[Freelance] Mirror Chapter 15

Title : Mirror  | Author : Man Ri Ra | Genre :  Angst, Romance, School-life | Rating : T | Main Cast : Bae Suzy, Oh Sehun | Other Cast : Jung Soojung, Kim Myungsoo, etc

·

·

·

Notes: Story is mine. Don’t bashing. I hate plagiat. Sorry for typos and enjoy!
·

·

·

Sebelumnya. . .

Sehun menegang. Ia kenal suara itu. suara gadis yang selalu muncul dalam pikirannya selama ini. Gadis itu berada dibelakangnya. Dengan gerakan lambat, ia menoleh.

“Hai, apa kabarmu Suzy-ah?”

 

/ M I R R O R     C h a p t e r   14 /

 

HAPPY READING!!!!

 

Keheningan merajai segalanya. Sehun memilih terdiam di kursi sedangkan Suzy berpura-pura fokus terhadap kelinci yang ada dipangkuannya.

Sehun mendesah keras membuat kepulan uap keluar dari mulutnya. Dalam hati ia ingin memulai percakapannya dengan gadis disampingnya ini, tapi disisi lain ia tak tahu apa yang harus diucapkan.

“Ada apa?”

Akhirnya Suzy duluan yang berkata. Gadis itu lama-lama merasa tidak nyaman karena kecanggungan yang tidak menyenangkan. Tadi ia begitu terkejut ketika menemukan Sehun disini, postur tubuh pria itu terlihat nyata sekalipun ia melihatnya dari belakang. Sejujurnya ia ingin saja langsung pergi, tapi ternyata kelincinya berlari menuju pria itu seakan sudah kenal. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan kecuali mendekati pria itu dan berpura bertanya tentang kelincinya. Dan ternyata pria itu menyapanya dan rasanya aneh jika ia tidak melakukan hal yang sama.

“Terimakasih sudah mau mengobrol denganku,” ucap Sehun pelan. Dalam hati ia bertanya apakah perkataannya tidak aneh didengar?

Suzy mengangguk acuh. Ia ingin pergi karena sepertinya Sehun tidak akan berkata apapun. Tunggu, apa yang sebenarnya diharapkannya? Kenapa ia malah berharap pria itu mengatakan sesuatu? Ia menghela napas, dan kenapa ia tidak bisa memusuhi pria ini sih?

“Barrie terlihat semakin lucu,” Sehun berkata kaku, sepertinya ia gagal untuk berpura-pura ceria.

Suzy melirik hewan kesayangannya itu, kemudian mengangguk. Sebenarnya kalau ia peka, ia harusnya tahu bahwa Sehun sedang ingin menggendong hewan lucu itu. Kenyataannya Suzy tidak berfikir sejauh itu.

Sehun menjadi gemas. Ia tidak tahu harus berkata apalagi karena suasana begitu kaku. Jika ini terjadi seperti yang dulu, mungkin ia sudah menggoda gadis ini habis-habisan. Setelah kejadian itu, ah benar! Apakah Suzy masih membencinya? Atau mencintainya? Apakah gadis ini masih mengganggap Myungsoo pacarnya? Berbagai pertanyaan muncul dipikirannya dan ia tak tahu, pantaskah ia menanyakannya?

“Kudengar kau akan melanjutkan pendidikanmu ke luar negri,”

Sehun tersenyum. Dari pertanyaan ini ia tahu beberapa hal yaitu; Suzy tidak membencinya, Suzy tahu tentangnya dan Suzy masih perduli dengannya. Tiba-tiba jantungnya yang berdetak kencang menjadi semakin kencang.

“Mungkin begitu,” jawabnya ringan.

“Mungkin?”

“Entahlah, semakin kesini aku semakin ragu. Aboeji ku tidak begitu menyetujui, Aboeji ku berharap aku tetap disini dan mulai membantu perusahaan seraya bersekolah. Halmoeni ku juga sedang sakit dan mengkhawatirkan diriku. Tapi hasrat untuk pergi ke sana sudah ada dalam benakku sejak dulu. Bagaimana menurutmu?”

Suzy terdiam. Apakah saat ini Sehun sedang curhat dan minta pendapatnya? Apakah pendapatnya penting? Dan apapun jawabannya Sehun akan mempertimbangkan? Jika iya, ia takut menjawab hal yang salah, karena ini terkait dengan masa depan pria itu.

“Apapun yang menurutmu baik,” jawab Suzy seadanya.

“Itu masalahnya! Aku bingung,” Sehun berkata serius.

Sehun terdiam, biasanya ia hanya memikirkan dirinya saja. Ia sudah memutuskan akan berangkat ke Manchaster apapun yang terjadi. Dan alasan kebingungan itu hanyalah omong kosong. Sebenarnya memang benar dengan ketidaksetujuan ayah dan neneknya, tapi ia sama sekali tidak perduli. Tapi didepan Suzy ia pura-pura bingung. Bagaimanapun ini adalah perbincangannya dengan Suzy setelah sekian lama, jadi ia harus memanfaatkannya dengan baik sekalipun dengan berbohong.

Suzy menghela napas dan menghembuskannya perlahan. “Kau menyayangi ayah dan nenekmu apa menyayangi dirimu sendiri? Aku dulu pernah diposisi yang sama sepertimu ketika aku berumur 7 tahun, ketika aku menginginkan sesuatu yang ingin kulakukan tapi saat itu Appaku menolak keras. Apa yang kulakukan adalah menurutinya. Begitu aku sadar bahwa ternyata ayah melarangku karena beliau ingin melindungiku. Awalnya memang terdengar egois, tapi lama-lama jika dipikir ulang, Appa tidak akan menjerumuskan anaknya. Aku mengalahkan keinginanku untuk Appaku,” Suzy menatap mata pria itu dalam. “Sehun sunbae. Pikirkan baik-baik. Ingatlah apa yang sudah kau lakukan untuk ayah dan nenekmu. Ingatlah pula perlakuan mereka terhadapmu. Mengalahkan keinginan memang sangat sulit tapi jika kau melakukannya untuk orang yang kau sayang dan perduli padamu. Percayalah, tidak akan sia-sia. Mungkin tidak sekarang tapi suatu saat nanti.”

Suzy tersenyum. “Tapi jika pergi ke luar negri adalah hal yang benar tidak bisa kau tahan, pergilah. Mungkin ada hal baik lain yang akan kau dapatkan disana.”

**

Sehun terpekur memikirkan kata-kata yang diucapkan Suzy pagi tadi. Rasanya seperti sesuatu yang terus menyedot konsentrasinya. Ia sudah mengambil keputusan akan tetap pergi bagaimanapun alasanya, tapi setelah mendengar pendapat gadis itu, keraguan itu menyusup dalam hatinya.

Ia sudah terpengaruh.

Kenapa ia harus terpengaruh dengan kalimat Suzy? Padahal saat neneknya memintanya ia sama sekali tidak goyah. Ada apa dengannya?

Mungkin karena ia sudah lama tidak mengobrol dengan gadis itu. Mungkin juga karena yang ia tahu Suzy menghindarinya selama ini dan sekalinya bertemu gadis itu memberikan nasehatnya. Seperti sesuatu yang harus diapresiasi. Yah, mungkin benar begitu.

Tapi mengingat tatapan tulus gadis itu tadi, kenapa hatinya terus bergetar? Ia tak bisa melupakan tatapan Suzy yang tulus itu. seharusnya Suzy menatapnya benci setelah kejadian itu, tapi kenapa gadis itu masih baik padanya? Ada dua alasan yang terus dipikirkannya. Pertama karena Suzy sudah benar melupakan kejadian itu dengan sepenuh hati atau karena Suzy mencintainya. Cinta? Bukankah seseorang yang mencintai orang lain akan selalu berbuat baik meskipun pernah disakiti?

Tapi kata cinta terdengar tidak pantas. Dengan luka yang ia berikan pada Suzy, rasanya tidak mungkin jika gadis itu masih mencintainya. Tapi entah kenapa ia berharap rasa itu memang ada?

Terdengar egois kalau ia berharap Suzy masih mencintainya. Bukankah itu akan menyakiti gadis itu lagi dan lagi? Kecuali jika ia membalas perasaan gadis itu.

Membalas? Memangnya apa yang ia rasakan? Ia tidak mencintai Suzy, kok.

Sehun terus bergulat dengan pikirannya. Memikirkan perasaannya. Menganalisa satu persatu.

Ia teringat setiap kali tak sengaja berpapasan dengan Suzy, rasa rindu itu menyerbunya. Entah rindu macam apa. Yang pasti ia menginginkan untuk didekat gadis itu dan menggoda gadis itu. apa yang pernah dilakukannya dengan Suzy meskipun bukan hal yang penting selalu diingatnya. Ia berusaha melupakannya, tapi terkadang menjelang tidur ketika matanya akan tertutup, bayangan akan Suzy dan segala hal yang berhubungan dengan gadis itu silih berganti membayanginya. Jantungnya juga berdetak tak karuan. Apalagi saat tatapan mata Suzy yang tulus itu menatapnya dalam. Tuh kan, ia selalu saja teringat saat itu, tidak lupa setiap detik sensasi yang dirasakannya.

Apakah itu sebuah kutukan? Kutukan karena sudah mencoba bermain-main dengan gadis sebaik Suzy. Sebuah karma. Atau sesuatu yang disebut cinta?

Sehun bingung. Ia tak tahu akan perasaannya. Tapi jika benar ia mencintai gadis itu, memang apa yang akan dilakukannya? Menjadikan gadis itu sebagai kekasih? Tidak terdengar buruk sih.

Tapi masalahnya, memangnya Suzy mau menjadi kekasihnya?

Sehun mengerang. Pikirannya kacau. Dan omong-omong kenapa ia berfikir menjadikan Suzy kekasih?

Bukankah Suzy adalah kekasih Myungsoo? Ah benar Myungsoo. Kenapa mengetahuinya membuat hatinya tidak nyaman? Tidak. Mereka bukan sepasang kekasih. Mereka adalah sepasang masa lalu. Pemikiran itu setidaknya sedikit membuatnya merasa lebih baik.

Tunggu, apakah itu cemburu?

“Tidak mungkin,” Sehun bergumam sendiri.

Tapi kenapa hatinya tidak bisa menyangkalnya? Sebenarnya ada apa dengannya?

Dering ponsel menyadarkannya. Ponselnya berkedip menampilkan sederet kata ‘Mom’ sedang memanggilnya. Dengan gerakan malas ia mengangkatnya.

“Hallo, iya Eomma?”

Sehun-ah, bukankah kau sudah berjanji akan datang? Kenapa belum juga sampai?” ibunya berkata mendesak.

Sehun menghela napas. “Baiklah Eomma, aku akan segera pulang.”

“Biasanya kau paling bersemangat. Apalagi ini tentang rencanamu untuk pergi ke kota impianmu,” ibunya mengomel. “Apa terjadi sesuatu? Kau baik-baik saja ‘kan?”

“Eomma tidak perlu khawatir, aku akan datang. Sudah dulu ya.”

“Eh tunggu. Kemana Myungsoo? Ajak dia juga.”

“Myungsoo pemalas masih tidur dikamarnya. Aku akan menyeretnya.”

**

Sehun turun dari motornya setelah berhasil memakirkannya digarasi rumahnya yang besar. Ketika memasuki rumah, seorang pelayan menyambutnya dan menawarinya minuman. Belum sempat menjawabnya, ibu nya turun dari tangga dan berseru menyambutnya.

“Anakku akhirnya datang juga,” ibunya berseru seraya mengaitkan tangannya dengan lengan Sehun.

“Eomma berlebihan,” dengusnya geli. “Minggu kemarin aku juga pulang.”

“Tapi Eomma menginginkanmu datang setiap hari, bagaimana ini? Apa lebih baik kau tinggal disini setiap hari? Apalagi sebentar lagi kau akan ke luar negeri, ah, apa yang harus kulakukan jika merindukanmu?” ibunya merajuk, membuat Sehun menggeleng heran.

“Eh, tapi mana Myungsoo? Kenapa dia tidak ikut? Dia kerumah ibunya ya? Tapi kudengar ibunya sedang pergi ke Busan untuk acara reuni,” nyonya Oh bergumama bingung.

“Myungsoo? Dia katanya ada acara,” gumam Sehun setengah jengkel.

“Kencan?” ibunya bertanya bingung.

“Tidak.”

“Eh tapi kenapa kau terdengar kesal begitu sih?” ibunya tak habis pikir. “Tapi, beruntung juga ya Myungsoo, dia baru beberapa hari pulang dari Amerika sudah punya pacar. Kau bahkan tidak pernah mengenalkan seorang gadis padaku.”

“Sudah kubilang dia tidak kencan. Suzy bukan pacarnya,” Sehun mendengus jengkel.

“Loh, siapa Suzy?”

“Ah tidak tahu. Aku mau ke kamar dulu. Bicara dengan Aboeji nanti saja saat makan siang,” pria itu melenggang pergi menuju kamarnya, membuat Nyonya Oh kebingungan sendiri.

“Kenapa sih anak itu?” gumam wanita paruh baya itu heran.

**

Sehun menghempaskan dirinya dikasur. Diacaknya rambut hitam rapinya menjadi berantakan. Ia begitu jengkel, entah kenapa. Semua karena Myungsoo. Tentu saja. Pria itu katanya mau pergi kencan dengan Suzy. Apa? Yang benar saja! Rasa cemburu itu membakar hatinya.

Cemburu? Ia jadi teringat dengan obrolannya dengan Myungsoo tadi setelah membangunkan pria itu. obrolan yang terjadi begitu saja saat membangunkan Myungsoo tadi pagi.

“Sehun-ah, kau menggangguku. Kau tahu aku sedang memimpikan Suzy,” Myungsoo mengerang jengkel.

Sehun merasa aneh saat mendengarnya.

“Kau tahu. Aku begitu menyesal pernah meninggalkan gadis seperti Suzy. Dia baik dengan kepribadian yang unik. Kurasa kau akan jatuh cinta padanya kalau kau mengenalnya dengan baik,” tiba-tiba Myungsoo bercerita panjang lebar.

“Apa itu cinta?” Sehun bertanya tiba-tiba, teringat dengan perasaan itu.

Myungsoo tertawa. “Tak heran kau playboy karena belum merasakan apa itu cinta,” Myungsoo menerawang jauh. “Cinta adalah apa yang kau rasakan kepada ayah, ibu dan keluargamu, sahabatmu dan saudaramu. Perasaan ingin melindungi mereka dan ingin membuat mereka bahagia. Tapi cinta pada gadis mungkin kasusnya sedikit berbeda. Saat kau mendengar namanya, melihatnya, jantungmu berdetak kencang. Dia seperti pusat. Wajahnya membayangi ketika sebelum tidur atau disaat apapun. kau terus memikirkannya. Mengkhayalkannya. Senyumnya membuat hati bergetar dan kesedihannya menghancurkan hatimu. Mungkin seperti itu.”

Sehun tiba-tiba teringat Suzy. Hanya Suzy.

Myungsoo melanjutkan. “Ketika kaumerasakan hal itu kepada seorang gadis. Pastikan kau memperjuangkannya. Apalagi jika gadis itu memberimu kesempatan. Ah, kenapa aku menjadi dokter cinta begini sih? Padahal masih pagi.”

Sehun terdiam kaku, ia menatap Myungsoo serius. Pria itu bahkan kini sedang menata tempat tidurnya. Sehun berkata begitu saja, “Berarti aku mencintai Suzy?”

Myungsoo menegang, ia menoleh kearah Sehun. “Suzy? Suzy yang mana?”

“Bae Suzy,” seakan tersadar ia bicara dengan siapa, ia langsung menggeleng panik.

Myungsoo menatap Sehun serius. “Jadi?” dihelanya napas panjang. “Jujur saja padaku. Bagaimana bisa?”

Tidak ada gunanya menyangkal. “Ceritanya panjang. Aku sungguh tak tahu bahwa dia adalah masalalumu.”

Myungsoo tercenung sejenak. “Seberapa jauh?”

Sehun mengangkat bahunya tak tahu.

“Kau akan pergi ke luar negeri. Aku tidak perlu bersaing denganmu,” Myungsoo mengerutkan dahinya kemudian tersenyum lebar.

“Kau tak marah?” sehun berkata serius.

“Kita pria dan kita adalah sepupu. Perasaan seperti itu wajar aja sih. Apalagi Suzy memang gadis yang menarik. Andai saja kau tetap disini, aku akan mengajakmu bersaing secara sehat. Tapi kurasa itu tak perlu, toh kau akan pergi,” Myungsoo berkata santai seraya menghempaskan tubunhnya dikasur.

Sehun menghela napas lega. Tapi sesuatu seperti rasa tidak terima menyerang hatinya.

“Kurasa Suzy akan tetap memilihku,” ungkap Myungsoo percaya diri. “Kau tahu kelincinya Suzy? Barrie? Dia adalah anak kami.”

“Anak?”

Myungsoo tersenyum geli. “Dulu Suzy mempunyai kelinci perempuan. Ketika pacaran aku membelikannya kelinci pria. Mereka menikah dan memiliki Barrie. Meskipun mereka meninggal sih. Mungkin itu seperti kehidupanku dan Suzy yang kelak akan menikah.”

Suzy pernah berkata padanya bahwa kelinci itu sangat berharga untuknya. Ternyata ini alasannya. Tiba-tiba Sehun tidak merasa gemas lagi pada Barrie. Hasrat untuk membelikan Suzy kelinci lain yang lebih banyak semakin kuat. Ia cemburu.

“Sudahah. Aku memiiki janji dengannya nanti. Jangan mengangguku atau mengajak ku kemanapun.”

 

Sehun disadarkan dengan ketukan dipintu kamarnya. Neneknya yang sudah tua memasuki kamarnya dan menatapnya sayu meskipun bibirnya tersenyum.

“Astaga, Halmoeni sedang sakit,” Sehun langsung bangkit dan memapah neneknya untuk duduk di kasur.

“Halmoeni mu ini hanya ingin melihatmu. Kau belum mengunjungi kamarku setelah datang,” neneknya berucap.

Neneknya ini memang keras kepala, jadi ia hanya bergumam minta maaf saja.

“Ayahmu sedang sibuk dari kemarin malam. Terkadang aku khawatir melihatnya, tapi yasudahlah. Kita bertemu saat makan siang ya. Nenekmu ini mau ke kamar dulu. Aigoo, cucu tampanku ini semakin tampan saja.”

“Istirahatlah Halmoeni. Aku akan mengantarmu kekamar.”

Sehun berpikir dalam hati. Melihat ibu, nenek dan ayahnya membuat dirinya sadar bahwa mereka semua menyayanginya. Mengharap tidak ada kata berpisah dengan dirinya. Meskpun ayahnya menggunakan aasan perusahaan untuk mencegahnya pergi, tapi jauh dilubuk hati pasti ayahnya juga tidak mau ia pergi. Ia jadi teringat saat dia meutuskan untuk pindah ke apartmen dulu, nenek dan ibunya bahkan mengunjunginya setiap hari. Padahal jarak rumah dan apartmen tidak begitu jauh. Bahkan ayahnya juga mengawasinya dengan menyuruh orang.

Terdengar berlebihan memang. Tapi dia adalah anak satu-satunya. Sebagai penerus keluarga mereka. Jadi tak heran dengan semua itu.

Benar kata Suzy tadi pagi. Dan bicara soal Suzy, ia harus memperjuangkan perasaannya. Masa bodoh dengan Myungsoo, toh sepupunya itu juga terihat menerima saja jika harus bersaing dengannya. Mereka sepupu, tidak akan bermusuhan jika hanya seorang gadis. Yang penting mereka melakukannya dengan cara yang baik. Hak nya Suzy akan memilihnya atau Myungsoo. Meskipu ia yakin Suzy lebih memilih Myungsoo, tapi ia akan berusaha dengan baik.

Sehun menggenggam erat tangan neneknya. “Hamoeni, aku tidak akan pergi.”

 

 

B e r s a m b u n g…

 

Maafkan typo. Sorry cerita makin gak jelas.

Advertisements

5 responses to “[Freelance] Mirror Chapter 15

  1. Sudah kubilang dia tidak kencan. Suzy bukan pacarnya,” Sehun mendengus jengkel. Hhhaaaa cie keceplosan

    Suzy pernah berkata padanya bahwa kelinci itu sangat berharga untuknya. Ternyata ini alasannya. Tiba-tiba Sehun tidak merasa gemas lagi pada Barrie. Hasrat untuk membelikan Suzy kelinci lain yang lebih banyak semakin kuat. Ia cemburu.
    Ehem akhirnya cemburu juga n nyadar cinta ma suzy….
    Akhirnya update telah d tgg skian lama

  2. Jiah kurang greget thor chapter yg ini, penasaran bagaimn reaksi suzy klo sehun gk jadi pergi krn ingin memperjuangkan cintanya

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s