[Freelance] The Baby’s Appa Chapter 2

1478037673789-1

Title : The Baby’s Appa | Author : alabastercarnation | Genre :  Angst, Fluff, Romance, Slice of Life | Rating : T | Main Cast : Miss A Suzy & EXO-K Kai | Other Cast : EXO-K Sehun, EXO-K Chanyeol, f(x) Krystal, etc

 

***

 

 

-Suzy-

Suzy membolak-balik kertas analisis strategi pemasarannya dengan kesal. “…kenapa analisisku tidak jelas sama sekali, ya? Astaga… rasanya aku sudah kelewat lelah belakangan ini. Aku butuh tidur, aku butuh tidur…” ia menelungkupkan wajahnya di sofa.

“HUAAAAAAAAA…!!!” tiba-tiba terdengar jerit tangisan bayi yang keras. Suzy memegang kepalanya yang pusing, “…mwoya, Teo-ya?”

Si mungil Tae-oh berdiam di posisinya sambil terus menangis. Suzy menghela napas panjang, “kau haus ya? Sebentar, aku akan membuatkanmu susu,” Suzy pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur untuk membuat susu Tae-oh. Namun, sekembalinya dari dapur, matanya membelalak terkejut.

Tae-oh tengah menggigiti lembar terakhir analisis strateginya! Dengan emosi, Suzy berteriak, “yah, Bae Tae-oh!!”

Ia buru-buru mengambil lembar terakhir analisisnya namun lembaran itu sudah rusak digigiti bayinya. Suzy segera menyatukan semua lembaran tugasnya dan menaruhnya diatas sofa. Ia menatap Tae-oh tajam, “TEO-YA!! JANGAN SUKA GIGIT-GIGIT BARANG SEMBARANGAN!! EOMMA TIDAK SUKA!!” teriaknya. “…aaaah… itu bagian paling penting dari analisisku dan aku tidak sempat untuk menggambar kurvanya lagi!! Aaah, eottokhe…” ia tampak panik. Saat Tae-oh mendekati tumpukan kertas itu, ia segera menarik tangan Tae-oh kasar tanpa sengaja, “GEUMANHAE!!

        Tae-oh menatap ibunya dengan tatapan tak percaya, lalu tangisannya kembali meledak, bahkan kali ini meraung-raung.

Suzy langsung menyadari kesalahannya. Ia segera meminta maaf kepada Tae-oh, “Teo-ya, mianhata… Eomma tak sengaja membentakmu, maafkan eomma Teo-ya, eomma sedang kelelahan… uljimarayo…” ia menarik Tae-oh ke dalam pelukannya. “Uljima… uljima…

“Sekarang kita tidur ya?” Suzy menggendong Tae-oh ke kamarnya. Tae-oh lunglai dalam dekapan ibunya. Suzy membaringkan tubuh bayinya diatas kasur dan menyanyikan lagu nursery favorit Tae-oh sejak mereka masih tinggal di Vancouver, Hush Little Baby. Hush, little baby, don’t say a word… mama’s gonna buy you a mockingbird… And if that mockingbird won’t sing, mama’s gonna buy you a diamond ring…

Tae-oh pun tertidur dengan lelap dengan kaos kaki yang membungkus kakinya. Suzy menyelimuti bayinya, lalu mengecup dahi Tae-oh. “…Teo-ya… maafkan aku, ya? Aku tadi membentakmu terlalu kasar… aku hanya sedang benar-benar lelah… Aku hanya tersulut emosi… sejujurnya aku tidak akan pernah bisa marah padamu. Aku tidak pernah sekalipun menyesal telah membesarkanmu daripada menggugurkanmu. Kau tumbuh sebagai anak yang manis dan sebagai ibu aku betul-betul bangga melihat pertumbuhanmu. Don’t grow up too fast, okay? Kaulah satu-satunya penyemangat hidupku. Aku minta maaf jika kau tumbuh tanpa seorang ayah… tapi aku janji… aku bisa menjadi seorang ibu sekaligus ayah untukmu, Teo-ya. Ayo kita hadapi semua rintangan hidup berdua…”

Suzy menghapus airmata di pipinya. Ia pun keluar kamar untuk melanjutkan tugasnya lagi. Ya… menjadi seorang pengusaha, seorang ibu, dan seorang mahasiswi sekaligus memang tidak mudah. Kalau boleh jujur Suzy sangat lelah. Ia sangat ingin keluar dari kampusnya dan tidak melanjutkan program S2-nya, tapi, dulu Suzy pernah berjanji pada ayahnya agar boleh mengasuh Tae-oh sendiri dengan jaminan ia dapat mendapatkan gelar magister. Kalau Suzy gagal, Tae-oh akan dikirim ke penitipan anak sampai Suzy selesai kuliah. Dan Suzy tidak mau jauh-jauh dari buah hatinya sehingga ia terus berjuang untuk menjalankan semuanya. Tae-oh adalah alasan ia tetap semangat menjalani semuanya.

Terkadang, disaat tengah malam seperti ini, Suzy seringkali menangis. Menangis karena lelah. Menangis karena ia harus selalu berjuang disaat wanita-wanita seumurannya sibuk bersolek dengan rajin perawatan ke salon, pergi ke pusat perbelanjaan, dan lainnya. Sementara dirinya, dalam sehari ia harus melakukan tiga kegiatan wajib; bekerja di kafe, kuliah, dan mengasuh Tae-oh…

“Sekuat-kuatnya wanita, pasti ada satu titik dimana ia rapuh dan butuh sandaran seorang pria di sisinya”

 

        Bae Suzy adalah seorang wanita kuat, dan prinsip diatas mungkin tidak berlaku untuknya. Ia tak pernah mengharapkan kasih sayang seorang lelaki setelah ia dicampakkan oleh seseorang. Namun ada kalanya ia merindukan rasanya dilindungi seorang pria.

        Suzy meraih album foto di dalam laci meja. Album foto kecil masa-masa SMAnya di Vancouver, Kanada. Dulu namanya Bae Soo-ji, tapi sejak tinggal di Kanada berubah menjadi Bae Suzy. Dia menemui banyak teman yang baik hati dan seru, ada Nicole, Angela, Claire, Kimmy, dan lain-lain, mereka juga rata-rata bukan penduduk asli Kanada. Misalnya, Nicole yang dari Filipina, Angela dari Taiwan, Claire asli Kanada, sementara Kimmy dari Cina. Perbedaan itulah yang membuat persahabatan mereka erat. Ada juga Joe dari Indonesia yang humoris, Steve dari Taiwan yang pandaaaiii sekali seperti Einstein, atau Jason dari Cina yang jago bermain gitar. Mereka semua bersahabat, namun ada beberapa orang yang benar-benar Suzy benci di awal masa-masa SMAnya.

        The Sons of Satan beranggotakan lima orang paling brengsek di Kingsley International High School of Canada, Dunbar-Southlands, Vancouver. Geng radikal itu dominan anggotanya para orang Asia, ada Mario dari Thailand, Kai dari Korea Selatan, Richard dari Indonesia, Dylan dari Korea Selatan, dan satu-satunya orang yang non-Asia yaitu Stefan dari Norwegia. Mereka biasa disebut “the school-bully”. Terutama ketuanya, Kai Kim, si paling brengsek dari seluruh orang terbrengsek di dunia. IQnya hanya dimanfaatkan untuk taktik berkelahi dan mendekati wanita-wanita seksi. Nilainya tidak pernah bagus dan seringkali kena detention alias penahanan. Ia sering menggoda Suzy dan Suzy mengakui kalau ia benci Kai setengah mati tak peduli seseksi apapun pria itu. Mungkin ia memang idola semua gadis karena fisiknya yang eksotis, tapi berbeda dengan Suzy yang benar-benar membencinya dari awal Kai mengajaknya bicara.

        Sampai akhirnya karena suatu kejadian ia dan Kai menjadi akrab dan Suzy memandang Kai bukan sekedar dengan cap “the resident bad boy”. Suzy pun sering bercerita tentang keluarganya, teman-temannya di Korea, kepada Kai, setelah ia tahu ternyata Kai dan dirinya memiliki banyak persamaan. Mereka pun mulai terbiasa bicara bahasa Korea dengan satu sama lain. Bahkan Suzy memanggil Kai dengan nama Korea-nya, yaitu ‘Kim Jong-in’.

        Semuanya berubah menjadi indah ketika Jongin menyatakan perasaannya kepada Suzy. Siapa sangka, si pria badung yang hobi dihukum itu telah jatuh cinta dengan si gadis teladan kesayangan guru. Mereka pun berpacaran, dan Suzy harus mengaku itu adalah saat-saat terindah dalam hidupnya. Kim Jongin benar-benar seperti pangeran kuda putih yang memiliki kharismanya tersendiri. Namun semua kebahagiaan itu sirna saat prom night perpisahan SMA mereka. Dimana Suzy menyerahkan semuanya kepada Jongin, bahkan sampai ke satu hal terpenting yang dimilikinya sebagai wanita…

Suzy-ah, let’s continue this, shall we?

No… please stop, Jongin-ah… please stop… I’m sorry but I don’t think I can do this anymore…

Suzy-ah, I want you. I really want you right now, and I know you want me too. Trust me.

b-b-but… what if…

Everything’s gonna be okay. You have to trust me. We might not see each other after graduation, you know? Let’s just do this, I love you and I’ll stand by you through every thick and thin.

Y-y-you sure?…

I’m sure, Darling… come here…

Kim Jongin memang pintar merayu gadis dengan kata-katanya.

        Andai saat itu Suzy tidak terhipnotis dengan ucapan manisnya, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Setelah semuanya terjadi, Suzy merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Ia hamil. Oke. Jongin mungkin tidak menggunakan “pengaman” saat itu dan percayalah, malam itu Suzy betul-betul tidak peduli apakah Jongin memakai atau tidak karena ia sudah seperti setan yang haus akan sentuhan. She wants more. Dan Suzy tak pernah menyangka, setelah ia memberi tahu perihal kehamilannya, Jongin bilang ia akan bertanggung jawab, dan minggu depannya, ia sudah terbang kembali ke Korea.

Bajingan. Brengsek. Bangsat. Biadab. Keparat.

Oke… Suzy memang tak menyesali—tak pernah sekalipun menyesali—keputusannya untuk membesarkan janin di kandungannya, buah cintanya dengan si bajingan Kim Jongin, tapi ia menyesal kenapa ayah dari Tae-oh bukan pria baik-baik yang bisa diandalkan. Harusnya ia sadar. Kim Jongin adalah anak nakal. Ia tak pernah serius. Bagaimana Suzy bisa percaya kalau Jongin akan berada di sisinya terus menerus? Bukankah Suzy adalah gadis paling bodoh saat itu?

Ia pun memutar lagu favoritnya yang mengingatkannya akan Jongin. California King Bed – Rihanna.

Chest to chest

Nose to nose

Palm to palm

We were always just that close

Wrist to wrist

Toe to toe

Lips that felt just like the inside of a rose

 

        Suzy selalu ingat bagaimana senyum nakal Kim Jongin yang selalu berhasil membuat hatinya berdebar. Suzy ingat persis ciuman pertamanya dengan Kim Jongin disaat pertunjukkan seni tahunan di Dunbar-Southlands, Jongin mengajaknya ke rooftop dan mencuri first kissnya malam itu. Ia masih ingat bagaimana jantungnya melompat-lompat saat Jongin memeluknya. Suzy masih ingat semuanya, ia masih ingat semuanya…

 

Just when I felt like giving up on us

You turned around and gave me one last touch

That made everything feel better

And even then my eyes got wetter

So confused wanna ask you if you love me

But I don’t wanna seem so weak

Maybe I’ve been California dreaming

 

***

-Sehun-

Sehun masuk ke dalam kafe mungil dengan nuansa pastel siang itu. Hujan turun deras dan perutnya keroncongan. Ia pun memutuskan untuk berhenti di kafe baru ini. Saat ia membuka pintu kafe, aroma vanila menyeruak indra penciumannya, membuat Sehun semakin mengidam-idamkan penganan manis dihadapannya saat ini juga.

“Selamat siang, Tuan!” sapa seorang gadis cantik dari balik meja kasir.

“Ah, ne, selamat siang juga,” balas Sehun kikuk. Ia pun duduk di posisi paling pojok. Sebelum memesan, ia tak lupa mengirim pesan kepada Jongin untuk menemuinya di kafe Mr. Buddy Bear ini. Setelah mencantumkan alamatnya, seorang gadis dengan apron warna merah marun menghampirinya. Gadis itu tersenyum manis kepada Sehun, sampai matanya membentuk bulan sabit.

“Siang, Tuan! Nama saya Bae Suzy, apa Tuan mau memesan sekarang?” tanya Suzy ramah. Sehun sempat terpana seketika karena gadis dihadapannya ini cantik sekali.

“Ah… itu… buku menunya?”

“Ada diatas meja. Silakan dipilih dulu. Saya akan melayani pelanggan yang lain dulu ya?”

Ne…” Sehun mengangguk salah tingkah. Ia pun membuka buku menu dengan desain imut itu dan memilih makanan untuknya, tak lupa minuman untuk Jongin seandainya dia haus.

        Tak lama kemudian, Suzy kembali menghampirinya. “Bagaimana?”

“Euhmm… aku mau satu smoked salmon brioche, satu volcano chocolate cake, hazelnut milk yang hangat, dan satu hot Americano.

“Baiklah Tuan, ada lagi?”

“Tidak…”

Suzy pun mengulang pesanan Sehun untuk memastikan catatannya benar. Setelah itu ia izin ke dapur untuk meletakkan pesanan.

“Eonni! Suzy eonni!” teriak seorang gadis berambut kemerahan sambil menggendong seorang bayi laki-laki dengan pipi gembul. Sehun memperhatikan gadis itu dan bayi di tangannya. Bayi itu tampak menangis, dan gadis itu menyerahkan si bayi ke tangan Suzy. Suzy menggendong bayi tersebut dan menariknya ke dalam dekapannya. Ia pun bersenandung untuk meredam tangis si bayi.

Orangnya keibuan, batin Sehun. Apakah itu adiknya? Atau siapanya?

 

Suzy duduk di kursi pelanggan kosong yang berdekatan dengan kursi Sehun. Sehun pun iseng-iseng bertanya, “adikmu?”

“bukan. Anakku.”

ANAKNYA?!! Batin Sehun histeris dalam hati. Kupikir pelayan Bae Suzy ini masih muda!! Ternyata sudah menikah!

“Oh… kupikir kau masih kuliah… mukamu masih seperti anak kuliah… hahaha…”

Suzy tersenyum, “terimakasih. Aslinya aku memang masih kuliah.”

“Oh ya? Memangnya usiamu berapa?”

“20 tahun. Aku lahir tahun 1994.”

Jinjja?!” Sehun keceplosan. “Eh… maksudku… 1994? Berarti kita seumuran? Aku juga lahir tahun 1994…”

“Tapi aku kuliah program master.

“Wah, keren sekali. Pasti kamu pintar,” puji Sehun. “Oh Sehun. Sooman National University. Departemen Psikologi.”

“Wah, senangnya bertemu teman kuliah. Bae Suzy, Sooman National University, Departemen Ekonomi dan Bisnis.”

“Kau sudah punya gelar bachelor?

Suzy mengangguk. “Yap. Di sekolah bisnis di Kanada.”

“Kau tinggal di Kanada dulu?”

“Yep.”

“Temanku juga. Ia SMA di Kanada,” tutur Sehun. “Anyway, siapa nama jagoan yang tampan ini?”

“Bae Tae-oh.”

“Berapa usianya?”

“1 tahun sekian bulan. Aku sendiri lupa berapa usia anakku secara detail.”

“Tidak masalah, yang penting kau tak lupa ulangtahunnya. Anak kecil cenderung tidak peduli akan hal sepele seperti orangtuanya lupa umur anaknya, mereka lebih peduli dengan hadiah yang diberikan orangtuanya ketika mereka ultah.”

“Ahahahaha, benar!” Suzy tertawa mendengar pernyataan Sehun. Mereka berbincang sebentar sebelum Suzy masuk ke dalam rumahnya untuk menidurkan Tae-oh.

        Tak lama kemudian, sepiring avocado lava, segelas susu hazelnut dan Americano panas datang ke meja Sehun. Sementara brioche sandwichnya belum datang, Sehun pun mencicipi avocado lavanya sedikit.

“…bagaimana avocado lava buatan kafe ini?” tiba-tiba Suzy datang menghampiri lagi. Sehun mendadak langsung salah tingkah (lagi).

“…enak… manisnya pas… aku tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikan rasa lezat tapi, aku betulan suka…”

Suzy tersenyum manis, “baguslah kalau kau suka. Aku senang mendengarnya. Aku senang bertemu dengan teman satu kampus yang seumuran denganku.”

“Lah, memang—“ ucapan Sehun terputus. “—oh ya, benar… kau kan mahasiswa S2…pasti teman-temanmu orang kantoran semua.”

“Ya, rata-rata usia mereka 25 tahun ke atas.”

“Tapi kau hebat ya, diusia segini sudah punya bisnis dan kuliah di waktu yang sama. Maaf kalau lancang, tapi bolehkah aku tahu suamimu kerja apa?”

Suzy terdiam dan menatap Sehun nanar. “…aku single parent.

Oh my God,” desis Sehun. “Eh, maaf jika aku kurang sopan. Aku memang orangnya banyak bertanya.”

“Iya, tidak apa-apa. Orang juga banyak yang menanyakan suamiku kerja apa. Padahal aslinya aku tidak punya suami.”

Suzy menunduk.

        Sehun merasa tidak enak karena sudah mengacaukan suasana, ia pun membuka topik baru. “Oh ya, temanku ada yang mau datang kesini. Biasanya orang hujan-hujan begini pasti menyantap makanan yang hangat, kan? Tapi temanku tidak. Kalau hujan-hujan begini dia lebih suka makan es krim. Dia juga mahasiswa di Departemen Ekonomi.”

“Ahahahaha, selera makan yang lucu,” Suzy tertawa pahit. Hujan-hujan makan es krim, hei Kim Kai, kaukah itu? Aku masih ingat favoritmu di kala hujan. Es krim. Dan segelas kopi. Atau soda.

 

“Suzy-ah! Kesini sebentar! Ada masalah dengan krim pannacotta!”

“Segera kesana!” Suzy langsung buru-buru ke dapur.

        Selang beberapa menit setelah Suzy izin, pintu kafe dibuka. Sosok tubuh tinggi dengan kulit tan itupun masuk. Kim Jongin. Ia mengenakan hoodie hitam dan celana chino yang basah terkena hujan.

“Sialan, di jalan tadi aku hampir saja berkelahi dengan seorang anak SMA! Dasar bocah, bawa mobil serabutan. Dia bawa mobil Lamborghini tapi  nyetirnya asal-asalan. Dia pikir di Korea hanya dia saja apa yang punya Lamborghini?” umpat Jongin.

Sehun terkikik, “sabar, sabar. Duduklah. Aku sudah memesankanmu Americano panas.”

Jongin pun duduk dan meneguk Americano dengan cepat.

“Kau mau kupesankan sorbet atau makanan lain?”

“Tidak usah. Aku sudah kenyang. Ngomong-ngomong kenapa kau memilih tempat seperti ini? Kau seperti wanita.”

“Apa ada yang salah? Aku sudah benar-benar lapar dan tidak kuat kalau harus menyetir lagi. Toh tempat ini recommended kata Jinri.”

“Hmm, kau percaya dengan si wanita psikopat itu,” gumam Jongin.

Yah, Kim Jongin. Owner kafe ini, kau sudah lihat belum?”

“Belum.”

“KAU HARUS LIHAT!” seru Sehun. “Wajahnya imut, tapi badannya bahenol! Senyumnya maniiiiis sekali! Park Shin-hye saja kalah cantik!”

Ah, jinjja?” Jongin menatap Sehun tak percaya. “Namanya siapa?”

“Dia mahasiswa S2 di SNU, Departemen Ekonomi dan Bisnis juga! Namanya… uhm… Suz… Sus… Bae Suzy!”

Hening seketika.

        Jongin tercekat. “Bae Suzy? Kau yakin tidak salah dengar?”

“Tidak. Dia yang memperkenalkan dirinya sendiri padaku. Ah, dia datang, dia datang!”

Keringat dingin mulai mengalir saat Jongin melihat sesosok gadis dengan wajah familiar menghampiri mereka. Bae Suzy—masa lalunya yang pahit dari Kanada—sekarang dia ada di Korea. Suzy… Suzy cantik sekali. Rambutnya sekarang diponi membuat wajahnya menjadi lebih awet muda. Tubuhnya lebih berisi dibandingkan waktu SMA dan dia… adalah Suzy…Bae Suzy yang ia kenal.

“Suzy-ssi, ini temanku. Dia semester lima. Departemen Ekonomi dan Bisnis jurusan manajemen. Jongin-ah, ini Suzy. Dia pemilik kafe ini. Dia kuliah S2 di SNU, jurusannya sama denganmu.”

        Suzy terkejut, dalam hati amat sangat terkejut. Ia memasang tampang datar, tapi dalam hati… ini Kim Jongin? Kim Kai? Ayah dari bayi yang sekarang tinggal bersamanya? Dia… dia bertambah tampan. Kulitnya sedikit lebih terang dibandingkan waktu di Kanada. Rambut ikalnya tidak berubah namun sekarang lebih gondrong. Tubuhnya kekar dilihat dari otot bisepnya yang besar. Dan dia… dia adalah Kim Jongin. Kim Jongin yang mencampakkan Bae Suzy.

        “Annyeonghaseyo,” Jongin menundukkan wajahnya.

Ne, annyeonghaseyo,” balas Suzy. “Sehun-ssi… aku banyak urusan… aku harus mengantar Tae-oh ke dokter, jadi… aku duluan.”

“Ah, gwenchanayo! Cepat sembuh untuk Tae-oh! Hati-hati di jalan!”

Tanpa membalas ucapan Sehun, Suzy pun buru-buru masuk ke dalam dapur untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Cantik, kan?” ujar Sehun sepeninggal Suzy.

“…ya… cantik…” jawab Jongin terbata-bata.

“Hoi, ngomong-ngomong kau jadi ke rumah Chanyeol hyung?

Molla. Tiba-tiba rasanya aku ingin langsung pulang ke rumah dan mandi air hangat. Lebih baik setelah ini kita pulang, Sehuna.”

Aigoo… Kalau begitu apa gunanya kita bertemu disini?!” seru Sehun. “Ya sudah. Istirahat. Kurasa kau terlalu lelah belakangan ini.”

Gomawo, kau memang sahabat terbaikku. Saranghae.

Sehun kontan memasang wajah jijik.

***

-Suzy-

        Suzy meneguk segelas air putih dengan rakus. Ia tak percaya. Sosok yang dilihatnya barusan… Kim Jongin? Ya Tuhan… kenapa… kenapa kita kembali dipertemukan?

“Hayoung-ah!” panggil Suzy kepada Hayoung, asistennya.

Ne, eonni?” jawab Hayoung.

“Mobilku… sudah… selesai?”

“Belum. Listnya panjang. Mobilmu masih di bengkel. Nanti sore mungkin baru kuambil.”

“Aish, jinjja!”dumel Suzy. “Ya sudah! Kalau begitu aku naik taksi saja! Aku takut dokternya menunggu. Teo-ya, kajja! Hayoung, aku titip rumah!”

Ne, eonni!

        Suzy membawa payung merahnya sambil menggendong Tae-oh. Untungnya hujan sudah mulai reda. Suzy melirik ke dalam kafe dan tidak menemukan sosok Jongin dan Sehun lagi. Ia menghela nafas lega.

Tuhan, tolong jauhkan aku dengan orang yang sudah menyakitiku… aku tidak mau putraku bertemu dengan ayahnya yang brengsek itu… tidak boleh, ini tidak boleh terjadi…

 

 

20 responses to “[Freelance] The Baby’s Appa Chapter 2

  1. Benerkan tae-oh anaknya kai….kai bener2 brengsek opps hhehehe habis manis lgs d buang kasian suzy….berharapa suzy deket ma sehun n juga tae oh biar jongin tau rasa

  2. wah, ayahnya tae oh beneran jongin..
    kenapa jongin bilang suzy sebagai masa lalunya yg kelam? harusnya kan suzy yg ngomong gt… ckck
    apa mungkin terjadi kesalahpahaman antara suzy dan jongin?
    kalo semisal ada cinta segitiga antara jongin-suzy-sehun pasti seru..haha
    ditunggu kelanjutannyaaa

  3. Annyeong new reader,salam kenal dan izin baca thor ff nya,, aigo penasaran tingkat akut lanjutanya gmna.. Jongin tega bener, ama sehun aj suzy-ah, teo nya yr punx ayah yg baik aj kya sehun bukan si bad boy kai,,next chap ditunggu y thor,semangattt

  4. Ternyata tae oh anaknya kai.. Oh my god.. Kira2 apa alasan kai dulu ninggalin suzy yang sedang mengaandung anaknya. Ini ff sumpaah makin keren dan seru thor. Penasaran setengah mati sama kelanjutanya. Ditunggu next update nya ya thor. Gomawo.

  5. Aku suka banget sama ceritanya author hanya saja aku kurang suka sama bahasanya karena aku lebih suka yg mnggunakan bahasa baku dan lebih formal.
    Tapi ini sudah bagus kok author hanya saja pasti akan jauh lebih bagus lagi jika bahasanya lebih diperhatikan kembali, karena menurut saya jika main cast.a menggunakan nama korea atau nama asing akan lebih cocok jika menggunakan bahasa yg lebih baku tapi, jika main cast.a menggunakan nama” indonesia mau menggunakan bahasa yg tdk baku atau bahasa gaul juga gak masalah, karena memang udh cocok. tapi itu hanya menurutku saja author, selebihnya terserah pada author mau diterima atau tidak saya kan hanya memberi komentar dan pendapat. Saya juga akan tetap lanjutin baca ff ini kok author karena saya memang benar” penasaran sama kelanjutan ceritanya. Ditunggu next partnya author,,,,,,,

  6. Tae oh ternyata anak’y kai. Suzy n kai dah ktemu lg, akankah kai akan mengejar suzy lagi n akankah kai akan tanggung jawab?

  7. Jpngin benar2 keterlaluan 😭
    Kasian suzy harus hadapi sendrian
    Tae oh, apa jongin akan nyesel kalo nnt liat tae oh. Nyesel karna ninggalin sooji

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s