1st Mythology – Protopóros (πρωτοπόρος) Chapter 4

myth3-copy

“Oh.  Inikah tartlet-nya?”  Kedua tangan Jaejoong saling terkepal didepan dada dengan sepasang mata emasnya yang sedikit membesar dengan binar lebih terang.  Senyum lebar menghiasi wajahnya hingga deretan gigi putih dan rapinya terlihat.

Makin mendekatkan dirinya pada meja dapur dimana sudah tersaji tartlet indah buatan Yoo Jung yang baru selesai dihias dan tampaknya sangat lezat, salah satu tangan pria itu terulur untuk mengambil satu potongnya dan langsung ia cicipi tanpa permisi.

“Ini enak.”  Jaejoong memuji.  Kedua pipi kurusnya bahkan mengembung saking serakahnya ia memasukkan beberapa potong tartlet kedalam mulutnya sekaligus.

“Aku tahu.”  Yoo Jung membanggakan dirinya sendiri tanpa sungkan.  Melirik Jaejoong yang kembali memasukkan sepotong tartlet kedalam mulutnya, gadis itu hanya menggeleng pelan dengan ketukan pelannya pada meja agar Jaejoong sedikit mengalihkan perhatiannya dari tartlet yang tampaknya akan menjadi menu kesukaannya mulai saat ini.  “Sekarang oppa bantu aku.  Kita harus pilihkan yang paling cantik untuk kakak ipar.”

38b04c3f254d7f628d753b578877b7b8

 

 

***

 

 

Langit sudah hampir menggelap saat Hyun Bin menyudahi pekerjaannya berkutat dengan besi dan api yang tidak bisa ditinggalkannya.  Berjalan masuk ke dalam rumah, suasana ramai yang biasanya terjadi ketika ia selesai dengan pekerjaannya, tidak terjadi kali ini.  Kemana mereka?  pikirnya.

Lilitan kain usang yang sebelumnya berwarna putih bersih, ia lepaskan perlahan dari tangannya sembari berjalan menuju balkon belakang rumah di lantai dua.  Desir angin musim dingin yang dibawa Boreas menerpa kulitnya, membawa sepasang mata gelapnya pada dua sosok tidak asing yang terlihat berjalan melewati pagar rumah.

Jaejoong dan Yoo Jung, batinnya, tetap memperhatikan keduanya yang mulai melangkahkan kakinya perlahan di antara tumpukan salju bersama nampan lumayan besar pada tangan Yoo Jung.

“Mereka akan pergi ke rumah gadis Sehun itu,”  Krystal datang dan langsung menjelaskannya.  Gadis Sehun itu, pengucapan yang selalu mereka gunakan meski mengetahui siapa nama gadis yang sejak beberapa waktu lalu menjadi tetangga baru dan takdir Sehun.  “Jika rencana Yoo Jung berhasil, lupakan niatmu untuk membuat keluarganya kacau balau hanya untuk Sehun, oppa.”  Krystal melirik Hyun Bin sesaat dan mengusap cangkir kopinya yang makin dingin sebab keberadaannya yang berada di luar dalam cuaca sedingin ini.

“Kemarikan cangkirmu.”  Hyun Bin sudah mengulurkan ujung telunjuknya, mengarahkannya pada Krystal yang langsung menyodorkan cangkirnya untuk bersentuhan dengan telunjuk Hyun Bin.  Saat kepulan asap tipis mulai muncul dari cangkirnya, dan Krystal juga sudah merasa kepanasan—ia tarik kembali cangkirnya dari telunjuk Hyun Bin.  “Bagaimana hubunganmu dan pria itu?”  Hyun Bin bertanya pelan, dan Krystal yang mendengarnya menghela nafas panjang seolah pertanyaan itu adalah salah satu pertanyaan terberat dalam hidupnya.  “Tidak berhasil?”

“Aku menerimanya, dan dia suka pada wanita lain.”  Krystal menundukkan kepalanya dengan senyum kecut yang tersembunyi di antara helai rambut panjangnya yang ikut menurun ketika ia menunduk.

“Itulah hukumannya.”  Kata Hyun Bin lemah dengan wajah datar seolah ia benar-benar tahu tentang hal yang terjadi hingga tidak terkejut, lagipula dengan kalimat terakhirnya—mustahil pria itu tidak tahu.  “Kau tentu sudah tahu tentang itu, bukan?  Adalah mungkin bertemu dengan pasangan jiwamu, tapi adalah belum tentu kau bisa bersamanya.”

“Ya, tentu.”  Krystal berusaha tidak peduli meski berapa kalipun mencoba, ia tidak bisa lupakan sosok Kim Jong In yang menggandeng erat tangan seorang gadis di jalanan tengah kota beberapa waktu lalu dengan senyum dan tawa bahagia, begitupun ketika pria itu mendaratkan ciumannya pada bibir gadis berambut panjang yang hingga kini tidak ingin dirinya ketahui siapa namanya.

“Tapi kau lebih berani dibanding Sehun, apa kau tahu itu?”  Krystal mendesah dengan senyum yang muncul sekali.

“Aku putri Ares, mana bisa aku takut pada hal kecil macam itu?  Lagipula, berani atau tidak rasanya tidak akan berguna.  Kenyataan seperti ini, apapun pilihannya kami akan tetap sangat menyedihkan.”

“Ya….”  Hyun Bin melempar pandangan sendunya dan sumpah, Krystal benci akan itu.

“Apa kami semenyedihkan itu hingga kau memberikanku tatapan macam itu, oppa?

“Maaf,”  Sesalnya.

“Sebenarnya aku ingin tanyakan sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Kenapa oppa tidak membunuh diri oppa dan justru memilih untuk hidup?  Bukankah rasanya sangat sakit?  Apa karena oppa anak Hephaestus maka dari itu hati oppa sekeras besi dan sepanas api hingga tidak bisa merasakan sakitnya?  Ap—.”

“Oh, Krystal,”  Hyun Bin mengusap puncuk kepala wanita itu dengan senyum tersiratnya.  “Tidak.”  Gelengnya.  “Aku hanya tidak bisa melepaskan diriku semudah itu.”

“Jadi oppa juga kesakitan?”

“Dalam alasan dan rasa yang berbeda dengan sakit yang kau dan Sehun alami, ya, aku kesakitan.”

“Mak—sud, oppa?”  Krystal menelengkan kepalanya tidak mengerti, keningnya berkerut dan sorotnya penuh tanda tanya untuk Hyun Bin.

“Aku tidak bisa jelaskan,”  Bisiknya.  “Tapi kupikir untuk saat ini kau harusnya lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri dibanding orang lain. Apa kau menyukai pria itu?”

“Tidak.”  Krystal menjawab cepat dengan kedua pundaknya yang meninggi tidak peduli seolah meyakinkan.  “Apa akan terjadi sesuatu jika kami tidak bersama atau tidak saling suka?”

“Kau merasa kesakitan pada tubuhmu?”

Krystal memberengut dan memperhatikan tubuhnya dari arah mata kaki hingga dadanya sekilas, dan kemudian menggeleng.  “Tidak.”

“Bukankah salah satu kutukannya berbunyi bahwa kau akan menderita karenanya, dan untuknya?”

“Oh…..”  Krystal mengaduh panjang dengan sebelah tangannya memegang kepala.  Berbalik dan duduk pada sofa rumah, gadis itu menggeleng.  “Itu sudah sangat lama sekali.  Mana aku ingat?”

“Mungkin karena kau mau menerima kehadirannya maka kau baik-baik saja.”

“Ya, mungkin.”  Gadis itu mengangguk beberapa kali.  “Mungkin Sehun juga perlu begitu.  Hanya sebatas menerimanya, bukan mencintainya.”  Hela nafas panjang keduanya kembali terdengar.

Melirik pada kamar dengan pintu tertutup yang menjadi tempat Sehun selama ini, Hyun Bin mengernyitkan keningnya, mungkin dirinya harus membujuk Sehun sekali lagi agar pria itu cukup menerima kehadiran pasangannya, dan bukan mencintainya.

 

“Oppa kita kedatangan tamu,”  Krystal berdiri dari duduknya dan mulai berjalan menuju arah tangga.  Menajamkan kedua matanya pada pintu terketuk di lantai bawah, usapan tangan lembutnya pada kepala ularnya tampak bersama desisan ular itu yang hanya ia seorang pahami.

“Siapa?”  Hyun Bin ikut mendekat pada Krystal, ikut memperhatikan pintu rumahnya yang belum pernah terketuk.

“Putra Artemis, Taemin, dan saudara jauhmu, Key.”

 

 

 

***

 

 

 

Menekan tombol intercom dihadapan mereka, satu suara yang langsung terdengar dan menanyakan tentang siapa mereka membuat Jaejoong dan Yoo Jung saling melempar isyarat untuk menjawab.

“Siapa?  Ada kepentingan apa?”  Suara itu kembali terdengar, dan kali ini Yoo Jung berdehem dengan lirikan tajam pada Jaejoong.

“Namaku Yoo Jung, dan ini oppa-ku, Jaejoong.  Kami adalah tetangga baru, hanya ingin memberikan tartlet.”  Yoo Jung menarik tangan Jaejoong yang memegang tartlet-nya, dan mengarahkan satu nampan penuh tartlet itu kedepan kamera agar orang di dalam sana, yang kemungkinan besar adalah gadis Sehun, melihatnya.

Tidak lama kemudian, bunyi pintu yang terbuka dari dalam terdengar.  “Silahkan masuk.”  Suara dari intercom itu menyambut bersama terbukanya pintu kokoh setinggi 2 meter dihadapan mereka.

 

 

Gadis itu, yang mereka panggil sebagai gadis Sehun, Bae Soo Ji, muncul.  Seperti yang Yoo Jung perkirakan sebelumnya, percakapan yang terjadi tadi pastilah bersama gadis Sehun.

Anyeonghaseo,”  Yoo Jung menundukkan sedikit tubuhnya diikuti Jaejoong ketika Soo Ji sudah berdiri sempurna dihadapan mereka.  “Maaf mengganggu waktumu.  Kami tetangga baru, membuat sedikit tartlet dan membaginya bersama tetangga yang lain.”  Lanjutnya kemudian menarik tangan Jaejoong agar memberikan tartlet di tangannya pada Soo Ji.

“Oh.”  Soo Ji menyambut sodoran tartlet yang Jaejoong berikan dan membalas sapaan Yoo Jung kaku.  “Terimakasih.”  Katanya, menatap mereka berdua dihadapannya bergantian.

Canggung, suasana saat ini cukup untuk dijelaskan oleh satu kata itu.  Baik Soo Ji, maupun Jaejoong dan Yoo Jung yang kembali berpandangan dengan lirikan penuh isyarat agar satu kalimat lainnya muncul untuk memutus jarak di antara mereka bersama Soo Ji.

“Oh, kita belum berkenalan.”  Jaejoong berdehem sebentar dan mengulurkan tangannya pada Soo Ji.  “Namaku Jaejoong, ini adikku, Yoo Jung.”

“Ah, ya.  Aku sudah mendengarnya tadi.  Namaku Soo Ji,  salam kenal.”

“Jika sedang bosan, Soo Ji-ssi bisa bermain-main di rumah kami.”

Yoo Jung memberengut dengan lirikan tajam yang langsung di lemparkannya pada Jaejoong, satu cubitannya bahkan berhasil membuat bibir pria itu mendesis sekaligus memutus kontak tangannya bersama Soo Ji.

Apa?  Jaejoong melotot pada Yoo Jung dengan mulut terbukanya yang tanpa suara.

Jenis perkenalan macam apa yang pertama kali bertemu langsung mengajak ke rumah?

 

Yoo Jung tergelak dan kembali menatap Soo Ji.  “Eonni bisa kembalikan wadahnya besok saja, rumah kami tepat disamping rumah eonni,”  Yoo Jung menunjuk gedung di sebelah rumah Soo Ji persis.  “Maaf mengganggu waktunya, kami permisi.”  Pamit Yoo Jung, menarik segera tangan Jaejoong dengan senyum yang sebelumnya ia lempar terlebih dulu pada Soo Ji.

 

 

 

***

 

 

 

“Serius!  Hanya seperti itu?!”  Pria itu masih melanjutkan protesnya bahkan setelah mereka sampai di rumah.  Melepas rangkulan tangan Yoo Jung, Jaejoong berkacak pinggang.  “Sehun,”  Ucapnya dengan sebelah tangan terangkat, mengarah ke kamar tempat Sehun berada.  “Bocah itu sudah menderita hampir setengah tahun ini tanpa satupun niat untuk menyerah.  Dan kita,”  Kali ini ia menunjuk dirinya sendiri dengan kedua tangannya.  “Kita sudah bertemu gadis itu dan hanya mengucap salam tanpa mengucapkan satu kalimat apapun yang akan membuatnya tertarik pada Sehun?”

Yoo Jung menyipitkan matanya pada Jaejoong dengan pandangan iba.  “Kenapa tidak sekalian saja kita katakan bahwa dia adalah belahan jiwa mahluk setengah Dewa yang sudah hidup selama hampir 2000 tahun?”  Yoo Jung ikut berkacak pinggang, dan mendongakkan wajahnya seolah menantang Jaejoong.  “Kita lakukan ini pelan-pelan, oppa.”

“Ini sudah setengah tahun dan kita bahkan belum setengah jalan, adikku.”

 

“Hei.”  Krystal menengahi.  Wajah malasnya nampak jelas dan bergantian, tangannya menepuk pundak Jaejoong, juga Yoo Jung.  “Hebat benar gadis itu?  6 bulan lalu dia buat Sehun kesakitan bukan main hingga saat ini, dan sekarang dia buat kalian bertengkar untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun bersama.  Ada apa?”

Jaejoong mendengus.  Melirik Krystal, ia kembali berucap, “Memangnya jika kami ceritakan, kau akan peduli?  Berkah Dewa sudah turun di rumah ini rupanya?”

Krystal tersenyum tipis.  “Kau memang sangat memahamiku, oppa.  Aku tidak peduli dengan kisah kalian.”  Wanita itu memutar tubuhnya cepat dan berjalan menjauh dari mereka masih dengan kalungan ular di lehernya yang sesekali ia usap kepalanya perlahan.

“Mana Hyun Bin hyung?  Palunya sudah tidak terdengar.  Mandi?”

“Kita kedatangan tamu.  Hampir aku lupa.”  Krystal menjawab santai dan kembali duduk pada sofa tempatnya tadi.  “Putra Artemis dan Hephaestus?”

“Siapa?”  Jaejoong mengerutkan keningnya dengan langkah mendekat pada Krystal dan duduk disampingnya.  “Putra siapa?”

“Artemis dan Hephaestus.”  Wanita itu mengulang, ketus.  “Yang satunya di kamar Sehun, entah sedang apa.  Dan yang satunya, melepas rindu dengan saudara jauhnya mungkin?”  Kali ini Krystal tersenyum lucu, mengingat bagaimana terkejutnya wajah Hyun Bin ketika bertemu dengan saudara yang sama sekali tidak menunjukkan anak seorang Hephaestus.

 

 

 

***

 

 

Taemin menatap Sehun yang terbujur kaku di atas ranjangnya dengan hela nafas panjang.  Wajahnya dingin, tanpa senyum ataupun sedikit ketertarikan untuk melakukan apa yang sebentar lagi akan dilakukannya.  Mendekat perlahan, tolehannya pada dua makhluk yang sebelumnya tidak pernah ia temui secara langsung—membuatnya membuka sedikit bibirnya, “Pergilah.  Aku sudah meminta ijin pada Hyun Bin.”  Katanya malas, semalas pandangannya yang kembali tertuju pada Sehun.

Selepas kepergian Hipnos dan Morfeus, mata terpejam Sehun langsung terbuka bersama sakit yang menjalar pada seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.  Sekali itu, ia menangis tanpa bisa mengaduh ataupun merintih.  Taemin yang bahkan sudah duduk di sisinya, entah ia ketahui atau tidak saking sakit yang ia rasakan makin menjadi tiap waktunya.

“Sangat sakit, ya?”  Taemin bertanya nyinyir, dengan senyuman yang mulai tampak.  “Oh Sehun, kau ingat aku?”  Menjentikkan jarinya beberapa kali di atas wajah kesakitan Sehun, lirikan pelan pria itu yang sepertinya makin membuatnya merasakan sakit—semakin membuat senyum Taemin melebar.  “Makanya, makhluk sepertimu itu, jangan mencoba untuk melawan takdir.  Ck… ck.. ck…”  Taemin menggeleng pelan masih dengan senyum tampak.  “Kau tidak bisa bicara, ya?”  Sebelah alis Taemin terangkat, menatap Sehun dengan kornea coklat terangnya.  “Aku hanya mau balas budi.”  Jelasnya, tidak ingin berlama-lama meski sebenarnya ia sangat senang melihat salah satu anak Athena kesakitan dan Athena yang begitu Zeus sayangi di antara anak-anaknya yang lain bahkan tidak bisa menolong.  “Kau ingat aku?  Pohon kecil yang kau beri kehidupan dengan air segar saat perang Troya terjadi?”

Sehun mencoba mengingat di antara sakit pada tubuhnya.  Namun jika benar-benar dipikirkan, siapa pula yang akan mengingat kejadian ribuan tahu lalu tentang dirinya yang menyiram pohon kecil?

“Rasanya tidak.”  Taemin terkekeh sendiri.  Merogoh saku bajunya, pria itu mengeluarkan satu botol kecil yang kemudian ia letakkan pada telapak tangan Sehun tanpa peduli bahwa itu akan menambah sakitnya.  “Aku tahu kulitmu akan terasa seperti di iris-iris jika bersentuhan dengan apapun, tapi kurasa kau harus menyimpan ini dengan rahasia.”  Taemin melepas sentuhannya ketika tangan kaku Sehun berhasil ia buat untuk menggenggam botol kecilnya tadi.  “Aku putra Artemis dan nimfa hutan.  Salah satu berkahku yang didapat dari Artemis adalah mengendalikan hewan, dan tentu membantu proses kelahiran.”  Taemin menghela panjang dengan kedua mata berputar searah jarum jam dengan kalimat terakhir itu.  “Apa kau tahu berapa banyak kesusahan yang aku dapat darimu?”  Pria itu bertanya dengan kedua tangan yang ia lipat kedepan.  “Karena kau memberikanku air hingga aku bisa hidup sampai saat ini berkatmu, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan balas budi.  Tapi…..”  Wajah Taemin mulai menunjukkan kekesalan dan kata terakhirnya meninggi.  “Haruskah kau lari dari pasanganmu?  Apa kau tahu sudah berapa kali aku membuatnya dilahirkan kembali selama ribuan tahun ini agar kalian bisa bertemu?  Apa kau tahu sudah berapa kali aku harus berhadapan dengan Hades untuk menculik arwahnya dan membuatnya terlahir kembali?  Aku bahkan selalu membuatnya lahir di tempat dan keluarga yang bagus, untukmu, dan karenamu, Oh Sehun, putra Athena!”

Taemin kesal, dan Sehun bahkan tidak peduli untuk itu.  Sehun justru berpikir, jika memang Taemin berniat untuk membalas budi, akan lebih baik jika dia tidak pernah membuat pasangannya di lahirkan.

“Tapi sekarang aku tahu.”  Taemin menghela panjang, mengatur nafas tersengalnya sebab ocehan bercampur emosi tadi.  Merapikan rambutnya, pria itu kembali menajamkan pandangannya pada Sehun.  “Kau justru tidak ingin bertemu dengannya, bukan?”  Kali ini Taemin benar, dan Sehun berharap bahwa pria dengan mata secoklat daun kering di musim semi itu akan memanggilkannya Thanatos.  “Sayangnya aku tidak bersahabat dengan satupun Dewa kematian, entah Thanatos, Ker, ataupun Moros.  Tapi jika kulihat tadi, ada Hipnos disini.  Kau tahu bahwa Hipnos adalah saudara mereka bertiga, bukan?  Kenapa kau tidak memohon padanya agar meminta salah satu dari tiga saudaranya itu untuk mencabut nyawamu?”

Sehun tertegun untuk sesaat meski sebenarnya tanpa itu ia juga tidak bisa menjawab satupun ucapan Taemin.  Tapi mengenai Hipnos yang adalah saudara 3 makhluk pencabut nyawa itu, kenapa dirinya bisa lupa?

“Kau memikirkan itu?”  Taemin kembali terkekeh melihat diamnya Sehun.  “Aku hanya bercanda.  Mereka tidak akan lakukan itu padamu karena Zeus memerintahkan untuk tidak mencabut nyawamu dengan mudah.  Jikapun iya, maka Ker yang akan melakukannya.  Dia pasti sangat ingin merobek tubuh anak Athena hingga tidak bersisa.  Tapi, apa kau berani berhadapan dengan Ker?  Kurasa tidak.”

Sehun mengeram tertahan.  Andai lehernya tidak seperti ditusuk-tusuk jika mengeluarkan satu dua patah kata, maka ia akan menjawab bahwa tidak masalah berhadapan dengan Ker asal ini semua usai.

“Maka aku mengganti cara balas budiku padamu.”  Taemin melanjutkan, bersama wajah seriusnya yang nampak.  “Kali ini, bukan pasanganmu yang akan aku buat untuk terlahir kembali.  Tapi dirimu.”  Ucapnya.  “Botol kecil dalam genggamanmu itu adalah jalanmu.  Bakar botol itu dengan api Hephaestus hingga isinya menguning, dan minum saat itu juga.  Setelah itu, kau akan terlahir kembali, bukan sebagai anak Dewa, tapi sebagai manusia.  Hal lainnya adalah, masamu di masa lalu dan masa ini sebagai Oh Sehun putra Athena akan menghilang.  Tidak akan ada yang mengingatmu di masa lalu dan masa ini, kau bahkan tidak akan pernah ada di masa lalu dan ingatan siapapun.  Kau mengerti maksudku, Oh Sehun?”  Taemin bertanya andai penjelasannya kurang jelas.  “Kau akan terlahir kembali dengan wujudmu yang seperti saat ini, seorang diri, di suatu tempat yang bahkan tidak ada siapapun yang mengenalmu.  Keberadaanmu di masa lalu, juga di tengah orang-orang yang saat ini bersamamu dan mengenalmu, akan lenyap dari ingatan mereka.  Hyun Bin, Jaejoong, Luhan, Krystal, bahkan Yoo Jung yang sudah hidup bersamamu selama ribuan tahun juga tidak akan mengingatmu.  Jika perlu contoh, apa kau pernah menonton film Harry Potter?  Pada episode terakhir, saat Hermione menghapus seluruh kenangan dan ingatan keluarganya tentang dirinya.  Begitulah yang terjadi, kau ingat semuanya tapi mereka tidak.  Kenangan mereka tentangmu akan menghilang saat itu juga.  Dan, kau tidak perlu khawatir tentang apapun lagi setelah itu karena hubunganmu dengan semua Dewa bahkan Zeus akan terputus, begitupula kutukannya.  Tapi ingatlah ini,”  Taemin mendekatkan dirinya pada Sehun dengan pandangan lebih serius.  “Saat kau memutuskan untuk meminumnya dan menjadi manusia, kau harus benar-benar yakin.  Karena setahuku, manusia adalah makhluk paling menyedihkan, menjijikkan, juga menyebalkan.  Mereka banyak membunuh bangsaku, menjadikan kami lembaran tipis yang kemudian dibubuhi tulisan, selamatkan pohon dan hutan, hah!”  Taemin tergelak dengan wajah memerah dan kembali menegakkan tubuhnya.  “Kau serius ingin menjadi bagian dari mereka seutuhnya?”

Sehun memejamkan matanya.  Telinganya memanas dengan genggaman tangan menguat pada botol kecil yang tadi Taemin berikan hingga tanpa sadar membuat kulitnya yang sebenarnya tidak boleh tersentuh apapun kembali berdarah.  Bergeraknya ranjang tempatnya tidur, kembali membuatnya membuka mata dan tampak Taemin yang sudah berdiri dari duduknya masih dengan pandangan lurus padanya.

“Kau serumah dengan anak Hephaestus, jadi tidak sulit untuk mendapatkan apinya.  Tapi dengan keadaan seperti ini, kau tahu bahwa kau tidak mungkin membakar botol dariku itu, bukan?”

Taemin benar, dirinya tidak akan bisa membakar botol kecil itu dengan keadaannya yang seperti ini.  Maka satu-satunya cara, dirinya harus menerima keberadaan Soo Ji, setidaknya hingga ia bisa berjalan.

“Dan,”  Taemin mengangkat sebelah tangannya hingga Sehun kembali melihatnya.  “Karena kau akan segera menghilang dan aku khawatir pada hewan juga tumbuhanmu, maka aku akan mengambil dan menyimpan mereka.  Jangan khawatir, kau tahu aku lebih baik darimu dalam merawat hewan dan tumbuhan, bukan?  Kau boleh melihat atau bahkan mengunjungi mereka.  tapi saat kau sudah menjadi manusia seutuhnya dan terlahir kembali, aku tidak yakin kau bisa mengunjungi atau bahkan menemukan kami.  Lagipula mereka juga tidak akan mengingatmu.  Jadi kukatakan sekali lagi, pikirkan semuanya sebelum kau benar-benar meminum air itu.”

Mengambil pot berukuran sedang dengan pohon zaitun yang tumbuh disana, juga burung hantu dengan bulu berwarna putih bersih layaknya salju yang kini masih turun,  Sehun menatap semua itu tidak rela apalagi ketika burung hantunya langsung mengepakkan sayapnya dan hinggap pada bahu Taemin seolah ialah selama ini Tuan-nya.  Bahkan meskipun sepasang matanya terpaut dengan burung hantu yang sudah bersamanya selama hampir 20 tahun itu yang juga menampakkan ketidak relaannya dan seolah meminta untuk di ambil dari sisi Taemin meski kenyataannya ia ikut bersama Taemin dan meninggalkan dirinya, Sehun tetap tidak bisa melakukan apapun  jika mengingat kutukan Zeus, pasangan jiwanya, dan botol yang Taemin berikan.

 

 

 

***

 

 

 

Sementara di teras belakang rumah, di saat Taemin masih berbicara sendiri dengan Sehun yang sama sekali tidak mengeluarkan satu patah kata, Key—setengah Nimfa dan setengah Dewa sepertinya yang datang bersamanya, berhadapan dengan saudara-saudara Sehun, dan saudara jauhnya—Hyun Bin, sengit.

“Hah!”  Key berkacak pinggang dengan tatapan remehnya pada mereka semua, terutama pada Krystal yang seolah musuh lamanya.  “Sudah kukatakan berulang kali,”  Pria itu menunjuk penuh peringatan.  “Jangan panggil aku anak Hephaestus.”

“Wah, coba lihat ini?  Kau menyangkal siapa orang tuamu?”

“Aku bukan anak si kaki pincang itu.  Dia memperkosa ibuku,”

“Lalu?”  Krystal memicingkan matanya, “Kau adalah hasil perkosaan itu.”  Senyum puas akhirnya tampak pada wajah dingin Krystal.  “Sayangnya, meskipun rambutmu berwarna hijau terang dan tubuhmu tidak menunjukkan satupun tanda-tanda bahwa kau anak Hephaestus, kau tetaplah anaknya, bodoh.”

“Kupikir ini sudah keterlaluan.”  Jaejoong berjalan dan berdiri di antara mereka berdua, sementara Hyun Bin dan Yoo Jung saling berpandangan tanpa ada niatan untuk ikut menghentikan pertengkaran konyol mereka yang entah bermula dari apa.

“Tidak, biarkan saja.”  Key mendorong tubuh Jaejoong agar menjauh.  “Beginilah anak Ares, si sombong dan tolol itu.  Hah!  Julukannya saja Dewa Perang, dia bahkan tidak bisa menyelamatkan diri dari Hercules, berlindung di ketiak Athena dan Zeus jika ada masalah, lari dari medan perang dengan pengecutnya, dan bukankah karena itu Hera tidak benar-benar melihatnya sebagai anak?”  Key melirik Jaejoong yang tentu terkejut dan menunjukkan senyum tipis penuh kemenangannya jika melihat wajah memerah Krystal.  “Kau tahu?  Menjadi anak Ares, lebih menjijikkan dibanding anak hasil perkosaan sepertiku.  Dan lagi, aku heran kenapa kalian bisa bersama anak Ares ini.”  Key mulai menatap Hyun Bin.  “Untuk kali ini aku akan mengakui Hephaestus adalah orang tuaku,”  Katanya.  “Hephaestus yang dibuat malu dan terhina karena Ares meniduri Aphrodite ketika wanita itu masih menjadi istrinya.  Saat itu, dengan pengecutnya Ares langsung melarikan diri dan meninggalkan Aphrodite yang di hukum, bukan?”  Lirikan tajam Key kembali mengarah pada Krystal.  “Jangan banggakan dirimu sebagai anak Ares, itu benar-benar tidak layak.”

“Apa katamu?  Coba ulangi sekali lagi.”  Gigi Krystal saling bergemeretak geram, maju selangkah dengan pandangan ingin menelan Key  bulat-bulat.

“Kau bercanda?”  Key mendorong tubuh Krystal lumayan keras dan wanita itu mundur beberapa langkah.  “Ingin membunuhku dengan ular di lehermu?  Kau pikir siapa aku?  Kau lupa aku Nimfa Hutan?  Bukan aku yang aku dibunuhnya, tapi kau!  Tahu kenapa? Karena kami adalah tempat tinggal mereka, pelindung mereka, dan makanan mereka.”  Kali ini pria itu berucap lebih keras.  “Lagipula ular itu juga akan pergi bersamaku, serahkan sini.”

“Jauhkan tanganmu.”  Krystal memperingatkan saat Key sudah mendekat dengan kedua tangan terulur untuk mengambil ular peliharaannya.  “Jangan macam-macam!  Oppa!”  Krystal menoleh pada Hyun Bin dan Jaejoong, mulai merengek dihadapan mereka, “Jauhkan dia dariku, ini ularku.”

“Coba lihat?  Dia benar-benar mirip Ares, hah.”  Key menggumam pelan dengan ringisan kecil saat melihat tingkah Krystal yang sudah berdiri di belakang tubuh Hyun Bin dan Jaejoong sembari memeluk ularnya.

“Key, kau—.”

“Karena bagaimanapun juga, dan sebanyak apapun aku menyangkalnya kau tetaplah saudaraku, meski ini pertama kalinya kita bertemu, maka aku akan katakan ini padamu sebagai salah satu kebaikanku dan kemurahan hatiku,”

Krystal sudah mengumpat dalam hati melihat tingkah makhluk tidak jelas dihadapannya yang makin menyombong.  Melirik Yoo Jung, saudara paling kecilnya di rumah itu juga melihatnya dengan senyum lucu atas tingkah Key.

“Wanitamu, si Zoya itu sudah menunggumu di Elysium, jadi cepatlah pergi kesana dan jangan buang-buang waktumu untuk menjaga anak-anak bodoh disini.  Kau bilang menghukum dirimu sendiri?  Aku yakin kau pasti sudah lupa bagaimana wajah Zoya, bukan?  Jangan merasa bersalah, mereka terkena kutukan bukan karenamu, tapi karena kebodohan mereka sendiri.”  Key melirik Yoo Jung dan Krystal yang sudah memucat wajahnya bergantian dan kembali, senyumnya tampak.  “Begitupun denganmu, Jaejoong.”  Key menoleh lurus pada Jaejoong yang mulai menatapnya setajam mata elang.  “Kau hanya menceritakan kisah Hyun Bin dan kisahmu pada 4 makhluk bodoh yang berpikir bisa abadi dan seberuntung Hyun Bin juga dirimu itu.  Kau sama sekali tidak bersalah atas kutukan mereka.  Jadi nikmatilah hidupmu tanpa tanpa perlu menjaga mereka.”

“Kupikir perkataanmu sudah keterlaluan.”  Hyun Bin maju beberapa langkah hingga langsung berhadapan dengan Key.

“Aku hanya mengatakan sesuatu yang menurutku benar, jika menurutmu salah, maka jangan dengarkan.  Dan, berhentilah menjadi makhluk primitif, kau tidak harus menggunakan palu untuk membengkokkan besi.  Berpikirlah modern seperti dunia modern dimana saat ini kau hidup.  Perlu aku contohkan?”

Hyung.”  Taemin muncul dari arah dalam rumah dan mendekat, berdiri tepat disamping Key yang masih berhadapan dengan Hyun Bin.  “Aku sudah selesai, ayo pergi.”  Ucapnya tanpa peduli, ataupun niat untuk sedikit berbasa-basi dengan tuan rumah tempatnya berada.

“Tunggu,”  Jaejoong menghentikan langkah Taemin cepat.  “Kenapa burung hantu dan pohon zaitun Sehun ada padamu?  Apa yang kalian bicarakan?  Apa yang kau lakukan padanya?”

Taemin menghela panjang dan menurunkan tangan Jaejoong dari pundaknya.  Melirik pria itu sekilas, tubuhnya kembali berbalik dan berhadapan dengan seluruh penghuni rumah yang juga menatapnya.  “Kalian juga harus menyerahkan seluruh hewan dan tumbuhan peliharaan kalian pada kami.  Terutama milikmu, Krystal.”

“Apa?  Kenapa?”  Krystal membulatkan matanya dan kembali berlindung, kali ini di belakang tubuh Yoo Jung yang jelas lebih kecil darinya.

“Kau akan tahu jawabannya jika Luhan sudah kembali.  Kami tidak membocorkan masa depan secara sembarangan.”  Kali ini Key kembali berucap tanpa mengurangi satupun raut sinisnya pada Krystal.

“Oh, beraninya.  Lagipula kau tahu darimana tentang masa depan?  Kau bahkan bukan keturunan Dewa Langit.”

“Pertemananku luas, bodoh.  Memangnya kau, yang tidak punya teman?”

“Apa yang terjadi pada Luhan?”  Hyun Bin menengahi pertengkaran di antara Key dan Krystal yang sepertinya tidak akan pernah berakhir.  “Kami tidak bisa menghubunginya dan dia belum kembali.  Apa terjadi sesuatu?”

“Dia tidur dengan seorang Nimfa Laut yang sudah memiliki pasangan.”

“Mungkin sekarang dia sedang bersembunyi di ketiak Aphrodite, seperti biasa.”

Key tersenyum nyinyir dan langsung berbalik, diikuti Taemin yang sebentar kemudian kembali berucap, “Kalian tahu harus pergi kemana untuk mencariku saat akan menyerahkan dan membawa hewan serta tumbuhan kalian, bukan?  Aku hanya berpikir bahwa kalian akan mulai sibuk dan tidak merawat hewan juga tumbuhan kalian dengan baik.”

“Ada aku.”  Yoo Jung akhirnya membuka suara.  Melihat itu, Taemin mengangguk dan tersenyum.

“Baiklah, ada putri Demeter disini.  Setidaknya aku tidak harus benar-benar khawatir.”  Baru setelah itu, Taemin melangkah keluar mengikuti Key yang telah mendahuluinya.

Saling berpandangan, Hyun Bin, Jaejoong, Krystal, dan Yoo Jung sepakat untuk mengikuti mereka berdua.  Takut-takut jika mereka berdua melakukan sesuatu hal yang aneh.  Dan, benar saja—

 

 

“Bukankah itu pria yang kemarin hampir menebangku?”  Key berdiri menghadap sebuah rumah dimana satu mobil berwarna hitam baru saja masuk dan menampakkan seorang pria yang ia maksud bukankah itu pria yang kemarin hampir menebangku?

Taemin menoleh saat empat penghuni rumah sudah berdiri tepat di belakangnya, dan ikut memperhatikan apa yang menjadi perhatian Key.

“Bukankah itu rumah gadis Sehun?”  Tanyanya, dan Jaejoong juga Yoo Jung mengangguk segera pada Taemin.  “Itu rumah gadis Sehun, hyung.”  Taemin berbisik pada Key yang masih memperhatikan sosok yang sudah masuk ke dalam rumah Soo Ji itu.

“Kau pikir aku peduli?  Dia bahkan dengan beraninya mencoret wajahku dengan tinta hitam.”  Key mengusap pipi kanannya pelan sekedar mengingat tinta kehitaman yang entah apa itu dan sulit untuk dihilangkannya.  Mengangkat sebelah tangannya dengan api yang muncul di tiap ujung jarinya, Key tersenyum penuh arti dengan pandangan lurus pada rumah Soo Ji.

“Apa yang akan kau lakukan?”  Hyun Bin mengambil langkah lebar hingga langsung berada didepan Key.  Memegang tangan pria itu yang mengeluarkan api, ia menggelengn.  “Jangan macam-macam.”

“Ini yang aku maksud primitif.”  Key menelengkan kepalanya dengan senyum misterius untuk Hyun Bin.  “Lakukanlah dengan lebih modern, Hyun Bin.”  Key tergelak, bersama dentuman kencang yang terdengar tidak jauh dari tempat mereka berada.

 

 

Hyun Bin, Jaejoong, bahkan yang lainnya sadar betul bahwa Key tidak menggerakkan sedikitpun tangannya untuk mengarahkan apinya pada rumah Soo Ji.  Pandangan Key bahkan berpusat sepenuhnya pada Hyun Bin.

“Ka—kau!  Apa.. apa yang sudah aku lakukan?!”  Jaejoong berteriak kencang namun akar merambat yang entah muncul dari mana dan mengikat kaki juga tangannya, menghentikan gerak tubuhnya untuk mendekat pada Key.

“Kupikir, karena kalian tinggal di kota dan kami di hutan, kalian akan lebih hebat dan maju dibanding kami.  Nyatanya, kalian lebih primitif dibanding kami.”  Key meninggikan alisnya pada mereka yang seolah membatu, diikuti senyum sinis khasnya.

“Baiklah kalau begitu, kami permisi.”  Taemin menyambung, menyatukan kakinya dengan rumput pada halaman depan rumah mereka, baik ia dan Key langsung menghilang sosoknya dari hadapan mereka.

“Gila.”

“Tunggu.”  Hyun Bin menghalau langkah Jaejoong saat tumbuhan merambat yang tadi mengikatnya lenyap bersama menghilangnya Taemin dan Key.  “Kau mau mendekati rumah itu?”

“Tentu saja, apa masih perlu di jelaskan?”

“Biarkan rumah itu terbakar.”

“Apa?”  Jaejoong memekik, hampir tidak mengerti jalan pikiran Hyun Bin.  “Kau mulai terpengaruh ucapan makhluk menyebalkan itu?”

“Kita harus membuat Sehun dan Soo Ji dekat, bukan?”

“Maksud oppa membuat Soo Ji tinggal bersama kita disini?”  Hyun Bin menoleh pada Krystal yang masih memberengut, kemudian mengangguk.

“Ya.”

“Tapi setidaknya jangan ada yang terluka.”  Jaejoong melepas pegangan tangan Hyun Bin dan segera berlari menuju rumah Soo Ji yang sudah gaduh dengan teriakan dan tangisan.  Yoo Jung yang sejak tadi diam, ikut bergerak—melakukan apa yang Jaejoong lakukan sementara Hyun Bin juga Krystal hanya berdiri dan melihat warna merah yang menembus gelapnya malam tidak jauh dari pandangan mereka.

 

 

 

***

 

 

 

Sehun menarik nafas panjang, dan kemudian menghembuskannya.  Beberapa kali, ia melakukan itu sembari memejamkan matanya.  Gadis yang bahkan wajahnya mustahil untuk ia lupakan sebab Morfeus selalu membuatnya memimpikan itu, dengan mudah Sehun ingat.

Pekerjaan Hipnos dan Morfeus, pada akhirnya Sehun hentikan dengan hatinya yang mulai rela tentang siapa Soo Ji.  “Aku menerimanya, aku menerimanya.  Sudah hentikan.”  Katanya saat Hipnos dan Morfeus akan kembali menyentuhnya.

Mendengar itu, keduanya langsung menghilang dari pandangan Sehun tanpa permisi dan Sehun—sekali lagi ia menenangkan diri juga hatinya, mencoba untuk semakin menerima sosok Soo Ji yang jika bukan karena ucapan Taemin tadi, tidak akan ia coba untuk terima.

Lama, Sehun mulai merasakan sakit pada tubuhnya yang sedikit demi sedikit berkurang.  Mencoba menggerakkan tubuhnya meski masih terasa sakit namun tidak semenyakitkan tadi, pria itu mengulang tarikan dan hembusan nafas panjangnya bersama hatinya yang berusaha ia relakan untuk menerima Soo Ji, terus begitu hingga ia mampu untuk menahan sakit dan mampu menggerakkan tubuhnya.

Namun baru saja Sehun berdiri, dan berjalan dua langkah—sesuatu yang entah datang darimana dan dalam bentuk apa, terasa memukul kepalanya hingga ia terduduk dan mengaduh.  “Apa-apaan?”  Sehun menyentuh keningnya yang sakit, melihat sekitar bahkan langit-langit kamarnya dan ia sama sekali tidak menemukan benda apapun yang jatuh.  “Kenapa panas?”  Pria itu langsung berjengit memeluk tubuhnya sendiri dan luka gores yang entah datangnya darimana muncul pada telapak kakinya, membuatnya kembali mengaduh sebab perih.  “Apa-apaan lagi ini?!”

Sehun hampir meledak.  Dipikirnya, Zeus atau Dewa yang lain kembali mempermainkannya bahkan setelah ia rela dengan kehadiran Soo Ji.  Dan saat mulut yang akhirnya bisa berbicara tanpa rasa sakit itu akan memaki, teriakan minta tolong yang langsung didengarnya hingga nyaris membuat gendangnya pecah—membelalakkan matanya.

“Sialan!”  Pria itu mengumpat pada hari pertama ia akhirnya bisa kembali berbicara, menatap kobaran api menyala tidak jauh dari pandangannya—bersama teriakan meminta tolong yang makin menjadi, entah sadar atau tidak, namun benar bahwa Sehun meloncat keluar dari jendela kamarnya untuk masuk dalam kobaran api panas yang hampir membakar habis rumah disamping kediamannya.

 

 

 

 

 


Saya tahu pasti banyak yang nunggu momen sehun suzy di ff ini, atau pertanyaan kenapa bagian mereka sedikit padahal mereka tokoh utamanya? saya cuma bisa bilang, sabar.  Pelan asal kelar dan gak banyak yang bingung, part depan deh janji pasti bagian mereka berdua buanyak.

BTW, sebenarnya gakmau post sekarang tapi gpplah karena tahun baru.  Jadi, happy new year semuanya 🙂 Semoga tahun ini kita diberkahi dengan berkah yang lebih baik dibanding tahu kemarin, semoga apa yang kita inginkan tercapai seluruhnya, semoga kita menjadi manusia yang lebih baik, dan semoga kita gak lupa bersyukur 🙂

Advertisements

19 responses to “1st Mythology – Protopóros (πρωτοπόρος) Chapter 4

  1. Akhirnya post juga,udah penasaran banget sama kelanjutan storynya,thank’s thor buat updatenya geregetan nunggu Hunzy momentsnya.oiya selamat tahun baru buat author semoga selalu sehat dan selalu dikaruniai kebahagian juga kesuksesan “amin,,!”

  2. Happy new year !! 🎉🎉🎉

    Thxx author udh mau update kelanjutannya^^ as always ceritanya makin menarik aja apalagi sekarang sehun udh mulai nerima suzy tapi apa sehun bakalan bener2 milih buat jdi manusia ? Ini masih rahasia illahi *oke lebay*. Bner yg author bilang aku emang nunggu bngt hunzy moment nya di ff ini tpi trnyata emang kudu sabar yah, fix ya kak author ditunggu bngt next chapnya especially hunzy moment nya.

  3. aaaaaaaaaa. Key muncul di sini, seketika aku senyum” sendiri. Sehun bukannya dari kemaren aja belajar nerima Suji kalo gitukan ga bakalan semenderita itu setel;ah setengah tahun kan? emang dasar batin ya, teriak minta tolong juga kedengeran. sehun jan jadi manusia, gitu aja udah. ga kebayang anaknya ntar. pengisahan taemin suka banget ih. keren sumpah. hahahahahha.

    btw happy new year….

  4. Akhirnya sehun mau nerima suzy xD
    Itu sehun bakal melakukan apa yg dibilang taemin? Emang ga ada cara lain lg? ._.
    Trs yang dimaksud krystal pasti suzy? XD
    Kkkk~

    Aigoo semoga aja suzy dan kelaurganya selamat 😀 luhan oppa sifatnya disini 😦

    Ditunggu lanjutannya thor hwaiting 😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s