuhnya, diulurkannya tangannya dan mengelus kepala Sooji perlahan. “Ada apa, Sooji-ah? Kau bisa bercerita padaku.”

Sooji menatap mata Myungsoo dalam-dalam dan tak berapa lama matanya berkaca-kaca. Tentu saja hal itu membuat Myungsoo gelagapan. “Hey hey, wae uro?” Myungsoo kembali mengulurkan tangannya dan menagkup pipi sooji yang sudah basah karena air mata.

“Sooji-ah, ada apa denganmu?”

“Kalian berdua menyebalkan!” Seru Sooji tiba-tiba, yang membuat Myungsoo terkejut dan menarik tangkupan tangannya secara spontan.

“Hah?”

“Iya, kalian berdua menyebalkan!” Pekik Sooji lagi, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya.

“Kalian?” tanya Myungsoo bingung.

“Iya. Kalian. Kau dan kakakmu! Kim Myungsoo dan Kim Sunggyu! Kalian berdua menyebalkan!”

Mata Myungsoo melirik ke kanan kiri. Teriakan Sooji mulai menarik perhatian para tamu lain di cafe. “Sooji coba tenangkan dirimu. Aku tidak mengerti maksudmu.”

Tentu saja Myungsoo bingung. Ini pertemuan pertama mereka setelah Myungsoo pergi ke Busan selama 10 hari. Dan seingatnya sebelum dirinya pergi, dia dan Sooji tidak memiliki masalah apapun. Dia juga yakin saat itu Sooji belum tahu soal Sunggyu adalah kakaknya. Tapi Myungsoo tidak menyangka reaksi Suzy akan seperti ini saat tahu. Padahal menurutnya itu bukan masalah besar.

“Sunggyu hyung sudah memberitahumu?”

Sooji mendengus, tangannya bergerak menjangkau sekaleng beer yang masih terisi setengah. “Dia baru saja memberitahuku. Kalian berdua menyebalkan, neo arra?”

Myungsoo kembali menghela nafas kemudian menarik kaleng beer dengan paksa yang mebuat Sooji semakin memberengut.

“Berhenti minum, kau sudah sangat mabuk.”

“Tidak usah sok baik! Kalian berdua menyebalkan!”

“Astaga Sooji, berhenti menyebut kami menyebalkan. Aku bukannya tidak mau meberitahumu soal Sunggyu hyung. Tapi hubungan kami memang sangat tidak baik.”

Sooji kembali mendengus, “Aku tidak peduli soal itu.”

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya, “Lantas?”

“Kalian berdua mematahkan hatiku! Tidak usah sok baik padaku jika akhirnya mau mematahkan hatiku! Tidak kau, tidak busajangnim, sama saja!” Pekik Sooji lagi.

Dahi Myungsoo kembali berkerut, “Maksudmu?”

“Dia menolakku, Soo. Busajangnim menolakku. Hiks.. hikss..” Sooji mengatupkan wajahnya dengan kedua tangannya kemudian menangis kencang.

Myungsoo serta merta berpindah ke bangku sebelah Sooji dan memluk gadis itu erat. Myungsoo tidak tahu harus senang atau sedih. Senang dengan kenyataan Sunggyu dan Sooji tidak memiliki hubungan atau sedih mengetahui kalau Sooji benar-benar menyukai hyungnya.

“Sshh sshh sudah Sooj. Mungkin Sunggyu hyung memang bukan yang terbaik untukmu.”

Kalau begini kesempatan Myungsoo semakin besar ‘kan?

“Kenapa tidak oppa saja yang jadi pacarku?”

Ckiiiiiiittttttt

Sunggyu kembali menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba. Pria itu kemudian memandang Sooji yang sedang menutup mulutnya. Sejujurnya Sooji ikut terkejut mendengar pengakuannya sendiri. Astaga. Bagaimana bisa mulutnya itu menyuarakan isi pikirannya.

“Eh mianhae, oppa. Aku-aku.. emm.. lupakan saja ucapanku barusan.”

Sooji menggigit bibir bawahnya dan mengetukkan jemarinya ke atas pahanya sendiri. Berusaha menetralkan degup jantungnya yang merasaka tatapan intense Sunggyu.

Oppa, sudah kubilang lupakan saja kalimatku barusan!” Tak tahan, sooji akhirnya berteriak dan memalingkan wajahnya ke jendela di sebelah kirinya.

“Kau menyukaiku..”, Sooji bisa mendengar ucapan Sunggyu. Itu bukan pertanyaan, itu pernyataan.

“Kau menyukaiku, Bae Sooji.”

“Menurutmu?!” Sooji lagi-lagi berseru, namun kali ini diberanikannya matanya untuk menatap Sunggyu.

Sunggyu, dengan posisi bersandar pada pintu mobilnya, kini benar-benar menancapkan pandangannya pada Sooji. Sooji dengan pipi memerah dan suaranya yang bergetar. Sunggyu tersenyum simpul, “Kenapa?”

Sunggyu tersenyum semakin lebar ketika melihat gadis di depannya itu mengerjapkan matanya berkali-kali, “Eh?”

“Kenapa kau menyukaiku, Sooji.”

Sunggyu bahkan bisa melihat pipi gadis itu yang semakin memerah.

“Apa perlu alasan?” Bisik Sooji pelan, dan suaranya masih saja bergetar. Gadis itu kemudian menundukkan kepalanya.

“Tentu saja. Bohong kalau seseorang menyukai lainnya tanpa alasan. Pasti ada sesuatu. Jadi apa alasanmu?”

“Aku.. tidak tahu. Aku menyukaimu, semudah itu. Apa kau menyukaiku?” Bisik Sooji lagi, kini gadis itu melirik Sunggyu takut-takut.

Sunggyu tertawa kecil melihat tingakh Sooji yang dirasanya menggemaskan, “Kau manis sekali sajangnim.”

Sooji mersakan pipinya menjadi sangat sangat panas mendengar suara tertawa Sunggyu yang dibarengi dengan rasa kecewa, “Aku sedang menyatakan perasaanku dan kau malah menertawakannya, oppa?

Sunggyu bergerak mendekati Sooji sedangkan Sooji bergerak mundur menjauhi Sunggyu. Kedua sudut bibir Sunggyu terangkat melihat Sooji yang berubah waspada. Kedua tangan Sunggyu kemudian menangkup wajah Sooji, dan Sunggyu harus menahan tawanya mati-matian, karena pipi Sooji jelas terasa panas di tangannya.

“Sooji-ah,” bisik Sunggyu pelan. Gadis itu menatap matanya, dan Sunggyu bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata indah gadis itu. Kalau Sunggyu memang memiliki perasaan lebih terhadap Sooji, seharusnya pria itu merasakan sesuatu kan saat ditatap begini?

Sooji panik. Dia tidak tahu harus berbuat apa ketika wajah Sunggyu semakin mendekat. Sooji bisa merasakan hembusan nafas hangatnya dan Sooji bahkan bisa menghitung jumlah bulu mata Sunggyu. Sooji menahan nafasnya, dan di saat terakhir, Sooji menutup matanya dan memalingkan wajahnya. Oke, dirinya belum siap untuk ini. Sooji bisa merasakan tangan Sunggyu terlepas dari kedua sisi wajahnya.

“Hahahahahaha”

Sooji terkesiap kaget saat mendengar suara tawa Sunggyu. Gadis itu kemudian menatap Sunggyu yang kini sibuk menahan tawanya. Oke cukup, Sooji sakit hati. Seperti Sooji tidak bisa lebih malu saja.

“Kau tertawa lagi!” Tukas Sooji kesal, “Kau jahat, oppa!”

Mi..an..hae”, ucap Sunggyu putus-putus di sela tawanya.

“Dwesso. Lupakan saja!” Ucap Sooji kesal. Gadis itu kembali melayangkan pandangannya ke jalanan. Membiarkan Sunggyu yang masih berusaha mengontrol tawanya. Begitu dirasanya Sunggyu sudah tenang, gadis itu kembali memusatkan pandangannya pada Sunggyu.

“Sudah puas tertawanya?” Ucap Sooji pedas.

Sunggyu tersenyum simpul, “Kau bilang kau menyukaiku tapi kau menghindar.”

Hening. Sedetik. Dua detik.

“Eh? Apa?” Pipi Sooji kembali memerah beitu mencerna perkataan Sunggyu. Padahal Sooji sudah siap mengeluarkan kata tajam tapi satu kalimat dari Sunggyu sudah membuatnya K.O. Kenapa Sunggyu mudah sekali mengobrak-abrik moodnya sih?

“Kau menghindar tadi, Sooji.  Saat aku ingin.. menciummu.” Ucap Sunggyu kalem.

Sooji benar-benar merasakan wajahnya terbakar dan panasnya menjalar hingga telinganya. “Bukan begitu caranya, oppa!” Teriak Sooji. Sooji berteriak untuk meredakan rasa malunya yang sudah tak terbendung lagi,

Sunggyu mengangkat sebelah alisnya, “Ah.. terus bagaimana?”

“Itu.. itu.. Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku!” teriak Sooji berang.

“Pertanyaan yang mana? Soal apa aku menyukaimu atau tidak? Oh tentu saja aku menyukaimu.”

Sooji mengerjapkan matanya mendengar ucapa Sunggyu. Dan atmosfer hening kembali menyelimuti sekeliling mereka. Sooji melihat senyum yang tergantung di bibir Sunggyu dan jantungnya kembali berdetak abnormal.

“Aku menyangimu. Sebagai adik. Sebagai seseorang yang harus kulindungi.”

Hati Sooji mencelos. Jadi dia ditolak?

Mianhae tapi aku rasa aku bukan orang yang tepat untukmu.” Sambung Sunggyu lagi.

Tangan Sunggyu bergerak mengelus rambut Sooji, “Sekarang kita makan, oke? Kau belum makan malam  Sooji-ah. Aku tidak mau kau sakit.”

Siapa yang peduli soal sakit karena makan kalau saat ini Sooji sakit hati?

“Tapi aku ingin lebih. Aku tidak ingin punya kakak, aku sudah punya Woohyun oppa.” Bisik Sooji perlahan.

Sunggyu menghela nafas, “Hey dengar Sooji. Kurasa kau tidak benar-benar menyukaiku seperti itu. Kau hanya.. mengagumiku, Sooji-ah.”

“Kau menyangsikan perasaanku?”

“Tidak.. tentu saja tidak. Aku tahu kau menyukaiku tapi kurasa bukan rasa suka seperti.. rasa kepada seorang kekasih. Kau harus mengenalimu dirimu sendiri, Sooji.”

Sooji menggeleng kuat-kuat, “Aku tahu yang aku rasakan, oppa. Aku-“

“Kau merasa aku spesial karena selama ini kau menutup hatimu Sooji-ah. Saat ini memang hanya aku namja yang berada di dekatmu. Tapi kau harus lebih membuka mata dan hatimu.”

Sooji menutup matanya kemudian menghela nafas, “Dwesso, lupakan saja. Anggap saja pembicaraan kita hari ini tidak pernah ada.” Sooji ingin menangis tentu saja. Dia baru saja ditolak, dia patah hati. Tapi dia juga wanita dewasa. Dia tidak ingin menangis di depan Sunggyu.

Sunggyu tersenyum kecil sebelum menyalakan kembali mobilnya. “Banyak namja di luar sana yang pantas untukmu Sooji. Kau harus mencari yang lebih muda.”

“Kau tidak setua itu, oppa” ucap Sooji dengan nada ketus.

Sunggyu tertawa kecil, “Aku memang tidak setua itu tapi kau yang terlalu kecil untukku.”

“Jadi ini soal usia?” tanya Sooji dengan tajam.

“Apa kita akan membahas ini lagi?” Dan Sunggyu bisa mendengar Soooji yang kembali menghela nafasnya.

Aniyo, lupakan saja.”

“Kuharap hubungan kita tidak memburuk karena ini Sooji. Aku menyayangimu.”

“Ne ne ne, terserah oppa saja.”

Sunggyu kembali tertawa, “Kau marah, Sooji.”

“Menurut oppa? Aku baru saja ditolak, wajar bukan kalau aku kecewa?”, “Bisa kita pulang saja? Aku tidak berselera makan.” Sambung Sooji lagi.

“Tidak bisa. Lagipula aku juga lapar.”

Sooji mendengus, “Yang benar saja. Oppa, kau baru saja menolakku dan kau berharap kita bisa makan malam tanpa rasa canggung?”

“Harus dicoba. Aku tidak mau hubungan kita memburuk karena ini, Sooji. Aku tidak mau kita menjadi saling segan satu sama lain. Aku tidak mau kau menjadi menghindariku setelah ini.”

Sooji mendecakkan lidahnya, tentu saja dirinya akan menghindari Sunggyu habis-habisan setelah ini. Sooji wanita normal yang juga punya rasa malu.

-TBC-

Cepet kan updetnya? Kkk. Di chapter ini aku kasih moment Sunggyu dan Suzy yang bikin aku yang nulisnya aja ikut deg-degan kkk. Chapter ini juga bakal jadi pembuka gerbang (?) moment Suzy dan Myungsoo.

Makasih banget yang udah comment, meskipun ga aku bales tapi aku bacain satu-satu kok. Bahkan karena ff ini ga kelar-kelar (*pardon banget ya ini series panjang banget tapi wordsnya sebenernya dikit kok :() aku nyaris hafal loh sama kalian yang comment dari awal sampe akhir. Hafal sama yang dukung Sunggyu dan sebel banget sama Myungsoo ataupun yang ngedukung Myungsoo tapi pengennya dia dikasih pelajaran dulu. Dan emang ya  di ff ini banyak banget yang ngehujat Myungsoo ya kkk.

Anyway, please stay sampe akhir ya. Aku usahain secepetnya climax dan end supaya bisa mulai nulis yang lain

Sori ini notenya panjang banget kkk. Drop comment ya!

27 responses to “Mistakes and Regrets #14

  1. Jinjja? Sunggyu tidk memiliki perasaan pada sooji? Aku gak percaya :> dia hanya menganggap sooji adiknya? Ckck… Atau jangan2 dia tdak mau menyakiti adiknya? Dengan mencintai yeoja yg sama? Hah~
    yah dan mungkin sooji hanya mengagumi sunggyu karna selama sooji mulai memasuki perusahaan hanya sunggyu yg selalu menghiburnya? Seperti kata sunggyu sendri…
    Next chapter…

  2. Suzy ditolak? Wae sunggyu oppa? Aku kira kamu juga memiliki perasaan yg lebih ke suzy tapi ternyata?tak ada #huft. Aku masih kesel kalo denger nama soojung jadi keingat chapter” awal yg membuat myung nyakitin dan mmpermainkan suzy gara” dia. Trus soal myung sama soojung juga belum selesai, aku takutnya ketika suzy mulai membka hatinya lagi buat myung, nanti masalah tersebut datang dan merusak semuanya membuat suzy kembali tersakiti. Jika itu sampe terjadi lagi aku bener” gak akan ngerestuin myungzy di ff ini.

  3. Ini kerennn bgttt, hikss.. Nyesell ih kenapa gk dari dulu nemu fic ini, biar aku bisa comment dri awal 😣😣 sebelumnya mianhe karena aku bru review di part ini yah. Dan makasihh juga udh buat cerita dan udh update kilatnya #peluk ㅋㅋㅋㅋ buat sunggyu, aigoo… Pdhal aku udh merestui sunggyu sama suzy loh wkwkw walaupun aku ngeship parah myungzy, entah kenapa suka bgt sma karakter sunggyu disini, bikin melting deh… Hahahaha. Ah, sebenernya udh menduga sunggyu pasti nolak suzy, udh keliatan sih di part sebelumnya pas di tanya sma woohyun itu, aku udh ngerasa klo sunggyu sebenernya ada rasa sma suzy cuman ngerelain buat myung tuh pasti, wkwkw #soktaunihanak, ciehhh, berarti ada jalann lebar buat myung tuh bisa deket lagi sma suzy, tpi kuharap ada sedikit karma buat myung krna udh sakitin suzy dulu, masih nyesek nginget suzy dulu wktu suka myung 😢😢 myung butuh pelajaran biar tau rasanya udh ninggalin suzy hehehehe dilanjut lagi yahh, ditunggu next part nya, fighting!!

  4. Kasian suzy patah hati lagi, karna kakak beradik Kim..
    Sunggyu beneran cuma anggap suzy sebagai adik , ko gak rela gitu ya..
    Suka suzy sma sunggyu tpi suka juga kalau suzy sma myungsoo.
    Sama siapapun nanti asal bisa buat suzy bahagia.

  5. Wah serius sunggyu cuma anggep sooji adik? Berarti myung punya kesempatan ya.. Ditunggu kelanjutannya chingu..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s