[FICLET] Our Final Day

6f153d7b7972d8f3b10985ce49297921                            fca5ab137eeff718d341ac0f09c12fb3

Our Final Day

written by Little Thief.

Kim Myungsoo, Bae Suzy | ficlet | genre: teen | general

(a sequel for What He Dreamed Of. Read the previous:  TardPhotos, Name and Signature dan Recall.)

.

.

“Maaf, Sohee-ya. Aku akan cari hari lain, oke?”

Myungsoo menggigit bibirnya dan mengusap dagunya dengan jari. Mendengarkan suara Sohee di telepon dengan sabar. Gadis itu marah-marah karena membatalkan janji kencan mereka hari ini.

“Maaf, maaf, maaf, Sohee-ya. Rapatnya sangat mendadak, dan tim kliennya juga bukan main. Mereka datang dari Swedia. Kau tahu tentang perusahaan furnitur yang satu itu, bukan? Akan tidak mungkin kalau aku tidak ikut rapat hanya untuk kencan di—“

Dengan sabar, Myungsoo mendengarkan Sohee mengutuk dirinya karena menganggap kencan tidak penting. Gadis ini hanya marah, begitu pikir Myungsoo. Kalau keadaan sudah dingin, Sohee-lah yang pertama kali menghubunginya, bukan dia.

“Iya. Aku salah, aku mengakuinya. Jangan marah lagi, ya? Aku akan cari waktu kosong secepatnya. Maaf membuatmu kecewa,” Myungsoo mendesah, kemudian mengeluarkan jurus andalannya. “Sohee-yaaaa? Kau mau memaafkan aku?”

Bukan hal baru bagi Myungsoo bahwa Sohee akan luluh setelah mendengarnya berkata dengan nada seperti itu. Dengan seringai puas, ia mematikan ponselnya dan mulai berdiri, meraih berkas-berkas yang ia perlukan untuk rapat nanti.

“Myungsoo, kliennya sudah datang, mereka menunggumu,” kata rekan satu kerjanya begitu ia keluar dari ruangan. Myungsoo mengangguk dan tanpa ragu, masuk ke dalam ruang rapat.

Setelah bertahun-tahun berselang, kehidupannya sudah berubah total. Dulu, ia masih seorang anak SMA yang penakut. Ia penakut pada segala hal—kehidupan, kisah cintanya, dan bahkan mimpinya sendiri. Kini, Myungsoo bukanlah lagi orang itu. Ia berbeda. Kini dia seorang pemimpin, dan atas kisah cinta pertamanya yang pahit, ia bisa belajar bagaimana cara mencintai seseorang dengan lebih baik, dan lebih tersampaikan daripada memendamnya sendiri.

Ia kini tidak lagi merancang desain seperti dulu. Myungsoo sekarang menjadi deputi direktur untuk sebuah perusahaan desain dan furnitur ternama di Korea, dan meskipun masih menggelutinya, sebagian besar waktunya tidaklah habis untuk mendesain. Masih banyak hal yang harus ia urus—kerja sama dengan klien-klien dari luar negeri ini salah satunya.

Dengan mantap, Myungsoo membuka pintu ruangan dan suasana hening dan dingin menyapanya. Ia tersenyum. Keadaan ruangan seperti inilah yang membuatnya tertantang. Ia akan berusaha membuat suasana rapat menjadi jauh lebih santai, dan untuk itu, Myungsoo pikir ia sudah mahir dalam hal ini.

Perbedaan bahasa bukanlah masalah baginya. Ia sudah terlatih juga untuk itu, dan Chanyeol adalah salah satu panutannya dalam hal ini. Anak itu sering menjadi duta perwakilan untuk acara-acara budaya antara Korea dan Rusia, dan Chanyeol punya kemampuan komunikasi spesial yang membuat semua orang bersedia mendengarkan seluruh pendapatnya. Myungsoo terkesan karena tak pernah menyadari bakat temannya itu sejak mereka masih bersama-sama saat SMA.

Langkah sepatu Myungsoo mengisi suara di ruangan.  Para tim klien sudah datang dan duduk mengelilingi meja. Wajah-wajah Eropa yang asing. Di sisi lain, ada tim dari perusahaan furnitur tempatnya bekerja.

Ia menatap seluruh audiensnya dengan senyum dan berujar, “Selamat siang.”

Serentak, semua orang membalas, “Selamat siang.”

Masih dengan senyum ramah terukir, Myungsoo meletakkan berkas-berkas kertasnya di meja dan berdiri di sebelah layar proyektor yang siap untuk memaparkan bahan presentasinya hari ini. Tapi, sebelum itu, ada satu kebiasaan yang harus ia lakukan sebelum bicara lebih jauh.

“Nama saya Myungsoo, saya di sini sebagai deputi direktur. Senang melihat Anda sem—“

Kalimat Myungsoo terhenti.

Tadinya, ia sedang berbicara pada tim kliennya, memerhatikan masing-masing dari mereka melalui kontak mata. Hal yang sudah biasa ia lakukan. Tapi, pemandangan yang satu ini membuatnya cukup…terkejut. Dan rapat kali ini tentunya menjadi tidak biasa.

Setelah terjadi hening yang membuat seluruh audiens bertanya-tanya, Myungsoo berdeham dan tersenyum lagi. Tapi, kali ini, lebih lebar. “Saya sungguh senang melihat Anda semua hadir di sini. Terima kasih atas waktunya.”

Myungsoo melirik orang itu lagi, yang balas tersenyum padanya. Ia kemudian  berusaha memfokuskan dirinya pada pembahasan rencana kerjasama dengan para tim klien itu, namun pikirannya sudah melantur ke mana-mana.

Kendalikan diri. Dia hanya audiens.

Seketika, Myungsoo merasa menyesal telah memasuki ruang rapat dengan tampang sok beraninya tadi.

**

Rapat selesai tepat saat waktu makan siang dan ini hal yang bagus untuk Myungsoo. Setelah tim klien keluar ruangan, Myungsoo segera berlari mengejar orang itu. Mungkin orang itu pergi ke kantin? Ke taman? Atau ke lobi?

Saat rapat, Myungsoo mengira mungkin yang ia lihat hanya mimpi. Tapi semuanya buyar ketika orang itu ikut bicara di pertemuan dan Myungsoo seratus persen yakin ia tidak sedang berdelusi. Ia kenal suara itu. Suara yang meneleponnya tiba-tiba pada suatu pagi ketika ia baru bangun dari tidur.

Dan, saat para tim klien keluar, orang itu melintas di depan Myungsoo. Pemuda itu tak melakukan apapun selain terdiam dengan tampang bodoh meski orang itu menyapanya. Habislah sudah jiwa kepemimpinan yang ia pancarkan saat presentasi yang banyak membuat orang-orang terkesan.

Myungsoo berlari menuju lobi kantor, menuruni tangga karena ia tak yakin dapat mengejar orang itu bila menaiki lift. Setelah tiba di lobi dengan napas terengah, matanya mencari dengan liar ke mana orang itu pergi. Tak ada. Orang itu tidak ada di lobi.

Maka ia berlari ke luar gedung dan menuju ke tempat parkir. Gayung bersambut. Punggung sosok itu terlihat dari kejauhan. Segera, Myungsoo menghampiri sosok itu dan berseru. “Bae Sooji!”

Langkah gadis itu terhenti.

Myungsoo mengembuskan napas terengah lagi. “He-hei…kau masih ingat aku, bukan?”

Dan gadis itu menoleh. Myungsoo sama sekali tidak bermimpi.

Setelah sekian lama, kini, Bae Sooji, ada di depannya.

Myungsoo tersenyum. Tidak menyangka.

Dan Sooji juga ikut tersenyum.

“Aku bisa mengingatmu bahkan dari langkah pertamamu saat memasuki ruangan,” ujar Sooji, dan ia menghampiri Myungsoo. Mengulurkan tangannya. “Bagaimana kabarmu? Sudah lama, ya?”

Myungsoo melirik tangan yang terulur itu, tersenyum lebar sebelum menerima jabatan itu dan bertukar peluk singkat dengan Sooji. “Aku baik. Sangat baik. Kau tidak lihat betapa hebatnya aku sekarang?”

“Kau tak pernah bilang padaku kalau kau bekerja di sini.”

“Dan kau tak pernah bilang kalau kau akan jadi klienku.”

Mereka tertawa, tanpa canggung. Tidak seperti saat masa remaja mereka yang penuh keraguan. Sooji membatalkan niatnya untuk langsung pulang. Sebagai gantinya, ia berjalan di trotoar pinggir jalan dengan Myungsoo, ditemani suara bising kendaraan.

“Kau akan pulang? Naik mobil?” tanya Myungsoo, berjalan di sisi Sooji.

“Iya. Aku sementara tinggal di rumah orangtuaku selagi mengurus kerjasama di sini. Kau sendiri?”

“Aku? Aku masih terperangkap di sini, kok, tidak ke mana-mana.”

Sooji tertawa lagi. “Omong-omong, soal masa mudamu…dan masa mudaku…”

“Ah, itu?” Myungsoo melirik. Ia mengibaskan tangannya. “Jangan dipikirkan. Aku jadi malu sekali.”

“Kau sudah dapat seseorang? Yang baru?”

“Ah, iya…hanya saja, gadis itu sedang marah padaku karena aku membatalkan kencan kami demi rapat hari ini. Tapi tak apa, urusannya akan beres sebentar lagi.”

Mata Sooji melebar. “Betulkah? Aku menyesal sekali.”

“Bukan masalah. Dia hanya sedang marah, itu saja,” Myungsoo mengibaskan tangannya seolah itu bukan perkara besar. “Kau…bagaimana? Dengan pria yang kau umbar di Facebook itu?”

Sooji terkekeh. “Kami sudah menikah beberapa bulan lalu. Kau tahu itu, bukan?”

Myungsoo mengangguk. Sooji memang mengunggah foto pernikahannya dengan pria Finlandia itu melalui media sosialnya. Untungnya, perasaan Myungsoo tidak meluap-luap seperti dulu sehingga ia lebih bisa mengendalikan diri daripada sebelumnya. Walaupun perih tetap saja ada.

“Dan kabar terbarunya…tidak semua orang tahu, namun…” pipi Sooji tiba-tiba memerah. “Kira-kira, delapan bulan lagi, aku akan jadi seorang ibu.”

Myungsoo menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada Sooji. “Kau serius?”

Gadis itu mengangguk. “Kau pikir aku berbohong?”

Setelah terdiam cukup lama, Myungsoo mendecak kagum. “Wow…itu…itu agak mengejutkan. Berarti kau harus jaga kesehatan. Dan, kau akan menjalani persalinan di Finlandia?”

Sooji berpikir sebentar. “Yah…tampaknya begitu.”

“Kabari aku kalau-kalau dia perempuan atau laki-laki,” Myungsoo menyeringai. “Aku suka sekali anak-anak. Kau tahu itu?”

Gadis itu tertawa. “Hei, aku sudah menikah dan kau bahkan masih bertengkar karena batal kencan. Itu sudah tidak zaman!”

Myungsoo menerawang, menatap langit biru dan menggumam, “Semuanya itu butuh waktu, Soo. Semua butuh proses. Seperti pertemuan kita, butuh proses. Tak semuanya langsung jadi di depan mata.”

Sooji mengangguk setuju. “Butuh proses,” gumamnya. “By the way, Myungsoo, terimakasih untuk kenangan kita saat masa remaja. Perlakuanmu padaku kala itu membuatku merasa lebih…spesial. Aku jadi lebih bisa membuka diriku karena sikapmu itu. Aku percaya ada orang yang menerimaku apa adanya, apapun keadaanku, jadi aku bisa bersikap lebih percaya diri…dan beginilah diriku sekarang. Tidak separah kelihatan waktu dulu, bukan?”

Myungsoo tersenyum. “Kau tak perlu mengucapkan apapun. Dan yes, indeed, aku akan menerimamu apapun keadaanmu. Kau jangan khawatir.”

Mereka berjalan dalam diam, namun dengan senyum masing-masing tercetak di wajah. Setelah beberapa lama, Myungsoo mendapat ide.

“Bagaimana bila kita kembali ke kantor, lalu ambil mobilmu dan kita makan di restoran yang enak?” tawar Myungsoo. “Kau tahu, percekapan dua teman lama. Kau setuju?”

Mendengar tawaran itu, Sooji tersenyum lebar. “Percakapan dua teman lama. Kurasa itu menyenangkan. Oke, aku setuju. Ayo kita kembali.”

Mereka memutar dan kemudian berjalan ke arah berlawanan. Di bawah naungan langit biru kota Seoul yang cerah, mereka bercerita. Menceritakan kisah hidup masing-masing, apa yang telah mereka lalui. Menceritakan mimpi-mimpi mereka dan bagaimana mereka dapat meraihnya sekarang. Menceritakan masa muda yang selalu indah untuk dikenang.

Myungsoo sadar, ia tak pernah bisa bermimpi mengenai Sooji. Karena memang bukan itulah takdir yang dituliskan padanya. Mungkin ia tak akan pernah bisa bersama dengan gadis itu, tapi bagaimana pun, semesta akan mempertemukan mereka berdua, walaupun hanya sebagai dua teman lama yang bertemu di suatu waktu.

Dan, Myungsoo mensyukurinya. Ia telah belajar banyak dari semua hal yang ia lalui, dan sekecil apapun kesempatannya untuk bertemu dengan gadis itu, Myungsoo akan selalu mensyukurinya.

Mereka telah memiliki kehidupan masing-masing. Mimpi masing-masing. Urusan masing-masing dan juga, memiliki kisah cinta untuk mereka sendiri. Myungsoo tak perlu memaksakan. Semakin ia tumbuh dewasa, ia sadar, bahwa terkadang yang ia harapkan tak selalu terkabul. Bahwa yang ia ingin miliki tak selalu bisa ia miliki.

Mungkin merelakan bahwa Sooji bukanlah takdirnya—itulah cinta paling murni yang bisa ia berikan pada gadis itu. Baginya, berjumpa di sini, dan berjalan berdua di trotoar pun sudah lebih dari kata cukup. Mungkin sesederhana itu, sebetulnya.

Dan, Myungsoo menyadari, hari-harinya tak pernah lebih indah daripada hari ini.

 

-fin.-

AAAAAH Udah setahun nggak update di sini, apa kabar kalian semua? Yah aku sama Myungsoo sih bilangnya kalau yang What He Dreamed Of itu yang paling terakhir ya, but something happens jadinya aku bikin sequel aja deh fufufufu :’3

Akhirnya liburan dan bisa kambek nulis setelah sekian lama terkukung sama tugas! AIH SENANGNYA! ❤

Kritik dan saran ditunggu, yah!

p.s: ini ceritanya masih unedited loh ya…

 

With regards,

Nadia.

Advertisements

2 responses to “[FICLET] Our Final Day

  1. kaget juga suzy tau udah nikah dan akan jadi ibu.
    tapi suka mereka masih menjaga hubungannya dengan baik. apalagi myungsoo seneng banget keliatannya. suka deh..
    cara penulisannya juga enak. mudah di pahami. karya lainnya ditunggu

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s