*MYUNGZY* GOST HUNTER – CHAPTER 1

Title : Gost Hunter

***

“Aku gadis gila yang harus bekerja sama dengan Kim sialan itu hanya demi uang. Bukan hanya pikiranku yang gila, mataku juga gila karena bisa melihat mahkluk sialan yang kerjaannya gentayangan tak jelas itu”

***

Author note : Hay… Setelah sekian lama aku bertapa, entah ngetik apa yang jelas jiwa Shipper ku sedikit menghilang. Entah karena sebuah insiden mnjengkelkan itu “insidennya di sensor” atau apa aku udah jarang bahkan ngak pernah baca ff Myungzy.. Karena jarang update juga jarang ada notif di wp dan wattpad, tapi baru aku buka wp dan ada notif di FF Cinderela Sister dan readers bilang makasi karena aku bikin ff Myungzy dan dia nyemangatin aku buat terus bikin ff Myungzy. Seriously,, saya terharu dengan commenan itu dan banyak komenan lain. Aku kembali memutuskan untuk bergelut ke duani Myungzy di sela sela kesibukan sekolah ku and well, aku bakal sebisa mungkin buat update *meybe seminggi sekali*. Aku ngak ngerti arti note panjang ini di awal cerita. Intinya kommen bejibun dari kalian yang bikin aku semangat…

Sooji mendecak sabal sambil beberapa kali memandang arloji kecil yang terpasang dipergelangan kirinya, ia menyenderkan tubuhnya dikursi pojokan restoran didaerah Gangnam.

“Sial mengapa lama sekali.” Gerutu Sooji sebal.

Sooji menolehkan kepalanya menatap ke luar jendela. Banguna – bangunan yang berdiri tegak dengan hiasan indah yang membuat tempat ini tampak bereda. Di sini, bengunan – bangunan kantor maupun apartemennya sangat mewah tak ada cacat. Kawasan elit dimana tempatnya orang – orang ber-uang tinggal dan menjadi central Korea. Gangnam, ya distrik terelit tempatnya agensi – agensi besar seperti SM, YG, dan JYP membangun kantornya disana, membuat siapa saja ingin datang berkunjug di tempat ini. Tidak hanya orang – orang dengan ekonomi diatas rata rata yang datang untuk berbelanja atau berniat menyewa apartemen mewah disini, namun masyarakat menengah kebawah-pun tak jarang berkunjung ke sini hanya untuk melihat kemewahan distrik ini atau berkunjung ke sungai Han untuk menghilangkan penat. Distrik ini dipuja tidak hanya karena keglamoran tempat ini, melainkan karena Gangnam yang terletak didekat sungai Han, sesuai dengan arti dari Gangnam yaitu bagian selatan sungai.

Namun dibalik keistimewaan tempat ini, ada suatu fakta yang banyak masyarakat tak tahu . hanya orang yang memiliki kelebihan indra keenam yang mengetahui kekurang mengerikan dari pusatnya fasion ini. Diantara semua tempat, disinilah hantu – hantu ganas bersarang. Tidak hanya mengganggu, mereka tak segan mengikuti manusia layaknya penguntit. Anehnya, hantu – hantu disini juga bisa membunuh.

Srekkk~

Seorang pria tinggi dengan setelan pakaian olahraganya yang kontras dengan sepatu nya memasuki restoran diikuti bunyi bel yang berbunyi saat pintu terbuka, namun ada yang aneh dari pria itu. Wajahnya kusut tampak lelah dan mengerikan tapi tunggu, bukan mata pandanya atau lipatan – lipatan keriput yang menjadi bingkai wajahnya yang membuatnya mengerikan. Seorang wanita berkulit pucat dan wajahnya yang dipenuhi luka – luka yang darahnya tak hilang dengan balutan gaun pengantin itu yang membuat pria itu tampak mengerikan. Mungkin lebih tepatnya wanita yang terus lengket didekat pria itulah yang mengerikan. Namun sayangnya pria itu tak menyadari wanita mengerikan itu mengikutinya, karena wanita adalaha hantu.

“Hantu penguntit?” batin Sooji bertanya sendiri pada dirinya sendiri.

Kali ini gadis berumur dua puluh satu ini tak bisa menahan dirinya, ia tak ingin menunggu ditempat ini lebih lama lagi. Hal yang ia takuti sudah mulai muncul dan ia benci itu. Cukup menyebalkan ia harus menunggu kliennya dua setengah jam dan sekarang harus bertemu dengan hantu mengerikan itu, sungguh Sooji menghindari hal itu.

Sooji merogoh sakunya dan menemukan ponselnya, sambil berjalan keluar dari restorant Sooji memencet beberapa digit nomor dan menempelkan benda persegi panjang itu didaun telinganya.

“Dia tidak datang?” ucap Sooji tanpa mengucapkan salam.

“Lalu?” balas seseorang dari sebrang telfon.

“Lalu? Tentu saja aku meninggalkan tempat ini. Apa kau yakin klien itu meminta bertemu jam sebelas? Kupikir kau salah, ini sudah jam setengah dua tapi dia belum menunjukan batang hidungnya, kau tau aku sangat benci menunggu.” Ucap Sooji kesal.

“Hei, kembali ke tempat itu! Apa yang kau lakukan? Bagaimana jika klien kita datang saat kau sudah pergi, dia akan komplin dengan kita.” Ucap penerima telfon tak kalah kesal.

Sooji menghela nafas berat, “Biarkan saja dia komplin, memangnya dia membayar kita? Sudah beruntung kami mau menjadi guide nya secara gratis, dan sekarang dia datang terlambat. Jika dia benar benar komplin berarti dia memang tak tahu diri. Sudah kututup.” Sooji memutuskan sambungan telfonnya, sebelum atasannya memekiknya sambil mengatakannya akan memecatnya.

Sooji kembali memasukan ponselnya di kantung belakang celana jins nya. Ia berjalan menjauh dari pusat kota, tak ada sedikitpun keinginan dalam dirinya untuk berkunjung melihat lihat tempat yang jarang ia kunjungi ini.

Namun, langkahnya berhenti pada saat melihat seorang wanita yang duduk sendiri sambil mengesap kopinya direstoran sudut kota. Disamping wanita muda itu terdapat bayangan samar putih dengan rambut panjang yang menjulang hingga lantai, anehnya bayangan putih yang sudah Sooji yakinin bhawa itu hantu menatap wanita itu dengan penuh kebencian.

“Kau bisa melihat hantu, kan?” suara berat laki – laki yang memecahkan lamunan Sooji terdengar dekat ditelinga Sooji. Dengan cepat Sooji menoleh menatap kearah pria itu.

“Ahhh, benar. Kau bisa melihat hantu ternyata.” Ucap pria itu.

Sooji terdiam, “Apa pria ini hantu?” batin Sooji.

“Kau-bisa-melihat-hantu?” pria itu mendekati wajahnya ke wajah Sooji.

Sooji menoleh kesegala arah, namun siapa saja yang melewati Sooji seakan akan tak terjadi apa – apa. Ditambah ada aura aneh saat pria ini muncul. “Benar, pria ini hantu.” Sooji menyimpulkan.

“Ekh…” Sooji berdehem, ia mulai mengganti arah dan berusaha pergi menjauh dari pria itu.

Ia benar – benar harus pergi dari tempat ini, tempat ini benar – benar mengerikan. Baru beberapa jam ditempat ini ia sudah melihat hal – hal yang aneh. Hari ini adalah hari tersial bagi Sooji.

Sooji berjalan menuju kehalte bus, berniat pulang kerumah dan menenangkan diri. Namun tangan Sooji ditarik hingga berbalik, dan hantu pria itulah yang menarik tangannya. Tangan Sooji bergetar, bibirnya sama sekali tak bisa mengeluarkan satu katapun. Sungguh menakutkan hantu ini bisa menyentuhnya.

Pria itu tertawa sambil masih menggenggam tangan Sooji, “Pasti kau berfikir aku hantu?” tanya pria itu sambil masih tertawa.

“Kau… b..bukan hantu?” tanya Sooji gagap gagap.

Pria itu bergeleng sambil menarik lengkungan dibibirnya semakin menunjukan dalamnya lesung pipinya. Rahang tegasnya, bibir tipisnya, lesung pipinya dan wajah tampannya meyakinkan Sooji bahwa pria itu bukanlah hantu.

“Lalu? Bagaimana kau bisa tahu, aku bisa melihat hantu” tanya Sooji.

“Bukankah aneh kau menatap gadis yang duduk sendiri itu, tak ada yang menarik dari gadis itu kecuali,” pria itu menggantungkan kalimatnya sambil tersenyum penuh arti.

“Hantu yang menatap gadis itu.” Lanjutnya.

Sooji terdiam, terdiam bukan karena shock tapi karena ia masih memikirkan apa yang harus ia ucapkan sekarang. Kepalanya blank. “Jika memang benar lalu ada masalah denganmu?” ucap Sooji sedikit menantang.

Pria itu terdiam, tentu saja diam. Apa pantas dia berbicara, Sooji rasa tidak. Sooji akhirnya kembali berjalan menjauh dari pria itu. Namun kembali tangan Sooji ditahan olehnya, “Aku ingin berbicara denganmu. Pertama namaku Kim….”

“Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu.” Potong Sooji. “Lagi pula kita tak sedekat itu sehingga kita bisa saling berbicara satu sama lain, aku tidak mengenalmu.” Jelas Sooji. “Jadi lepaskan tanganmu.” Sooji menatap lengan kanannya yang berbalut dengan sweather, tangannya yang ditahan oleh pria itu.

“Pergilah jika kau berhasil melepaskan tanganku dari lenganmu.” Ucap pria itu menantang.

Sooji memutar bola matanya kesal, “Tidak ada hakmu untuk memerintahku. Cepat lepaskan atau aku akan berteriak jika kau ingin menggangguku.”

“Aku akan mengatakan pada orang – orang bahwa kau telah mencuri uangku.” Balas pria itu tak kalah sengit, wajahnya masih tenang dengan senyuman yang masih terpampang diwajahnya.

“Kau…” Sooji menunjuk tepat didepan mata pria itu, tentu saja Sooji marah. Siapa yang tidak marah ketika ada orang yang tak dikenalnya begitu memaksanya untuk berbicara bahkan hingga memaksanya seperti ini.

“Kau penguntit.” Ucap Sooji, tepatnya pernyataannya.

Pria itu hanya tersenyum, semakin membuat matanya tampak segaris, menarik sudut bibirnya hingga membuat munculnya lesung pipi dalam dipipi sisi kanannya, “Aku Kim Myungsoo.”

Sungguh menjengkelkan, maksudnya sikap tenangnya yang membuatnya tampak menjengkelkan dimata Sooji. Sepertinya hanya dimata Sooji-lah pria bermarga Kim itu tampak menjengkelkan, dengan wajah tampan dan tinggi tubuhnya yang proposional, Sooji yakin pria ini akan membuat semua wanita takluk padanya, kecuali Sooji.

“Aku tak akan takluk dengan wajahmu,” Sooji mendekati wajahya ke Myungsoo, “Kau sama sekali bukan type ku, jadi pergi dan menjauhlah dan berhenti tersenyum aku sangat membenci senyummu, lesung pipimu juga.” Sooji membeo.

“Ternyata kau gadis yang banyak berbicara juga, baiklah aku akan meluruskannya,” Myungsoo- panggilan pria itu- memberi jeda pada ucapannya, sedangkan Sooji hanya bengong menuggu lanjutan dari ucapan pria itu.

“Aku sebenarnya tidak menguntitmu dan tak menyukaimu, tapi kau boleh menganggap itu yang penting kau bahagia. Intinya aku ingin merekrutmu menjadi partner kerjaku, hanya itu.”

Sooji merasakan cengkraman tangan Myungsoo sudah melemah dan tentu saja Sooji memanfaatkannya, “AKU TIDAK INGIN MENJADI PARTNER MU” Sooji membeo lalu menghempasakan tangan pria itu dari lengannya dan berhasil, kini tangan Sooji sudah bebas.

“Sampai bertemu nanti sore sehabis kau pulang kerja Bae Sooji.” Pekik Myungsoo.

===

Sooji baru saja menginjakan kakinya dikantornya, tepatnya kantor jasa traveling gratis tempatnya bekerja. Namun, sepertiya suasana hari tidak bergitu enak. Buktinya baru saja Sooji masuk, seluruh rekan kerja Sooji menampakan wajah masamnya, dan begitu melihat Sooji rekan rekannya itu menyuruh Sooji untuk pergi keruangan atasannya.

“Yakkk, Bae Sooji apa yang kau lakukan sehingga membuat Hyunsik marah. Cepat pergi keruangannya.” Ucap Yein sambil sedikit berbisik.

Sooji meletakan tas yang ia bawa sedari tadi kemeja kerjanya, “Nanti saja, aku lelah sekali.” Ucap Sooji sambil mendudukan tubuhnya kekursi miliknya.

“Ahhh, mengapa haru ini cuacanya begitu panas. Begitu menyebalkan.” Gerutu Sooji sambil mengibas ngibaskan kertas brosur yang ia dapatkan dijalan beberapa hari yang lalu.

Yein menatap sengit kearah Sooji, “Kau lah yang menyebalkan. Cepat ke ruangan Hyun sik atau kau benar benar dipecat olehnya.” Perintah Yein sambil menarik narik tangan Sooji, sedangkan yang ditarik dan dpakasa hanya santai santai saja sambil mengipas ngipaskan kertas brosur kearah wajahnya.

“Sekarang atau nanti juga aku akan tetap dipecat. Lagi pula, jika dia memecatku aku tak akan rugi. Dia bahkan tak menggajiku, tidak maksudku sesekali menggajiku dan gajinya sangat sedikit..”

“Naik ke ruanganku. Sekarang.” Perintah Hyunsik, pria bertubuh tinggi diatas rata rata itu kembali memasuki ruangnnya dengan begitu angkuh.

“Naiklah ke ruanganku. Sekarang.” Tiru Sooji dengan ekspresi dijelek jelekan.

“Dia seakan akan menjadi bos besar.” Ucap Sooji kesal, lalu menaiki beberapa anak tangga yang menghubungkannya ke ruangan Hyunsik.

===

Baru saja Sooji membuka pintu ruangan Hyunsik, tatapan tajam dari Hyunsik yang seakan akan hendak memakan Sooji hidup hidup membuat Sooji sedikit takut menatap maa itu.

“Kau tahu kesalahanmu?” tanya Hyunsik.

“Tentu saja kau pasti tahu, kau tahu pasti apa kesalahanmu.” Hyunsik menjawab pertanyaan sendiri. Dan seketika Sooji merasa Hyunsik sudah seperti orang gila, bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. Sooji terkik sambil menundukan kepalanya.

Brakk~

“Kau tertawa Bae Sooji?” bentak Hyunsik sambil menggebrak meja kerjanya. Sontak Sooji berhenti tertawa bahkan ia tak tersenyum sedikirpun, ini kali pertamanya Hyunsik marah hingga menggebrak meja, selama ini ia hanya sabar saat ada komplain dari klien, namun sekarang..

“Arasseo, mianhae. Aku tak akan mengulangnya lagi.” Ucap Sooji, sejujurnya ia sama sekali tidak tulus meminta maaf. Egnya terlalu tinggi untuk meminta maaf duluan, namun untuk saat ini ia harus memaksakan bibirnya untuk mengucapkan kata maaf itu walau terdengar tidak iklas.

“Pergi.” Sooji memandang Hyunsik, ia tidak mengerti apa maksud kata ‘pergi’ yang diucapkan Hyunsik.

“Ne?”

“Pergi dari sini dan jangan pernah kembali. Kau kupecat.”

Diam, Sooji hanya diam sambil sedikit demi sedikit mencerna ucapan Hyunsik. Saat kepalanya benar benar memahami apa yang diucapkan oleh Hyunsik, Sooji hanya tersenyum.

“Benar benar tidak punya malu.” Lirih Sooji sambil tersenyum, dan membuat Hyunsik kebingungan.

“Apa kata kata PECAT itu tepat untuk kau ucapkan? Kurasa tidak…”

“Kau bahkan hanya sesekali memberi pegawaimu gaji dan gaji itu sangatlah sedikit. Uang yang kau berikan bahkan tidak pantas untuk disebut gaji, mungkin yang seharusnya itu uang makan.”

“Katakan saja kau tidak terima karena kau pecat.” Ucap Hyunsik santai.

Ubun ubun Sooji serasa ingin meledak mendengar ucapan Hyunsik, ia mengepalkan kelima jarinya sehingga membuat buku buku jarinya memutih, “Terserahmu. Aku akan merasa senang jika kau memecatku. Tidak ada yang mengaturku, tidak ada yang suka marah marah dan aku tidak perlu bangun pagi karena harus bekerja. Tunggu saja beberapa saat, mereka Yein dan yang lain akan berhenti bekerja disini dan kau akan membusuk sendiri disini. Dasar pak tua pelit.” Sooji pergi menjauh dari Hyunsik dan keluar dari ruangnnya dengan emosi yang masih menggebu gebu.

“Yakk, bagaimana? Dia memecatmu?” tanya Yein menghampiri Sooji yang baru saja kelaur dari ruangan Hyunsik.

Sooji hanya menggaguk, “Lagi pula yein -ah, jika dia tidak memecatku aku sendiri yang akan mengundurkan diri,” Sooji membeo dengan santai,

“Yakk,,” tegur Yein pelan, sejujurnya ia juga tidak tega jika Sooji meninggalkan tempatnya kerja ini, namun mereka juga jarang mendapatkan uang bekerja disini karena prusahaan kecil ini adalah perusahaan yang menempatka diri pada jasa secara GRATIS, jadi jika klien mereka yang memberikan tip maka mereka tidak akan mendapatkan apa – apa.

YYY

Sooji baru saja merebahkan tubuhnya di kasur mininya, untuk hari ini ia tidak perlu repot repot menunggu klien mereka ataupun berkeliling menuju tempat tempat wisata di Seoul dan menjelaskan beberapa hal kecil mengenai tempat tersebut yang entah sudah beribu kali Sooji jelaskan pada mengunjung yang lain.

Tokkk. Tokkk. Tokkk.. “Yak Sooji, keluar.” Suara cempreng ala ajumma kos memecahkan ketenangan Sooji, Sooji menghela nafas berat namun ia tidak merespon ajumma yang terus ribut di depan rumahnnya itu.

“Yak Bae Sooji keluar, aku sudah melihatmu tadi masuk jadi jagan berpua pura tidak ada,”

“Aisttt,,” Sooji berjalan kesal menunuju pintu,

“Mwo??” semprot Sooji pada ajumma penyewa rumah yang tempat Sooji tinggali.

“Cepat rapikan kamarmu, ada seseorng tamu yang ingin melihat rumah ini,” ajumma itu mendesak Sooji agar cepat membersihkan rumahnya. Namun Sooji tak mengerti, apa hak ajumma ini mengizinkan orang masuk kerumah Sooji, jelas – jelas Sooji sudah membayar sewa dimuka dan masih ada waktu dua bulan lagi untuk uang sewa yang Sooji berikan, “Shireo, mengapa aku harus mau… Ajumma, kau jangan lupa. Aku sudah membayar uang sewa untuk dua bulan kedepan jadi kau tak memiliki hak untuk membiarkan seseorang melihat rumah ini, ini masih daerah kekuasaanku,”

“Annyeong haseyo,,” bunyi saapan pria ang entah dari mana menghentikan perkelahian antara Sooji dan ajumma itu.

Sooji menoleh dan betapa terkejutnya saat ia melihat pemudaitu, “Kau!!” tunjuk Sooji tepat didepan wajah pria itu.

Tangan ajumma itu dengan cepat menarik tangan Sooji, “Bersikaplah layaknya anak gadis, sopan dan anggunlah Bae Sooji,” ucap ajumma itu sambil menunduk meminta maaf pada pria itu.

“Pemuda ini ingin menyewa rumah ini, dan tentunya dengan sewa yang lebih mahal darimu.” Ucap ajumma itu dengan penekanan diakhir kalimat.

Sooji menatap sebal pria itu, “Yakk Kim, kau masih berusaha memaksaku? Sudah kubilang aku tidak mau jadi jangan berbuat seperti ini,” Sooji membeo.

Pria itu tersenyum, “Namaku Kim Myungsoo, tadi saat aku memperkenalkan namaku kau sudah memotong.” Masih dengan senyum mautnya pria bernama Kim Myungsoo, dan pria itu adalah pria yang sama yang Sooji temui di Gangnam siang tadi.

“Ajumma bisakah aku berbicara berdua, aku bisa melhat lihat tempat ini sendiri, kau tak perlu menemaniku,” pria itu melemparkan senyumnya yang anehnya bisa membuat pipi seorang AJUMMA memerah.

“Ishhhhh…” Sooji meringis sebal,

To be continue…

Advertisements

5 responses to “*MYUNGZY* GOST HUNTER – CHAPTER 1

  1. Myung mau ngajak kerja apa sih ke Suzy? Pemburu hantu? Trus nanti kerjanya ngapain aja selain nyari hantu

  2. Waw genre nya fantasi ya ,keren banget thor . Ditunggu ya kelanjutannya . Tetep semangat ya . Sampe ketemu lagi di part selanjutnya

  3. Sekian lma gk baca ff, ini jdi ff pertama yg menarik hatiku yaelahhh .. genre fantasi comedy keren nih ceritanya menarik ..baru di post part 1 gk pp deh aku rela menunggu update,tan ff ini … semangat lanjutkan ff keren ini author Fighting! ^_^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s