[Freelance] The Baby’s Appa Chapter 3

Title : The Baby’s Appa | Author : alabastercarnation | Genre :  Angst, Fluff, Romance, Slice of Life | Rating : T | Main Cast : Miss A Suzy & EXO-K Kai | Other Cast : EXO-K Sehun, EXO-K Chanyeol, f(x) Krystal, etc

 

***

 

 

 

-Jongin-

        Jongin masih duduk di dalam BMW X6 hitam miliknya diiringi lagu Why’d You Only Call Me When You’re High – Arctic Monkeys. Matanya tak lepas dari kafe mungil bernama Mr. Buddy Bear itu.

Ck, buddy bear,” decaknya. “Does she remember that I used to be her hugging bear when she was at her lowest point?

Jongin tahu persis Suzy suka boneka teddy bear. Ia mengoleksi puluhan. Suzy selalu berkata padanya, kalau ia bukan orang yang mudah mendapat teman, jadi untuk mengusir rasa sepi ia bermain dengan teddy bear.

        Tiba-tiba, mata Jongin menangkap sosok Suzy yang mengenakan mantel panjang berwarna baby pink sambil menggendong seorang bayi mungil. Ia tampaknya sedang menunggu taksi.

        Bayi? Is that a baby? Is that really a baby? Bayi siapa yang Suzy gendong? Batin Jongin dalam hati. “Is it… mine?” katanya pelan. “Did she decided to keep the baby after I left? Jesus, she really did that?” Jongin mengacak-acak rambutnya.

Jongin awalnya memutuskan untuk menghampiri Suzy. Menghampiri, tidak. Menghampiri, tidak. Menghampiri, tidak. Menghampiri…

 

        Ia pun keluar dari mobilnya dengan ragu sambil berjalan pelan-pelan.

“…Bae Suzy?” panggilnya pelan.

Suzy menoleh dan matanya seketika membelalak. Kim Jongin. Kim Jongin yang awalnya berniat untuk dihindari, sekarang berdiri di hadapannya bahkan mengajaknya berbicara!

“Maaf, tapi aku tidak ada waktu.”

“Kau sedang apa?”

“Bukan urusanmu.”

“Aku tahu tidak ada urusannya denganku, tapi kau sedang apa di pinggir jalan becek seperti ini?”

Damn, Suzy berharap dan berdoa mudah-mudahan ada taksi cepat lewat!

“…aku ada urusan.”

“Butuh tumpangan?”

“Tidak, terimakasih. Mind of your own business, Mr.”

Can I help?

Thanks for the offer but I really don’t need your help.

What if I insist to help?

And what if I insist to reject?

Kim Jongin tersenyum dalam hati. She’s still Bae Suzy that I used to know. Playing hard to get is her ultimate charisma and sometimes, I can’t help but fall into her charisma.

 

“Ah, yang benar saja! Kenapa taksi tidak ada yang lewat!” umpat Suzy. Ia berusaha fokus ke jalanan karena laki-laki itu masih berdiri di sebelahnya. Aroma cologne Tommy Hilfiger bercampur dengan aroma hujan membuat Suzy mengendus udara disekelilingnya. Jongin is honestly good at picking fragrances. Suzy hanya diam sambil menunggu taksi, tak berani melirik ke samping. Tubuh Jongin lebih tinggi menjulang dibandingkan waktu SMA dulu. He grows taller and broader.

 

Hey… Bae Suzy… I don’t think if there is any taxi out there. Before everything gets worse, please just let me help you once. I’m your old friend back then in Canada, Kai. We just reunited today and why won’t we have a little chat?” bujuk Jongin. Bicara bahasa Inggris dengan Suzy mengingatkannya dengan masa-masa pendekatan mereka dulu.

        Namun Bae Suzy tetaplah Bae Suzy. Ia bersikeras menolak tawaran Jongin. “before everything gets worse”, Suzy tertohok mendengar kata-kata Jongin. Ia pun melirik Tae-oh yang masih tertidur dan pipinya sudah memerah. He’s right. Before everything gets worse. I don’t want anything worse happen to my precious little kid.

 

“Kyungpook Children Hospital, juseyo.

Dan dari sekian tahun mereka tidak bertemu, Suzy kembali melihat senyum setengah muncul di wajah tampan itu.

***

        Suzy duduk di kursi belakang mobil Jongin dan Jongin memperbolehkannya. It’s okay, it’s okay to treat her like a queen. Sepanjang perjalanan itu mereka tak bicara apa-apa karena Jongin ragu untuk menanyakan tentang bayi yang ada di pelukan Suzy.

        Sesampainya di rumah sakit, Suzy turun dan mengucapkan terimakasih dengan singkat. Sementara Jongin, ia ikut masuk ke dalam rumah sakit, tak peduli betapa kesalnya Suzy dengan dirinya.

Suzy masuk ke ruangan dokter bersama Tae-oh. Disana ia bertemu Dokter Im Yoona, dokter cantik yang sudah menjadi dokter anak Tae-oh sejak anak itu lahir.

Annyeong, Suzy-ah,” sapa Dokter Im ramah. “Kau tidak datang kesini sendiri, bukan?”

“Ah, eonni bicara apa?” balas Suzy lembut. “Seperti biasa, aku datang sendiri menemani Tae-oh.”

“Kau pikir aku buta? Jangan meremehkan seorang sarjana kedokteran sepertiku. Aku tahu kau datang berdua dengan seorang pria. Yah, Teo-ya, apakah itu calon ayah barumu? Dia tampan. Hahahaha.” Suzy hanya tersenyum kecut mendengarnya.

Setelah mengakhiri basa-basi, Dokter Im pun mulai memeriksa Tae-oh.

        Setelah pemeriksaan, Suzy menitipkan Tae-oh sebentar ke daycare rumah sakit untuk makan siang, ganti pampers, dan tidur siang. Sementara Suzy pergi ke kantin rumah sakit dan membeli beberapa potong sandwich dan memakannya di depan ruangan daycare.

 

“Sudah selesai?” sebuah suara berat mengagetkannya.

Suzy tersentak melihat Kim Jongin berdiri dihadapannya. Jongin pun duduk di sebelah Suzy dan aroma colognenya semakin tercium kuat.

“…kau masih disini?”

“Kau pikir?”

Suzy memilih diam.

“…Hey, let’s be serious this time.

What?

I wanna ask you some questions. It’s up to you whether you want to answer it or not but… I really want to know something.

W-w-what?

Look directly into my eyes and you’ll see some serious expression here,” Jongin menunjuk ke arah mata hazelnya yang dalam.

Jongin menghela napas. “Be honest. He is… my son, right?

Suzy tercekat.

Suzy, I’m talking.

Suzy seketika kembali sadar dan buru-buru menyanggah. “No. He’s not. You know I’ve aborted the fetus… then we have no relation again after that.

Oh, you sure? Then who’s the kid’s daddy?

His name is Tae-oh.

Okay. Then, who exactly is Tae-oh’s daddy?

The daddy… is another guy I met on Vancouver and… he’s much older than me.

What is his name and what does he do for a living?

Stop!” seru Suzy tiba-tiba. “You’re too much, Kim Jongin! I said Tae-oh is not your son! You have no right to ask further about his dad!

        Jongin terkesiap mendengar amarah Suzy dan segera membungkam mulutnya. Hening seketika sampai ia kembali bicara. “So, he’s not my son?

You and him really have no blood relation.

Then can I see him as my nephew? Or, he can call me… ahjussi?

It’s up to him. I told you, he’s not easy to get close to stranger.

Jongin tak membalas ucapan Suzy dan masuk ke dalam daycare. Ia melihat Tae-oh sedang bermain mobil-mobilan.

“Permisi, anda mencari siapa?” tanya seorang suster.

“Bae Tae-oh?”

“Itu, dia sedang bermain mobil-mobilan. Uhm, kalau boleh tahu anda siapanya ya? Kakaknya? Pamannya?”

“Aku ayahnya.”

Suster itu terkejut mendengar jawaban Jongin dan segera mempersilakan Jongin menemui Tae-oh.

Ibu Tae-oh umurnya masih 20 tahunan, bahkan lebih muda dari anak sulungku. Sekarang, ayahnya datang, usianya juga pasti masih muda sekali. Astaga, anak muda zaman sekarang, senang sekali menikah muda. Mereka pikir menikah itu perkara mudah apa? Gumam suster itu.

Jongin menghampiri Tae-oh perlahan. “Woah! Hot Wheels! Aku dulu suka sekali main ini! Di rumah aku punya banyak koleksi Hot Wheels!”

Tae-oh menoleh, tak mengerti apa yang dibicarakan Jongin. “Bba… bba… bba?”

“Aku Kim Jongin.”

“Bba… bba… bba…”

Jongin tersenyum manis ke Tae-oh, dan mulai mendemonstrasikan cara memainkan Hot Wheels. Tae-oh memperhatikan dengan serius, dan sesekali tertawa dengan candaan Jongin. Diam-diam, saat mereka berdua bermain, Jongin memperhatikan wajah Tae-oh.

He liked cars from the beginning. His face resembles me. His eyes, his nose, and his lips. The more I dig up about him, the more I have proofs to be proven to Suzy that he’s my son…

 

Tak lama kemudian, Suzy masuk ke dalam daycare dan memergoki Jongin sedang bermain bersama Tae-oh. Ia terkejut. Terkejut melihat betapa miripnya Tae-oh saat berada di sebelah Jongin. Ke-ke… ke-kenapa wajah mereka berdua… mirip sekali… seperti ayah dan anak betulan…?  pikirnya. Suzy tahu kalau Jongin memanglah ayah biologis Tae-oh tapi, mengapa hatinya sakit melihat Tae-oh yang begitu senang bermain bersama Jongin, tanpa sadar ia adalah ayah yang telah mencampakkannya sejak di kandungan?

“Dia pria yang baik,” bisik seorang suster yang Suzy kenal baik, Suster Lee.

“Ah, suster Lee!” sapa Suzy. “Animnida… dia hanya seorang teman di kampus.”

“Tidak apa-apa, Suzy-ah, aku rasa dia pria yang bisa diandalkan meskipun usianya masih muda sepertimu. Pernikahan muda memang masih jarang di Korea, tapi kalian berdua akan menjadi orangtua termanis yang pernah kulihat.”

“…” Suzy tak mampu berkata apa-apa.

Um… ma!” seru Tae-oh tiba-tiba. Ia merangkak dengan gesit menuju Suzy. Suzy segera berjongkok dan menyambut bayinya. “Teo-yaaaa~~”

Um-ma!

“Teo-ya, ayo kita pulang dan istirahat!” Suzy menggendong Tae-oh dan berdiri. Jongin ikut berdiri di belakangnya dan mereka berdua keluar bersama dari tempat penitipan.

Saat di dalam gendongan Suzy, Tae-oh tidak bisa diam. Ia bergerak terus menerus menunjuk ke arah Jongin.

Mwoya, Teo-ya?” tanya Suzy bingung.

Bba… bba!

Yah, Tokki, kurasa dia ingin aku gendong?” ujar Jongin.

“Jangan berpikir kalau dia menyukaimu.”

Tapi dugaan Suzy salah besar. Jongin mencoba menggendong Tae-oh dan Tae-oh tersenyum senang berada dalam dekapan Jongin.

You saw that, Tokki? He likes me,” kata Jongin jahil.

What did you said before?

“Tokki,” jawab Jongin, lalu dengan cuek meninggalkan Suzy dan berjalan bersama Tae-oh ke basement.

 

        “Tokki” (kelinci) adalah panggilan sayang Jongin kepada Suzy karena gigi depan Suzy yang seperti kelinci dan seringkali membuat Jongin gemas. Itulah mengapa ia memanggil Suzy “Tokki”. Dan satu-satunya orang yang bisa memanggil Suzy dengan panggilan itu hanyalah dirinya. Kim Jongin seorang. It can’t be anyone else.

 

Sementara Suzy hanya memandang Jongin geram.

***

        Di perjalanan pulang itu Suzy pun duduk di kursi sebelah pengemudi karena Tae-oh ingin berada di dekat Jongin. Jongin terus membuat candaan kepada bayinya sambil menyetir dan membuat Tae-oh tertawa terbahak-bahak. Hal itu tentu saja membuat Suzy kesal.

Sesampainya di depan rumah Suzy, Jongin membukakan pintu mobilnya untuk Suzy dan Tae-oh.

“Teo-ya, ayo kita bilang terimakasih kepada Jongin ahjussi!” ujar Suzy. “Kamsahamnida…

Annyeong, Teo-ya! Sampai bertemu lagi!” Jongin melambaikan tangan kepada Tae-oh sebelum ia berbalik menuju mobilnya lagi.

Suzy buru-buru meletakkan Tae-oh beserta tasnya di sofa dan mengejar Jongin.

“Kim Jongin!”

Jongin menoleh dengan senyum nakal, “ya?”

I need to talk to you for a while. Can I?

Mereka pun duduk di dalam mobil Jongin lagi.

“Kim Jongin.” panggil Suzy serius. “Pertemuan kita sampai disini saja.”

“Ya memang sehabis ini aku akan pulang, kan?”

“Bukan begitu. Maksudku, bisakah saat ini menjadi saat terakhir kita bertemu?”

“Maksudmu?”

“…aku ingin sehabis ini kau tidak bertemu dengan Tae-oh lagi.”

“Kenapa? Bukankah itu hakku sebagai—“ ucapan Jongin terputus. “—ahjussi?”

“Kim Jongin, dengarkan aku. Kita sekarang hanya dua orang biasa dengan sedikit kenangan di masa lalu. Jadi di masa sekarang, status kita bukan apa-apa lagi. Aku tidak mau aku hadir di bayang-bayangmu dan aku juga tidak mau kau hadir di benakku. Kita berdua masih kuliah dan masih punya masa depan yang cerah. Aku tidak mau aku menjadi beban seandainya kau teringat akan apa yang pernah kaulakukan padaku—lupakan semuanya. Itu semua sudah masa lalu. Kita harus kembali berjalan ke depan dan melupakan semuanya yang ada di belakang. Jongin-ah, you’re a popular guy with so many girls fell head over heels with you. Kau hidup dikelilingi gadis-gadis cantik dan aku bukan salah satu dari mereka. Jadi kau bisa menikmati hidupmu daripada memikirkan kesalahanmu di masa lalu… maka dari itulah… anggap aku dan Tae-oh tidak ada saja… biarkan pertemuan ini menjadi pertemuan terakhir kita…”

Jongin terdiam. Ia menatap Suzy ragu. Suzy hanya diam menunduk dengan ekspresi sedih di wajahnya. Jongin pun menggenggam tangan Suzy lembut dan berkata, “Bae Suzy, did I make your life miserable?

Suzy tak mampu menjawab, dan setetes dua tetes airmata jatuh dari pelupuk matanya. Tatapan Jongin mengingatkannya kepada sosok Jongin tiga tahun lalu saat pertama kali ia menyatakan cinta…

*flashback*

Tokki-ah… I know this is weird, so damn weird for me to say this, but… I’m not good at expressing something and it’s really hard for me to describe my feelings. You know what? Everytime I saw you then I teased you, in my mind I actually thinking that I want you so bad. You’re so beautiful each days it drives me crazy, like literally I wanna protect you from anything that comes to your way but at the same time I also want to fuck you so bad until you scream. I know I am nothing compared to you, but nothing lasts forever so… let me be your ‘nothing’?

*flashback end*

 

I did, right?

Suzy menggeleng sambil menahan airmatanya. Ia pun mengipas-ngipas pelupuk matanya dan kembali memasang ekspresi serius lagi.

Just… don’t come to see me anymore. Let me and my kid live a happy life… Kim Jongin, goodbye,” ujarnya dingin, lalu keluar dari mobil Jongin.

Meninggalkan Jongin yang terdiam menatap kosong punggung Suzy yang lama-lama menjauh dari pandangan.

 

14 responses to “[Freelance] The Baby’s Appa Chapter 3

  1. Tentu saja suzy harus melakukan itu pada orang yang telah mencampakkannya.
    Jadi jong in pikirkanlah dengan baik apa kesalahan yg telah kau perbuat dan pikirkan juga bagaimana ca menyrlesaikannya,,,,,,jangan kembali bersikap pengecut

  2. Ikut nangis pas suzy ngomong ke jongin goodbye,tp suzy memang harus tegas dgn jongin si lelaki brengsek & pengecut yg lari dari tanggung jawab,next part aku tunggu

  3. akhirnya di update jugaaa, ihhh itu jong in kok gak peka banget sih minta maaf kek ngelakuin apa kek semoga perjuangan jong in berat ya thor soalnya dia sendiri yg ninggalin suzy sm baby nya huh

  4. Sedih… bisa memahami bagaimana perasaan Suzy yg tiba2 harus bertemu dengan Jongin yg telah mencampakan dia dan bayinya, sekarang kembali dengan seenaknya tanpa rasa bersalah, itu pasti sakit sekali… jika Jongin benar2 menyesal dan ingin memperbaiki semuanya, berharap dia bisa serius dengan segala tindakannya kali ini… karena Suzy juga berhak bahagia…
    Selalu ditunggu next partnya, terima kasih🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s