(SongFict) Someday – Nina

image

Someday

Moodboard & Fanfiction present by Rach
Slice of life | Romance | Angst | Teen | Oneshoot
Miss A’s Bae Suzy & EXO’s Oh Sehun & Shinee’s Choi Minho

"Someday, someone's gonna love me, The way, I wanted you to need me.
Someday someone's gonna take your place."

 

Happy Reading~

Hilir mudik anak remaja usia 18 tahunan dengan seragam sekolah yang melekat ditubuhnya meramaikan bangunan sekolah menengah atas- siang ini. Beberapa dari mereka berhamburan bersama teman-teman dekatnya menuju kantin sekolah ataupun ruangan lain yang menjadi fasilitas sekolah, seperti contohnya seorang siswi berambut hitam se-bahu dengan poni yang menutupi dahinya, berjalan riang menuju perpustakaan diujung koridor sekolah.

Brukkkk

Suara benturan dari dua orang terdengar tepat didepan ruangan olahraga tepat disamping perpustakaan. Dua anak manusia yang membuat suara itu lantas saling mengaduh sakit ditubuhnya. Terutama sang gadis yang sampai jatuh tersungkur dilantai yang sudah jelas kotor dibawah sana.

Hya! Bisa kah kau menggunakan matamu jika berjalan?!” Teriak sang gadis dengan suara sopran memekik, menepuk-nepuk telapak tangannya yang kotor dan menatap kesal ke-sosok pria bertubuh tinggi, agak berisi dengan wajah tegas- mengukir ketampanan alaminya.

“Sejak kecil aku diajarkan Ibuku untuk berjalan menggunakan kedua kakiku, bukan mataku.” Saut pria yang saat ini memakai seragam tim basket sekolah, dengan handuk putih melingkar dileher jenjangnya.

Hya!!!” Gadis itu semakin memekik kesal, saat ia baru saja bangun dari posisinya, pria yang membuatnya terjatuh itu, malah melangkahkan kakinya menjauh, pergi tanpa mengucap kata- maaf.

Gadis itu menghentak-hentakan kakinya seraya melangkah masuk kedalam perpustakaan cukup luas disekolah ini. Bahkan isi perpustakaan ini bisa dibilang lebih lengkap dari toko buku di pusat perbelanjaan mewah- sekalipun.

Seorang pria dengan kaca mata yang bertengger diantara hidung mancungnya, tak juga merubah atensi-nya dari barisan-barisan huruf yang tertera dibuku yang tengah ia genggam kearah gadis yang baru saja mendudukan diri disampingnya.

“Oh Sehun, apa kau tahu apa yang aku alami sebelum datang kesini?” Gadis bermata agak bulat itu mulai berceloteh, menghembuskan nafas panjangnya sebelum menyandarkan kepalanya dilengan kanan pria bernama Sehun itu.

Sehun hanya melirik sekilas, tanpa menanggapi dengan suara. Pria yang dikenal sebagai juara 1 di-angkatannya dalam prestasi study-nya itu, masih fokus membaca rentetan kalimat dibuku Biologi didepannya.

“Aku baru saja bertemu pria menyebalkan! Kau tahu siapa namanya- itu loh yang terkenal di klub basket sekolah kita, dia menabrakku saat keluar ruang olahraga dan lebih parahnya lagi, dia tidak meminta maaf-“

“Bae Sooji, kau tahu ini dimana? Aku tak ingin diusir mereka, karena keberisikanmu.” Sehun memutus ocehan gadis disampingnya, merapihkan letak kacamatanya dan membalik lembaran tipis buku kehalaman selanjutnya.

Tsk! Tetap saja, dia tidak lebih menyebalkan darimu!” Sooji mengangkat kepalanya dari lengan Sehun, berdecak kesal lantaran sikap cuek- seperti biasa milik Oh Sehun.

Sehun kembali melirik sekilas, setelahnya kembali melakukan kegiatannya membaca buku yang sudah lima belas menit lalu ia baca.

“Kenapa aku bisa bertahan dengan manusia batu sepertimu!” Gumam Sooji dengan suara rendahnya, gadis itu menangkup kedua lengannya diatas meja dan menundukan kepalanya disana.

“Kenapa?” Suara berat Sehun terdengar sangat dekat, pria itu memajukan wajahnya tepat disamping telinga Sooji.

“Aku menyukaimu!” Saut Sooji yang menolehkan wajahnya, iris coklat hazelnut-nya berkilau begitu melihat wajah tampan Sehun berada tepat didepannya, tatapan dari mata bulan sabit itu begitu dalam ditambah dengan senyuman tipis diwajah Sehun, yang saat ini tengah merebahkan kepalanya ditumpukan tangan yang ia buat diatas meja, persis seperti posisi Sooji.

“Minggu besok sudah ujian. Aku tak mungkin mengabaikan waktu belajarku, sayang. Jika kau ingin bercerita, nanti saja saat pulang sekolah, Oke?” Sehun kembali mengangkat kepalanya, menyentuh pelan ujung hidung mancung Sooji dengan jari telunjuknya sebelum kembali kedalam dunianya bersama tumpukan buku didepannya.

Sooji menghembuskan nafas panjang, tentu saja bukan hal yang baru lagi bagi Sooji yang sudah satu tahun ini menjadi seorang kekasih dari si Juara satu disekolah ini. Ingin tahu bagaimana dengan Sooji? Dia hanya seorang siswi biasa yang hanya mampu masuk kedalam rangking 50 besar dari 150 siswa-siswi kelas 2 di sekolah Internasional ini. Lalu bagaimana bisa Sooji berkencan dengan pria si Juara satu? Jika dibilang sebuah ke-tidak-sengaja-an, apa orang lain percaya? Ya, semua berawal saat satu tahun yang lalu, kedua insan muda itu menjadi siswa kelas 1 disekolah ini.

1 years ago…

Seorang pria dengan seragam putih dan jas sekolah yang ia sampirkan dilengan, tengah mengatur nafasnya yang sedikit memburu lantaran kegiatannya berlari dari kantin menuju perpustakaan yang jaraknya dari ujung- ke- ujung.

“Sial! Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan para senior genit itu dan berhenti mengangguku!” Gerutu pria ber-nametag Oh Sehun yang berada di Jas sekolah yang baru saja ia kenakan lagi.

“Kau harus memiliki pacar.” Saut seorang gadis yang sejak tadi duduk tepat didepannya, wajahnya tertutup kamus terjemahan Inggris-Korea setebal 7 cm didepannya.

“Maksudmu?” Sehun mengerutkan kedua alisnya, mendudukan dirinya dimeja yang sama dengan gadis misterius yang dengan santainya menyahuti gumamannya barusan.

“Iya. Jika kau ingin terhindar dari senior-senior genit itu maka kau harus memiliki pacar, Pasti mereka akan berhenti mengejarmu jika tahu kau sudah memiliki kekasih.” Jelas gadis berponi yang hampir menutupi alis tebalnya, gadis itu masih menutupi wajahnya dengan kamus tebal yang entah apa tujuannya, hanya ia bolak-balik saja halamannya.

Hmm… Sepertinya bukan ide yang buruk. Kalau begitu… Kau ingin jadi pacarku?” Dengan santainya suara serak itu keluar begitu saja dari pria tampan dengan kaca mata hitam yang membingkai mata bulan sabitnya.

Gadis yang sejak tadi menjadi lawan bicaranya dengan cepat meletakan kamus tebal yang sejak tadi menutupi wajahnya. Iris coklatnya membulat sempurna, bahkan bibir merah cherry-nya sedikit terbuka dan memperlihatkan sebagian gigi kelinci yang ia miliki.

“Jadi… Mulai hari ini, kau… Bae Sooji? Resmi menjadi pacarku.” Ucap Sehun yang sebelumnya menajamkan penglihatannya untuk melihat nama gadis yang baru pertama kali ia temui.

Ya, untuk pertemuan pertamanya tentu saja Bae Sooji merasa terkena serangan jantung karena tanpa terduga sedikitpun, bisa menjadi kekasih dari seorang Oh Sehun yang sangat dikenal dengan otak cerdas dan wajah tampannya. Tanpa orang-orang tahu sikap cuek, dingin bahkan menyebalkannya pria Oh itu yang dengan beraninya sudah mencuri cinta dari Bae Sooji sampai saat ini.

♫♫♫

Minggu ujian tengah berlangsung sejak tiga hari yang lalu, dan sudah tiga hari pula Sooji tak bisa mengajak Sehun untuk sekedar ke kantin apalagi ke atap sekolah seperti saat ini. Kebiasaan Bae Sooji yang jika sudah menjalani Ujian pasti akan menghilangkan stress-nya diatap sekolah, tanpa pernah Sehun tahu.

Huwaaaaaah! Langitnya indah sekali.” Teriak Sooji yang baru saja meregangkan kedua lengannya, berdiri tegak didepan besi pembatas yang melindungi atap gedung.

Gadis itu mulai menikmati warna biru cerah langit dengan awan Cumolonimbus yang menggumpal hingga membentuk berbagai bentuk sesuai imajinasi Sooji. Bersenandung lembut dengan suara emas-nya, mencoba menghilangkan stress dengan caranya sendiri.

“Apa hobimu selalu menganggu orang lain?” Suara bariton seorang pria terdengar, membuat Sooji menghentikan alunan suaranya dan menolehkan tubuhnya mencari dimana asal suara itu.

Sooji melangkahkan kakinya pelan menuju ujung atap sekolah yang dekat dengan pintu gudang. Matanya seketika membulat begitu melihat sosok pria yang beberapa hari lalu membuatnya kesal, tengah merebahkan tubuhnya diatas dua meja kayu yang dijajarkan. Matanya terpejam, namun Sooji yakin pria itu tidak sedang tidur.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Sooji dengan nada sinisnya, kedua tangannya bersedekap didepan dada dengan ekspresi kesal yang sengaja ia pajang diwajahnya.

“Kau tidak bisa lihat? Bukankah kau selalu menggunakan matamu?” Saut pria bersurai coklat dengan rambut yang dibelah kesamping- menambah ketampanannya.

Tsk! Menyebalkan!” Sooji berdecak kesal, baru saja ia ingin melangkah menjauh dari pria itu, langkahnya terhenti begitu sebuah tangan panjang meraih lengan mungilnya tanpa permisi.

“Maaf… Soal waktu itu.” Pria itu bersuara begitu ia mendudukan dirinya dan dengan cepat meraih lengan Sooji yang hampir menjauh darinya.

Suzy terperangah, bukan karena kata Maaf yang sejak kemarin ia inginkan akhirnya ia dapatkan, tapi karena seulas senyum yang melengkung dibibir merah pria bernama Choi Minho yang tertulis di-nametag-nya.

Hey, jangan lupa bernafas.” Minho kembali bersuara, bangkit dari duduknya dan melepaskan tangannya dilengan Sooji yang baru saja tersadar dari jeratan pesona Minho saat ini.

Woah… Kau memang benar-benar menyebalkan!” Sooji melebarkan bibirnya, menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kesal karena merasa diremehkan oleh pria yang baru Sooji ketahui namanya saat melirik kearah nametag di Jas yang Minho kenakan.

“Berbicaralah yang sopan, aku senior-mu!” Ucap Minho yang kembali tersenyum miring dan berjalan menuju pintu yang menghubungkan tangga, setelah dengan beraninya mengacak kasar rambut Sooji yang terurai sejak tadi.

Hya! Berhenti!!!” Teriak Sooji yang semakin kesal, dengan langkah cepat dan sedikit berlari demi mengejar Minho yang sudah berjalan tak kalah cepat didepannya. Wajahnya memerah, menahan kesal karena sikap lancang pria yang mengaku menjadi Senior-nya itu.

Langkahnya berhenti tepat dua langkah dari tangga paling akhir yang membawanya ke lantai dua gedung sekolah ini. Tanpa sengaja, tubuh mungil Sooji menabrak tubuh Minho untuk yang kedua kalinya, karena ulah Minho yang menghentikan langkahnya tiba-tiba dan menolehkan tubuhnya menghadap Sooji dibelakangnya.

“Jika kau menabrak tubuhku untuk yang ketiga kalinya, kau harus mau berkencan denganku satu hati.” Ucap Minho dengan smirk-nya, mendorong kedua lengan Sooji agar memberi jarak dari tubuhnya. Tentu saja Sooji terdiam, untuk kedua kalinya ia terjerat pesona Minho yang kembali tersenyum manis padanya.

“Selamat ujian, Bae Sooji.” Minho kembali bersuara, melirik sekilas kearah nametag Sooji dan kembali mengacak rambut Sooji yang memang sudah berantakan sebelum ia melangkah pergi keruang kelasnya yang berada dilantai satu.

♫♫♫

Minggu yang paling memberatkan untuk siswa-siswi sekolah menengah atas Internasional, termasuk bagi Bae Sooji- akhirnya terlewati. Ujian semester genap tahun ini sudah selesai. Para siswa-siswi hanya perlu menunggu daftar nilai yang akan diberitahukan di buku rapor yang akan dibagikan minggu depan.

Sorak-sorai seluruh siswa-siswi terdengar, begitu para guru memberitahu bahwa mulai besok kegiatan sekolah dibebaskan, hanya akan berlangsung perlombaan antar kelas yang diadakan oleh Organisasi sekolah dan guru yang bertanggung jawab. Tak terkecuali juga untuk Bae Sooji yang terus saja menyunggingkan senyum bahagianya lantaran liburan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.

“Sehun-ah, temani aku mencoba Ice cream green tea di cafe yang baru didekat Yeuido Park.” Ucap Sooji dengan suara manjanya, meraih lengan Sehun kedalam genggamannya dan berjalan bersama keluar gerbang sekolah. Oh Ayolah, Sooji sudah tidak peduli dengan tatapan iri bahkan benci dari gadis-gadis yang menganggumi ketampanan kekasihnya itu.

“Rasanya pasti tetap sama seperti Ice cream green tea di cafe yang lain, Bae Sooji. Jangan berlebihan.” Balas Sehun dengan nada yang terdengar tak begitu antusias dengan ajakan kekasihnya barusan.

“Tidak. Aku dengar dari Soojung, rasanya berbeda. Di cafe ini benar-benar enak sekali.” Sooji menggelengkan kepalanya, menatap wajah Sehun dengan puppy eyes-nya. Hal itu sukses membuat Sehun mengangguk pasrah dan menyimpulkan senyumnya begitu melihat tingkah manis gadis yang sudah mengisi hari-harinya sejak satu tahun lalu.

Sepasang kekasih remaja itu menaiki bus untuk sampai ke cafe yang dituju, dengan seragam sekolah yang masih melekat ditubuh keduanya membuat sepasang kekasih itu membatasi kemesraannya didepan umum. Tentu saja, mereka tahu diri dan tak ingin mendapat tatapan tak senang dari orang-orang disekitarnya.

Setelah menghabiskan dua Cup Ice cream green tea kesukaannya, Sehun segera mengantarkan Sooji untuk pulang kerumah, mengingat saat ini sudah pukul 18:00 KST. Sehun tak ingin orangtua Sooji menilainya buruk karena membuat Sooji pulang terlambat.

“Besok sudah tidak ada jadwal belajar disekolah, kau ingin nonton bioskop denganku sepulang sekolah?” Ucap Sooji yang sudah berdiri didepan rumahnya, menatap hangat wajah tampan kekasihnya yang berdiri didepannya.

“Sooji-ya, Ibuku sudah mendaftarkanku les bahasa jepang kemarin. Dan besok hari pertamaku mengikuti les itu.” balas Sehun dengan wajah menyesalnya. Sehun tahu betul kabar ini sangat membuat Sooji kesal, tapi Sehun bisa apa? Jika boleh jujur, tentu saja Sehun akan lebih memilih kegiatan belajarnya itu.

“Selama menjelang liburan ini? Jangan bercanda!” Saut Sooji dengan senyum miringnya. Jika saja Sehun tahu, saat ini Sooji tengah sekuat tenaga menahan tangisnya lantaran kecewa dengan kabar buruk dari Sehun. Sooji bahkan sudah menunggu-nunggu liburan ini untuk ia habiskan bersama Sehun, karena Sooji yakin Sehun akan sedikit memiliki waktu saat musim liburan, tapi harapan pupus saat ini.

“Iya. Kau tahukan aku tidak bisa menyia-nyiakan waktuku-“

“Apa berkencan denganku, kau anggap telah menyia-nyiakan waktumu?” Sooji menatap tajam kearah Sehun, memutus ucapan kekasihnya yang mungkin jika dilanjutkan akan membuatnya semakin kecewa.

“Bukan begitu. Ayolah sayang, jangan berlebihan seperti ini.” Jawab Sehun dengan suara beratnya, kedua lengannya terjulur untuk meraih kedua lengan mungil Sooji yang mengepal kuat disisi tubuh mungilnya.

“Kau yang berlebihan! Apa les bahasa mandarin, les fisika, les biologi dan les piano-mu itu tidak cukup?!” Sooji menepis kasar lengan Sehun, meninggikan nada suaranya dengan wajah memerah menahan emosi yang sudah mulai menaik diujung kepalanya.

“Bae Sooji! Kenapa kau seperti ini? Sejak dulu kau tidak pernah terganggu dengan kesibukanku.” Sehun ikut meninggikan nada bicaranya, rahangnya mulai mengeras lantaran emosi dengan sikap kekasihnya saat ini.

“Ya, sejak dulu aku selalu bersabar, tapi saat ini… Aku rasa kesabaranku sudah habis.” Saut Sooji dengan suara merendahnya, gadis itu dengan cepat menghapus air mata yang baru saja lolos dari dwimanik-nya.

“Jadi maksudmu sekarang kau sudah tidak bisa bertahan denganku, begitu?” Sehun dengan bodohnya melempar tanya yang akan menggali kuburnya sendiri dengan suara emosinya.

“Kau bisa menyimpulkannya sendiri.” Balas Sooji yang menggeratakn gigi-giginya menahan emosinya yang semakin meluap.

“Dan kau harus tahu Sehun, suatu hari akan ada yang mencuri tempatmu dihatiku.” Sooji mengulas senyum tipis namun tersirat perasaan sedih yang berkecamuk dalam hatinya.

Tanpa menunggu tanggapan dari Sehun, gadis pemilik gigi kelinci itu melangkah masuk kedalam rumahnya. Meninggalkan Sehun yang berdecak kesal dan mengacak kasar rambutnya seorang diri. Tapi tak berlangsung lama, pria berdagu lancip itu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan rumah gadis-nya itu.

♫♫♫

Sudah empat hari setelah pertengkaran itu, Sooji dan Sehun tidak saling berkomunikasi untuk sekedar menanyai ‘sedang apa?’ ‘Sudah makan atau belum?’ Apalagi ucapan selamat pagi maupun selamat malam. Sooji terlalu malu jika harus mengirim pesan singkat atau menghubungi Sehun lebih dulu, pasalnya malam itu Sooji-lah yang lebih dulu memulai pertengkaran dan mungkin menurut Sehun itu sebuah akhir dari hubungannya.

Gadis kelahiran bulan Oktober itu bahkan tak memiliki semangat saat berjalan menuju kantin sekolahnya seorang diri. Kepala yang terasa berat itu ia tundukan, hanya melihat kearah lantai sekolah. Langkahnya terpaksa berhenti begitu ia menabrak tubuh beraroma maskulin yang hanya bisa ia lihat sepatu ber-merek Nike-nya berwarna hitam polos itu didepannya.

“Tiga kali. Dan kau resmi memiliki hutang denganku.” Suara bariton milik pria terdengar, membuat Sooji menengadahkan kepalanya dan sontak menghembuskan nafas panjang begitu melihat sosok Senior-nya yang sangat tak ingin ia temui lagi- setelah beberapa hari lalu bertemu di atap sekolah.

“Aku tidak sedang dalam mood untuk beradu mulut denganmu, Minho-ssi.” Ucap Sooji yang kembali menundukan kepalanya dan melangkah tak bersemangat melewati tubuh Minho.

“Kau memanggilku apa? Bagaimana bisa-“

“Bagaimana bisa aku tahu? Hey, siapa yang tak mengenal jagoan tim basket disekolah ini?! Bahkan teman-teman sekelasku sering membicarakanmu, aku bingung kenapa mereka bisa menyukaimu.” Ucap Sooji yang dengan tak bersemangat melepas genggaman tangan Minho yang tanpa permisi melingkar dipergelangan tangannya.

“Ah… Apa kau ingin tahu kenapa mereka menyukaiku? Baiklah, Ayo!” Balas Minho dengan smirk andalannya, dan tanpa permisi lagi- pria bermata agak bulat itu menarik lengan Sooji dan mengajak gadis yang hampir kehilangan semangat hidupnya itu menuju ruang olahraga yang tak terlalu jauh dari posisi mereka tadi.

Sesampainya mereka didalam lapangan basket, Minho membawa Sooji berdiri ditengah lapangan. Pria bermarga Choi itu melangkah menuju keranjang besi berisi bola-bola basket dan dengan tatapan angkuhnya- men-dribble bola karet itu seraya memberi kode Sooji agar merebut bola yang berada ditangannya itu.

Sooji memutar bola matanya, menghembuskan nafas panjang dan melangkah tak bersemangat kearah Minho yang tersenyum tipis melihat lawannya mulai merespon. Dengan sedikit pengetahuan tentang permainan basket- Sooji mengumpulkan kembali semangatnya setelah ia merasa kesal karena Minho sudah lima kali memasukan bola kedalam Ring dan melawannya begitu saja.

Minho yang melihat kilatan mata Sooji yang semakin terlihat penuh semangat, dengan sengaja membuat kemampuannya melemah dan membiarkan Sooji merebut bola darinya dan tanpa terduga gadis itu berhasil memasukan bola kedalam Ring setelah tiga kali gagal sebelumnya.

Yeaaay! Kau lihat? Aku bisa memasukan bolanya!” Teriak Sooji yang menjulurkan telunjuknya kearah Ring dengan senyuman bahagia sampai membuat matanya menyipit yang lantas membuat Minho ikut tersenyum melihatnya.

Setelah itu, Minho kembali membiarkan Sooji memimpin permainan. Gadis itu kembali berhasil mencetak Score yang tentu saja membuat wajahnya berekspresi bahagia dan penuh semangat lagi. Sudah hampir setengah jam mereka berdua habiskan untuk permainan basket yang tidak ada peraturannya itu.

Sooji yang berdiri disisi lapangan mengatur nafasnya yang memburu, menghapus jejak-jejak keringat diwajahnya dengan punggung tangannya. Melirik sinis kearah Minho yang dengan santainya menghapus keringatnya dengan sapu tangan coklat miliknya. Oh Ayolah! Sooji bahkan sempat berfikir seperti di drama korea yang sering ia tonton, jika Minho akan memberikan sapu tangan itu pada Sooji. Tapi nyatanya tidak sama sekali.

Minho yang merasa sepasang mata sejak tadi meliriknya sinis, dengan angkuh berjalan pelan mendekat kearah gadis yang masih melempar tatapan tak senang kearahnya. Dengan bola yang berada satu tangannya yang melengkung disisi pingangnya, tersenyum tipis begitu jaraknya sudah semakin dekat dengan Sooji.

Sooji menahan nafasnya, matanya sedikit membulat dan dengan bodohnya jantungnya berdegup kencang begitu Minho berdiri tepat didepannya. Bahkan ujung sepatu mereka bersentuhan karena jarak sedekat ini, satu tangan Minho yang bebas mengukung sisi tubuh Sooji dan semakin membuat Sooji menempel dengan benda terbuat dari besi dibelakangnya. Sedetik kemudian Minho kembali mendekatkan tubuhnya dengan senyum tipis dibibirnya, membuat wajahnya yang penuh keringat itu semakin terlihat Seksi dimata Sooji yang dengan bodohnya terpejam begitu saja.

Brukkk

Suara benda yang saling beradu terdengar, Sooji kembali membuka suaranya begitu mendengar suara tawa renyah dari Minho. Ia melirik kearah belakang tubuhnya. Dan detik itu juga ia mengutuk dirinya karena ternyata Minho hanya ingin mengembalikan bola basket itu kedalam keranjang besi dibelakang Sooji.

“Apa maksud mata terpejam itu? Jangan bilang, kau berfikir aku akan menciummu?” Minho membuka suara, masih dengan tawa kecilnya yang masih membuat Sooji sedikit terpesona.

“Tidak! Kau gila?!” Pekik Sooji dengan suara kesalnya, dengan sekuat tenaga ia mendorong dada bidang Minho dan membuat pria itu terdorong kebelakang dan menjauh dari Sooji.

Dengan wajah memanas dan semburat merah dipipinya, Sooji dengan geram melangkah menjauh dari Minho yang masih mengulas tawa. Namun niatnya terhenti begitu lengan hangat Minho meraih pergelangan tangannya dan membuat Sooji kembali menoleh kearah Minho.

“Keluarkan ponselmu.” Ucap Minho dengan raut wajah yang kembali datar. Mata bulatnya melirik kearah saku kemeja sekolah Sooji yang memang ada ponsel didalamnya.

Tanpa berniat melawan karena tak ingin berdebat, Sooji mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat diraih oleh Minho dan pria itu menekan-nekan layar sentuh ponsel pintar itu.

Drrrrttt… Drrrrttt…

“Aku akan menghubungimu jika aku ingin menagih hutangmu.” Minho kembali berucap seraya menunjukan layar ponsel miliknya yang sempat bergetar dan menampilkan nomor Sooji yang menghubungimu.

Tak ingin terlalu lama dengan pria menyebalkan itu, Sooji kembali melangkahkan kakinya keluar ruang olahraga dengan wajah bersemu merahnya. Ia menghentikan langkahnya didepan pintu ruang olahraga yang langsung terasa sejuk karena hembusan angin yang menyapu tubuhnya yang berkeringat. Tangan kanannya menangkup didepan dada kiri, merasakan degup jantungnya yang entah kenapa berdetak kencang begitu saja, dan tanpa ia sadar rasa sedih yang sempat menyelimuti hatinya beberapa hari belakangan ini sirna karena kegiatan sederhana tadi bersama seniornya- Minho.

♫♫♫

Sejak dua hari yang lalu paska permainan basket tanpa rencana itu, Sooji selalu berusaha menghindari dirinya dari sosok pria yang lebih tua satu tahun diatasnya. Pria yang memang tidak terlalu sering menampakan dirinya selain di ruang olahraga, atap sekolah maupun dikelasnya. Dan lebih parahnya lagi pria itu memang belum pernah menampakan dirinya lagi didepan Sooji, bahkan menghubungi nomornya-pun tidak. Bukan, bukan Sooji mengharapkan seniornya itu- Minho menghubunginya, tapi entahlah- Sooji selalu tak tenang jika membayangkan hutang yang sebenarnya tak dianggap hutang olehnya pada pemuda Choi itu.

Sooji menyebar pandangannya ke-sekeliling bangunan yang dapat terlihat dari posisinya saat ini di atap sekolah, angin yang berhembusan membuat beberapa helai surai lembut miliknya berterbangan dan menimbulkan harum vanilla sesuai aroma shampo yang ia gunakan.

Drrrrttt… Drrrttt…

Ponselnya bergetar berkali-kali, Sooji sang pemilik hanya menggigiti bibir bawahnya begitu melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Tak berniat menjawab panggilan, Sooji hanya terus menatap layar datar ponsel pintar yang ia genggam dengan kedua tangan yang berada dipenyangga balkon atap.

“Jangan dijawab? Hm?” Suara bariton pria yang belum terlalu telinga Sooji hafal tapi Sooji tahu siapa pemiliknya, membuyarkan kegiatan Sooji yang menahan nafas karena perasaan gugup saat teleponnya bergetar.

Sooji menoleh kearah belakang, dimana sumber suara telah berdiri tepat dibalik punggungnya.

Su-sunbae… Apa yang kau lakukan?” Sooji membulatkan matanya, bola matanya bergetar begitu melihat sosok yang sejak kemarin sangat ingin ia hindari.

Hya! Kenapa kau menamai nomorku seperti itu? ‘Jangan dijawab’? Tsk! Jika ibuku tahu bahwa namaku diganti seperti itu, pasti dia akan marah besar.” Suara khas siswa yang ahli dalam permainan basket itu dibuat seolah-olah kecewa, wajahnya ditekuk dengan gelengan kepala yang ditujukan untuk Sooji yang semakin terlihat gugup.

“Terserahku! Apa yang kau lakukan disini sekarang? Sejak kemarin kau tidak datang kesini, kenapa tiba-tiba sekarang kesini lagi?!” Ketus Sooji yang dengan cepat memasukan ponselnya kedalam saku jas sekolahnya dan kembali menolehkan tubuhnya membelakangi Minho.

“Ah… Jadi sejak kemarin kau menungguku disini? Dan tunggu… Apa kau tadi memanggilku ‘sunbae‘ begitu? Wah…. Aku merinding mendengarnya.” Minho mengambil langkah, mensejajarkan posisinya berdiri disamping Sooji yang kembali memangku kedua tangannya diatas penyangga besi balkon dan menatap lurus kedepan kearah bangunan dan jalan raya yang terlihat agak ramai.

“Aku tak tahu jika pria sepertimu ternyata banyak bicara, berisik!” Gumam Sooji dengan menyelipkan dengusan kekesalannya.

“Pria sepertiku? Seperti apa maksudmu? Pria tampan, populer, keren dan mempesona? Apa kau sudah tahu alasan kenapa teman-temanmu itu menyukaiku?” Balas Minho dengan kekhan kecil yang membuat mata bulatnya sedikit menyipit dan wajah tampannya bertambah 10 kali lipat karena senyuman hangat itu.

“Terserah! Kenapa kau menghubungiku tadi?” Sooji tak berniat menanggapi ocehan menyebalkan seniornya itu, lagi pula saat ini perasaannya sedang gugup karena takut-takut orang yang sejak tadi sedang ia tunggu, datang melihatnya bersama Minho.

“Aku ingin kau membayar hutangmu. Apa kau sedang menunggu seseorang saat ini?” Ucapan Minho berhasil membuat Sooji membulatkan matanya dan membuka sedikit bibirnya, bagaimana bisa pria tengil itu tau bahwa Sooji sedang menunggu seseorang? Sooji bahkan tak sempat menjawab, karena Minho lebih dulu mengulas senyum kearahnya.

“Baiklah. Pulang sekolah, kita bertemu didepan sekolah. Sampai nanti” Ucap Minho dengan kedipan sebelah matanya dan senyuman manisnya, mengacak pelan rambut terurai Sooji yang masih terdiam sampai Minho melangkah menjauh dan berjalan meninggalkan atap sekolah.

Dua jam setelah peninggalan Minho, Sooji masih setia berdiri didepan penyangga balkon dan sesekali menatap layar ponsel yang tak juga memberikan tanda-tanda adanya pesan singkat ataupun panggilan masuk kenomornya. Sampai akhirnya kedua kaki jenjangnya terasa keram seperti ribuan semut menyerangnya, Sooji menyerah dan meninggalkan atap sekolah dengan perasaan yang berselimut emosi karena orang yang membuatnya menunggu hampir tiga jam itu tak juga menampakan sosoknya didepan Sooji, orang itu- Oh Sehun yang baru saja Sooji lihat keluar dari kelasnya dan berjalan menuruni tangga ke lantai satu dan menuju gerbang sekolah dengan beberapa buku ditangannya dan tas dipundaknya.

♫♫♫

Tin… Tin…

Suara klakson motor terdengar, sesuai ucapannya tadi- Minho bersama motor besarnya menghampiri Sooji yang duduk dibangku halte bus sepulang sekolah. Jujur saja, bahkan Sooji tak ingat dengan ucapan seniornya itu karena kejadian diabaikan oleh Sehun untuk yang ke-sekian kalinya- tak terhitung.

Dengan langkah tak bersemangat, Sooji menghampiri Minho dan tanpa menolak- membiarkan Minho memasangkan helm dikepala mungilnya dan naik keatas motor Minho yang langsung melaju kencang membelah jalan raya. Tak ada suara yang keluar dari mulut gadis bergigi kelinci itu, hanya ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan pria bermata bulat yang saat ini mulai merasa kesal karena tak mendapat jawaban sama sekali dari lawan bicaranya.

“Jangan cemberut seperti itu, nanti mereka kira aku menculikmu.” Celetuk Minho yang dengan paksa menarik lengan Sooji masuk kedalam sebuah bangunan yang penuh dengan berbagai permainan mulai dari ding-dong, doll crane, dancing floor, arcade car, motorcycle racing, boxing toy, hingga photobox didalamnya.

Sooji menarik nafas dan menghembuskan dengan panjang, mengangkat bahunya yang lemas dan mulai mencoba menyebar pandangan ke-sekeliling ruangan yang terlihat cukup cantik dengan lampu kelap-kelip disekitarnya.

“Bersenang-senanglah.” Minho kembali bersuara sebelum kembali menarik lengan Sooji dan mengajak gadis Bae bermain dengan berbagai permainan yang tersedia disana.

Tertawa bersama, saling berteriak satu sama lain, bersaing dengan antusias bahkan tak segan untuk saling melempar pukulan saat tengah bermain berdua disana, seolah Sooji sedang berusaha keras meluapkan emosinya dan menghilangkan rasa penatnya yang beberapa hari ini selalu membuat harinya kelabu- sangat bersemangat saat memainkan boxing toy. Dan Minho yang merasa dirinya berhasil membuat si gadis melupakan masalahnya yang membuatnya beberapa hari ini menekuk wajah cantiknya itu, selalu mengumbar senyum dikala melihat Sooji asik dengan permainan dancing floor dan berteriak kegirangan begitu mendapatkan boneka yang dengan susah paya Minho dapatkan dari doll crane disana.

Penutupan acara yang Minho sebut kencan itu dilakukan dengan melakukan foto bersama disebuah photobox yang berbentuk persegi mungil dan langsung mencetak instant hasil foto yang mereka lakukan 6 kali jepretan itu.

“Terima kasih.” Sooji membuka suara ditengah kegiatannya memakan Ice cream greentea yang Minho belikan dicafe langganannya bersama Sehun.

“Untuk?” Minho membalas, matanya masih asik melihat kearah Ice cream berisi berbagai macam buah didepannya.

“Untuk hari ini. Untuk permainannya, untuk Ice cream-nya, untuk-“

Hey, jangan bicara seperti itu. Seolah-olah kau tak ingin bertemu denganku lagi.” Saut Minho dengan tawa kecilnya sebelum ia mendengar gadis yang duduk didepannya menyelesaikan ucapannya.

“Bukankah memang begitu? Aku sudah melunasi hutangku, jadi kau tidak punya alasan untuk mengangguku lagi.” Balas Sooji yang meletakan cup Ice cream-nya, dan menatap lurus kearah Minho yang masih asik mengaduk-aduk Ice cream-nya tanpa membalas tatapannya.

“Apa kau merasa terganggu olehku?” Tanya Minho dengan suara rendahnya, kepalanya terangkat dan kedua mata bulatnya mulai tertuju kearah Sooji yang sedikit gugup karena tatapan dalam itu.

“Bu-bukan begitu. Hanya saja-“

“Baiklah. Karena kau tidak merasa terganggu denganku, jadi kita masih bisa sering bertemu saat liburan nanti. Aku akan mengajakmu ketempat yang lebih menyenangkan dari hari ini, kau tak menolak kan?” Minho menjentikan ibu jari dan telunjuknya, bersuara dengan nada antusias dan jangan dilupakan senyuman yang merekah diwajahnya yang tanpa sadar membuat Sooji mengulum senyum untuk menyembunyikan detak jantung Sooji berdegup tak menentu.

♫♫♫

Liburan sudah berlangsung hampir seminggu, dan sejak dimulainya masa liburan itu selalu Sooji habiskan untuk bermain bersama Minho diluar rumah untuk pergi ke tempat-tempat yang selalu bisa membuat Sooji sulit menyembunyikan raut wajah bahagianya disaat berada disana bersama Minho setiap harinya.

Tapi tidak dengan hari ini, dihari Sabtu malam saat ini- Sooji sudah menghabiskan waktu satu jam untuk duduk disebuah kursi kayu didalam cafe sederhana yang menjual berbagai macam Ice cream yang jujur saja semua harga didaftar Menu sudah Sooji hafal karena terlalu sering datang kesini.

“Maaf aku terlambat.” Suara serak seorang pria yang sudah beberapa minggu tak mengisi gendang telinga Sooji- kini terdengar bersamaan dengan sosok tubuh tingginya yang mendudukan diri dikursi depan Sooji.

Sooji hanya mengulum senyum tipis. Rasanya Sooji sudah tak harus menanggapi ucapan yang sudah terlalu sering ia dengar dari bibir pria berwajah tampan dengan dagu lancip itu.

“Tadi guru les piano-ku sedikit terlambat, jadi mengambil waktu diluar jadwal.” Pria itu kembali bersuara, mata bulan sabitnya menatap lurus kearah Sooji hanya mengulas senyum tipis sejak tadi.

“Kenapa kau hanya diam? Bukankah biasanya kau akan mengomel ini dan itu?” Sehun yang merasa canggung dengan sikap diam Sooji- akhirnya mengeluarkan nada sedikit meninggi diucapannya.

“Untuk apa? Aku sudah tidak punya hak untuk melakukan itu padamu, Oh Sehun.” Sooji membuka suara, menghembuskan nafas panjang dan menyesap se-sendok Ice cream didepannya dengan wajah santai.

“Apa yang kau bicarakan? Apa kau sudah tak menganggapku sebagai kekasihmu lagi?” Sehun mengerutkan dahinya, tangannya dengan cepat menyentuh dan menghentikan salam satu lengan Sooji yang tengah mengaduk Ice cream-nya.

“Bukankah memang begitu?” Tanya Sooji dengan yang mengangkat kedua alisnya sekilas dan melepaskan cengkraman Sehun dilengannya.

“Apa kau ingin meninggalkanku sekarang?” Sehun menajamkan pandangannya dengan kedua bola mata yang bergetar dan rahangnya mengeras.

“Kau yang meninggalkanku Sehun… Sejak dulu.” Balas Sooji dengan ekspresi yang berbanding terbalik dengan Sehun. Tatapannya redup, wajahnya datar dan senyuman tipis kembali menghiasi wajah cantiknya.

Sehun terdiam, menarik nafas panjang dan menatap lurus kedepan seolah membayangkan apa saja yang ia lakukan pada Sooji selama ini memang salah. Ya, Sehun memang sudah meninggalkannya sejak dulu, meninggalkan Sooji dan lebih memilih menghabiskan waktunya dengan sejuta kesibukannya bersama jadwal les-nya.

“Apa kau tak bisa memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita?” Sehun membuka suara, mata bulan sabitnya mulai meredup dengan genangan air dipelupuk matanya.

“Aku sudah memberimu kesempatan, sudah sangat sering sampai kau tak sadar bahwa itu kesempatanmu. Dan minggu lalu adalah kesempatan terakhir yang ingin aku berikan padamu, tapi… Kau malah menyia-nyiakan kesempatan itu.” Ucap Sooji dengan suara lembutnya, tak ada air mata yang membasahi iris coklatnya. Ingat! Tidak ada.

“Apa yang kau… Ah! Waktu disekolah kau bilang kau berada diatap sekolah? Astaga, maafkan aku, aku lupa-“

“Tentu saja kau akan melupakanku, karena aku bukan prioritas utamamu. Aku hanya nomor keberapa puluh dihidupmu. Kau tahu? Aku menunggumu hampir tiga jam, dengan rasa percayaku bahwa kau akan menepati janjimu ingin menemuiku, aku tak meninggalkan atap sekolah diudara dingin saat itu. Tapi ternyata, kau bahkan tak mengingat ada aku yang menunggumu.” Saut Sooji dengan suara rendahnya, ujung bibirnya terangkat sekilas menampilkan senyum miring diwajah cantiknya yang terlihat biasa saat ini.

“Maafkan aku, Tidak bisakah aku mendapat kesempatan lagi darimu?” Sehun menjulurkan tangannya, mengenggam telapak tangan Sooji diatas meja dengan wajah memohon kearah sang gadis.

Sooji menggelengkan pelan kepalanya, melepas genggaman tangan Sehun dengan senyuman hangat yang membuat Sehun semakin merasa sakit direlung hatinya.

“Apa sudah tiba hari dimana seseorang akan merebut tempatku dihatimu?” Sehun kembali membuka suara, bahunya melemas dengan wajah yang memerah. Sooji yang mendengar ucapan Sehun barusan lantas sedikit meneguk salivanya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Bagaimana bisa Sehun masih mengingat kalimat Sooji beberapa waktu lalu? Sooji fikir kalimat itu hanya lewat sekilas ditelinga Sehun.

Sooji menganggukan kepalanya, pandangannya lurus kearah Sehun yang terlihat menarik nafas panjang mendapat jawaban singkat dari gadis-nya.

“Kau tahu Sehun, aku sering berkata pada diriku sendiri, suatu hari akan ada seseorang yang mencintaiku, seseorang yang akan membutuhkanku dihidupnya, dan seseorang yang akan mengambil tempatmu dihatiku. Dan… Sekarang hari itu sudah datang.”

“Siapa? Siapa pria yang bisa menggantikanku dihatimu? Apa dia pria baik?” Tanya Sehun yang baru saja mengangkat kepalanya keatap ruangan, yang Sooji yakini pria itu baru saja menahan air matanya agar tak terjatuh dari kelopak matanya.

“Tentu saja, dia pria yang membuat hari kelabuku menjadi kembali berwarna, dia pria yang dengan berani memaksaku untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya akan membuatku bahagia, dan yang terpenting dia adalah pria yang selalu menghabiskan waktunya bersamaku.” Jawab Sooji dengan sekali tarikan nafasnya. Seulas senyum tipis kembali ia berikan untuk Sehun yang tanpa ia tahu tengah mengepal kedua lengannya disisi tubuh yang terhalang meja bulat diantara mereka berdua.

Drrrttt…. Drrrttt…

“Aku harus pulang-“

“Biar aku antar.” Sehun bangkit dan menarik lengan Sooji yang hendak bangkit dari duduknya.

“Tidak perlu. Sudah ada yang akan mengantarku pulang.” balas Sooji yang melepaskan genggaman lengan Sehun dan menunjukan layar ponselnya yang masih bergetar dan menampilkan sebuah nama yang menghubunginya dengan sebuah foto Sooji bersama pria dilayarnya.

Sooji bangkit dari duduknya, menyampirkan tas mungilnya disebelah bahunya dan menjulurkan tangannya kearah Sehun, tersenyum hangat pada Sehun yang menerima uluran tangan Sooji yang ingin berjabat tangan dengannya.

“Selamat tinggal Sehun. Ah… Kau harus ingat, hidup itu tidak selalu tentang belajar dan berusaha mencapai kesuksesan. Kau bisa bahagia dengan cara lain, cara yang lebih sederhana namun berharga.” Kalimat demi kalimat yang diucapkan Sooji menjadi penanda bahwa ia benar-benar akan meninggalkan Sehun. Gadis itu dengan lembut melepas tautan tangan mereka dan meninggalkan senyum hangat yang mungkin menjadi yang terakhir bagi Sehun.

Sehun terdiam, tangannya bergetar bersamaan dengan linangan air mata yang semakin memberontak ingin lolos dari kelopak matanya, pandangannya lurus kedepan kearah punggung Sooji yang semakin menjauh. Sehun menoleh kearah kaca polos dari dalam cafe dan memperhatikan Sooji yang baru saja tersenyum manis kearah pria yang duduk diatas motor dengan menggengam helm ditangannya. Mengelus lembut surai panjang Sooji dan memakaikan helm sederhana dikepala Sooji yang terlihat bahagia. Ya, Sehun yakin dia adalan pria yang membuat Sooji bahagia, saat ini dan sampai nanti.

♫ End ♫

Hai… Salam kenal, aku Rach yang mendapat gelar sebagai new author disini.

Sebagai salam perkenalan, aku sengaja bikin Song Fiction, dan ini… SongFict pertama-ku. Jadi mau minta maaf kalau ceritanya agak ngebosenin dan freak gitu. By the way, kalau yang belum pernah denger lagu ini dan penasaran bisa langsung denger aja di Youtube atau Sondcloud ada kok. Recomended banget!

Sebelumnya sih aku pernah jadi Freelancer disini, kalau diantara kalian ada yang pernah baca Fanfict Love Tender dan Heal me, Love me disini yang belum kelar, bisa baca di WordPress pribadiku.

Sekian, mari berteman! Terima kasih.

Love,

Rach💜

15 responses to “(SongFict) Someday – Nina

  1. wahh keren ff nya author..
    ah aku suka banget sama minho di sini,dia bisa bikin suzy jadi semangat dan ga sedih lagi..
    dan tidak tau kenapa aku suka sama suzy yang ga ngasih kesempatan buat sehun,aku sedikit kecewa sama sehun,karna dia suzy harus menunggu tiga jam di atap sekolah huhu…(mian lebay)

    baiklah fighting untuk next ff nya authornim..

  2. pertamanya gasuka waktu tau orang ketiganya minho, tapi begitu liat sikapnya minho ke suzy jadi suka banget sama minho wkwkwkwk
    ffnya keren thor

  3. Suka sama ceritanya….akhirnya kasian juga sih sama sehun tapi memang itu yg harus diterima sehun sebagai imbalan yg slalu mncuekan suzy. Dia baru tahu jika suzy berharga saat ia mulai kehilangannya.
    Author yg buat ff love tender dan heal me, love me toh? Aku blom selesai baca ke2 ff itu author, yg love tender cuma baru baca sampe part 10 dan heal me, love me baru nyampe part 7 .soalnya aku blom dikirmin pw nya sama author

  4. yaampun author ceritanya keren banget tau thor….
    kasian juga sih liat sehun
    tapi itu salah dia sendii sih…….asal suzy bahagia aku mah setuju aja suzy sama siapa aja………semangat author untuk buat cerita yg lain

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s