[Ficlet] Out of Laugh

original photo source here

… “Dosis yang terlalu banyak faktanya tidak baik efeknya. Begitu juga dengan apa yang kamu rasakan. …”

.

.

Hujan pada bulan April tidak bagus datang dalam waktu yang panjang. Kelabu yang dibawa pada rombongan mega bukan hiasan langit yang bagus. Warna abu-abu bukan warna yang keren. Terlalu keruh dan terkesan dekil. Untuk kesekian kalinya, Suzy meratapi hujan yang menghapus terminologi bahagia dari kamus hidupnya pada hari Selasa. Jelas menghambat ia untuk segera meluncur ke ruang prodi di lantai 8 gedung fakultas sastra. Mengantar kitab keramat yang akan ia serahkan pada sekretariat untuk ditindaklanjuti.

Mengetuk-ngetuk permukaan meja dalam tempo yang tidak teratur. Menarik cairan ingus yang mengganjal sedari pagi dengan ketus. Gelas berisi caramel macchiato yang ia pesan ia tarik paksa lalu menegaknya dengan kasar. Semua efek kekeliruan itu berasal dari perasaan antipatinya terhadap satu kata yang berjuta kali tidak Suzy suka. Hujan.

“Mau meminjam wajahku, ngga? Coba lihat ke cermin, perhatikan wajahmu baik-baik. Sangat jelek karena ditekuk terus.” Joohyun mengatakannya sambil menggeser sebilah cermin portabel yang tidak pernah absen di dalam tasnya.

Sang bungsu membalas guyonan sang kakak dengan merajuk makin hebat. Heran, kenapa setiap manusia malah gemar menaikkan level kekesalan orang di saat orang itu sedang kesal, sih. Seharusnya orang itu dihibur bukan dibuat tambah keki. Suzy memilih untuk mengatakan pemikirannya dalam hati tentu. Tidak mau ia kena semprot jika berani protes seperti itu dan berakhir batal ditraktir sushi nanti malam oleh Joohyun yang baru mengantongi gaji bulanan.

“Duh, maaf tapi wajah Kakak tidak pas. Di bawah standar.” balas Suzy anteng. Namun detik selanjutnya, Joohyun meniupkan terompet sangkakala tepat di depan kuping Suzy.

“Untung kakakmu ini aku, Bae Joohyun. Kalau orang lain, mungkin sedari kemarin atau seminggu yang lalu, kamu akan ditempatkan di kardus retur barang, Suez. Tuhan memberkatiku.”

“Kakak!!”

Joohyun bertepuk tangan sambil tertawa senang. Matanya jadi sepasang bulan sabit yang berdiri berjejer. Membuat adiknya memanggil Joohyun dengan sebutan “kakak” dan diakhiri dengan dua tanda seru adalah nikmat. Joohyun terlalu senang membuat dirinya senang dengan menjahili adik bungsunya. Sebagai konsolidasi, Joohyun menepuk lembut bahu Suzy. Setengah memeluk adik gadisnya dari samping.

Buliran air hujan menuruni kaca jendela kafe yang selalu dikunjungi olehnya dan Suzy. Mengatakan hi dan hello secara bergantian, gemuruh kecil yang melengkapi gerimis pagi di Hongdae kala itu. Joohyun mencairkan senyuman karamel kepada setiap orang yang menembus paksa hujan tanpa jasa si bundar bergagang. Lalu menengok persis ke sebelahnya, kepada sosok yang lebih jangkung darinya. Memajukan beberapa senti bibir karena terlalu kesal pada hujan.

“Dosis yang terlalu banyak faktanya tidak baik efeknya. Begitu juga dengan apa yang kamu rasakan. Kalau tidak suka sama hujan, cukup tidak suka saja. Jangan sampai pada benci.” Joohyun berujar hati-hati.

“Aku hanya tidak menyukainya, Kak. Gerak-gerik kita menjadi terbatas. Tidak bisa berpergian dengan leluasa tanpa memikirkan betapa seratus kali lebih berbahaya berkegiatan di tengah hujan. Apalagi untuk orang yang gampang terkena flu sepertiku. Kacau.”

Joohyun membiarkan Suzy berceloteh tanpa ada intuisi untuk mengeinterupsinya. Lagipula, gadis mungil itu juga tidak suka hujan. Pergi ke taman ria bersama Junmyeon siang nanti terancam batal sebabnya.

“Lalu, kakak ingin aku melakukan apa?” tanya Suzy dengan wajah kusut. Super lecek dan bibir yang ditekuk seratus tekukkan.

Joohyun tertawa lagi untuk yang kesekian kalinya. Setiap kakak di dunia pasti menikmatinya, wajah cemberut si adik ketika dijahilinya tetapi juga seribu kali ingin meninju siapa saja yang berani membuat adik mereka merasa terluka. Seperti halnya yang terjadi kepada Suzy, turunnya hujan berhasil menyabotase kesenangan dan semangat gadis itu secara menyeluruh. Namun Joohyun berpikir dua kali untuk pergi ke luar kafe dan meninjukan kepalan tangan ke udara untuk melawan hujan yang datang bergerombol dan mendapat cap instan sebagai orang gila Seoul.

“Tidak usah melakukan apa-apa juga boleh. Lebih baik berdoa agar hujannya cepat reda sehingga kamu bisa meluncur ke kampus. Dan aku tidak membatalkan rencana jalan-jalan bersama Junmyeon. Win-win solution.”

Suzy balas melotot ke Joohyun sebelum dibuyarkan oleh sepotong red velvet cake yang mendarat dengan cantik di samping gelas macchiato yang setengah isi.[]


HAPPY BIRTHDAY LOVE OF MY LIFE

BAE SUZY 🙂

HALOOOOOO SAYA KANGEN KALIAN SEMUA. MAAF SEKALI BARU BISA MENULIS SEKARANG T_T

SEMOGA KABAR KALIAN BAIK-BAIK SAJA YAAAA

Advertisements

2 responses to “[Ficlet] Out of Laugh

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s