[Freelance] Maestoso Chapter 1

maestoso-castorpolluxartposter

Maestoso

Written by chocobae

Ratted for Teen

Staring by Bae Sooji, Kim Myungsoo, Others

Length for Chapter

With feeling angst, tragedy, sad, others(s)

Disclaimer

chocobae © 2016
poster by .hundredbird.

Warning

Semua yang di cerita ini hanyalah imajinasi penulis semata, bila tidak suka silahkan di-close. Tidak butuh bash, hanya butuh kritik dan saran membangun. Terimakasih.

**

“Sekarang kau hanya perlu membutuhkanku, Suez.”

**

Bae Sooji, gadis bersurai gelombang itu lekas mendudukan diri diantara kawan kecilnya. Ini memang masih dalam jam kerja, dan dia memang sedang dalam ijin keluar saat ini. Dia segera menyesap orage juice kesukaan Jinri, dan lekas menghembuskan napas sejenak kemudian berdehem.

“Apa aku kelihatan gugup?” Sooji mengawali dialog dengan ketiga kawannya. Soojung dan Jieun tertawa mendengarnya, sedangkan Jinri menepuk punggungnya.

“Hal yang sudah terlihat jelas seperti itu, apa harus kau pertanyakan?” Jinri menjawabnya. Mendengar jawaban yang tidak sesuai harapannya, Sooji segera menepuk-nepuk pipi bakpao nya dan menggeleng pelan, untuk me-relax-kan otot wajahnya. Begitulah pikirnya.

“Apa sebesar itu merindukannya? Bahkan kamu sudah sangat gugup saat ini, belum lagi kalau sudah bertemu dengannya langsung. Kamu mau pingsan?” Jieun bertanya sesaat sebelum dirinya menyumpal mulutnya sendiri dengan pudding coklat, makanan handalannya saat sedang diet seperti sekarang.

Bae Sooji, Lee Jieun, Jung Soojung, dan Choi Jinri. Siapa yang tidak mengenal mereka? 4 sosok primadona uggulan para kaum adam di usia matang. Lee Jieun, si penyanyi dengan tubuh mungil namun menggoda. Jung Soojung, model kelas atas yang seakan diciptakan hanya untuk brand ternama saja. Kemudian Choi Sulli, si aktris cantik dengan wajah yang sangat manis namun tubuh menggoda. Dan yang terakhir, Bae Sooji, sang direktur muda dari Bae corporation, sosok inspirtif, cantik, dan penuh gairah juga talenta. Siapa yang tidak iri dengan pertemanan 4 primadona tersebut?

 Jinri menjentikan jari, awal untuk menanggapi Jieun, “Bukan ide buruk. Cobalah berpura-pura pingsan. Kau bisa saja digendong olehnya,”

 Terdengar sangat bodoh.

“Maaf tapi aku hanya bercanda, nona Choi. Kau tidak harus melakukannya, Sooji-ah.”

Sooji mencibir Jinri sejenak, merasa sangat tidak terbantu olehnya. Degupan jantungnya pun makin menjadi memikirkan hal sederhana. Bagaimana dia harus bersikap dihadapan lelaki itu?

“Bawakan saja sekaleng kopi kesukaannya. Aku pikir itu bisa membantu mencairkan suasana.” Jung dingin –sebutan dari Jinri untuk Soojung- pun angkat suara.

“Ehey, dia mungkin lebih suka American Style sekarang. Bagaimana dengan kecupan? Aku pikir itu lebih ampuh.” Jieun kembali menyahut. Kali ini lebih bodoh dari Jinri. Dan suapan pudding coklat besar yang terakhir itu tidak sampai dengan selamat sesaat setelah Sooji memukul kepalanya keras-keras. Jieun merintih, beralih mengelus kepala kecilnya lekas melirik Sooji sengit.

Pudding yang kau jatuhkan itu makan siangku, bodoh,” desisnya.

“Anggap saja kecupan dariku untukmu.”

“Bagaimana dengan ibumu? Apa dia menyiapkan sesuatu?” Soojung kembali meluruskan topik, dan dijawab oleh Sooji dengan mengangkat bahu.

“Dia hanya memberi tahuku bahwa dia sudah menetapkan posisi untuk Oppa di cabang rumah sakit baru,” jelasnya.

“Maksudmu di rumah sakit jiwa?!” Jinri melengking, bersamaan matanya dan mulutnya yang melebar. Sooji tersenyum sekedarnya, kemudian bercicit, “Di keluargaku, hanya aku yang tidak bergelar dokter.”

“Kau harusnya selalu sehat dikelilingi dokter. Kenapa kau malah mengeluh kumat saat sedang takut? Itulah alasanmu menonton film horror sambil menggenggam plester luka.” Jieun kembali bercicit, tak lagi takut pukulan yang serupa dengan beberapa detik silam bisa saja terjadi lagi. Mendengarnya, Sooji mendengus sepintas kemudain menyahuti.

“Setidaknya plester luka tidaklah mahal untuk digenggam,” Sooji kembali menyerobot orage juice milik Jinri. Perutnya malah makin melilit membayangkan lelaki yang lebih tua darinya itu tumbuh besar di negara benua lain.

“Ya, setidaknya sekarang aku tidak akan lagi menggenggam cincin berlian pemberian Jongin. Puas?” Diliriknya Jieun yang terlihat tenang menjawabinya. Jieun mencibir Sooji sejenak sesaat setelah Sooji tersenyum tidak bergairah untuk meresponnya. Jieun kembali mengaduk mango juice miliknya diiringi Jinri dan Soojung yang heboh seketika setelah mereka bisa mengerti arah pembicaraan Sooji dan Jieun. Beginilah keadaan saat para gadis sedang bergosip.

Ditengah kericuhan yang dibuatnya dengan mengungkap bahwa Jieun telah memutuskan pertunangannya dengan Jongin, Sooji merogoh saku rok kerjanya, memencet-mencet layar ponselnya sehingga alarm peringatannya bisa terhenti. Disesapnya orage juice milik Jinri –lagi dengan terburu, kemudian dia lekas bergegas.

“Aku pergi sekarang. Doakan aku!” Pamitnya pada ketiga kawannya dan mendapat jawaban yang entah apa isinya –karena tidak begitu jelas ditelinganya. Di lambaikan lengannya ke arah jalanan untuk menghalau taksi yang kebetulan melintas ke arahnya. Setelah berhasil mendudukan diri di bangku penumpang, segera dia menyebutkan Inceon Airport sebagai tujuannya.

Dia menghembuskan napasnya panjang juga menyandarkan diri. Diliriknya keluar jendela untuk menetralkan degup jantungnya juga perutnya yang terasa masih melilit sedari tadi. Sekarang dia mengerti seberapa gugupnya untuk menyapa kerabat lama. Dia membuka kancing lengan kemejanya yang panjang untuk menilik plester luka yang sudah dipasangnya di bawah pergelangan tangannya. Dilihatnya sejenak, sembari berpikir. Dan akhirnya dia memilih melepaskan plester luka itu sehingga terllihatlah bekas belang seperti pembatas, imbas dari kebiasaanya memasang plester luka pada lengannya.

Ada satu penyakit yang dimilikinya sampai saat ini, dan entah kapan akan sembuh. Sebuah penyakit dimana dia merasa sangat tersiksa, perutnya terasa seperti tercabik saat dia merasa waspada dan takut. Dokter mengatakan padanya, bahwa itu dampak dari traumanya saat kecil, tepatnya saat kejadian penculikannya bersama kakak laki-lakinya. Dan dokter berhipotesa bahwa saat penculikan itu, dia selalu menggenggam plester luka untuk meredam ketakutan.

Sebenarnya dia juga tidak tahu cerita tepatnya. Karena pada kenyataannya, tragedi itu masih saja menjadi lubang di ingatannya walau sudah 12 tahun berlalu.  Dia merekatkan plester luka yang baru pada bekas yang sebelumnya, kemudian membenahi keadaan kemejanya dan berlanjut pada roknya. Setidaknya dia harus terlihat lebih dewasa dari 10 tahun silam, tepatnya saat dia berpisah dengan lelaki itu.

Benar saja, taksi yang membawanya itu berhenti  menandakan bahwa dia sudah semakin dekat dengan lelaki itu. Disodorkannya beberapa lembar uang sebelum melangkahkan kaki di bandara yang menjadi pendaratan pemuda itu di Korea.

Tangannya terasa dingin, masih saja dia tidak tahu bagaimana harus bertindak dihadapan orang yang sangat dia sayangi itu. Kakinya melangkah sembari dirinya yang masih berpikir, haruskah dia menuruti Jinri untuk pingsan saja?

Sesampainya dia di deretan para penjemput yang lain dan menyadari bahwa dia adalah salah satu dari mereka, dia hanya menghembuskan napasnya makin pasrah. Apakah lelaki itu masih bisa mengenalinya setelah perubahan pubertasnya yang membuatnya menjadi seorang wanita seperti sekarang? Apa Sooji juga masih mengenali lelaki itu setelah semua perubahannya selama di negara lain?

Bukan cerita keluarga lagi nantinya, kalau sampai dia dan pemuda itu sama-sama tidak saling mengenali. Haruskah dia membuat papan agar pemuda itu bisa mengenalinya? Kenapa dia tidak kepikiran sebelumnya tentang itu?

Saat gerombolan orang yang menggeret kopernya itu mulai tampak, Sooji mengutuk dirinya sendiri. Dia bahkan tidak menanyakan ini kepada ibunya –orang yang menyuruh Sooji menjemput lelaki itu- terlebih dahulu. Akhirnya dia hanya menggenggam lengannya –atau lebih tepatnya plester luka- saat dia merasa benar-benar terasing, terlabih saat beberapa lensa kamera menjpretnya tanpa ijin, sembari sang pemilik berbisik, “Dia, si direktur cantik teman Choi Jinri,” ataupun “Direktur cantik teman Lee Jieun, kau tidak tahu?”

Dia mencoba menegakan posisinya, mencoba menilik gerombolan para penumpang yang baru saja mendarat untuk segera menemukan sosok pemuda itu, dan lekas meninggalkan bandara. Dia berdecak saat menyadari bahwa sebagian besar penumpang pada penerbangan kali ini adalah para turis asing. Menyebalkan sekali, mereka memiliki tubuh yang tegap tinggi membuat beberapa orang lokal yang berjalan beriringan bersama mereka menjadi tertutup.

Napasnya mulai memberat beriringan dengan genggaman pada lengannya yang makin menguat. Tidak sedikit penjuru mata kini beralih padanya dan membisikan hal tentangnya.

“Orang jahat bersembunyi dibalik orang yang peduli padamu Sooji-ah,”

Setidaknya penuturan dari ayahnya 10 tahun silam itu masih terngiang hingga dia beranjak dewasa. Dia benar-benar tidak pernah pergi seorang diri, dan memang selalu ada orang yang bersedia menemaninya untuk berjaga-jaga. Kenapa dia merasa dirinya sangat menyedihkan saat ini?

Dirasanya hangat menjalar menyelimuti tubuhnya saat badan besar itu merengkuhnya dari belakang. Napasnya terhenti tak tahu harus bagaimana menghentikan hipotesa-hipotesa menakutkan yang terus bermunculan di dalam pemikirannya. Perutnya tidak bisa lagi tertolong, tapi dia hanya bisa berdiri kaku sekarang. Tangan besar itu menggapai tangan kirinya, kemudian menyingkapkan lengan kemejanya yang panjang, lalu jemari besar itu melepaskan plester lukanya perlahan.

“Sekarang kau sudah tidak perlu membutuhkannya,” begitulah bisik suara baristone itu tepat di telinganya, membuat Sooji terhenyak. Aroma tubuh itu rasanya dia pernah menghirupnya. Perutnya pun tidak lagi terasa menyakitkan. Hanya saja Sooji masih tidak mengerti yang terjadi sekarang.

“Sekarang, kau hanya perlu membutuhkanku, Suez.” Lanjut sang pemilik suara baristone itu sembari mendekapnya erat, dan menghirupnya dalam-dalam. Dan begitulah, Sooji baru bisa mempercayai hipotesanya, bahwa sang kakak –pemuda itu- telah pulang.

–tbc

**

Annyeonghaseo, new author here’-‘ pasti kalian langsung mikir “pantesan asing”, gitu kan? xD soalnya aku juga baru berani balik ke duni perfanfiction-an ehe. sebenernya juga gayakin mau kirimin ff ini, tapi kalo aku gaberani berarti aku gabakal dapet kritik saran dari orang lain, yakan? Ehe xD

But, I’ve try the best of me. Jadi kalau memang mengecewakan tolong dimaafkan ehehe, soalnya aku juga masih belajar. Aku yakin kok pasti peminat ff cast suzy pertama aku ini gabakal banyak >.< tapi aku gaboleh nyerah terus nyimpen file ff ini doang kan? Kkk~ jadi, tolong bantuan para readers yaa>.<

With Love,

chocobae.

24 responses to “[Freelance] Maestoso Chapter 1

  1. wah ceritanya bikin penasaran..
    kakak suzy itu siapa? myungsoo?
    tp kok suzy nyampe gugup gt cuma buat jemput kakaknya?
    jadi suzy selalu pake plester lukanya? soalnya dia takut? kenapa?

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s