Oh My Ghost! Chapter 11

Title : Oh My Ghost!  | Author : dindareginaa | Genre : Comedy, Fantasy, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy | Other Cast : Find by yourself!

Inspired by K-Drama Oh My Ghost and 49 Days

Sooji tersentak kaget begitu Myungsoo menarik lengannya, membuat gadis itu masuk ke dalam pelukan Myungsoo. Ia tertegun. Kehangatan ini… tak akan mungkin ia lupakan. Setelah terdiam beberapa saat, Sooji akhirnya memutuskan untuk melepaskan pelukan Myungsoo.

“Terima kasih.”

Lelaki itu tak menjawab. Ia hanya mengangguk dengan tatapannya yang kosong. Namun, sedetik kemudian, segera ia berkata,”Ayo, ku antar pulang.”

Di dalam mobil, baik Sooji dan Myungsoo, tak ada yang membuka suara. Mereka hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sooji menghembuskan nafasnya perlahan seraya memandangi pemandangan dari luar jendela.

“Sooji-ssi…”

Mendengar namanya disebut, Sooji sontak menoleh. “Hm?” gumamnya.

Myungsoo kembali terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang apakah ia harus bertanya pada Sooji atau tidak. Tapi…

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Ya?”

“Ah, tidak. Lupakan saja,” jawab Myungsoo cepat. Ia tak mau gadis itu berpikiran yang tidak-tidak tentangnya. Lagi pula, memangnya dimana ia bisa bertemu dengan Sooji? Kalaupun pernah, kenapa Myungsoo tidak mengingatnya sama sekali? Tapi… bayangan apa itu tadi? Kenapa rasanya seperti déjà vu? “Omong-omong, yang mana rumahmu?”

“Ah, rumah yang berwarna putih itu,” ujar Sooji.

Myungsoo kemudian memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah gadis itu. “Masuklah,” suruhnya.

Sooji mengangguk. Namun, baru saja gadis itu ingin keluar dari mobil Myungsoo, suara perut yang diyakini Sooji bukan berasal dari dirinya membuatnya menoleh pada Myungsoo. Ia tersenyum simpul. “Bagaimana kalau kau makan dulu dirumahku?”

“Sangmoon-ah!” panggil Sooji saat gadis itu sudah membuka pintu rumahnya. “Kemana dia? Apa dia belum pulang?” gumamnya.

“Sangmoon? Siapa?” tanya Myungsoo. Ia kemudian menggosok hidungnya, berharap pertanyaannya selanjutnya tak membuat Sooji curiga atau semacamnya. “Kekasihmu?”

“Bukan. Adikku.”

Myungsoo tersenyum simpul. Ada perasaan lega dihatinya begitu mengetahui bahwa lelaki yang kini dipanggil-panggil oleh Sooji bukanlah kekasihnya. Ia sempat berpikir bahwa Sooji tinggal dengan kekasihnya di rumah ini. Myungsoo kemudian memandangi Sooji yang kini sedang membuka kulkas.

“Tidak ada yang bisa dimasak,” gumam gadis itu. Ia kemudian menoleh pada Myungsoo. “Apa kau suka ramyeon?”

“Panas! Panas! Panas!” seru Sooji seraya meletakkan panci ke atas meja, setelah sebelumnya Myungsoo memberikan apa saja yang ada didekatnya untuk dijadikan alas oleh Sooji. “Makanlah,” suruh Sooji.

Myungsoo mengernyitkan keningnya. Begitu melihat Sooji makan langsung dari panci dengan di bantu oleh penutup panci, ia terbelalak. “Hei! Kenapa makan langsung dari situ? Menjijikkan,” gerutu Myungsoo.

“Lebih enak kalau dimakan seperti ini,” Sooji membela dirinya. “Kau juga makanlah.” Sooji memberikan mangkuk berwarna putih pada lelaki itu.

Myungsoo terdiam beberapa saat. Sedikit ragu, apakah ia harus makan ramyeon buatan Sooji atau tidak. Tapi… ia tak mau mati kelaparan. Ya sudahlah. Makan saja. Kalau ibunya tahu ia makan makanan yang entah higienis atau tidak ini, wanita itu pasti jatuh pingsan. Dengan ragu, Myungsoo mulai mengambil ramyeon buatan Sooji dengan sumpitnya. Sambil berdoa dalam hati, ia mulai memasukkan benda itu ke dalam mulutnya. “Enak juga!” serunya, lalu kembali memakan ramyeon-nya.

“Ini pertama kalinya kau memakan ramyeon?” tanya Sooji, sedikit bercanda. Siapa sih di Korea ini yang tidak pernah memakan makanan itu?

Sooji hampir saja memuntahkan makanan yang baru dikunyahnya itu begitu melihat gelengan Myungsoo. “Hebat! Orang kaya ternyata memang berbeda sekali ya.”

“Apanya yang hebat dari orang kaya?”

“Tentu saja hebat. Kau bisa membeli apapun yang kau mau. Kau juga bisa pergi kemanapun yang kau mau. Kau tidak perlu repot memikirkan hari esok sepertiku,” oceh Sooji.

Myungsoo menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya berkata,”Jadi orang kaya tidak sehebat yang dipikirkan orang-orang. Kau tidak memiliki teman, kau juga tak bebas melakukan apapun yang kau mau.”

“Kau tidak memiliki teman?” tanya Sooji sedikit terkejut.

Myungsoo menatap Sooji lalu tersenyum lirih. “Punya. Dulu.”

“Dulu?”

Myungsoo mengangguk. “Aku hanya memiliki satu teman, tapi lelaki itu malah mengkhianatiku.”

“Ah…” Sooji mengangguk mengerti begitu ia tahu arah pembicaraan lelaki itu. Sahabat yang ia ceritakan itu pasti yang mengkhianatinya itu bukan? Lelaki yang berselingkuh dengan Jung Soojung. Omong-omong tentang Soojung…

“Kau benar-benar akan menikah dengan Soojung?” tanya Sooji setelah terdiam beberapa saat. “Kalau begitu, kenapa mengajakku ke pesta itu?” lanjutnya, kali ini terdengar lebih pelan dari sebelumnya.

Mendengar pertanyaan Sooji, Myungsoo sontak menggeleng. “Tidak. Aku tidak akan pernah menikahinya. Ibuku jelas tahu itu. Entah apa yang dikatakan Soojung kepada ibuku sampai beliau mau mendengarkan perkataan gadis itu.”

 Mendengar jawaban Myungsoo, Sooji sontak tersenyum simpul.

“Kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu?” tanya Myungsoo, membuat Sooji tersontak.

“Tidak! Aku tidak tersenyum!” bantahnya.

“Bohong! Jelas-jelas, aku melihatmu tersenyum. Kenapa? Kau senang aku tidak menikah dengan Soojung?”

Sooji mendesis. “Percaya diri sekali kau.” Sooji kemudian mengangkat pancinya yang masih berisi setengah ramyeon dan meletakkannya ke wastafel. Tiba-tiba saja, nafsu makannya hilang.

“Hei! Kenapa diangkat? Aku belum selesai makan!” gerutu Myungsoo lalu mulai mengikuti Sooji.

“Kukira kau sudah selesai.”

“Dasar pelit!” Myungsoo mempoutkan bibirnya, pura-pura kesal.

Noona, aku pulang!”

Mendengar suara berat adiknya, Sooji dan juga Myungsoo menoleh. Melihat siapa yang berdiri disebelah kakaknya, Sangmoon mengernyitkan keningnya.

“L hyeong…” gumamnya pelan.

“Siapa?” bisik Myungsoo pada Sooji.

“Ah, perkenalkan, dia Bae Sangmoon, adikku.”

Myungsoo membulatkan mulutnya lalu mengangguk mengerti. Tapi… sepertinya ia pernah melihat adik Sooji ini sebelumnya. “Ah, bukankah kau lelaki yang kutemui di perpustakaan tempo hari itu? Kau juga menyebutku dengan “L” bukan?”

Sooji yang tak mengerti arah pembicaraan Myungsoo, sontak menoleh pada Sangmoon. “Kau pernah bertemu dengannya?”

Sangmoon mengangguk. “Apa yang dia lakukan disini?” tanyanya sedikit tak suka. Entahlah. Semenjak lelaki itu dengan seenaknya tidak mengingat kakaknya setelah apa yang mereka lalui bersama hingga membuat kakaknya menangis, Sangmoon jadi kurang menyukai lelaki yang ada dihadapannya ini. Meskipun ia tak pernah menunjukkan perhatiannya kepada Sooji, tetap saja ia menyayangi kakaknya itu dan tak suka jika ada orang yang membuat kakaknya menangis.

“Tenang saja. Dia juga mau pulang.”

Mendengar pernyataan Sooji, Myungsoo sedikit terkejut. “Hei, kau mengusirku? Teganya. Lagi pula, ini sudah tengah malam. Bagaimana kau nanti terjadi sesuatu denganku seperti aku diperkosa atau semacamnya? Kau mau bertanggung jawab?”

“Hei! Kau itu laki-laki! Yang ada kau yang akan melakukan hal menjijikkan itu!”

“‘Hei’? Aku itu lebih tua darimu! Panggil aku hyeong!”

Sooji kemudian melirik jam tangannya. Benar juga. Sekarang sudah jam 12 lewat beberapa menit. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Myungsoo? Membayangkannya saja ia tak bisa.

“Ya sudah, kau tidur di sofa malam ini,” ujar Sooji lalu segera pergi ke kamarnya.

Noona!” seru Sangmoon tak percaya.

Myungsoo menyeringai lalu menjulurkan lidahnya pada Sangmoon. “Sekarang, pergilah ke kamarmu, adik kecil. Aku tidak mau kau mengganggu tidurku,” usirnya.

Sangmoon hanya mendengus kesal lalu berlalu pergi ke kamarnya. Sementara itu, Myungsoo kemudian berbaring ke ranjang barunya sofa.

“Tega sekali dia. Bagaimana mungkin dia tak memberikanku selimut atau bantal?” Myungsoo mulai memejamkan kedua matanya.

“Ini.”

Mendengar suara yang sudah tak asing lagi ditelinganya, Myungsoo sontak membuka kedua matanya. Ia tersenyum begitu mendapati Sooji kini berdiri dihadapannya dengan bantal dan selimut ditangannya. Ternyata gadis itu perhatian juga padanya. Ia kemudian menerima benda tersebut dari tangan Sooji,

“Terima ka…”

Belum sempat Myungsoo menyelesaikan kalimatnya, Sooji sudah terlebih dahulu kembali ke kamarnya, membuat Myungsoo mendengus kesal.

“Sifat sombongnya tak juga hilang.”

Sooji membuka matanya perlahan. Ah, sudah pagi ternyata. Kenapa hari cepat sekali berlalu? Padahal, sepertinya ia baru saja memejamkan matanya. Sebaiknya ia segera bersiap-siap untuk kuliah. Hari ini ia ada kelas pagi dan ia tak mau terlambat!

Sooji lalu beranjak berdiri. Baru saja ia membuka pintu kamarnya, ia tertegun begitu mendapati Myungsoo kini tertidur lelap di sofa. Ah, benar juga. Bukankah lelaki itu menginap dirumahnya semalam? Sooji kemudian tersenyum simpul lalu mulai berjalan mendekati Myungsoo. Kalau dilihat-lihat, lelaki ini lebih tampan lagi kalau sedang tertidur. Tangannya kemudian bergerak ke arah anak rambut Myungsoo yang berantakan. Gadis itu bisa mendengar dengkuran halus Myungsoo.

Sooji kemudian tersontak kaget begitu Myungsoo menarik lengannya, membuat gadis itu mau tak mau kini ikut berbaring. Ia membesarkan kelopak matanya begitu mendapati Myungsoo kini tak lagi tertidur.

“Kau… sudah bangun?” tanyanya gelagapan.

Myungsoo tersenyum lalu menganguk.

“Sejak… kapan?” Sooji dapat merasakan tubuhnya mendingin. Apalagi saat nafas lelaki itu menusuk kulitnya.

“Sejak kau memandangi ketampananku,” gurau Myungsoo.

Benarkah? Ya Tuhan! Malunya Sooji!

“Hei, lepaskan aku!” pinta gadis itu memelas yang langsung disambut gelengan oleh Myungsoo.

“Wah, ternyata kau cantik juga ya.”

“Apa yang kalian berdua lakukan?”

Mendengar suara Sangmoon, Myungsoo sontak melepaskan pelukannya pada Sooji. Keduanya lalu beranjak berdiri.

“Se… Sebaiknya aku cuci muka dulu,” ujar Myungsoo gelagapan lalu mulai meninggalkan Bae bersaudara.

“A… Aku juga,” seru Sooji kemudian.

Noona, dia itu bukan L hyeong.”

Perkataan Sangmoon membuat langkah Sooji terhenti.

“Meskipun tubuh mereka sama, tetap saja dia bukan L yang kita kenal.”

“Aku tahu,” lirih Sooji lalu mulai melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

“Biar ku antar,” seru Myungsoo saat Sooji sedang memakai sepatunya.

Sooji kemudian melirik jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan lewat beberapa menit. Ia tidak punya pilihan selain mengiyakan tawaran Myungsoo.

“Baiklah kalau begitu.”

“Sudah sampai,” ujar Myungsoo begitu mobilnya terparkir rapi tepat di depan kampus Sooji.

“Terima kasih,” gumam gadis itu. Baru saja ia berniat membuka pintu mobil Myunngsoo, Myungsoo sudah terlebih dahulu menghentikannya.

“Tunggu dulu,” serunya. Myungsoo kemudian keluar dari mobil. Melihat itu, Sooji hanya mengernyitkan keningnya, barulah saat Myungsoo membukakan pintu mobilnya untuk Sooji, gadis itu membulatkan matanya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Membukakan pintu untukmu,” seru Myungsoo tak peduli. Ia jelas tahu kemana arah pembicaraan Sooji. “Silahkan turun, Tuan Putri,” lanjutnya lagi.

Sooji tak pernah tahu apa yang ada dipikiran Myungsoo. Lelaki itu selalu melakukan sesuatu diluar pikiran Sooji. Sooji menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya turun. Ia dapat merasakan semua mata kini tertuju padanya. Mungkin mereka cukup terkehut mengetahui bahwa gadis biasa seperti Sooji bisa menaiki mobil mewah.

“Bae Sooji!”

Mendengar namanya disebut, Sooji sontak menoleh ke sumber suara. Ia tersenyum begitu mendapati Choi Jinri berjalan kearahnya. Namun, senyumnya menguap begitu menyadari Mark Tuan kini berada disamping gadis itu. Entahlah, ia masih sedikit kesal karena lelaki itu membohonginya.

“Siapa dia?” bisik Jinri begitu ia sudah berada disamping Sooji.

“Ah, perkenalkan. Dia Kim Myungsoo. Aku sekarang bekerja dengannya. Myungsoo-ssi, perkenalkan, gadis ini Choi Jinri dan lelaki ini Mark Tuan, mereka teman kuliahku.”

Myungsoo mengangguk mengerti. “Kim Myungsoo,” ujarnya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya.

Jinri tersenyum simpul lalu menyambut uluran tangan Myungsoo dengan hangat. Lain lagi dengan Mark. Lelaki itu sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membalas perkenalan diri Myungsoo. Myungsoo bisa merasakan lelaki itu tak suka pada dirinya. Tapi, kenapa? Apa mungkin karena Sooji? Apa lelaki itu juga menyukai Sooji? Sadar dengan pikirannya, Myungsoo sontak merutuki dirinya sendiri. Juga? Apa yang kau pikirkan, Kim Myungsoo?!

“Kau kenapa?” tanya Sooji heran melihat tingkah Myungsoo.

Myungsoo menggeleng cepat. “Tidak ada. Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku akan menjemputmu nanti.”

“Menjemputku? Untuk apa? Aku bisa pergi sendiri.”

“Pokoknya aku akan menjemputmu. Kau lupa kalau kau bekerja di bawah pengawasaku? Dan aku tidak suka dengan orang yang terlambat,” serunya berusaha mencari alasan. “Kalau begitu, sampai jumpa.”

Sooji hanya mendengus kesal sambil memandangi mobil Myungsoo yang mulai menjauh.

“Hei, kalian berdua berkencan ya?” tanya Jinri.

“Tidak. Kami tidak ada hubungan apa-apa selain mitra bisnis,” bantah Sooji.

“Tapi, sepertinya dia menyukaimu,” goda gadis itu seraya menyikut lengan Sooji.

Sooji dapat merasakan wajahnya memerah mendengar perkataan Jinri. “Tidak mungkin!” serunya. “Sebaiknya kita masuk. Bisa bahaya kalau kita terlambat ke kelas Dosen Jung. Ayo.”

Jinri akhirnya mengangguk, sedangkan Mark, ia lebih memlih untuk memandangi Sooji dalam diam.

“Kau masih marah denganku?”

Sooji tersentak kaget begitu mendapati Mark Tuan kini menungguinya di depan toilet wanita. “Apa yang kau lakukan disini?”

Bukannya menjawab, lelaki itu malah kembali mengulangi pertanyaannya,”Kau masih marah denganku?”

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan lalu berjalan meninggalkan Mark.

“Maaf.”

Perkataan Mark sontak membuat Sooji menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada lelaki jangkung itu.

“Aku tahu tak seharusnya aku membohongimu. Aku hanya ingin membantumu. Aku takut kalau kau tak akan meneima bantuanku jika kau tahu siapa aku yang sebenarnya.”

“Tapi, setidaknya, kau harus jujur padaku. Bukankah kau tahu, aku paling tidak suka dibohongi?”

“Maaf,” kata lelaki itu lagi sambil menundukkan kepalanya.

“Baiklah. Aku memaafkanmu. Tapi, kau harus janji bahwa kau tidak akan pernah membohongiku lagi. Bagaimana?”

“Benarkah?” tanya Mark semangat. Baiklah, aku berjanji tidak akan pernah membohongimu lagi. Omong-omong, benar lelaki itu tak ada hubungan apa-apa denganmu selain mitra bisnis?” tanya Mark hati-hati.

Soji tersenyum simpul lalu menggeleng. “Tidak. Aku menyukainya.”

Mendengar jawaban Sooji, tubuh Mark sontak lemas seketika. Sepertinya ia sudah tak ada harapan lagi untuk mendapatkan hati gadis itu.

“Hei, kau dimana sekarang?” tanya Myungsoo pada seseorang dari telepon. Siapa lagi kalau bukan Sooji? Lelaki itu sekarang sudah berada di kamus Sooji. “Pergi ke mini market? Dimana letaknya? Biar aku kesana. Tidak apa-apa..”

Myungsoo kemudian melajukan mobilnya dengan sebelah tangan, sedangkan sebelah tangannya lagi masih memegang ponsel. Tempatnya tak begitu jauh dari kampus Sooji, jadi tak terlalu memakan banyak waktu. “Kau dimana?” tanya Myungsoo lagi saat sudah berada ditempat yang sudah disebutkan Sooji lewat telepon tadi. “Ah, aku melihatmu!” seru Myungsoo sambil melambaikan tangannya. Ia bisa melihat Sooji kini sedang berdiri di seberang jalan dengan beberapa kantung plastik ditangannya. “Biar aku saja yang kesana,” seru lelaki itu lagi.

Myungsoo kemudian turun dari mobilnya. Dilihatnya lampu lalu lintas yang masih berwarna hijau untuk pejalan kaki. Lelaki itu kemudian segera melangkahkan kakinya, menuju ke tempat Sooji. Namun, sedetik kemudian lampu lalu lintas tersebut berubah warna menjadi merah. Melihat itu, Sooji sontak membulatkan matanya dan menjatuhkan semua barang belanjaannya.

“Awas!” teriak gadis itu.

Mendengar teriakan Sooji, Myungsoo hanya menatap bingung, namun begitu ia menoleh ke arah kanannya, begitu dilihatnya sebuah mobil berwarna hitam kini berjalan kearahnya. Myungsoo tak sempat melakukan apa-apa karena mobil tersebut sudah terlebih dahulu menubruk tubuhnya, membuat tubuhnya sontak terlempar. Ia tak bisa melihat apa-apa lagi. Yang terakhir didengarnya adalah suara Sooji yang menangis memanggil namanya dan meminta pertolongan.

TO BE CONTINUED

Kayaknya next chapter bakalan tamat. Seperti biasa, bakalan di protect ya. Kalian tau kan kalo mau nyari aku kemana? Hihi. Sampai jumpa di part selanjutnya!

29 responses to “Oh My Ghost! Chapter 11

  1. Myungsoo kecelakaan? Apa mungkin ingatan dia waktu jadi L akam kembali? Tapi apa itu mungkin..? Aku ngarepin bnget ingatan itu kembali tapi klo dipikir secara akal sehat ga mngkin bnget, kecuali author yg memungkinkan itu terjadi haha

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s