A Strange Customer

Miss Of Beat R present

.

.

.

Aku bukanlah tipikal seorang dermawan yang mau memberikan waktunya untuk orang asing. Sekarang sudah jauh di luar jam kerja dan baru saja akan menutup tempatnya bekerja. Aku yakin bus terakhir malam ini akan segera berangkat jika tidak cepat-cepat. 
Di saat aku memutar tubuh tak sengaja aku berteriak ketika ada seseorang berperawakkan lebih tinggi dariku tepat di belakangku. 

 
“Bisakah kau membuatkan tattoo untuk ku sekarang?” Pria itu datang di tengah gerimis mengguyur pinggiran kota Tokyo tengah malam dengan memohon—ditambah  bola mata yang membulat meminta untuk dikasihani.

 
“Kau bisa kembali besok,” ucap Aku sambil mengunci pintu.

 
“Tapi aku hanya memiliki kesempatan kali ini saja.” Balasnya dengan wajah patut di kasihani. 

 
“Kalau begitu pergi ke tempat lain yang masih buka. Tepat di persimpangan sana, aku yakin masih banyak yang membuka jasa yang bisa kau pakai, Tuan.” Aku berusaha menunjuk jalan yang di maksud tetapi pria itu langsung menggeleng kepala tidak mau.

 
“Aku hanya ingin kau yang melakukannya, Nona. Akan kubayar tiga, ah bukan tapi lima kali lipat jika kau bersedia,” tawar pria itu dengan percaya diri. 

 
Dan tawaran itu sukses membuatku  goyah. Ia nampak menimbang dalam kebisuannya seraya menilai orang asing itu dari atas hingga bawah. Meski aku tidak terlalu jelas melihatnya karena penerangan yang minim,  pria di hadapanku jelas tidak tampak seperti gelandangan karena pakaian yang dinilai cukup mahal atau pemabuk karena kesadaan penuhnya apalagi seperti anak buah dari kelompok Yakuza sekitar yang tampak sangar. Sejujurnya terlihat terlalu bersih untuk orang yang ingin memakai jasaku dan poin itu membuat ragu. 

 
“Baiklah. Kuharap anda menepati janji anda, Tuan.” Aku pun langsung memutar kembali kuncinya berlawanan jarum jam dan membuka pintu tempatku bekerja.

 
Pria itu menaruh fedora yang dibawa dan juga long-coatnya sambil memindai seisi ruangan yang terlihat seperti gudang bawah tanah dengan penerangan minim. Tercium aroma rokok dan alkohol yang tidak sehat untuk kesehatan paru. Terdapat banyak tempelan kertas bergambar macam-macam desain sebagai hiasan di dinding sekaligus dimaksud sebagai contoh.

 
“Apa yang anda ingin buat?” tanyaku sambil membuka perkakas yang sudah dibereskan tadi.
Pria itu menyusuri satu persatu outline sebelum ia menjawab, “Angel. Buatkan aku tattoo bergambar Angel di sini.” Pria itu menunjuk leher kirinya sebagai media sang seniman. Ia lantas berjalan menuju sofa yang berada di tengah ruangan yang ia yakini tempat pembuatan tatto berlangsung.

 
Aku terdiam mendengar request pria itu. “Sudah jarang orang memesan outline ini. Apa anda mengetahui maknanya?” 

 
“Malaikat bukan?” Seulas senyuman lolos dari bibirku ketika mendengar jawaban polos tersebut.

 
“Kau tidak terlihat seperti pria yang bersedia tergores oleh jarum tattoo. Terlebih di bagian dimana semua orang bisa saja melihatnya dan menilai buruk dirimu.” Kali ini aku mengeluarkan apa yang ada di isi kepala. Dan di saat penerangan lebih jelas, ku melihat rupa customer-nya saat ini tampak begitu familiar. Postur tubuh yang sangat proposional. Manik hitam jelaga yang tajam, hidung bangir, bibir yang tebal namun nampak sensual. Surai kokoa yang berpotongan rapih dengan anak rambut yang basah akibat rintikan hujan.

 

“Tak apa. Lakukan saja untukku.” Pria itu mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Memperlihatkan lekukan otot, tubuh atletis dengan kulit tan yang eksotis yang membuatku  terpesona dengan pemandangan itu. “Apa aku harus dalam posisi duduk? Atau tidur?” tanyanya.

 
“Duduk saja dulu, aku masih harus mendesainnya sebentar.” Aku pun mengisi spasi kosong di samping klien. Aku mulai menggores kertas kosong itu, membentuk beberapa garis lengkung hasil dari imajinasiku. 

 
Aku bisa merasakan bahwa pria itu menatapku cukup intens. Mungkin ini pertama kalinya melihat wanita dengan penuh tatto di sekujur tubuhnya termasuk wajahku. Tapi aku berusaha se profesional mungkin dan melanjutkan gambar sesuai apa yang berada di imajinasiku saat ini.

 
“Ini. Bagaimana menurut anda?” tanyaku  sambil menunjukkan hasil kreasiku. Aku kembali melihat senyum dari klien yang begitu menawan. Meski sudah puluhan customer datang kemari menunjukkan senyum puas meski baru melihat desain, sensasi yang di bawa pria ini berbeda. Seolah kembang api meletup-letup di perutku. Ini berlebihan.

 
“Sempurna. Aku menyukainya.”

 
Aku berdiri dari sofa diikuti oleh pria itu. Aku menarik pengait yang ada di kaki sofa dan keluarlah bagian sofa yang tersembunyi mengubahnya seperti kasur. Sungguh praktis. 

 
“Berbaringlah!” perintahku sambil menyiapkan kapas untuk diberi alkohol 70%. 

  
Aku mulai menggosok kapas itu di sekitar kulit yang menjadi target stencil. Sebenarnya aku paling tidak suka menjadi orang pertama yang menorehkan seni tatto pada  tubuh polos seperti pria ini. Ada rasa bersalah yang selalu muncul di sisi lain dari diriku. “Kau yakin ingin di tato?” Aku bertanya lagi. 

  
It’s fine. Just do it, ‘kay!” 

  
“Ini akan sedikit sakit bagi pemula sepertimu. Tahanlah sedikit,” ucapku yang mulai mendekatkan stencil ke kulit klien. Biasanya aku jarang memperingati namun lagi-lagi pria ini adalah pengecualian. “Aku percaya padamu.” Ucapnya meyakinkan ku.
 
 
  
Pria itu melihat karya ku yang tertoreh di lehernya melalui cermin yang diberikan. Senyum puas terpatri di sana membuatku menarik napas lega.

  
“Anda menyukainya?” tanyaku memastikan.

 
“Sangat. Terimakasih Suzy.” Pria itu segera mengenakan kembali pakaiannya.

 
Alis ku berkerut ketika pria itu menyebut namanya. “Kau mengenalku?” 

 
“Siapa yang tidak kenal dengan tattoo artist berbakat seperti dirimu?” jawabnya. Aku mengangguk setuju karena di distrik ini dia cukup terkenal, seharusnya tidak perlu kaget. 

 
“Boleh saya bertanya alasan anda membuat tattoo?” tanya ku yang mulai membereskan peralatan yang ada di meja.

 
“Untuk megulur waktumu agar tetap di sini setidaknya sampai jam 11 malam. Dan rencanaku berhasil.”

 
“Maksudmu?” Aku masih tak mengerti dengan arah pembicaraan pria ini. Aku menoleh ke jam dinding yang menunjukkan pukul 11 lewat. Pasti bus sudah tidak ada yang lewat jam segini. 

  
Pria itu mendekat mengikis jarak di antara kami. Meja yang berada di belakangku pun membuatku tak dapat mundur. Jarak berbahaya ini justru menajamkan indera penciumanku dengan menghirup aftershave yang dikeluarkan oleh pria itu. 

 
Dengan berani pria itu menjumput helaian rambut yang menutupi wajahku dan membawanya ke belakang cuping telinga. “Aku  ingin kau lebih lama di sini. Banyak hal yang masih kau harus lakukan. Kurangi perbuatan yang merugikan dirimu sendiri setelah ini. Cobalah untuk mencintai diri sendiri dan orang yang selalu mendukungmu.” Ucapnya dengan suara rendah.

 
Pria itu mengenggam jemari lentik ku dan mengangkatnya. Di saat bersamaan tangannya yang lain merogoh saku celana dan mengambil sejumlah ratusan ribu yen. “Ini bayaran yang kujanjikan. Terimakasih.” Ia mengecup ringan tangan tersebut sebelum melepasnya.

 
Lagi-lagi aku terdiam dan membiarkan pria itu mengenakan long-coat hitamnya dan membawa fedora ketimbang memakainya di kepala lalu berjalan keluar menuju pintu.

 
“Siapa namamu?” tanyaku yang akhirnya membuka suara.

 
Pria itu terdiam untuk beberapa saat seolah pertanyaanku cukup sulit untuk dijawab. “Orang – orang mungkin menyebutku Samael, tapi untukmu bisa memanggilku Kai.” Ia pun segera meninggalkan tempat kerjaku dengan langkah pasti.

  
Aku yakin  pernah mendengar nama Samael sebelumnya namun tidak ingat di mana. Lamunanku buyar tepat ketika dering telepon berbunyi dengan nyaring. Aku pun segera mengangkat setelah melihat nama kekasihku tertera di sana.

  
Suez, apa kau baik-baik saja? Kau selamat kan?

  
“Apa maksudmu?”

  

“Aku baru saja menonton berita bahwa terjadi kecelakaan beruntun kendaraan umum di sekitar tempatmu bekerja.”

  

Aku melepaskan telepon genggamku di atas meja. Aku masih tidak percaya dapat beruntung malam ini karena customer aneh yang mendatangiku larut malam seperti saat ini.

  
“Kai?” lafalku mengingat nama dari pria itu.

  
Ternyata tattoo yang kubuat benar – benar mencerminkan dirinya.

   
Dia adalah malaikat bagiku.

  
—oOo—
Other side

 
Bunyi sirine dari mobil kebaran dan ambulance tampak saling beradu. Ini sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi Kai dan juga kawanannya. Beberapa sudah ada yang melakukan tugasnya namun tidak dengan Kai yang hanya diam berdiri.

  

“Samael, sepertinya kau bebas tugas hari ini.” Ucap seorang pria berpenampilan sama seperti Kai mendekati dirinya. Ia salah satu kawanan yang baru saja melaksanakan tugasnya.

 

Kai hanya tersenyum mendengarnya. Ia tahu baru saja di ejek saat ini namun ia tidak peduli.

 
“Pasti kau sangat mencintai gadis buruk itu sampai tidak ingin ia di bawa sekarang,” oceh rekannya itu lagi.

 
“Kau benar. Setidaknya aku ingin dia lebih siap jika di jemput lagi suatu saat nanti.”

 
Finish


  • Samael means Grim Reaper
  • Hai!!!! LONG TIME NO SEE!!! Apa kabar???
  • Udah setahun lebih aku tak menulis Suzy dan shipper2nya apalgi ultimate pairing ku yaitu KaiZy huhuhu 
  • Palingan abis ini aku menghilang lagi dari dunia biru karena lebih cenderung di dunia oranye
  • Maaf jika tulisan tidak terlihat rapih karena nulisnya di hp dan app wordpress, aku ngga bisa justify tulisannya T.T
  • Sebenernya aku bingung mau masukin ini ke genre apa selain Goblin!AU lol
  • Menulis ini karena terinspirasi dari foto Suzy sebagai Tattoo artist di film Real. 
  • Dan pas banget si Kai di MV Kokobop dipakein tattoo bertulis Angel di leher

  •  
  • Have a nice weekday, all!
  • See ya and keep bust a move
Advertisements

9 responses to “A Strange Customer

  1. Udah lama, aku merundukan karya athor…
    Waktu disebutkan ciri pria dengan pipi tebal…. ah pasti kai
    Ceritanya bagus, harap ada kelanjutan dan mau tau siapa kekasih suzy itu. Berharap ini cerita malaikat yg mencintai manusia aja, jangan sampai jd cjnta manusia dan malaikat heheh. KEREN!!!!

  2. long time no see author..
    udah lama ya.. hemhem kangen tulisannya kkk
    ketika tau suzy jadi seniman tatto aku juga langsung inget film real wkwk
    kai malaikat yang jatuh hati sama manusia biasa
    heemm beruntungnya suzy di cintai malaikat, jadi waktu harus di jemput ajalnya di undur kkk

  3. Gabungan antara Goblin sama real akuu suka banget ..
    BTW aku suka banget sama karangan mu thor .
    sekarang WordPress mu gabisa diakses ya ??
    aku udah mengikuti wordpress mu taapi masih belum bisa visit .. jebal ijinin aku mampir ke wordpress mu yaa
    ohiya maksud dari ” Palingan abis ini aku menghilang lagi dari dunia biru karena lebih cenderung di dunia oranye” ini apa ya ?? kamu pindah media dr wordpress ke watpad ??

    • Hallo~~~
      Huwaa terimaksih udah suka sama cerita aku 😘😘
      wordpress pribadi di tutup krn g ada cerita baru. Bahkan cerita ini blum di masukin ke sana huhuhu
      Tapi klo emang mau masuk coba aja ask permission nanti ku accept
      Dan sekarang emang aku hijrah ke wattpad krn berhubung buat cerita baru dengan idol lain aka jennie bp dan taeyong nct. Mungkin klo emang berminat bisa cek @jcloudylight di wattpad nanti hehehe
      Sekali lagi makasih buat komennyaa 🙏🙏

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s