[Vignette] Blue Happenstance

blue

October 2016©

sebelum ini

.

.

“Aku baru tahu kalau kau itu ternyata orang yang bisa sangat memalukan, ”

.

.

Entah sampai kapan Bae Suzy akan pura-pura asyik meratapi catatan kosong di atas meja. Alih-alih menyimak apa yang sedang diperdengarkan oleh dosen Ekonomi Teknik kurus itu.

Pergantian mata kuliah ketiga masih tersisa seperempat jam lagi. Dan Suzy sangat berharap jika pada hitungan ketiga setelah menutup mata, jam dinding yang berdiri di atas pintu kelas melabuhkan jarum panjang dan pendeknya di angka duabelas. Yang mana artinya waktu istirahat makan siang. Sehabis itu pula ia akan segera meluncur satu lantai dari lantai delapan ke lantai tujuh. Mengikuti kelas Ilmu Pengantar Filsafat yang sedikit menarik perhatian mahasiswi Teknik Elektro semester enam sepertinya. Sekalipun dia ini bukan anak fakultas Humaniora.

“Oi, sudah berpikir ingin ambil peminatan apa?”

“Sudah, dong.” Suzy menjawab tanpa melirik si penanya yang duduk tepat di samping. “Kau sendiri?”

“Masih belum dapat.”

Menginjak semester enam, mahasiswa Teknik Elektro memang sudah disuguhi sebuah menu bernama peminatan yang akan menentukan masa depan mereka sebagai sarjana ataupun calon insinyur yang akan berkontribusi pada negeri atau suatu bangsa. Dan anehnya sebagai salah satu orang yang tak diperhitungkan kehadirannya di dalam jurusan yang paling dominan kaum Adam ini, Suzy malah sudah mantap menge-set segala jalan yang akan ditempuh untuk mengungguli tujuannya sendiri.

Kim Myungsoo menyodorkan buku agendanya yang dipenuhi oleh garis-garis yang tak beraturan. Dari ketidakberaturannya tercipta ruang yang melingkari tulisan ‘Peminatan Kontrol’ dan ‘Peminatan Elektronika’. Garis justru terlihat lebih tebal pada kotak tak beraturan yang menaungi tulisan ‘Peminatan Elektronika’ dan pilihan nomor tiga: Elektronika Daya.

Udara pengantar musim gugur membawa angin muson ke dalam hati pemuda itu. Dirinya jelas-jelas sedang berada di ujung ketidakpastian. Myungsoo melampirkan poni rambut gondrongnya ke samping. Menegaskan jangkauan pandangan dari anak-anak rambut yang nakal pada gadis yang sejak jam ketiga itu lebih banyak diam.

“Pilih saja pakai kancing kemeja.” Suzy melirik ke kancing kemeja kucel Myungsoo yang lolos dari proses penyetrikaan karena terlambat bangun pagi.

Myungsoo mendelik mendengar usul konyol barusan dan mendadak ikut pura-pura berkosentrasi pada salinan modul yang penuh coretan di sana-sini. Saat Suzy ikut mengangkat pandangan, tatapan laser yang memancar dari mata sipit juga ujung kumis yang tajam si Pak Dosen pun menggiring dua-duanya orang yang sedari tadi membuat forum berdiskusi sendiri.

“Hei, kecilkan suaramu, Nona. Si kumis sudah lihat-lihat ke arah sini dari tadi.”  bisik Myungsoo dengan tatapan ngeri.

“Nilai-nilai Matematika dan praktikum Dasar Teknik Elektronika di tahun pertama kau ‘kan dapat nilai sempurna, ya, pilih saja peminatan itu.” balas Suzy tak acuh dengan volume suara yang kecil. Entah apa bisikan yang kelewat pelan itu sanggup menyebrangi medium udara yang bercela hingga sampai ke telinga Myungsoo.

Diam.

Myungsoo tidak kunjung menjawab. Suzy pun tidak menggubrisnya dan membiarkan lelaki yang sudah menjadi karib sejak tahun terakhir di SMU menyelami renungan hatinya seorang diri. Meskipun di tengah-tengah ceramah yang Pak Kumis dendangkan macam kaset rusak soal carut-marutnya ekonomi negara nomor tiga di berbagai belahan dunia.

“Oke!”

Hening lagi.

Kali ini heningnya tidak hanya ada di samping gadis itu saja melainkan menjangkau seluruh penjuru kelas. Myungsoo yang barusan berseru tanpa ancang-ancang sukses membungkam Pak Kumis dengan kuliah yang mulai menyoal pada akulturasi ekonomi di Asia tenggara. Seisi kelas lantas mulai berkoar-koar tak jelas sehingga menimbulkan kegaduhan khas kumpulan laki-laki yang dibumbui humor-humor receh dan garing.

“Kabar gembira, nih sepertinya!”

“Kau baru saja dapat balasan ‘Ya’ ajakan kencan dari gebetan? Kedengarannya senang betul, Bung!”

“Duh, Myungsoo ngga sabaran orangnya.”

“Aku iri denganmu, Myungsoo-ya!”

“Oi, jurnal prakteknya selesaikan dulu kali!”

“DIAM!!”

Pak Kumis menggebrak permukaan meja dengan telapak tangannya sendiri. Otomatis seisi kelas pun dibuat hening kembali macam hari kebaktian gereja hari Minggu. Mau tidak mau menuruti dosen angkatan lama yang galaknya itu mengalahkan harimau Albino betina yang sedang PMS. Lalu, beliau pun memperingati Myungsoo agar tidak melamun saat jam kuliah yang dapat menyebabkan kegaduhan, buang-buang waktu dan tak bermanfaat. Sekiranya hanya dibalas dengan anggukan formalitas dari Myungsoo yang wajahnya merah padam. Jelas sekali kalau pemuda itu juga menahan malu segunung di punggungnya.

“Berteman dengan orang yang memalukan itu rasanya seperti ini?” perkataan itu membuat Myungsoo melirik Suzy yang ternyata juga sedang menatapnya. Myungsoo pun menunduk makin dalam. “Aku baru tahu kalau kau itu ternyata orang yang bisa sangat memalukan, ”

“Ya, ya, ya, hentikan.” Myungsoo menyenggol siku Suzy yang bertumpu di atas mejanya.

Suzy sendiri balas dengan tersenyum jenaka sejenak. Telunjuknya pun menepuk dan menodong pipi pemuda itu agar kembali mengarah ke depan sebelum dilabrak lagi oleh tatapan maut Pak Kumis yang paling tidak suka mendapati mahasiswa buka lapak obat di tengah kuliahnya.

Saran yang terdengar konyol bahkan diucapkan tanpa berpikir dahulu bila teman yang bilang sesungguhnya itu jalan keluarnya. Tidak peduli seberapa banyak kerikil yang membanjiri jalannya, atau kemacetan akibat kendaraannya yang melebihi kapasitas jalan itu sendiri, asalkan di sampingmu ada teman, kau tidak akan menanggung beban itu sendirian. Berteman dalam waktu yang lama juga bukan jaminan langgenggnya suatu hubungan pertemanan atau keduanya bisa saling memahami. Terpecah-pecah itu wajar asalkan kau selalu mengantungi perekat yang nantinya akan selalu menyatukan pecahan-pecahan itu.

Suzy berteman dengan Myungsoo memang baru sebentar sehingga wajar masih ada beberapa cela yang belum ditentukan bagaimana jalan masuknya. Begitu juga perangai Myungsoo yang begitu terbuka namun terkadang bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Dan di balik sifat rata-rata seorang perempuan yang minim Suzy miliki nyatanya mampu mengimbangi jalannya Myungsoo. Hanya saja jika disinggung apakah berbahaya bagi pria dan wanita berteman, hanya teori nonsense yang mampu menjawabnya.

“Seorang ahli kerja lapangan yang akan menjadi tangan kanan seorang insinyur sudah seharusnya mendapatkan nilai A di mata kuliah Elektronika Daya bukan?” nada suara pemuda itu terdengar rendah. Radar pandagannya jatuh pada gadis di samping yang sudah memasukkan perkakas diktat yang hanya disentuh tanpa dimanfaatkan peranannya. “Pastikan juga kau akan dapat nilai sempurna pada mata kuliah Sistem Kendali Cerdas dan Kontrol Lanjut. Jadi nanti kita bisa bersama-sama lagi.”

Gadis itu pun mematung sekilas. Bukan karena berakhirnya mata kuliah yang paling membosankan di semester ini. Ataupun teringat Prelude Tugas Akhir tentang jurnal praktek kerja lapangan yang santer disuarakan oleh anak-anak kelasnya yang mulai uring-uringan. Bukan juga karena pendingin udara yang disetel pada suhu yang tidak masuk akal di awal musim gugur ini.

Diam bukan sekedar berarti emas atau ketidakberdayaan. Hanya saja memang gaung dari suara-suara yang tak terdengar itu terlampau kencang dan sulit untuk orang lain bisa nikmati.

Myungsoo tidak menyadari perubahan pada raut wajah gadis di sisinya. Ia pun meneleng ke sebelah kanannya yang memuat pemandangan kota Seoul berselimut kabut tipis selepas dirundung hujan. Embun hujan yang bergerombol menyempil di luar daun jendela. Disusul satu persatu para penghuni kelas berhamburan ke luar kelas selagi melempar salam ‘Aku duluan’ kepada Myungsoo yang baru akan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

Masih memunggungi Suzy, Myungsoo perlahan bangkit dari tempat duduknya dan menggendong ransel biru laut di punggung. Sementara Suzy masih terpaku di tempat duduknya. Perkataan Myungsoo yang meski terdengar santai itu nyatanya masih menggema di sepanjang lorong telinganya. Tidak apa-apa. Myungsoo hanya ingin kau lulus dengan nilai terbaik. Ya, hanya itu maksudnya. Tidak lebih.

Tidak apa-apa.

“Aduh, laparnya. Hari ini enaknya makan apa, ya?” Suzy lalu menyusul Myungsoo yang masih membuang pandangan pada hamparan hutan besi yang terlihat seperti korek api dari tempat mereka berdiri. Seoul, kota kecil yang mereka tinggali itu, kapan punya celanya, sih? “Donkatsu?”

“Bosan, ah.” sahut Myungsoo. Semilir angin dari pendingin udara seolah membelokkan kepala Myungsoo hingga turun ke gadis yang kini sedang berjajar di sisinya. “Makan di warung pinggir jalan saja, yuk? Rasanya aku ingin makan corn dog yang banyak sausnya.”

“Yang mengusulkan yang teraktir.” Suzy pun melirik pria di sampingnya. Lalu tanpa dikomando, ia berjalan mendahului Myungsoo seraya mengeratkan pelukan di lengan untuk menghalau dingin yang artifisial menyentuh pori-pori kulitnya. “Cepat jalan sekarang. Aku tidak ingin terlambat masuk kelas Filsafat, Kim Myungsoo.”

Puas ketika mendengar nama lengkapnya dipanggil, barulah pria itu berbalik dan menghapus jarak dengan langkah-langkah besarnya menuju seorang Bae Suzy yang sedang menunggu di ambang pintu. Mereka berdua pun segera menyusuri lorong-lorong kelas yang ditinggali setengah penghuninya atau yang masih memuat kelas berisi spesies dosen dan mahasiswa. Suzy bersikukuh agar Myungsoo menambah kecepatan berjalannya. Myungsoo tentu menurut saja. Masing-masing menyibukkan hati tentang kehadiran hujan yang tidak disadari, tetapi lama-lama tetap saja terkecoh dengan ingatan sehat anak muda yang rada pilon itu.

Dan denting lift yang disertai dengan terbukanya pintu lekas membawa mereka menuju lantai dasar untuk mengisi waktu makan siang bersama gerimis sisa musim panas.[]

.

.

.


a/n:

  • terilhami membuat versi cerita sebelum #39: Rough dan maafkan jadinya sangat-sangat ROUGH seperti ini :”D
  • perlu diketahui jika saya sangat payah meramu cerita urusan percintaan. (alasan…pftt)
  • kritik dan saran juga vocer eskrim sangat diterima di sini🙂
  • dan terimakasih sudah mampir^^~ (kalu ada yang mampir juga, haha)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s