The Lady [Chapter 4]

The Lady

|| Title: The Lady || Author: Phiyun || Genre: Romance | Family life | Sad | Hurt || Cast: Bae Sooji | Kim Myungsoo | Bae Soobin |

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Cerita ini juga terinspirasi dari film maupun buku yang pernah penulis tonton dan baca. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee…😄

No Bash! No Plagiat! No Copy Paste! Please don’t be Silent Readers❤

Preview: Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

*** Happy  Reading ***

“Apakah kau tidak mempekenankanku tinggal di sini?” tanya Sooji dengan bibir yang bergetar.

Myungsoo terdiam, tak beberapa lama kemudian ia pun berkata. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa perhatianmu terhadap tempat ini sangat menyentuh perasaanku, dan karena kau telah memberikan semua waktu dan hatimu di sini, aku akan menyetujui semua yang kau pinta dariku.”

“Benarkah? Kau bersungguh-sungguh?” ungkap Sooji tak percaya.

“Kau tak memberikanku pilihan,” kata sang Bae, “Dan karena kelihatannya hanya kau yang tahu segalanya mengenai seluruh rumah ini, lebih baik kita memulainya dari [ermasalahan yang paling awal.”

 

  ~OoO~

Sooji bangun lebih awal dibandingkan biasanya, dan pagi hari ini lebih penting dari biasanya. Kemarin, saat mereka meninjau tempat ini, sang Bae baru tidak banyak  bicara saat Sooji menjelaskan segala sesuatunya secara rinci tentang apa yang perlu dibenahi.

Waktu terus berlalu dan jam telah menunjukan pukul enam lewat dua puluh menit, Sooji nerpikir kalau makan malam akan tiba sejam lagi. dan di saat Sooji hendak memberitahukan pada Myungsoo bila makan malam akan siap dalam waktu satu jam lagi, tiba-tiba Myungsoo menegurnya.

 “Kupikir pelayanku telah tiba saat ini.”

“Pelayan?” Sooji tersentak kaget.

Myungsoo berkata. “Tak mengherankanku bila kau terkejut. Karena kau melihatku datang tanpa membawa barang-barang.”

Memang hal itu mengejutkan Sooji, karena ia sama sekali tak mengira kalau pria itu membawa pelayan. Sooji ingat, ayahnya pun dulu tidak pernah berpegian tanpa membawa pelayan.

“Maaf,” kata Sooji agak kikuk, “Aku sama sekali lupa akan hal itu.”

“Tidak apa-apa, Khan telah melayaniku selama bertahun-tahun dan ia seorang yang bisa diandalkan.”

Sooji terperangah saat melihat sosok Khan, karena ternyata ia adalah keturunan India. Lelaki itu memakai sorban putih dan berjanggut hitam, ia kelihatan asing di puri ini. Meskipun begitu orang itu terlihat kuat dan tampan, dan itu disadarinya ketika pertama kali bertemu.

Sebelum mengajak Myungsoo berkeliling kembali, Sooji memberikan pesan kepada Nyonya Moon untuk membersihkan kamar tidur khusus untuk sang Bae, tempat dimana dulu yang pernah digunakan ayahnya.

  ~OoO~

Ketika Sooji dan Myungsoo keluar dari ruangan perpustakaan, pelayan Myungsoo telah menunggu di ruang depan. ia memberi salam dengan gaya timur ketika Myungsoo berkata. “Oh, kau sudah  berada di sini, Khan! Apakah kau sudah membawa semua barang-barang yang kuperlukan?”

“Ya, Tuan,” jawabnya sambil merundukan tubuhnya.

“Bagus,” Myungsoo lalu memandang Sooji, lalu berkata. “Ini Nona Suzy, yang bertanggung jawab di rumah ini. Jika ada sesuatu yang kau perlukan, Nona Suzy dapat membantumu.” Kham memberi salam pada Sooji, dan gadis itu menyahut. “Pelayan kami akan menunjukan kamarmu dan akan membuatmu senyaman mungkin.”

“Terimakasih, Nona.” Khan kembali memberi salam, tak beberapa lama kemudian Myungsoo pun berpamitan kepada Sooji untuk rapi-rapi. “Aku akan pergi sekarang dan bersiap-siap makan malam. Aku mengundangmu makan malam bersamaku, Nona Suzy.”

Sooji ragu-ragu, tidak tahu harus menjawab apa dan sang Bae berkata dengan bibir sedikit mengerucut. “Kemarin malam aku bermimpi dengan roh nenek moyangku, dan mereka mencelaku lewat foto-foto yang banyak terpajang di tempat ini atas sikapku yang tidak sesuai dengan kebiasaan mereka.”

Mendengar hal itu, Sooji tertawa kecil dan kemudian menjawab. “Terima kasih Tuan, atas undanganmu. Aku yakin kau menyadari bahwa tak umum bagi seorang pelayan untuk makan di ruang makan.”

“Jika kau khawatir dengan peraturan itu, Nona Suzy,” kata Myungsoo acuh tak acuh. “Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau takut pada kejutan, kecuali bila hubungan diantara kita tidak lama… ya ampun!”

Sooji tersenyum mendengarnya, dan ketika melihat sang Bae berlalu, ia pun ikut berlalu dari tempat itu untuk menemui Nyonya Moon.

  ~OoO~

Setibanya di dapur, Sooji mulai menceritakan hal yang telah terjadi selama sepanjang hari ini kepada Nyonya Moon.

“Tuan Bae yang baru mendesakku untuk makan malam dengannya,” kata Sooji kepada wanita tua tersebut.

“Seharusnya seperti itu, Tuan putri,”

“Nona!” Sooji langsung membetulkan. Kemudian setelah itu ia berlalu menuju ruang belajar.

  ~OoO~

Sooji sangat bingung mesti mengenakan gaun apa untuk makan malam nanti, karena selama ini dirinya tidak punya banyak gaun yang bagus, selain milik almarhumah ibunya. Dan itu pun jarang dipakainya. Tapi kali ini terpaksa ia kenakan.

Sooji sungguh tidak percaya kala Myungsoo serius saat mengatakan kalau ia tidak berminat menjadi pewaris. Tapi Sooji berusaha membujuk lelaki itu bukan saja sekedar menjalankan tugasnya, tapi juga membawa kehormatan bagi keluarga dan membuatnya penting seperti masa lalu.

Setelah segalanya selesai, bergegaslah Sooji menemui sang Bae yang barang kali telah lama menunggunya.

  ~OoO~

“Kau kelihatan menarik, Nona Suzy,” kata Myungsoo dengan nada datar ketika Sooji meminta maaf kalau saja penampilannya tidak sebagaimana mestinya.

Saat ia meminum segelas anggur secara perlahan-lahan, Khan muncul di ruangan itu. “Makan malam telah siap, Tuan!” katanya.

Sooji merasa lega karena si tua Moon tidak perlu bolak-balik dari ruanga makan ke ruang dapur, karena smua aktifitas itu akan membuat kakinya semakin sakit.

Malam ini hidangan sangat berbeda dari yang dihidangkan saat siang dan Sooji berpikir mungkin sang Bae yang baru telah memberi Nyonya Moon belanja untuk melengkapi kekurangannya.

Di atas meja makan sudah terhidangkan, sup, yang kini terbuat dari biang susu dan jamur segar. Berikutnya ada daging angsa yang dimasak Nyonya Moon dengan sempurna. Juga ada bermacam-macam buah-buahan segar yang membuat hidangan semakin lezat.

“Memperhatinkan sekali, masakan yang begini lezatnya, namun tubuhmu tetap kurus, Nona Suzy. ataukah kau salah seorang dari wanita-wanita membosankan yang selalu khawatir dengan berat badannya?”

Sooji tertawa, mengetahui betapa ia tidak begitu memperhatikan keadaan dirinya, dan tulang tubuhnya yang agak menonjol memperlihatkan hal itu. di lain hal ketika ia berkeliling melihat tempat ini, Myungsoo pasti akan menemukan kalau kondisi penghuni rumah ini kurang lebih sama  seperti Sooji.

“Apa yang mencemaskanmu?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

“A—pakah aku kelihatan cemas?”

Myungsoo pun mengiyakannya. “Kau kelihatan cemas sejak pertama kali kita bertemu.” Sahut Myungsoo, “Apa karena aku tidak setuju dengan pendapatmu, tentang betapa pentingnya peninggalan nenek moyangku ini?”

“Apa yang kukatakan membuat kau emnyadari betapa keberadaanmu snagat penting di sini.”

Myungsoo tertawa. “Aku ragu dengan tinggal di sini membuatku merasa penting. Paling tidak untuk saat ini!”

“Sekali kau membuktikan dirimu sendiri maka orang-orang akan menyadari bahwa saat ini ada keturunan Bae yang lainnya.” Ucap Sooji.

Sesungguhnya Sooji tak menyukai Bae yang sekarang karena beliau tak punya perasaan seperti sikapnya, pada keluarga, rumah, atau segala sesuatu yang ditunjukan Sooji. Sooji sangat menaruh harapan pada Myugsoo, maka ia tidak banyak membicarakan hal-hal lain, kecuali tentang rumah berikut isinya , seperti lukis-lukisan, barang-barang antik dari China dan jepang serta benda-benda bersejarah sejak puri ini didirikan. Semuanya itu menjadi barang antik bersejarah, yang nilainya sangat tinggi. Di dalam puri itu juga tepajang beberapa mendali penghargaan yang di terima oleh para Bae of Burry sebagai lambang kepahlawanan mereka di medan perang dalam membela kerajaan.

“Besok,” kata Myungsoo dalam sikap tenangnya yang menjemukan Sooji. “Aku ingin melihat perkebunan, dan tentu saja pertaniannya seperti yang pernah kau jelaskan padaku.”

“Kau yakin ingin berkuda?” tanya Sooji setelah diam sejenak.

“Tentu saja,” sahut Myungsoo. “Kau pasti punya seekor kuda untuk kutunggangi, bukan?”

“Kita memiliki lima puluh ekor kuda penginggalan dari Bae yang ke-4, tapi seekor diantara mereka adalah milikku.” sahut Sooji.

Ketika melihat ekspresi wajah Myungsoo yang keranan, Sooji pun melanjutkan ucapannya. “Aku membawa Jack sejak pertama kali datang ke sini. ” Sooji diam sebentar dan melihat sang bae yang baru dengan perasaan yang rikuh. “Aku harap kau menunggang kuda dengan baik, dan aku bersedia meminjamkan Jack bila kau menyukainya.” lanjut Sooji.

“Sepertinya kau meremehkanku, Nona Suzy!” dengan suara yang tinggi.

“Maaf, sungguh aku tidak bermaksud begitu.” sahut Sooji cepat.

“Tentu saja kau tidak banyak mengerti, Nona Suzy. Kuberitahu padamu kalau di tempatku tinggal,  kami mempunyai acara balapan kuda yang tidak kalah bagusnya seperti di sini, dan aku sama sekali tidak takut menungganggi kuda-kuda liar yang ada di sini.”

“Maaf…” sahut Sooji merasa tak enak. “Tentu saja aku tidak tahu banyak… tentang kehidupanmu sebelum tiba di sini. Aku akan memberitahu Alex untuk mempersiapkan kuda-kudanya bagi kita besok pagi.”

Keduanya terdiam beberapa saat, sebelum Myungsoo kembali buka suara. “Ceritakanlah tentang dirimu, kelihatannya aneh kalau keluargamu mengijinkanmu tinggal di rumah ini seorang diri. Bagaimanapun kau dibayar untuk itu.” Myungsoo diam sebentar, kemudian menambahkan. “Bila aku boleh tahu, berapa gajimu?”

Karena Sooji tidak menyangka sang Bae baru akan bertanya soal semacam itu kepada dirinya. Sooji berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Kukira sekitar $5.000.000 setahun, Tuanku. Untuk tugasku sebagai penjaga perpustakaan dan kepala pelayan. Tapi kadang-kadang aku tak menerima apa-apa.”

“Tak mengherankan bagiku, karena kau tidak seperti para pekerja lainnya.”

Sooji lalu berkata kembali. “Aku cukup senang berada di sini dan mencintai tempat ini.”

“Dan kau tidak bisa meninggalkannya?” tambah Myungsoo.

“Begitulah yang sebenarnya, aku memang ingin tinggal di sini… ijinkanlah kutinggal, Tuan.”

Sang Bae yang baru tersenyum sinis. “Kita akan membicarakannya lain waktu. Hal ini memang menarik karena untuk wanita seusiamu janggal bekerja di tempat sesunyi ini dengan kondisi yang memprihatinkan. Padahal menurutku, banyak tempat yang mau menerima tenangamu.”

Sooji tersenyum. “Ini hal terakhir yang kuinginkan, dan aku sama sekali tidak merasa seorang diri dalam kesunyian.”

“Tidak?” kata Myungsoo heran. ”Kau punya seorang teman?”

“Tentu saja. seseorang yang begiku melebihi siapa pun di dunia ini, yang selalu melihatku, tidak bersikap sinis, dan aku tahu ia mencintaiku.”

Myungsoo semakin penasaran dengan apa kelanjutan perkataan yang akan Sooji ucapkan. “Siapa orang yang amat baik itu? dan menurut ceritamu aku menduga kau dalam persiapan untuk menikah?”

Sooji menggeleng kepala, dan suka melihat sang Bae kebingungan. “Tidak, kecuali kalau ternyata Tuhan mengijinkannya.”

“Jadi kau menyukai kudamu, ya?” gumam Myungsoo mengalihkan pembicaraan ke arah semula.

“Tentu saja. aku sering menungganginya setiap pagi, dan itu sangat menyenangkan diandingkan hal lain.”

“Kau benar-benr berbeda dengan wanita-wanita seusiamu. Setiap tahun banyak wanita-wanita datang ke India maupun ke Jerman untuk mencari suami, tapi aku sama sekali tidak tertarik melihat keadaan itu.” kata Myungsoo menjelaskan acuh tak acuh.

“Kenapa? Apakah mereka membuatmu takut?”lelaki itu tertawa. “Tdak, tapi aku tidak tertarik untuk menikah. Aku senang menikmati hidupku sebagai seorang bujangan.”

“Namun suatu saat harus ada Bae of Burry yang ke-7” sahut Sooji.

Kedua alis Myungsoo langsung menyatu. “Sekali lagi kau mengingatkan akan tugasku, Nona Suzy. Hal itu tidak kusukai. Kuingatkan padamu, aku belum tertarik untuk menikah. Mungkin saja nanti ada Bae of Burry yang ke-7. Tapi itu bukan putraku!”

“Anda tidak bisa berkata begitu! Apakah kau tidak tahu bahwa setelahmu, tak ada lagi sanak saudara yang lain yang mewarisi gelar ini.”

“Apakah hal itu semacam malapetaka?” sahut pria itu dingin.

“Tentu saja! vagaimana mungkin kau bisa membiarkan tempat yang telah memberikan begitu banyak sumbangan bersejarah bagi negeri ini musnah begitu saja?”

“Betapa pandainya ucapanmu itu, Nona Suzy.” sahut Myungsoo kembali dengan nada suara yang sama. “Aku tidak melihat bahwa Bae yang terakhir menyumbangkan banyak hal yang berarti, yang kudengar malah beliau hanya menyumbangkan segunung hutang.”

Sooji  langsung memotong. “Belaiu memiliki kuda-kuda bagus yang sering mendapatkan menenangan dalam arena balap. Beliau juga memiliki koleksi lukisan yang tergantung di galeri lukisan, dan semuanya termasuk dalam barang langka.”

“Dan aku tahu dengan jelas, kebanyakan didapatkan dengan cuma-cuma!”

Sooji semakin berang dengan ucapan Myungsoo yang angkuh. “Sangatlah mudah menyalahkan orang yang telah meninggal dalam hal ini, Yang mulia. Anda belum ceritakan apa yang telah kau berikan pada negeri dimana kau tinggal!”

Tapi Myungsoo kelihatan tidak bersemangat untuk melanjutkan obrolan itu, ketika Sooji menanyakan hal itu. “Karena makan malam telah selesai, aku ingin menikmati anggurku sendiri.” Seraya menagangakt gelas winenya kehadapan Sooji.

Sooji memandangnya sebentar. Kemudian bangkit berdiri dan melangkah perlahan meninggalkan tempat itu, “Ada sesuatu yang kau perlukan lagi dariku, Yang Mulia, atau bolehkan aku beristirahat?”

“Kau boleh beristirahat, Nona Suzy.” sahut Myungsoo. “Hari ini sangat melelahkan bagimu, dan kita akan berkeliling sebelum sarapan pagi… jam tujuh pagi, bisa?”

“Aku akan siap, Tuan.” katanya sambil menggerutu dalam hati meninggalkan tempat itu. sungguh di dalam hati Sooji, ia sangat membenci laki-laki itu. Sikapnya yang tidak bersahabat, kata-katanya yang tidak ramah, betul-betul mengundang rasa tidak simpatiknya.

  ~OoO~

Ada lingkaran hitam di bawah kantung mata Sooji ketika pagi ini ia melangkah pelan ke kandang kuda. Tidurnya sedikit sekali malam ini. keinginannya saat ini ingin bertemu dengan Jack dan menumpahkan semua perasaannya pada hewan yang sangat dia cintai. Dan ia pun yakin bila Jack juga mencintainya.

Hewan itu memunculkan kepalanya saat melihat kedatangan Sooji. Gadis itu mengelus –elus lehernya. “Sayangku.” Katanya, “Apapun yang terjadi. Aku tidak mau kehilanganmu. Meskipun kita harus pergi dari sini dan hidup menggelandang di jalanan, kita akan tetap bersama.” Baru saja Sooji berucap, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakangnya.

“Kau sangat sayang sekali pada kudamu, Nona Suzy. dan kuharap Jack menghargainya, seperti keluarga Bae lainnya yang menghargaimu.”

Perlahan Sooji menoleh, dan tidak bereaksi banyak saat melihat Myungsoo telah berdiri di belakangnya. “Tuanku satang pagi sekali,” katanya dengan suara yang dibuat datar.

“Ini kebiasaan yang kulakuakn setelah sekian lama tinggal di timur,” sahut Sang Bae baru. “Dan sekarang aku menunggu hewan paling liar yang mungkin akan melemparku dari punggungnya.”

“Aku harap tidak terjadi begitu, Tuanku.” balas Sooji singkat.

Tak lama Alex muncul di tempat itu. “Selamat pagi, T… Nona! Anda datang lebih awal dari hari biasanya. Aku baru saja akan meletakkan pelana di punggung Lessie.”

“Tuan Myungsoo sudah menunggu untuk menungganginya, Alex.” Sambil menoleh ke arah Myungsoo. Sooji kembali berkata. “Ini Alex. Ia telah berkerja di sini selama dua puluh lima tahun.”

Keduanyanya berjabat tangan, dan berbincang barang sesaat. Hal itu mengherankan Sooji. Karena saat gadis itu memperhatikan mereka.  Alex terlihat menyukai Bae yang baru ini. Tak beberapa saat kemudian mereka telah berada di punggung kuda masing-masing, dan Sooji memperhatikan kalau Myungsoo memang mahir menunggangi kuda.

Sepanjang perjalanan, tak banyak yang dibicarakan kecuali hal-hal penting saja yang di bicarakan Sooji. Sampai kemudian mereka kembali lagi untuk sarapan pagi.

“Terima kasih, Nona Suzy.” kata Myungsoo. “Kau telah menunjukan peninggalan nenek moyangku, dan sepertinya tempat ini tidak seburuk apa yang telah kau ceritakan. Pasti pada jaman dulu temat ini sangatlah baik. Barangkali hanya penanganannya saja yang tidak betul.”

“Atau barang kali tak ada yang bisa di salahkan kecuali Bae yang sakit-sakitan sebelum beliau meninggal.” Sela Sooji.

Dan Myungsoo pun menjawab. “Tidak mengherankan.”

Sooji merasa tak perlu berdebat tentang hal itu. ia berlalu meninggalkan Myungsoo bersama Alex. Ketika berada di ruangan makan. Sooji melihat Khan dan Moon bersama-sama menyediakan sarapan. Setelah selesai menyantap sarapan, sang Bae berkata kepada Sooji.

“Aku ingin bicara padamu, tentu saja setelah kau berganti pakaian. Barangkali kau mau datang ke ruang kerjaku setengah jam lagi?” Sooji pun menuahutnya dengan anggukan dan kemudian berlalu untuk bersiap diri.

  ~OoO~

 

Pada waktu yang telah disepakati, Sooji datang ke ruangan kerja Bae. Dilihatnya pria itu duduk di belakang meja dengan beberapa kertas catatan di depannya. ia melirik sebentar, lalu saat Sooji persis berada di dekat meja, Myungsoo berkata.

“Sekarang, Sepupuku Sooji sebaiknya kita hentikan permainan ini.”

Sooji terdiam sebentar dengan rona merah menjalari pipinya. Sama sekali tak menyangka kalau kedoknya kini terbongkar. “Ba—bagaimana kau ta—tahu… siapa aku?” lirihnya dengan tubuh yang bergetar.

-TBC-

  ~OoO~

Halloha…. ketemu lagi nih ma Phiyun di sini ^^

Akhirnya aku bisa publish kelanjutan dari fanfic ini, hoho…😀 Maap kalau kelanjutannya agak lama, soalnya aku lagi semi hiatus jadi gak bisa sering-sering maen lappy ^^

Penasaran sama kelanjutannya? Kalau begitu jangan lupa RCL ya, setelah membacanya, biar akunya lebih semangat lagi buat kelanjutannya🙂 Sampai ketemu di part berikutnya, Annyeong… ^^

 

28 responses to “The Lady [Chapter 4]

  1. udah ditunggu banget ff ini thor…..myung udah tau sooji yg sesungguhnya…wahhh…mkn penasarannn…lanjut thorrr….!!!!

  2. Huaaaa akhirnyaa cerita ini update juga 😊😊 Senengnya udah nunggu dari lama. Omo.. darimana myungso tahuu… aa jadi gak sabar nunggu chapter selanjutnya. Semangat kak phiyun!! 😊

  3. omo udah ketahuan. dari awal myung memang udah tau kalau suzy itu bukan pelayan tp sepupunya. wuah. selama ini dia cuma ngetes suzy aja?

  4. Akhirnyaaaaa….. nunggu kelanjtan series ini. Gimana caranya ya Myungsoo tau kl Sooji sepupunya? Dia mmg cerdas. Kira2 dia bakal jatuh cinta ga ya ma Sooji? Semoga…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s