Millions Of Memories (Chapter 15)

PicsArt_07-16-10.30.35

“Makna sesungguhnya sebuah pelukan adalah itu berarti dia bersedia merangkul hidupmu”

Rec. Song : Urban Zakapa-When Winter Comes (wajib!)

***

Suzy tidak memiliki ide dan tidak tahu kemana Chanyeol akan membawanya pada acara weekend yang dikatakannya beberapa hari yang lalu. Ia hanya mengikuti kata Chanyeol dengan menggunakan pakaian super tebal lalu duduk diam dalam mobil selama Chanyeol mengendarai mobil menuju tempat tujuan mereka.

Chanyeol berkata bahwa ini bertujuan menikmati musim dingin dan melakukan beberapa pertandingan. Dan perjalanan akan memakan waktu sekitar dua jam.

Mereka tiba disana saat siang menjelang sore dan Suzy tentu saja tertidur selama perjalanan, ternyata tempat yang dimaksud Chanyeol adalah Yongpyong Ski Resort. Tempat itu sangat menarik untuk melakukan olahraga ski karena ketebalan salju 250 cm pada saat musim dingin. Lalu mereka menaiki gondola (kereta gantung) sekitar lima belas menit menuju puncak resort ski.

Dengan menggunakan pakaian serba hitam yang tebal, penutup kepala serta telinga, masker, sepatu dan kacamata besar. Chanyeol sibuk memeriksa tongkat dan papan ski miliknya, sementara Suzy berhasil mendenguskan kekesalan beberapa kali karena memakai sepatu ski benar-benar rumit, untuk sesaat ia berfikir menggunakan heels jauh lebih menyenangkan.

Chanyeol menoleh karena lagi-lagi mendengar Suzy menggerutu. Suzy terduduk diatas tumpukan salju dan tangannya sibuk mengait-aitkan sabuk sepatu tersebut dengan wajah serius sekaligus frustasi. Chanyeol terkekeh geli melihat Suzy yang seperti anak ayam kecil yang terlihat sangat polos, Chanyeol tidak tahan untuk tidak berjongkok di hadapan wanita itu dan mengambil alih pekerjaanSuzy untuk membantu memakaikan sepatunya.

Suzy mendongak saat Chanyeol sudah berjongkok beberapa centi di hadapannya dan memegangi sepatunya

“Kau yang mendengus tapi justru urat otakku yang putus. Kau frustasi bahkan sebelum melakukan setengahnya”

Suzy mendengus lagi “Itu karena kau terlalu sering menggunakan otakmu. Aku sudah berulang kali memperbaiki ikatan sepatu sial ini, dasar sepatu ini saja yang terlalu banyak kaidah” lontar Suzy dengan sedikit makian. Entah mengapa moodnya memburuk sejak memasuki tempat ini karena beberapa hal yang tidak disadarinya.

Pertama, itu karena selama perjalanan menaiki gondola beberapa gadis memandangi mereka dengan tatapan memuja -lebih tepatnya pada Chanyeol. Bahkan saat ini gadis yang beberapa meter jauh dari mereka sedang menatap Chanyeol dan berbisik-bisik genit. Dalam kejengkelan Suzy bertanya-tanya apakah Chanyeol tidak sadar bahwa hidupnya itu selalu mencuri perhatian orang lain. Suzy tidak bisa menyalahkan Chanyeol yang memang sangat menarik, karena ia mengakui itu juga.

Kedua, karena udara di tempat ini benar-benar dingin karena mencapai minus delapan dan membuat perasaan jengkelnya semakin lengkap.

Ketiga, Suzy tidak tahu cara bermain olahraga ski dan segala hal yang berhubungan dengan ski. Terbukti dari Suzy bahkan tidak tahu cara memakai sepatunya. Selama ini ia berfikir itu olahraga yang mudah. Ia hanya berharap nantinya ia tidak akan terjun dan berakhir jatuh konyol di hadapan orang-orang termasuk Chanyeol saat meluncur

Chanyeol menyelesaikan kaitan sepatu Suzy dan membantunya berdiri. Dan hal yang tidak diinginkan Suzy memang benar terjadi, ia berulang kali jatuh selama berlatih meluncur setelah dua meter meluncur ia selalu jatuh meskipun di pandu oleh Chanyeol. Suzy jelas berteriak-teriak heboh, Chanyeol tidak bisa untuk tidak meloloskan tawa geli dan frustasinya saat bersamaan melihat Suzy jatuh dengan konyol. Suzy menggerutu menahan malu.

“Aku tidak mau melakukannya lagi!” Suzy menyerah dan menghempaskan tubuhnya diatas salju dengan tangan terlentang

Chanyeol meluncur dengan papan ski-nya menuju Suzy, dan membuka kacamata-nya setelah ia menunduk sedikit untuk menatap Suzy yang terlentang di bawahnya. “Dasar payah!” decak Chanyeol lalu memakai kembali kacamatanya dan meluncur dengan mahir meninggalkannya

Suzy merengut dan terduduk “Wah, bagus sekali. Tidak prihatin, dia malah mencemooh?” cebih Suzy tidak habis pikir

Setelah itu cukup lama Suzy hanya duduk dalam diam memperhatikan Chanyeol meluncur kesana-kemari dengan mahir. Chanyeol pasti sangat menyukai olahraga ini pikirnya, terbukti dari caranya menggerakkan papan ski, caranya mengayunkan tongkatnya, dan keseimbangan tubuhnya. Tanpa sadar Suzy tersenyum selagi memandangi Chanyeol yang sangat terlihat menikmati kegiatannya, Suzy melambai-lambai saat Chanyeol melihat kearahnya beberapa saat.

Senyum Suzy perlahan memudar menjadi merenung saat mengingat foto yang saat itu ia temukan di bawah meja ruangan Chanyeol, foto yang tertulis New York, Winter 2011. Suasana salju ini yang mengingatkannya, dimana dalam foto tersebut Chanyeol bersama seorang gadis yang Suzy yakini bernama Irene sedang merebahkan tubuh mereka diatas gumpalan salju. Apa itu sebabnya Chanyeol sangat menyukai olahraga ini? Mereka pasti sudah sangat banyak melewatkan hari yang menyenangkan bersama-sama. Untuk sesaat Suzy membenci suasana ini.

Suzy bangkit dan berjalan menuju tempat lain yang menurutnya bisa mengalihkan pikirannya. Suzy berjalan pelan menyusuri jembatan yang sepenuhnya tertutupi salju tebal hingga membuat kakinya terkadang masuk menembus salju tersebut. Berbagai macam pohon besar dan lebat, termasuk diantaranya pohon pinus yang bahkan tidak terlihat berwarna hijau lagi melainkan putih seperti permata yang menutupi seluruh daun dan batang pohon itu.

Suzy meniup kedua telapak tangannya lalu memasukkannya kedalam kedua sakunya saat merasakan dingin yang menusuk. Ia berhenti dan menunduk lalu mendongak memperhatikan sekelilingnya yang sangat tenang dan sepi, langit pun mulai sedikit menggelap

Suzy menghela nafas berat dan membuat kabut tipis keluar dari mulutnya “Saljunya banyak sekali.” ujarnya pelan

Setelah diam beberapa saat Suzy berbalik berniat kembali, namun pemandangan Chanyeol berada dibelakangnya membuatnya berhenti bergerak. Mereka terdiam sejenak membiarkan suara angin bertiup lalu gertak salju yang diinjak oleh Chanyeol selagi berjalan mendekat mengisi keheningan, Suzy menatap Chanyeol yang mendekat tanpa memandangnya kembali.

Chanyeol berhenti dan Suzy harus sedikit mendongak untuk menatapnya “Kau dari mana saja?” Chanyeol bertanya pelan

Suzy tersenyum canggung “Kau disini?” balas Suzy kaku. Entah aura apa yang membuatnya lebih canggung detik ini dan suasana hatinya juga sedang tidak mendukung.

Chanyeol juga merasakannya, bahkan tadi saat dirinya masih dalam kegiatan ski dan tidak mendapati Suzy di area ski dia langsung beranjak mencari wanita itu kemana-mana setelah mengganti pakaiannya. Chanyeol tidak tahu apa yang membuatnya tahu bahwa ia mungkin saja menemukan Suzy disini. Dan benar saja, ia melihat punggung Suzy yang beberapa meter di depannya, dan Chanyeol hanya diam-diam mengikutinya.

“Kenapa kau tidak berkata apapun dan pergi seorang diri?” ujar Chanyeol lagi

Suzy seharusnya bisa menjawab dengan mudah tanpa berfikir keras dan ia hanya mengguman. “Chanyeol-ssi kau pasti sering sekali ya ketempat seperti ini, kau tadi bahkan mahir sekali bermain ski” lagi-lagi Suzy justru membalas pertanyaan Chanyeol dengan pernyataan bukan jawaban. Suzy berusaha bersikap ceria untuk menutupi perasaan kakunya

Chanyeol tersenyum kecil dan memandang sekitarnya “Ya, dulu sekali. Hampir setiap musim dingin aku akan bermain ski ketempat seperti ini” ujarnya lalu melangkah ke pembatas jembatan. Tangannya masih dalam saku

Suzy ikut melangkah dan memandang Chanyeol yang disebelahnya “Bersama Irene?” Suzy tahu bahwa seharusnya ia tidak menyebut nama itu, mungkin saja bukan hanya dirinya yang akan terluka namun Chanyeol juga. Ia hanya tidak tahan untuk tidak membuat segalanya menjadi jelas

Chanyeol menoleh dan mata mereka bertemu. Ia selalu merasa tidak nyaman jika seseorang membangkitkan masa lalu yang ingin ia lupakan. “Dari mana kau tentang Irene?” Chanyeol tak lagi bisa bersikap santai dan biasa, nadanya mulai dingin

Suzy ragu untuk melanjutkan “Gadis yang bersamamu di foto kemarin.. Dia bernama Irene kan?”

Chanyeol mengalihkan pandangannya “Kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing” ujarnya dingin dan memandang sungai dibawah sana

Suzy tertawa kaku “Dalam foto itu kau dan dia menunjukan bahwa kalian pasti sering bermain ski bersama, aku mengerti jika itu alasanmu menyukai tempat seperti ini. Dia pasti memiliki peranan berharga bagimu…”

“Bisakah kau berhenti membahasnya? Itu bukan urusanmu”

Suzy mengepalkan tangannya. Bukan urusanmu, bukan urusanmu. Chanyeol selalu mengucapkan hal itu dan itu membuatnya terluka sekaligus sadar bahwa dirinya memang bukan siapa-siapa bagi pria itu.

Suzy mengangguk kecil “Maaf” ujarnya

Mereka diam beberapa saat, sibuk dengan pemikiran masing-masing. “Saat itu juga sedang musim dingin, sembilan tahun lalu aku menyukai seseorang pertama kalinya, mungkin aku terlalu muda saat itu jika mengatakan itu cinta,” Suzy tertawa canggung

Chanyeol hanya diam menunggu Suzy melanjutkan kata-katanya

“Dulu aku berfikir perasaan itu hanya sementara, itu akan segera berlalu dan berakhir, dan ya itu memang berlalu untuk jangka waktu yang lama namun ternyata itu tidak berakhir. Kupikir waktu adalah penyembuh dari segalanya namun itu justru yang membuatnya bergantung. Aku masih menyukai orang itu” Suzy menghentikan kata-katanya lagi dan menunduk

“Kau tahu, dan sekarang orang itu bahkan membuatku semakin bingung. Aku menyukainya dan aku tidak bisa mengatasinya”

Suzy bergerak menghadap Chanyeol dan menatap tepat pada matanya “Chanyeol-ssi apa yang harus kulakukan?” tanya Suzy dengan nada frustasi terselip didalamnya

Chanyeol mengulurkan tangannya menggenggam tangan kanan Suzy. Suzy menarik tangannya kembali seolah menghindar “Katakan aku harus bagaimana?” tuntut Suzy

Chanyeol menggenggam tangan Suzy lagi dan menahannya

Suzy tidak lagi menghindar “Dulu aku bertanya padamu, apa kau mengingat tentang dream catcher itu dan kau tidak mengingatnya, dan aku punya cukup alasan untuk tidak berharap padamu bahwa kita bukan apa-apa. Dan aku tidak masalah akan hal itu” air mata terasa hangat saat mengalir begitu saja di kulit pipinya yang dingin

Chanyeol hanya diam menggenggam tangan Suzy yang terasa semakin dingin, sebelah tangannya bergetar saat melihat air mata wanita itu. Selama ini mungkin ia terbiasa dengan wajah tenang Suzy dan ia masih belum terbiasa melihat wanita itu menangis.

“Dan sekarang aku merasa itu tidak adil, apa kau bahkan tidak mengingatku? Benar aku bukan apa-apa bagimu? Benar tidak ada hal berharga yang bisa menjadi alasanku?” Suzy mendapati dirinya memberi jeda agar Chanyeol setidaknya memberi jawaban namun pria itu hanya diam menatapnya

“Apa kau bahkan pernah berfikir untuk mencintaiku?” Suzy masih menunggu. Chanyeol masih diam

“Tidak,kan?” Suzy menggoyangkan kepalanya, air matanya masih mengalir

Chanyeol membuka mulutnya “Aku merasa takut” ujarnya pelan “Aku sangat takut, Itu sebabnya aku ingin kau terus berfikir bahwa kita bukan apa-apa. Aku tidak ingin memberimu harapan namun pada kenyataannya aku tidak bisa memenuhinya, kau akan merasa kecewa. Aku memiliki beberapa alasan dan aku juga memiliki beberapa alasan tetap bersamamu”

Air mata itu semakin memaksa untuk keluar “Apa itu karena orang lain? Apa itu artinya pada akhirnya aku memang tidak memiliki kesempatan? Kau ingin aku menyerah?” Suzy melepas genggaman Chanyeol pada tangannya dan berjalan pergi meninggalkan Chanyeol begitu saja.

Chanyeol menatap punggung Suzy yang menjauh, ia meremas kedua telapak tangannya menahan amarah. Entah sampai kapan ia akan berhenti membuat Suzy kecewa.

***

Kim So Hyun mendapatkan undangan makan malam lagi bersama ayahnya dan Yoojung saudari kembarnya. Perasaannya bercampur aduk, ia merasa bahagia namun sedih dalam waktu yang bersamaan. Karena tanpa sadar dirinya juga mengesampingkan egonya dan menerima ajakan itu begitu saja meskipun ada hal yang mengganjal dalam hatinya. Tidak, ia masih belum bisa menerima segalanya begitu saja. Itu tidak mudah dan sesederhana itu.

Tuan Kim dan Kim Yoo Jung sudah tiba lebih dulu di restoran tempat yang mereka janjikan. Kim So Hyun berjalan pelan dan berhenti sejenak sebelum memasuki restoran bergaya klasik itu. Dari sana ia dapat melihat pria paruh baya yang beberapa hari baru ditemuinya setelah 10 tahun berlalu, sedang mengelus kepala Yoo Jung dengan penuh kasih sayang. Melihat hal itu membuatnya selalu merasakan dengan sangat jelas bagaimana perbedaan itu meskipun mereka memiliki wajah yang sangat mirip. So Hyun menghela nafas sebentar dan menunduk sedikit sebelum melanjutkan langkahnya menuju meja.

Tuan Kim dan Kim Yoo Jung mendongak dan menampilkan senyum hangat menyambut So Hyun yang baru saja tiba

“Kau sudah datang?” Tuan Kim berujar hangat

So Hyun tersenyum kecil dan mengangguk kaku “Ne” jawabnya formal, bagaimana pun juga ia masih belum terbiasa berbicara dengan santai

Dan setelah itu mereka menikmati makan malam yang masih terasa aneh. Makan malam bersama keluarga adalah hal yang wajar namun tidak bagi So Hyun, itu hal yang tidak biasa baginya. Banyak sekali pertanyaan yang bersarang dalam hatinya, apakah ini benar-benar nyata, kenapa semua terlalu mudah? Hal yang tidak pernah dibayangkannya yaitu bertemu keluarganya dan duduk berhadapan meskipun So Hyun masih merasakan kejanggalan yaitu bagaimana dengan ibunya? Kenapa hingga pada hari ini ia tidak melihat sosok itu, bukankah seharusnya jika ibunya masih ada ia akan bertemu dengan wanita itu karena ia sudah bertemu ayahnya. Atau ibunya sudah tiada? Tapi kenapa mereka tidak memberitahunya?

Namun So Hyun hanya menyimpan semua pertanyaan itu dalam hatinya. Dan hanya menampilkan senyum tipis dan menjawab seadanya saat mengobrol selama makan malam mereka berlangsung

***

Kang Seulgi berulang kali melirik jam di pergelangan tangannya lalu melirik pintu masuk cafe untuk memastikan kedatangan seseorang yang ia tunggu. Ini sudah hampir setengah jam ia menduduki kursi itu, dan yang ia tunggu sudah terlambat dari jam yang mereka janjikan. Ia menghela nafas sebentar lalu melirik ponselnya.

Dari arah pintu masuk, baru saja muncul dua pria dengan setelan kasual “Eoh, bukankah gadis itu temanmu?” ujar Jongin yang berjalan selangkah dibelakang Sehun

Sehun mengikuti arah pandang Jongin kearah Seulgi yang duduk disalah satu kursi di dekat jendela dan Sehun mengangguk kecil mengiyakan “Dia sendiri an?” tanya Jongin dengan seringaian nakal khasnya

Sehun mendengus “Singkirkan wajah menjijikanmu itu! Seulgi bukan tipe yang biasa kau buru” ujar Sehun bergidik lalu berjalan menuju meja kosong

Jongin mendesis saat mendengar kata buru “Memangnya dia tipe gadis seperti apa?” Jongin masih bertanya dan mengikutinya

“Pokoknya dia bukan tipe seorang gadis, itu hanya cover” ujar Sehun tertawa geli

Jongin masih belum mengerti dan tidak mengambil pusing. “Kau tunggu disini sebentar” ujar Sehun dan berlalu menuju meja tempat Seulgi berada

“Hey, gadis bubur! Sedang apa kau disini?” Seulgi tersentak kecil saat Sehun menyahutinya dari belakang, ia hampir melayangkan gelas dihadapannya ke wajah pria bermarga Oh itu

“Bisakah kau menyapa dengan lebih wajar dan manusiawi!” dengus Seulgi pada Sehun yang sudah duduk di hadapannya

“Tapi akukan sedang tidak menyapamu” balasnya santai

Seulgi semakin jengkel “Terserahmu! Dan berhentilah memanggilku gadis bubur!”

Sehun tertawa kecil “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Sehun lagi mengabaikan gerutuan gadis itu

“Menunggu seseorang” balas Seulgi singkat masih jengkel

Sehun melipat tangannya santai “Siapa? Kekasihmu?”

Seulgi hanya mengangkat bahunya santai. “Wah, ternyata ada juga yang mau pada gadis bubur ini!”

Seulgi melotot “YA!”

Sehun tertawa “Aku bercanda! Hanya bercanda. Kau sensitif sekali”

Seulgi masih melotot dan mengatupkan giginya, moodnya selalu buruk setiap berbicara dengan Sehun. Meskipun sudah berlalu sangat lama, namun sejak kecil ia selalu memiliki paling banyak momen keributan dibandingkan momen menyenangkan dengan Sehun. Dan biasanya Suzy selalu menjadi malaikat penengah ketika keributan itu terjadi. Bertimakasihlah pada Suzy. Persahabatan mereka sangat unik.

Ponsel Sehun berbunyi dan sebelum ia beranjak untuk mengangkat panggilan tersebut ia sempat berkata “Hey, gadis bubur! Dia bukan pria baik, sebaiknya kau tinggalkan saja. Pria mana yang membuat seorang gadis menunggu?” ujarnya berdecak sok prihatin dengan wajah menjengkelkan lalu berlalu dengan menempelkan ponsel di telinganya

Seulgi membuat gerakan seperti ingin meninju pria itu “Memangnya kau tau apa!” gerutunya

Setelah beberapa menit kemudian, seorang pria menghampiri Seulgi “Seulgi-ya maaf aku terlambat” ujarnya merasa bersalah

Seulgi tersenyum “Tidak apa-apa Jimin oppa”

Di meja yang lain, Jongin berujar “Itu kekasihnya?” tanyanya menunjuk Seulgi dan Jimin dengan dagunya

Sehun melihat lagi kearah Seulgi dan sekarang ia mendapati seorang pria yang tadinya tidak disana bersama Seulgi “Mungkin” jawabnya santai dan meneguk kopinya lalu fokus kembali dengan ponselnya

***

Suzy melilitkan syal berwarna cokelat di lehernya dan memandang kosong pemandangan di hadapannya. Suzy dan Chanyeol memutuskan menginap di resort ski malam ini dan akan kembali besok pagi.  Angin berhembus kencang dari tempat yang memiliki ketinggian cukup itu. Langit sudah menunjukkan senjanya dengan enggan. Berbagai pikiran melintas di kepalanya.

Suzy berfikir sejak awal semuanya memang sudah jelas. Chanyeol bukan untuknya. Chanyeol adalah seseorang yang terlalu mustahil ditakdirkan berada dalam satu perasaan yang sama dengannya.

Sejak awal, Suzy berfikir bukan mereka tapi dirinya. Kenapa ia tidak menyerah saja?
Kenapa ia terus berharap?

Lalu apa yang ia harapkan?
Yang ia harapkan adalah keajaiban.
Keajaiban yang mampu meluluh-lantahkan perasaan itu padanya.
Atau…

Keajaiban yang mampu mengubah takdir antara dirinya dan pria itu. Terkadang pertanyaan itu sangat rumit dan jawabannya sebenarnya sangat sederhana.
Ia mencintai pria itu. Sesederhana itu

Rambut-rambut halus yang menutupi keningnya bergerak-gerak ulah angin sore yang semakin dingin dan kencang. Suzy masih tidak memiliki niat untuk beranjak, senja terlalu indah untuk dilewatkan. Mereka bilang, terkadang senja lebih indah dibandingkan fajar karena senja lebih berwarna. Dan Suzy masih belum mengerti makna dari ungkapan itu.

Suzy dapat merasakan sepasang lengan memeluk bahunya dengan perlahan dan punggungnya terasa menghangat. Ia tidak pernah tahu hal ini akan membuatnya merasa nyaman dan merasa semua beban dipundaknya berkurang dengan Chanyeol yang mendekapnya seolah memberikan tempatnya bersandar. Ia merasa terlindungi dalam dekapan itu, tidak hanya dalam raganya namun juga jiwanya.

Waktu seolah bekerja dengan sangat lambat ketika Chanyeol memeluknya “Aku juga” ujar Chanyeol

“Apa?” Suzy berkata gugup masih dengan terkejutan akan kehadiran tiba-tiba pria itu

“Aku juga pernah menyukai seseorang pertama kalinya. Saat itu keadaan benar-benar tidak memihak jadi aku harus melupakannya. Kupikir aku akan berhasil namun itu tidak benar terjadi. Takdir itu mempermainkanku”

Suzy hanya diam mendengarkan. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Setelah diam beberapa saat Chanyeol melanjutkan “Kau bertanya apakah aku tidak mengingatmu, aku mengingatnya dengan sangat jelas. Setiap hari aku hampir gila hanya karena memikirkan bagaimana jika akhirnya aku tidak bisa mengendalikan perasaanku padamu sejak pada hari kita bertemu lagi”

“Tapi kenapa? Apa alasan kau bersikap seperti itu sejak pertama kali kita bertemu saat itu? Kau bersikap seolah kita tidak pernah saling mengenal sama sekali. Kau membenciku. Aku sadar hubungan yang kumaksud saat itu bukan hal yang spesial…”

“Kumohon jangan minta aku untuk menjelaskan hal yang tidak bisa aku jelaskan, tidak bisakah hanya mempercayaiku?”

Chanyeol memutar tubuh Suzy agar menghadapnya dan menatap Suzy tepat pada matanya “Kau bisa mempercayaiku” pinta Chanyeol dengan mata yang sarat akan permohonan

“Bisakah aku bertanya satu hal untuk terakhir kalinya? Apa kau bahkan pernah berfikir untuk mencintaiku?” Suasana dingin menyelimuti dan lagi Suzy hanya bisa membiarkan cairan bening hangat itu mengaliri sudut matanya

Diamnya Chanyeol membuat Suzy sudah memantapkan diri bahwa ini akan menjadi terakhir kalinya ia menanyakan hal itu jika itu hanya untuk memperjelas hal yang sebenarnya sudah jelas.

Chanyeol mengulurkan jemarinya untuk mengusap sudut mata Suzy yang basah “Apakah dengan sebuah kata pengakuan kau tidak akan pernah menangis lagi? Setelah ini kumohon jangan pernah melakukan itu di depan orang lain. Kau membuatku merasa menjadi orang terburuk di dunia ini” tangannya bepindah mengusap kepala wanita itu

“Aku, Park Chanyeol mencintai Bae Suzy dengan sepenuhnya” ujarnya dengan penuh penekanan

Suzy tidak pernah tahu bahwa cinta bukanlah hanya tentang pengakuan kata-kata secara langsung melainkan tentang tindakan dan perasaan itu sendiri. Suzy tidak dapat menahan air mata yang terus memaksa untuk keluar, ia menunduk untuk menyembunyikan isakannya yang terdengar semakin kuat. Tangannya menggenggam kuat-kuat mantel bagian depan Chanyeol, sementara tangannya yang lain dengan kuat memukul-mukul dada pria itu

“Kau benar-benar brengsek!”

“Kau pembohong!”

Suzy terus mengucapkan hal yang sama berulang kali dengan erangan. Chanyeol diam menerima perlakuan Suzy hingga beberapa saat ia menarik Suzy dengan paksa kedalam pelukannya membiarkan kaus bagian dalamnya basah akan air mata.

***

Seperti biasanya, Suzy hanya akan mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Suasana tetap seperti biasanya hanya terdengar suara pembawa acara radio yang melontarkan berbagai lelucon untuk menyambut pagi hari itu. Begitu juga dengan Chanyeol, pria dengan wajah dingin itu juga memilih fokus mengendarai mobil  dalam diam. Mereka memilih tidak terlibat percakapan apapun dan saling mengacuhkan seperti biasa

“Apa jendela itu lebih menarik?”

“Maksudmu?” balas Suzy dingin tanpa menoleh kearah Chanyeol

Chanyeol melirik Suzy jengkel “Sudah satu jam lebih kau melihat keluar jendela, apa lehermu tidak sakit?”

“Tidak” balas Suzy masih singkat

Chanyeol mengerang frustasi “Kau tahu, kau membuat suasana jadi sangat canggung. Kau mendiamiku sejak berangkat dari resort tadi”

“Apa aku melakukan kesalahan lagi?” tanya Chanyeol lagi setelah tidak mendapat respon Suzy

“Chanyeol-ssi kau… Kau sadar kan dengan yang kau lakukan semalam?” tanya Suzy hati-hati

Chanyeol menoleh dan tersenyum miring “Maksudmu yang kita lakukan?” ujarnya santai

“Tentu saja, kita sadar bahkan sangat sadar. Lihat, bahkan karena perbuatanmu lengan dan panggungku sampai memar” ujar Chanyeol protes dan memutar-mutar sebelah lengannya untuk peregangan

Suzy menoleh cepat dengan wajah merahnya “YA! Park Chanyeol! Berhenti membahas itu” sahutnya sedikit berteriak

Chanyeol sedikit tersentak hingga membuatnya menggenggam kuat stir mobil dan akhirnya ia tertawa “Hey, santai saja. Kau bisa membuat kita lebih cepat ke surga kalau mengamuk seperti itu”

Chanyeol masih tertawa kecil dan geleng-geleng melihat tingkah Suzy. Chanyeol melirik wanita itu lagi yang menatapnya jengkel “YA! Kau demam? Wajahmu memerah sejak tadi pagi” ujar Chanyeol dan meletakkan telapak tangannya di kening Suzy

“Sepertinya tidak” Chanyeol berusaha menyesuaikan suhu tubuh Suzy

Suzy mendengus lalu mengalihkan kembali kepalanya melihat keluar jendela dan bersedekap

“Itu bahkan bukan pertama kalinya, kenapa kau masih malu?”

“YA! Aish” Suzy menoleh mendesis kuat dengan kilatan mata yang siap menerkam dan Chanyeol hanya tertawa aneh “Byeontae!” gumam Suzy mendesis

“YA!” Giliran Chanyeol yang tidak terima

•••

Kim So Hyun bukanlah tipe gadis yang mudah terintimidasi dan lemah, setelah kejadian yang membuat hampir isi seluruh sekolah berfikir ia dan Yoo Jung memiliki hubungan buruk, mereka memberi cap So Hyun adalah gadis kasar dan egois. Sebagian besar murid memandangnya bengis dan juga tidak berminat untuk berteman dengannya. Namun, So Hyun tetap bersikap tegas dan acuh, ia tidak membutuhkan teman dan siapa-siapa untuk berada disisinya.

Seperti hari ini, saat dirinya sedang berada dibalik kamar mandi. Sesorang dengan sengaja menyiramkan air dari atas dan membuat So Hyun basah kuyup. Ia hanya mendesis teriak dan berusaha tetap terlihat keras.

So Hyun keluar dari kamar mandi menuju lokernya untuk mengambil pakaian ganti, namun lokernya juga sudah penuh dengan tinta yang tumpah. Jadi, So Hyun hanya menghembuskan poninya dengan kasar dan berteriak sinis “Siapa yang melakukan ini?” namun murid sekitarnya hanya menatapnya nanar dan cuek

So Hyun menutup lokernya dengan menimbulkan debuman kuat dan meninggalkan tempat itu.

So Hyun memandang lapangan basket yang sedang lenggang. Ia menghela nafas dengan kuat. Jari-jarinya bergerak membuka ikatan rambutnya yang masih basah. Ia tidak mungkin pergi ke kelas dengan keadaan seperti itu dan juga ia tidak ingin menimbulkan masalah dengan ijin pulang karena keadaannya. Selain itu, ia tidak memiliki teman untuk dimintai tolong dan meminta bantuan pada Kim Yoo jung adalah hal yang tidak akan pernah dilakukannya. Jadi, pergi ke taman adalah pilihannya.

Dari jarak yang jauh, Yeo Jin Goo yang sedang berada di kelasnya dapat dengan leluasa melihat pemandangan lapangan basket dimana Kim So Hyun yang sedang duduk sambil menepuk-nepuk rambutnya.

“Dia sedang apa?” gumamnya

“Kau melihat apa?” tanya laki-laki berseragam berantakan yang duduk disebelah Jin Goo

“Eoh, gadis kasar itu? Sedang apa dia disana?” ujar laki-laki tersebut

Jin Goo memandangnya tajam “Ya! Jaga ucapanmu!”

“Ada apa dengamu? Kenapa sifatnya bertolak belakang sekali dengan Kim Yoo Jung? Wajah mereka memang mirip tapi Yoo Jung jauh lebih baik, ramah dan anggun. Sementara gadis itu, siapa namanya? So Yoon apa So Hyun?  Dia benar-benar gadis aneh, wajar saja kalau tidak ada yang berteman dengannya bahkan teman sekelasnya selalu mengerjainya!” Jin Goo hanya diam dengan celotehan itu, berusaha untuk tidak mendaratkan tinjunya di wajah teman sebangkunya itu.

Teman sebangkunya itu kembali berceloteh “Ya! kau tahu, kudengar tadi ada keributan juga di toilet perempuan, katanya sih gadis kasar itu dikerjai sampai basah kuyup” Jin Goo menoleh dengan membulatkan matanya lalu kembali menatap So Hyun yang masih duduk di bangku taman, dan kali ini gadis itu sedang mengikat rambutnya

Jin Goo segera bangkit dari kursinya dengan wajah marah berniat menghampiri So Hyun.

“YA! Kau mau kemana?” teriak teman sebangkunya itu dan tidak di respon “Dasar aneh” gumamnya

Jin Goo sedikit berlari untuk menghampiri So Hyun, di perjalanan menuju taman ia berpapasan dengan Yoo Jung

Oppa! Mau kemana?” sapa Yoo Jung tersenyum lalu mengapit lengan Jin Goo

“Yoo Jung-ah sebentar, oppa buru-buru. Kembalilah ke kelasmu” balas Jin Goo tersenyum kecil lalu melepas genggaman Yoo Jung dan berlari kecil

Yoo Jung mengerutkan keningnya bingung melihat Jin Goo yang berlalu dengan wajah khawatir ” Oppa!” teriaknya. Yoo Jung memilih ikut berlari mengikuti Jin Goo

So Hyun menghubungkan earphone ke ponselnya yang sepenuhnya tidak basah lalu ia memutar musik jazz yang selalu menjadi favorite-nya bersama nenek Kim ketika di Auckland. Sangat menenangkan dan membuatnya nostalgia akan keberadaan nenek Kim disisinya.

“Pakai ini jika kau tidak ingin terkena demam”

So Hyun menoleh saat seseorang meletakkan sepasang seragam olahraga di pangkuannya. Ia menatap wajah orang tersebut yang menampilkan wajah datar dan cuek. So Hyun menyingkirkan seragam tersebut ke kursi sebelahnya

“Aku tidak butuh” ujarnya dingin

“Kau pikir dengan sikapmu seperti itu, mereka akan berhenti menindasmu? Mereka justru akan semakin membencimu. Berhenti keras kepala dan aku bukannya sedang memihakmu…”

“Itu bukan urusanmu! Dan aku tidak butuh belas kasihan darimu. Jadi menyingkirlah dari pandanganku” So Hyun memotong ucapan laki-laki itu dengan mata tajamnya

Jin Goo menghentikan langkahnya saat akan mencapai lapangan tempat So Hyun berada, disana ia melihat baru saja laki-laki lebih dulu menghampiri So Hyun dan meletakkan sesuatu seperti pakaian diatas pangkuan gadis itu. Lalu ia melihat mereka saling berbicara

Oppa!  Ada apa? Kenapa buru-buru sekali?” Yoo Jung menghampiri Jin Goo yang sudah berhenti dan menatap kearah lapangan

Yoo Jung ikut memperhatikan arah pandang Jin Goo “So Hyun eonni dan Sungjae?” ujarnya “Sedang apa mereka disana?” gumamnya lalu menoleh kearah Jin Goo yang hanya diam

Oppa…” ujar Yoo Jung lagi karena laki-laki itu hanya diam dengan wajah datarnya, Yoo Jung kebingungan dengan tingkah Jin Goo

“Ah Yoo Jung, kenapa masih disini? Bukankah ini jam pelajaran?” ujar Jin Goo tersenyum kecil

“Aku hanya…”

Oppa akan kembali ke kelas, kau juga kembalilah ke kelasmu” potongnya lalu menepuk bahu Yoo Jung sebelum berlalu kembali ke kelasnya

Yoo Jung hanya diam memperhatikan Jin Goo yang sudah berlalu lalu menoleh kembali kearah So Hyun dan Sungjae. Kepalanya penuh dengan pemikiran yang tidak ingin diinginkannya terjadi. Yoo Jung kemudian memilih berlalu juga dari tempat itu.

Sementara So Hyun dan Sungjae masih bersiteru dengan tatapan dingin mereka. Sungjae bukannya ingin peduli pada So Hyun hanya saja melihat gadis yang selalu berkata ketus padanya sejak hari pertamanya sekolah, itu selalu diperlakukan dengan kasar oleh-oleh teman-teman sekelasnya membuatnya prihatin. Meskipun ia juga tidak membenarkan tingkah So Hyun yang bersikap kasar pada Yoo Jung, namun ia tidak membenci saudari kembar temannya itu. Menurutnya saudara dari temannya juga adalah temannya, itu sebabnya ia berniat membantu dengan memberikan seragam olahraga itu namun perangai gadis itu selalu berhasil membuatnya kesal.

“Terserah mau kau apakan seragam itu, aku tidak peduli. Siapa juga yang akan peduli dengan gadis kasar sepertimu. Pertahankan sikapmu itu dan hiduplah sendiri sesukamu” sahut Sungjae tidak habis pikir lalu berniat berlalu dari tempat itu

Setelah beberapa langkah Sungjae melangkah, ia mendengar bunyi sesuatu yang cukup kuat. Ia menoleh kebelakang dan mendapati So Hyun yang sudah tergeletak disamping kursi taman. Seolah waktu berputar cepat, Sungjae segera menghampirinya berteriak menepuk-nepuk pipi gadis itu

“YA! Ada apa? Jangan bercanda!” sahutnya panik dan melihat sekeliling taman tidak ada orang, karena memang sedang pada jam pelajaran. Akhirnya Sungjae memutuskan mengangkat tubuh So Hyun di punggungnya dan berlari tergopoh-gopoh menuju ruang kesehatan

“Aish merepotkan saja!” desisnya menggendong So Hyun hingga wajahnya memerah

Perawat dalam ruang kesehatan berkata So Hyun terkena demam. Dan Sungjae memang sudah menduga itu. Karena tidak ada pilihan lain, perawat akhirnya memakaikan seragam olahraga milik Sungjae untuk So Hyun yang demam. Sungjae diam memperhatikan So Hyun yang masih tertidur setelah dirawat oleh perawat.

“Ternyata wajah dinginnya itu bisa menghilang kalau sedang tidur?” desisnya bersedekap

Setelah Sungjae mengamati wajah itu, ia akhirnya menyadari meskipun gadis ini sangat kembar dengan Yoo Jung ia dapat melihat perbedaan mereka sedetail yang mungkin orang lain tidak akan pernah menyadarinya. Dari jarak itu, Sungjae bisa melihat tahi lalat kecil yang berada di batang hidung So Hyun bagian kiri. Sementara, Sungjae sangat tahu kalau Yoo Jung tidak memiliki itu, melainkan ia tahu Yoo Jung mimiliki tahi lalat di bagian kelopak mata bawah sebelah kiri.

Sungjae juga sadar wajah So Hyun jauh lebih tirus dan tegas, sementara Yoo Jung memiliki wajah yang lebih berisi dan ramah. Selain itu, kulit So Hyun lebih kecokelatan dibanding Yoo Jung yang pucat. Ia berasumsi mungkin karena So Hyun lama tinggal di luar negeri.

Sungjae tidak sadar karena memperhatikan So Hyun cukup lama, ia bahkan harus berkedip beberapa kali untuk memastikan penglihatannya yang menunjukan So Hyun sudah mulai sadar.

So Hyun mengerutkan keningnya dan melepas kompres yang menempel di dahinya lalu duduk dengan susah payah.

“Akhirnya kau sadar” ujar Sungjae bersikap  sok cuek kembali

So Hyun tidak bersusah payah untuk bertanya keberadaannya dan apa yang terjadi. Ia lebih memilih menyimpulkan sendiri dan justru berkata “Sedang apa kau disini?” masih dengan nada datarnya

Sungjae berdecak, bahkan setelah bangun pingsan karena suhu tubuhnya yang tinggi sekalipun, gadis itu tetap bersikap dingin.

“Bukankah seharusnya hal pertama yang kau ucapkan saat ini adalah ‘terima kasih’?”

So Hyun menghiraukannya lalu beranjak dengan sempoyongan. Sungjae bahkan tidak berniat memegang lengan gadis itu karena ia tahu So Hyun pasti akan menepisnya.

“Sebaiknya kau hubungi orang tuamu untuk menjemputmu kalau kau tidak ingin berakhir terdampar di jalan. Yoo Jung tidak tahu kau pingsan, jadi dia mungkin sudah pulang”

So Hyun lagi-lagi menghiraukannya dan tetap berjalan dengan memegangi kepalanya yang terasa berat.

“YA! Kau tuli ya?” Sahut Sungjae kesal

“Kau mungkin mudah berkata seperti itu, karena kau memiliki orang tua disisimu. Bagaimana jika sebaliknya?” tanpa menoleh So Hyun berkata demikian

“Berhenti bersikap seolah kau mengerti segalanya dan menilai sepihak” So Hyun melanjutkan langkahnya yang tertatih dengan Sungjae terdiam dibelakangnya

Langit diluar sudah mulai gelap membuat So Hyun bertanya seberapa lama sebenarnya dirinya pingsan. Terakhir ia mengingat saat dirinya berada di taman adalah setelah makan siang. Dan itu berarti selama itu juga Sungjae menungguinya.

Saat akan melangkah keluar dari pagar sekolah, motor Sungjae lebih dulu berhenti di samping So Hyun.

“Naik” sahut Sungjae

So Hyun melirik sekilas, lalu berjalan lagi. Sungjae mendesis jengkel berusaha sabar “Naiklah, selagi aku masih berbaik hati. Perawat di ruang kesehatan berkata aku yang bertanggung jawab untuk memastikan kau sampai dengan selamat, atau aku yang akan bermasalah”

“Aku tidak pernah merasa menjadi tanggung jawabmu, jadi menyingkirlah”

“YA! Naik sebelum keributan terjadi!” ujar Sungjae mengancam dengan membuat keributan melalui mesin motornya

So Hyun akhirnya mengalah dan naik keatas motor

•••

Hari perilisan lagu duet Chen dengan rookie Wendy telah berlalu dan respon pasar terhadap musik dengan aliran jazz dan orkestra tersebut sangat bagus. Lagu dengan judul Winter Wind tersebut menduduki peringkat tertinggi beberapa chart musik dan telah membawa beberapa tropi kemenangan di program musik.

Chen dan Wendy banyak mendapat ucapan selamat dari sesama artis di agensi mereka termasuk rekan kerja mereka.

“Suzy-ssi…” panggil Chen saat melihat Suzy melewati koridor kantor

“Eoh, Chen-ssi. Kudengar kalian membawa trofi ketiga hari ini, selamat!” ujar Suzy tersenyum lebar

Ani,  seharusnya aku yang berkata begitu. Ini semua berkat Suzy-ssi, lagu anda benar-benar bagus!” sahut Chen bersemangat sambil mengacungkan kedua jempolnya lalu mereka tertawa bersama.

Suzy juga banyak mendapatkan selamat dari rekan kerjanya atas kesuksesan debutnya sebagai penulis lagu di perusahaan tersebut. Itu adalah salah satu bulan terbaik dalam hidupnya, impiannya sebagai penulis lagu mulai terwujud.

“Wah, sudah kukatakan kau pasti bisa melakukannya Suzy-ssi. Lagumu benar-benar bagus” kata Lee Ji Eun menghampiri meja kerja Suzy

“Terima kasih, seonbae. Ini semua berkat bantuanmu” ujar Suzy

“Kurasa itu tidak cukup,” balas Ji Eun seolah berpikir “Kau harus mentraktir kami daging terbaik di Korea” tambahnya berlagak

Suzy tertawa geli “Wah, itu berat sekali. Aku pasti bangkrut kalau seonbae yang harus kutraktir” Suzy berakting sedih, karena memang Ji Eun adalah pemakan yang sangat baik atau justru kelewat baik

“Ya! Itulah guna kau memiliki suami seorang CEO. Kau tidak akan bangkrut meski aku memesan seluruh isi restoran” bisik Ji Eun agar tidak terdengar orang lain.  Lalu mereka cekikikan

Mwoya?  Kalian sedang menggosip tanpaku? Atau kalian sedang menggosipi aku ya?” sahut Seulgi kesal

Suzu dan Ji Eun saling tatap lalu memutar bola mata mereka. “Tidak ada juga yang menarik dari dirimu yang bagus untuk dijadikan bahan gosip” sahut Ji Eun geleng-geleng

Seonbae!”  sahut Seulgi kesal

“Sudah sudah. Lebih baik siap-siap, rapat 15 menit lagi dengan sajangnim” Ujar Ji Eun menyudahi rumpian mereka

Rapat untuk projek selanjutnya dilaksanakan dengan CEO Park Chanyeol, untuk membahas perilisan album utama boygroup Clouds9. Lee Ji Eun ditunjuk sebagai penulis lagu utama untuk album tersebut dan Suzy kali ini kolaborasi dengan salah satu member Clouds9 untuk menulis lagu pendamping dalam album tersebut.

Kwon Ji Young menyerahkan proposal kepada Park Chanyeol selagi menjelaskan projek mereka “Dalam album kali ini kami ingin menunjukkan kekuatan vokal yang dimiliki setiap member Clouds9 dengan memperbanyak berbagai jenis musik mulai dari ballad, jazz, hingga RnB” jelas Ji Young

Park Chanyeol mengangguk “Ini bagus, lalu bagaimana dengan perilisannya?”

“Lee Ji Eun akan segera mulai melakukan penulisan lagunya, kemungkinan perilisan tanggal comeback akan dilakukan setelah musim dingin ini berakhir” ujar Ji Young kembali

Chanyeol tampak mengangguk selagi membolak-balik halaman proposal. Rapat berakhir setelah 45 menit berlalu.

Suzy yang benar-benar dalam mood yan baik karena lagunya sukses harus merasa jengkel karena hanya Chanyeol yang tidak mengucapkan sepatah katapun untuk ucapan selamat padanya. Bukannya Suzy berharap lebih, hanya saja bukankah mengatakan ‘selamat untuk debutmu’ tidak sulit dan memakan waktu sampai berjam-jam sama sekali, bukan? Suzy sudah berfikir Chanyeol akan mengatakannya saat sesudah rapat atau kapanpun saat mereka bertatap muka di kantor.

Tapi, nyatanya selama rapat Chanyeol bahkan tidak meliriknya sama sekali dan terlalu fokus dengan rapat. Chanyeol masih bersikap seperti biasanya, bukan berarti bersikap dingin. Hanya saja, bersikap terlalu biasa meskipun hubungan mereka sudah lumayan lama baik-baik saja. Dan Chanyeol jarang sekali bersikap manis atau romantis. Sungguh Suzy sebenarnya tidak mengharapkan Chanyeol bersikap manis atau romantis itu terjadi setiap harinya, tapi setidaknya di hari-hari spesial tidak terlalu berlebihan, kan? Chanyeol itu benar-benar tipe pria cuek!

Seperti biasa Suzy pulang lebih dulu dengan mobilnya, sementara Chanyeol terkadang pulang lebih larut karena pekerjaannya di perusahaan utama. Suzy akan menyiapkan makan bersama bibi Ahn. Dan setelah itu, Chanyeol akan pulang sebelum jam makan malam berakhir. Paginya, mereka bertiga akan sarapan bersama. Lalu Chanyeol berangkat lagi ke kantornya. Sementara Suzy akan berangkat dengan So Hyun yang sekarang sudah duduk di kelas 3. Gadis itu sudah mulai terbiasa dengan kehidupannya bersama dan mulai terbuka akan hal pribadi pada Suzy dan Chanyeol. Begitulah,  garis besar hari-hari mereka.

Seperti pagi ini, Suzy menyiapkan sarapan sendirian karena bibi Ahn memiliki tugas untuk berbelanja perlengkapan dapur hari ini. Suzy memasukkan kopi utuh kedalam mesin lalu menaruh gelas dibawah mesin penghancur kopi tersebut. Chanyeol sangat menyukai kopi itu, maka dari itu Suzy tidak pernah lupa membuatkannya setiap pagi.

Chanyeol bergabung di dapur dengan menenteng tas kerjanya lalu menyampirkan jasnya di bahu kursi “Kemana bibi Ahn?” tanyanya lalu duduk dan mulai memeriksa email melalui ipad

Suzy mendengus kecil. Bagaimanapun juga  ia masih kesal karena sikap Chanyeol dari kemarin hingga pagi ini yang masih belum mengatakan sesuatu mengenai kesuksesan projek lagu duet Chen dan Wendy. Bahkan di pagi ini justru hal pertama yang diucapkan pria itu ‘kemana bibi Ahn?’ Oh luar biasa sekali, pria itu justru lebih mencari bibi Ahn dari pada hal yang lebih masuk akal. Bukannya, Suzy bermaksud berpikir cemburu atau apalah pada bibi Ahn. Hanya saja, bukankah itu sedikit…sudahlah.

“Belanja” akhirnya Suzy hanya mengucapkan sesingkat itu dengan nada sedikit ketus

Suzy berjalan dari pantry dengan segelas kopi dan meletakkannya di hadapan Chanyeol tanpa menatap wajah pria itu lalu berjalan kembali ke pantry dan masih membelakanginya. Ternyata sikap aneh Suzy tidak luput dari perhatian Chanyeol, ia menyeruput kopinya pelan dan meletakkan ipadnya. Sebenarnya Chanyeol sudah merasakan aura aneh itu sejak kemarin malam, mulai dari Suzy yang irit bicara tanpa menatap matanya, lalu wanita itu seperti menjaga jarak dengannya dan juga tidur membelakanginya.

Chanyeol mengerutkan keningnya dan bersedekap selagi memperhatikan punggung Suzy yang sepertinya sibuk menyiapkan sarapan. Ia seperti menyelami  sikap wanita itu, berpikir keras penyebab sikapnya itu. Baiklah, Chanyeol bukan ahli dalam membaca pikiran orang lain dan ia juga tidak sabar menghadapi sikap yang aneh seperti itu. Ia jadi merasa telah melakukan sesuatu tapi ia tidak tahu letak kesalahannya dimana.

Suzy masih memilih diam dengan seribu bahasanya selagi memanggang roti. Berusaha menumpahkan kekesalannya dengan diam. Tiba-tiba dua lengan mengunci tubuhnya diantara meja pantry. Suzy menoleh dan mendapati wajah Chanyeol yang sudah meletakkan dagunya di bahunya.

“Chanyeol-ssi kau sedang apa? Minggirlah…” Suzy berusaha melepas genggaman Chanyeol pada pantry agar ia bisa keluar dari kuncian Chanyeol

Namun, Chanyeol justru mengubah posisi lengannya jadi memeluk Suzy. Sebuah pelukan dari belakang.

“Aku sedang membuat sarapan, kau menggangguku” ujar Suzy lagi datar

“…Kau justru lebih mengangguku. Katakan… Kau sedang menggodaku dengan sikapmu kan?” ujar Chanyeol tepat ditelinga Suzy

“Lepaskan aku. Aku sedang sibuk, bagaimana jika So Hyun melihat”

“Dia sudah melihatnya barusan, dan aku menyuruhnya untuk pergi sebentar” ujar Chanyeol jujur, karena baru saja So Hyun memang memasuki dapur dan Chanyeol memberi isyarat pada So Hyun agar pergi sebentar melalui matanya. Dan beruntungnya So Hyun mengerti isyarat Chanyeol, ia hanya memutar bola matanya jengah lalu mengambil gelas susunya dan berlalu.

Suzy membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilakukan pria ini “Kau…?!” desisnya menahan malu.

“Kenapa? Bukankah wajar aku memelukmu?”

“Tapi bukan di depan So Hyun juga..”

“Itu sebabnya aku menyuruhnya pergi sebentar,”

“Tapi, bukan berarti harus mengusirnya begitu juga!”

“Kau bilang jangan di depan…” balas Chanyeol

“Sudahlah kau benar-benar tidak mengerti,” potong Suzy tidak tahan untuk berdebat dengan Chanyeol. Kadang pria lebih menyusahkan dari siapapun

Chanyeol tersenyum menang lalu mengeratkan pelukannya “Suzy-ah kau tau aku tidak ahli dalam tebak menebak, jadi jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja jangan bersikap aneh. Kau membuatku bingung” ujarnya rendah

Suzy hanya melirik wajah Chanyeol yang berada di bahunya melalui ekor matanya. Ia masih memasang wajah datar “Dasar pria payah!” gumamnya

“Apa?” kaget Chanyeol

“Kenapa kau bersikap seperti itu kemarin? Kau bahkan tidak melirik sedikitpun kearahku selama rapat dan juga seluruh tim dan teman-teman mengucapkan selamat atas debutku. Sementara kau tidak” ujarnya mendesis

“Ahhh itu” ujar Chanyeol ber-oh-ria “Selamat untuk debutmu” ucapnya

“Sudah basi!” sahut Suzy jengkel

“Bisa dimasukkan kembali ke microwave” balas Chanyeol

“Tidak lucu sama sekali!” desis Suzy

“Aku sedang tidak melucu”

“YA!” bentak Suzy. Chanyeol segera mendaratkan kecupan ringan sebelum wanita itu berteriak

Suzy membulatkan matanya dan mengedarkan pandangan keseluruh penjuru dapur hingga ruang tamu untuk memeriksa adakah yang melihat tindakan Chanyeol.

“Chanyeol-ssi kau benar-benar…”

“Tidak akan ada yang melihat, kalaupun ada aku tidak peduli…” ujarnya memutar tubuh Suzy menghadapnya lalu menyusupkan tangannya agar memeluk pinggang wanita itu.

Chanyeol mengelus rambutnya dan tersenyum sangat manis sebelum mendaratkan bibirnya untuk mengecup wanita itu. Suzy hanya diam dan sedikit berjinjit

Chanyeol menjauhkan wajahnya dan menatap Suzy “Besok datanglah ke cafe Cross Your Days jam 8 malam” ujarnya

Suzy mengerutkan keningnya “Kenapa? Besok malam aku tidak ada jadwal tampil disana” ujarnya bingung

“Datang saja,” balas Chanyeol tersenyum lalu mendaratkan kecupan di kening wanita itu

•••to be countined•••

Note : Setelah musim duren, musim rambutan, musim tiktok, bahkan lebaran udah berlalu chapter 15 akhirnya coming! LOL

Dan, ada gak yang gregetan nungguin comeback EXO? #curcol

Sekian, maaf panjang hehe.

Wr are one,
Saranghaja.
I EXO U

Advertisements

5 responses to “Millions Of Memories (Chapter 15)

  1. Aigoo akhirnya ni ff d up juga, aq bnar” kangen abisss.
    Aq bnar” ga bisa jika melewatkan 1part un ni ff.
    Btw ni ff makin daebak ceritanyaaa.
    Kalo bisa bagian Suzy n Chan oppa banyakin lagi wkwkkw

  2. Apakah akan menunggu sekian bulan lagi untuk chapter selanjutnya ? Nggak kuat nunggu thor 😥😥
    Hehe, tapi btw aku nyari² moment si Chanyeol cemburu, kok gak ada yah ? 😂😅 cemburu sama Sehun, Baekhyun, atau sma Chen ? Mungkin bisa cemburu sama Jongin juga ? Aku suka moment cemburu-cemburuan 😂😂

    Lanjutnya jangan lama-lama kak 😁

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s