The Lady [Chapter 5]

The Lady

|| Title: The Lady || Author: Phiyun || Genre: Romance | Family life | Sad | Hurt || Cast: Bae Sooji | Kim Myungsoo | Bae Soobin |

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Cerita ini juga terinspirasi dari film maupun buku yang pernah penulis tonton dan baca. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

No Bash! No Plagiat! No Copy Paste! Please don’t be Silent Readers ❤

Preview: Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

*** Happy  Reading ***

 

“Ba—bagaimana kau bisa tahu siapa a—aku?” tanya Sooji tak percaya.

“Sederhana sekali,” sahut Myungsoo. “Semua pelayan terdengar ragu dan kiku ketika menyebutkan namamu. Tidak sulit bagiku untuk menduga kalau ada sesuatu yang ganjil. Selain itu ada lukisan wajahmu di ruang lukis Bae.”

Sooji tersenyum. “Itu lukisan Mama ketika beliau baru menikah.”

“Dia sangat mirip sekali dengan dirimu.” cetusnya.

“Maaf telah membohongimu.” kata Sooji. “I—itu karena aku merasa tak percaya diri bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini.”

“Begitukah?” ujar Myungsoo kembali.

“Iya, nampaknya seperti itu. kau dapat lihat sendiri aku tidak punya uang dan tak tahu harus—ke mana.”

“Dan tentunya, kau juga belum menemukan permata-permata Nizam.” sela Myungsoo.

Sooji mengangkat alisnya. “Kau tahu, apa yang Papa wariskan kepadaku?”

“Pengacara itu mengirimkan salinan surat wasiat itu saat mengabari kematian Ayahmu.”

Sooji terdiam sebentar, kemudian memandang sepupunya itu dan kemudian berkata. “Apa yang akan kau lakukan? Bukan tentang… aku tapi tentang—hal lain?”

“Sudah aku duga kau akan mengatakan itu padaku.” sahut Myungsoo. “Aku ingin berbicara jujur padamu, apa yang akan aku lakukan dengan apa yang kau inginkan.”

“Dan kau telah—mendapatkan pemecahannya?” balas Sooji dan di iyakan oleh Myungsoo dengan anggukan.

“Apa yang telah—kau putuskan?”

Lalu pemuda itu mentutukan keputusannya satu-persatu kepada Sooji. “Pertama,” sahut Myungsoo, “Kembali ke tempat asalku dan menjalani kehidupanku semula.”

Sooji benar-benar terkejut mendengar keputusan pertama Myungsoo. Padahal baru saja ia senang mendengar jawaban Myungsoo sebelumnya.

“Sulit untuk kupercaya! Bagaimana dengan puri ini, perkebunan, dan posisimu di sini…” kata Sooji tercengang.

Namun lawan bicaranya membalasnya dengan angkuh. “Aku sama sekali tidak tertarik dengan posisiku di sini.” Sahut Myungsoo. “Dan di masa mendatang aku tidak akan menggunakan gelarku!”

Dengan tangan yang gemetar Sooji berkata. “Bagaimana kau bisa berkata seperti itu. Bagaimana kau dapat… melepaskan begitu saja—sesuatu yang jadi milimu—meski suka atau tidak suka—kau memilikinya?”

“Aku bukan bagian dari semua ini.” tungkas Myungsoo. “Ayah dan Ibuku bukan lagi bagian dari keluarga sebab mereka tidak merasa di miliki oleh keluarga ini. Beliau seperti sudah disisihkan dan dianggap tidak ada!”

“Tapi itu sudah berlalu.” tutur Sooji kembali.

“Bagiku tidak!” sahut Myungsoo kembali. “Aku sudah telanjur merasa kecewa dengan apa yang telah dialami oleh kedua orangtuaku.” pemuda itu lalu tertawa saat membeberkan apa yang ia rasakan dan suara tawa itu terdengar sangat tidak menyenangkan di telinga Sooji.

Myungsoo melirik ke Sooji  kembali dan berkata. “Aku telah berniat dalam hati ketika aku masih kecil kalau suatu saat akan membalas semua kekecewaan Ayah dan Ibuku, yang aku hormati dan kucintai. Sungguh, aku ingin mengubur tempat ini dengan kedua tanganku sendiri!”

Sooji benar-benar terkejut mendengar, ketika Myungsoo kembali melanjutkan perkataannya, dan tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara. “Paling tidak, aku akan menutup tempat ini, dan membiyarkannya membusuk. Dan sisa keluarga Bae di masa depan akan merasa terkucilkan dan dilupakan, sama seperti yang mereka lakukan terhadap Ayah dan Ibuku!”

Diam sejenak. Ada senyuman kepuasan dari bibir Myungsoo, ia menunggu jikalau Sooji akan memprotes ucapannya tadi. Tak beberapa lama kemudian terdengar suara Sooji perlahan, seperti dari jarak yang jauh. “Dan setelah itu.. kau merasa puas… menghancurkan sesuatu yang indah, bersejarah dan mengagumkan dalam sesat, apakah kau merasa gembira?”

“Aku tahu bahwa yang kulakukan adalah keadilan yang dramatis!” balas Myungsoo dingin.

“Ba—bagimu sendiri…”

“Bagiku, dan keluarga yang masih ada?”

“Tidak bagiku!” sahut Sooji. “Bagiku hanya kegelapan dan kenyataan—kalau aku telah gagal.”

“Apa maksudmu?” tanya Myungsoo.

Sooji terdiam sebentar, sebelum menjawab. “Saat kau tiba kemarin, aku membencimu karena kau lama sekali memenuhi penggilanku, dan kedua karena ternyata kau berbeda dari yang kuharapkan…”

“Kau membenciku?” tukas pemuda itu kembali.

Dan dengan lantang Sooji kembali menyahut. “Aku benar-benar membencimu dan perasaan itu semakin bertambah tiap menit sejak kau datang ke sini.” sahut Sooji tenang, “Sebab semua yang kulakukan semata-mata aku lakukan hanya untuk keluarga dan menjaga peninggalan yang bersejarah yang… tak berarti… bagimu.” sesaat Sooji kembali diam sebelum kembali melanjutkan. “Aku sudah menduganya bila kau akan melakukan itu semua. Itulah sebabnya aku membencimu, seperti aku membencimu saat ini.” setalah ia mengatakan itu, Sooji bangkit dan berjalan mendekati jendela, membelakangi pemuda itu agar lelaki itu tidak melihat airmatanya yang mulai menetes di kedua pipinya.

“Tapi, Sooji, tentu saja aku akan tetap mempertimbangkan persoalan yang kita bicarakan sebelumnya.” Ucap Myungsoo dengan nada suara yang berbeda dari biasanya di telinga Sooji.

Sooji berbali setelah ia menghapus genangan airmatanya. “Jika kau melanjutkan semua niatmu itu, sepupuku Myungsoo, sebaiknya pikirkan dahulu. Aku akan tetap tinggal disini atau mati daripada harus menerima usulmu! Kau bisa mengusirku keluar dari rumah ini, tapi aku akan tidur di perkarangan atau di perkebunan, dan tinggal di sini.”

Suaranya semakin menunjukan kepedihan hatinya di saat ia melanjutkan kata-katanya. “A—aku tetap berharap kalau tempat ini akan jaya seperti masa lalu. Entah bagaimanapun caranya. Dan tak akan kubiarkan runtuh begitu saja!” setelah itu Sooji berjalan keluar, membuka pintu dan tak menoleh lagi ke belakang.

  ~OoO~

 

Setelah Sooji meninggalkan ruangan, Myungsoo kembali duduk di kursi dan memandangi dua buah potret Bae yang tergantung di dinding ruangan persis di depannya. Akhirnya ia bisa mengungkapkan isi hatinya yang selama ini di pendamnya bertahun-tahun. Sebelumnya ia hanya bisa membayangkan suatu tempat yang sering dibicarakan oleh Ibunya, disaat dirinya masih berumur 8 tahun.

-Flash Back-

“Aku ingin meliab The Bae Of Castil, Yah.. Mam. Bisakah kita ke sana? Sejauh manakah tempat itu?”

Ayah dan Ibunya terdiam beberapa saat, lalu berkata. “Itu suatu tempat yang mungkin tidak dapat kau lihat, Myungsoo-ah.”

Anak lelaki itu dapat merasakan kepedihan dan kekecewaan Ayah dan ibunya saat itu. terutama oleh Bae yang ke-5 yang menjadi saudara sepupunya. Dan ketika Sang ibu menikah Bae Maria tidak diperbolehkan untuk tinggal di The Bae Of Castil setelah pengangkatan Bae ke-5. Itu berlaku untuk keturunan selanjutnya.

 

Tentu saja hal itu amat mengecewakan dan menimbulkan kepahitan bagi Maria, yang juga dirasakan oleh putranya, Myungsoo. Tidak heran bila Myungsoo membenci sepupunya yang tidak berlaku adil pada mereka.

 

Hampir lima belas tahun Bae Maria pergi bersama suaminya dan putra tirinya untuk hidup di luar Castil. Meskipun kehidupan mereka tak semewa kehidupan Bae Maria dulu tapi, Kim Hyungsoo dapat memberikan apa yang menjadi kebutuhan Maria. Dan semua itu cukup dan ia sama sekali tidak merasa kekurangan, hanya satu kekurangan yang di miliki oleh seorang Bae Maria, ia tidak bisa memiliki seorang anak. Karena ia mandul. Bae maria pernah berkata bila Hyungsoo boleh meninggalkan dirinya untuk menikah kembali, tetapi Hyungsoo tetap bersih keras mempertahankan Maria di sisinya hingga sampai mau memisahkan mereka berdua. Ya, Kim Hyungsoo meninggal dalam kecelakaan kereta api saat akan pulang dari tempat bekerjanya.

 

Kehidupan Lady Maria semakin sulit saat dirinya mengidap penyakit kanker. Myungsoo yang sudah beranjak dewasa mulai berpikir untuk melindungi sang Ibu, meskipun Lady Maria bukan ibu kandungnya, Myungsoo tak pernah berpikir sedikitpun bila dia adalah ibu tirinya. Ya, Myungsoo menganggap Lady Maria seperti ibu kandungnya sendiri.

 

Myungsoo mulai berkerja di perusahaan yang ayahnya kelolah. Setiap beberapa minggu Myungsoo juga menemani sang ibu untuk cheekup. Kegiatan itu ia lakukan sepanjang tiga tahun terakhir, namun usahanya untuk menyembuhkan sang ibu harus berakhir dengan kepahitan, Sang ibu menghembuskan napas terakhir di meja operasi.

 

Setelah kepergian Ayah maupun Ibunya, Myungsoo merasa tidak cocok lagi tinggal di Inggris dalam suasana berkabung ia memutuskan untuk pergi berpetualang mencari kehidupan baru dengan melepaskan semua embel-embel keluarga Bae dalam dirinya dan mencoba hidup mandiri.

 

[End]

Sampai kemudian berita itu datang kepadanya dan mengetahui kalau keadaan The Bae Of Castil sangat payah sekarang ini. Mengapa ia harus menolong keluarga yang telah membuat Ibu dan Ayahnya merasa sedih dan kecewa?

“Mengapa, The Bae itu begitu berarti bagi Ibu?” tanyanya suatu malam sebelum sang ibu menghembuskan napas terakhirnya.

Lady Maria pun berbicara. “Sulit untuk membuatmu mengerti, sayang. Karena kau tidak pernah berada di sana, betapa indahnya tempat itu,” sahut sang Ibu, “The Bae Of Castil, juga merupakan lambang prestadi dan kepahlawanna keluarga Bae selam beratus-ratus tahun.”

Myungsoo mendengarkan dengan seksama ketika ibunya melanjutkan perkataannya. “Ketika pertama kali menikah dengan Papamu, sulit bagiku untuk keluar dari puri itu. Aku takut akan menyesal telah memilih keluar dari tempat itu. Namun seiring berjalannya waktu, Papamu berhasil membuatku yakin bila kepurusan yang kupilih adalah benar. Bahkan aku akan menyesal bila tidak melakukan ini semua.  Terimakasih banyak, Myungsoo-ah karena kau dan Ayahmu sudah memberikan banyak kasih sayang kepadaku yang rasa itu tak pernah aku dapatkan oleh keluargaku sendiri, The Bae.” dengan menitikan airmata.

“Benarkah itu, Maa?” Lady Maria pun membalasnya dengan anggukan. Myungsoo memahami kesedihan Ibunya dan betapa sedihnya beliau rasakan. Rasa tidak diakui sebagai keluarga The Bae.

Lady Maria diam sejenak untuk mengambil napas, lalu melanjutkan. “Papamu mengambil peranan penting dari hidupku. Meskipun Papamu tidaklah sekaya Bae dan rumah kita tak semewah The Bae Of Castil. Tapi aku berani bertaruh bila tempat tinggal yang kita tempati lebih baik beratus-ratus kali lipat dibandingkan The Bae…” tutur sang ibu dengan senyum yang mengembang.

  ~OoO~

“Sekarang,” katanya pada dirinya sendiri, ia akan membalaskan dendamnya. Rumah ini akan terkubur, dan menjadi sarang tikus serta serangga lainnya. Segala isinya akan tertelan oleh reruntuhan dan menyatu dengan tanah dan debu. Juga lukisan-lukisan The Bae dengan ekspresi kebanggaannya akan hancur di makan rayap.

Sejujurnya ia mengakui, ketika Sooji mengajak berkeliling, terasa kagum melihat harta karun yang ada di dalamnya, seperti lukisan-lukisan yang amat berharga. Guci-guci serta barang-barang keramik yang berasal dari Prancis di bawa oleh Bae terdahulu, sulit untuk mencari tandingannya, serta barang-barang peninggalan lainnya yang hampir semuanya mengagumkan.

“Kupastikan tiada seorang pun akan melihat kembali, selama aku hidup!” ujar Myungsoo pada dirinya sendiri, getir.

 

-TBC-

  ~OoO~

Halo… halo!! Ketemu lagi nih ma Phiyun di sini ^^

Akhirnya aku bisa juga postingin kelanjutan dari fanfic ini, hoho… 😀 Maap ya kalau kelanjutannya agak lama, soalnya aku baru comeback hiatus jadi jarang maen lappy ^^

Disini konfliknya dah keliatan ya, kenapa Myung pengen banget hancurin peninggalan Bae. Dan apakah niat Myung berhasil atau niatnya itu malah menghancurkan dirinya sendiri?

Penasaran sama kelanjutannya? Kalau begitu jangan lupa RCL ya, setelah membacanya, biar akunya lebih semangat lagi buat kelanjutannya 🙂

Phiyun kangen banget nih sama komentar dari kalian semuanya, yang makin kesana semakin sedikit TT, Miss u beb… Sampai ketemu di part berikutnya, Annyeong… ^^

 

 

Advertisements

17 responses to “The Lady [Chapter 5]

  1. woooowww…ternyata myung udah nyusun rencana…sedih banget pas dengar kata2 suzy… tp myung kyknya mmg kecewa banget sm the bae…mkn pensaran ngimna nasip puri dan dan suzy…aigooo…jgn lama2 thor.. fighting

  2. Lalu apa yg akan trjadi pada suzy dia harus tingal diman jika rhe bae castle benar” dihancurkan seperti yg myungsoo inginkan

    • Nasipnya suzy masih abu-abu sih. Di tunggu aja yahnoart selanjutnya mungkin terungkap sedikit demi sedikit apa yang bakalan terjadi sama suzy. Makasih dah mampir kesini buat baca 😊

  3. Myungsoonya kecewa, tp Suzynya juga kasihan. Hem harus mihak yg mana nih…. Pokoknya akusih nebaknya Suzy bakal nikah ama Myungsoo and happy end dehhh =D

    Semoga….^^

  4. Wahh nunggu2 akhirnya di-update jg.. apakah niat Myung Soo akan tercapai?Lalu apa yg akan dilakukan. Sooji? Ditunggu kelanjutannya yaa.. hwaiting

  5. Yang satu ingin melindungi dan satunya lagi ingin menghancurkan… semoga mereka berdua bisa memikirkan kembali keputusan apa yg akan diambil, sehingga ada penyelesaian terbaik untuk masalah ini…

  6. Hai thor akhirnya di lanjut jg , setelah sekian lama . Semangat buat kelanjutannya ya thor . See you next part oke 😉

  7. One visa dimengerti kenapa myung punya niay seperti ITU. Tapi dengan menghancurkan puri apakah akan membuat hidupnya benar2 tenang. Bagaimanapun Ibu tirinya berasal Dari tempat itu.

    • Myung ngelakuin itu semu karena sakit hati. Tapi kita gak tau apakah dia bakalan ngelakuin itu atau enggak. Jadi ditunggu aja ya next partnya. Makasih udah mampir kesini buat baca 😊

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s