Kabut

201fd352784539ef8a33bd2167fd2cd5

Soo Ji mengetukkan beberapa kali heel pump shoes putih yang dikenakannya pada jalanan beraspal sembari menunggu pria-nya.  Mengenakan  pouf dress berwarna putih tanpa lengan yang panjangnya bahkan tidak mencapai lutut, entah apa yang ada dalam pikirannya hingga trench coat yang juga berwarna putih, hanya dipegangnya tanpa ada niatan untuk mengenakannya padahal suhu saat ini mencapai -4 derajat.

Soo Ji menggosok hidungnya sendiri dengan ujung sepatu yang mulai ia gerakkan pada timbunan salju, seolah menggambar atau mungkin menulis sesuatu—apapun untuk mengusir bosannya.  Memperhatikan baik-baik tiap kali ada mobil atau taxi yang memasuki area apartment kecil tempatnya berada, wanita itu langsung berlari cepat, menyambut, berharap bahwa yang datang adalah pria-nya, Oh Sehun.  Sayang, hingga pukul 08.00 malam ini tidak ada tanda-tanda kedatangan pria ber-marga Oh itu.

Sehun adalah seorang pekerja keras, Soo Ji membatin tiap mendekati mobil atau taxi yang datang namun bukan Sehun yang keluar dari sana.  Kembali menunggu, wanita itu bahkan tidak berniat untuk menunggu kedatangan Sehun di dalam.  Hingga berselang 10 menit kemudian, kala kaki Soo Ji kembali mengukir nama Sehun di atas timbunan salju yang bahkan tidak terlihat, sebuah taxi datang.

“Sehun-ah……”  Soo Ji berseru riang hingga rona pada pipinya nampak.  Merapikan dirinya, menyisir poni tipis dan rambut panjangnya, wanita itu langsung mengekori Sehun memasuki apartment sederhana yang sudah menjadi tempat tinggal mereka selama 2 tahun terakhir ini.  “Bagaimana harimu, hari ini?”  Soo Ji mulai bertanya kala mereka masuk lift.  “Apakah pekerjaanmu berjalan lancar?  Apakah semuanya baik-baik saja seperti biasa?  Dan, apakah mereka tetap menawarimu untuk proyek baru itu?  Kau terlihat sangat kurus, apa mereka terlalu banyak memberikanmu pekerjaan?”

Sehun menghela nafas panjang.  Pria itu lelah, nampak jelas dari rautnya yang terpantul dari kaca pada lift.

Dan Soo Ji hanya mengulum senyum kecut.  Tidak bertanya apapun lagi, Soo Ji ikut diam sebagaimana Sehun hingga pintu lift dihadapan mereka terbuka dan Sehun keluar, begitupun Soo Ji yang berjalan mengekorinya.  Menyusuri lorong sempit dan melewati beberapa pintu, Sehun akhirnya berhenti ketika sampai pada pintu ber-nomor 27.  Membuka tas berwarna hitamnya yang pada beberapa bagiannya nampak robek, sebuah kunci dengan gantungan  berupa foto-nya dan foto Soo Ji, nampak—dan cukup untuk membuat wajah Soo Ji kembali bersinar.

“Entah kenapa, meskipun aku sudah tahu bahwa kau menggunakan foto kita sebagai gantungan kunci, tiap kali melihatnya aku sangat merasa senang.”  Kata Soo Ji bersamaan dengan terbukanya pintu dihadapan mereka.

Menyalakan lampu pada apartment gelapnya, Sehun segera menuju sudut ruangan untuk menyalakan penghangat sementara Soo Ji mulai duduk di sofa dan Sehun menyusulnya.  Mengambil remote TV, Sehun mulai menyalakan benda eletronik itu tanpa niatan untuk peduli pada channel apa yang hendak di tontonnya.

“Aku ingin menonton dramamu, Sehun-ah… bisakah?”  Soo Ji meminta dengan tangan dan pandangan memohon.  “Aku dengar dramamu kali ini sangat sukses, biarkan aku menontonnya, hm?”

Sehun menghela nafas panjang.  Sedikit merenung, pria itu mulai mengganti saluran TV-nya sesuai dengan apa yang Soo Ji inginkan, menonton drama malam yang dirinya bintangi.

Bangkit, Soo Ji ikut mendongak kala Sehun berdiri dan hendak melangkah.  “Mau kemana?  Aku ingin menontonnya denganmu.”  Wanita itu bertanya.

Masih bisu, Sehun melangkah menuju area dapur yang hanya berjarak 5 langkah dari ruang tamu dan mulai membuka satu persatu rak penyimpanan makanannya.

“Kosong.”  Soo Ji menggumam saat Sehun membuka lemari peyimpanan makanan dan tidak ada satupun makanan disana.  Berbalik, kembali mengekori Sehun yang menuju kulkas, hanya ada telur dan mie instant disana.  “Pesan makanan saja, Sehun-ah…. kemarin kau juga hanya makan mie instant.”  Raut Soo Ji nampak khawatir, namun Sehun tidak peduli.  Menyalakan kompor di sampingnya, Sehun mulai memasak mie yang akan menjadi menu makan malamnya seperti biasa.

 

Knock—knock—knock

 

Sehun menoleh pada pintu apartmentnya yang baru saja terketuk.  Mematikan kompornya, pria itu berjalan dan membukakan pintu untuk entah tamu siapa yang mendatanginya malam-malam begini.

“Maaf mengganggu, Oh Sehun-ssi.”

Sehun, sekali lagi ia menarik nafas dalam ketika sosok familiar yang sama sekali tidak diharapakannya itu muncul.  Memberikan senyum lebarnya, toh—Sehun tidak luluh untuk itu.

“Ada apa?”  Suara berat pria itu terdengar tanpa ada niatan untuk mempersilahkan tamunya masuk.

“Tentang penawa—.”

“Maaf, saya tidak bisa.”  Jawab Sehun sesopan mungkin.  “Ini sudah terlalu malam untuk berkunjung, Tuan.  Saya baru saja pulang dan besok pagi harus kembali.  Anda hanya membuang-buang waktu untuk datang kemari karena saya tidak akan pernah berubah pikiran.”

“Saya tahu.”  Pria dengan pakaian rapi itu mengiyakan ucapan Sehun masih dengan senyum lebar.

“Syukurlah jika begitu.”  Kata Sehun secepat tangannya yang langsung menutup pintu apartmentnya tanpa ada niatan untuk memperpanjang pembicaraannya.

 

“Kupikir kau harus menerima tawaran Tuan itu, Sehun-ah.”  Soo Ji langsung mendekat begitu Sehun berbalik dan berjalan menuju dapur, melihat keadaan mie-nya yang sempat ia tinggalkan.  “Jika kau setuju maka kau akan memiliki penghasilan yang lebih besar.”  Kata Soo Ji saat Sehun mulai memasukkan sesumpit mie kedalam mulutnya.

Baru saja Sehun akan kembali menikmati mie-nya, pintu apartmentnya kembali terketuk.

“Siapa lagi?”  Soo Ji menggerutu.  Hampir ia berdiri dan melangkah, Sehun sudah mendahuluinya.

 

“Joon Myun Hyung?”  Dari bagaimana cara Sehun menyebut namanya, jelas ia sangsi pada kedatangan pria itu.

“Bisa aku masuk dan kita berbicara didalam?”

Sedikit merengut, Sehun membuka lebih lebar pintu apartmentnya guna mempersilahkan Joon Myun masuk.  Soo Ji yang melihat itu, menjauhkan diri dan masuk ke dalam kamar meski apa nanti yang Sehun dan Joon Myun bicarakan mampu ia dengar.

“Ada apa?”  Nada bertanya Sehun langsung terdengar begitu Joon Myun duduk pada sofa yang tadi Soo Ji duduki.

“Kau makan malam?  Dengan mie?  Ingin aku pesanan sesuatu?”

“Tidak.  Terimakasih.”  Sehun mengambil mangkuk mie-nya yang bahkan hampir tidak tersentuh.  Membawanya ke dapur dan meletakkannya begitu saja, pria itu kembali mendekati Joon Myun dan duduk di salah satu sofa lain.  “Ada apa?”  Pria itu mengulang.

“Sepertinya kedatanganku tidak disambut.”  Joon Myun bercanda, sayangnya—Sehun tidak tertawa ataupun merasa terhibur untuk itu.

“Ada masalah?”  Sehun bertanya makin serius dan Joon Myun berdehem, senyumnya telah hilang bersama suramnya Sehun.

“Ini.”  Joon Myun menyerahkan ponselnya pada Sehun.  “Ada film baru, produsernya menawarimu.  Kau tertarik?”

Sebelah alis Sehun terangkat kala menatap layar ponsel Joon Myun dan membaca email yang tadi Joon Myun tunjukkan padanya.

“Sehun-ah,”  Joon Myun memanggil.

“Aku akan membacanya dulu.”  Pria itu berucap dengan tangan menyerahkan ponsel berwarna metalic yang dipegangnya pada pemiliknya.  “Hanya itu?”  Lanjut Sehun.

“Sebenarnya aku juga ingin menawarimu tempat tinggal.”  Ucap Joon Myun.  “Tempat yang lebih layak untuk bintang sepertimu.”

“Aku senang disini.”  Kata Sehun dan berdiri, tidak memberikan Joon Myun kesempatan untuk membuka kembali mulutnya.  “Aku sangat lelah dan ingin tidur.  Hyung tahu dimana letak pintu keluarnya, bukan?”

“Soo Ji sudah meninggal.”  Seru Joon Myun ketika Sehun benar-benar membalik badannya dan berniat meninggalkan ia.  “Kau, aku tahu ini menyedihkan bahwa dia pergi bersama calon anak kalian, tapi haruskah kau disini?  Tidak ada seorangpun yang tidak melihatmu dengan pandangan sedih.  Setidaknya, berkumpullah dengan teman-teman yang lain, berpakaian dan berpenampilan layak, tinggal di tempat layak, dan sebisa mungkin makanlah dengan benar.”  Joon Myun melempar tatapan ibanya pada punggung kurus Sehun yang terlihat menegang.  “Aku paham jika kau berpikiran bahwa semua yang kau dapatkan saat ini tidak berharga dan sama sekali tidak ada artinya, aku paham ketika kau menyumbangkan seluruh bayaranmu pada lembaga sosial karena sebanyak apapun uang yang kau punya tidak akan benar-benar berarti, aku bahkan berpikir bahwa kau tidak memiliki satu kendaraanpun karena kau trauma pada kecelakaan yang Soo Ji alami, aku juga mengerti bahwa kau tidak terlalu peduli pada merk dan memakai pakaian apa saja yang kau mau asal nyaman.  Tapi, tolong rubah itu sedikit saja.  Makanlah dengan layak, tinggallah di tempat yang layak, dan berpakainlah dengan benar.  Ini musim dingin dan kau pergi dengan baju tipis, bahkan tas-mu berlubang.  Apa kau tahu seberapa banyak berita tentang menyedihkannya dirimu saat ini?”

“Terimakasih untuk perhatiannya.”  Balas Sehun cepat tanpa berbalik, melanjutkan langkahnya memasuki kamar dimana Soo Ji sudah duduk di atas ranjang mereka dan melihat Sehun sedih.

 

“Sehun-ah….”  Wanita itu memanggil, tanpa bisa didengar.  Mengarahkan tangannya pada wajah Sehun, tanpa bisa menyentuh.  “Jangan hidup seperti ini.  Aku ingin melihatmu hidup, bukan hanya sekedar bernafas.”  Ucapnya, tanpa terdengar.

Advertisements

15 responses to “Kabut

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s